
" Kau mau makan apa?" Tanya William setelah keluar dari ruangan Brandon.
" Katanya kau tau semuanya tentangku, kau saja yang pesankan makanan untukku, kenapa bertanya padaku lagi?"
" Oke akan aku pesankan untukmu sayang."
Kemudian William memanggil seorang pelayan, dan William memberikan daftar makanan yang dipesannya.
" Will...kau ini punya segalanya, tapi kenapa kau tidak segera memiliki istri seperti adikmu? Dan bukan malah sibuk bergonta ganti wanita. Kau tidak takut tertular penyakit kelamin? Jika kau tertular kemudian meninggal, lalu untuk apa semua ini kemudian?"
" Hhhh...kau pikir aku pria bodoh yang mau tidur dengan wanita sembarangan, dan tidak menggunakan pengaman!"
" Hahaha kau yang bodoh!! Kau pikir perempuan yang memiliki status sosial tinggi itu semuanya bersih? Kau tau Freddie Mercury bukan? Bahkan artis sekelas dia saja diisukan meninggal karena AIDS." jawab Dhea tak mau kalah.
" Tapi AIDS bukan karena disebabkan **** bebas saja nona."
" Ya benar, tapi salah satunya bisa karena **** bebas. Itu artinya orang kaya seperti kaupun tidak akan bisa menghindar dari penyakit itu!!"
" Kau ini cerewet sekali ya?"
" Hei aku ini bukan cerewet, tapi aku ingin mengingatkanmu. Hidup kamu itu cuma sekali. Lalu apa manfaat hidupmu sekarang ini untuk orang lain? Untuk lingkunganmu? Untuk keluargamu? Bahkan aku lihat hubunganmu dengan adik kandung dan iparmupun tak baik. Lalu apa yang bisa kau banggakan tuan William yang terhormat? Uangmu? Kekayaanmu? Hahaha jika Tuhan mengambilnya semua, dalam sekejap matapun kau bisa dibuatnya jatuh miskin dan tidur di jalanan kau paham??"
" Hehhhhh kau tau apa tentang rahasia Tuhan. Apa kau ini seorang malaikat?"
" William William...sayang sekali, kau ini sebenarnya pintar, tapi kau sangat sombong. Kau bahkan tidak pernah takut Dia akan melaknatmu. Sekarang aku tanya, apa tujuan hidupmu?"
" Kau tanya tujuan hidupku? Untuk apa? Kau ingin mengajariku tentang tujuan hidup?"
" Hehhh kau bahkan tidak bisa menjawabnya kan?" Jawab Dhea lagi
" Aku itu tau, tau sekali. Kau saat ini merasa hampa kan? Hidupmu kosong? Kau mempunyai banyak uang, tapi kau merasa kesepian. Begitu bukan?"
" Kau ini seperti peramal saja."
" Aku bukan peramal, tapi aku bisa melihatnya. Kau hanya menghabiskan waktumu dengan berpesta pora, bergonta-ganti wanita, minum-minuman keras, menghambur-hamburkan uang. Kau pikir setelah itu kau bisa mendapatkan kedamaian? Dasar bodoh!! Justru itu membuatmu semakin jatuh ke dalam dunia yang lebih gelap dan terlaknat. Kenapa kau tidak mencoba mendekatkan diri pada Tuhan?"
" Pada Tuhan? Tuhan yang mana?"
" Kenapa kau tanya aku? Kau memiliki agama atau tidak? Jangan jangan kau tidak memilikinya?"
" Tutup mulutmu!! Kau sudah sangat keterlaluan menghinaku."
" Lalu apa agamamu?" Jika kau memang memiliki agama, pernahkah kau duduk berdiam diri berkomunikasi dengannya? Mensyukuri segala nikmat yang telah diberikan padamu? Hehhhh pasti kau sangat jarang atau bahkan tidak pernah melakukannya."
" Dengar nona, aku mengajakmu kemari untuk makan dan bukan untuk mengajariku tentang agama."
" Terserah kau, aku hanya ingin memberitahumu saja. Akupun masih jauh dari sempurna. Seandainya saja aku itu kamu, mungkin aku akan sangat bersyukur sekali, bisa memberikan sebagian uangku untuk orang yang lebih membutuhkannya. Bukan seperti sekarang, bahkan untuk membelikan anak-anak di panti asuhan itu makanan kecil saja, aku harus menunggu 1 bulan bekerja dulu. Tapi aku yakin, mereka itu adalah orang-orang yang tulus, selalu gembira dengan kedatanganku, walaupun apa yang aku berikan nilainya tidak seberapa, dan aku bahagia bisa melihat mereka tertawa saat menyambut kedatanganku. Lalu kamu? Aku tanya padamu, kamu yakin jika suatu hari nanti kau tidak sekaya sekarang, apakah teman-temanmu bahkan wanita-wanita pujaanmu dulu masih menerimamu? Hahaha bahkan aku tidak percaya sama sekali, karena kenapa? Karena mereka hanya butuh uangmu Tuan William."
William hanya diam saja, sebenarnya dalam hati kecilnya membenarkan perkataan Dhea. Hanya saja dia tidak mau mengakuinya di depan gadis itu. Benar semua yang dikatakannya, hidupnya saat ini kosong.
Dia tidak memiliki orang yang benar-benar bisa diajaknya berkeluh kesah, dia hanya memiliki banyak teman yang bisa diajak senang-senang saja tidak lebih.
Tak lama kemudian pesanan makanan mereka telah datang.
" Ayo makan dulu, nanti lagi ngobrolnya. Kamu itu harus makan banyak agar tubuhmu lebih berisi. Aku takut kau tidak bisa berdiri tegak jika tertiup angin ", Kata William sambil melirik Dhea seraya tertawa dalam hati.
Dhea hanya cemberut saja mendengar William mencemoohnya. Kali ini William kembali memesankannya aneka masakan ikan.
Dhea dan William terlihat asyik melahap makanan di depannya. Tidak terdengar lagi satu kalimatpun keluar dari mulut mereka berdua.
Setelah selesai, seorang pelayan menghampiri mereka sambil membawa sebuah bungkusan besar.
" Ini tuan pesanan anda."
" Baik terimakasih banyak ya."
" Iya tuan sama sama."
Kemudian William mengajak Dhea keluar dari restoran tersebut.
" Kau mau mengajakku kemana lagi Will? Ini sudah malam." Tanya Dhea.
" Kau lelah?"
Kemudian William melihat arlojinya, pukul 20.45 menit.
" Oke aku antarkan kau pulang."
" Hhhhhh...akhirnya ", gumam Dhea lega.
Kemudian William dan Dhea segera pergi dari restoran itu.
" Kau ini sepertinya senang sekali saat akan kuantarkan pulang. Kau tidak suka pergi bersamaku?" Tanya William saat di dalam mobil.
" Maksudmu?"
" Ya, kau ini selalu menganggapku jahat, pria brengsek, pria gila dan masih banyak umpatan yang kau keluarkan untukku."
" Lalu kira-kira aku harus menyebutmu apa? Seseorang yang tidak pernah aku kenal sebelumnya, tiba-tiba datang menerorku setiap hari. Dan saat aku menolakmu, kau selalu memaksaku, bahkan tidak segan-segan mengancamku. Apakah harus kusebut kau malaikat penyelamatku? Yang ada kau itu justru seperti malaikat mautku Tuan William."
" Hahaha Dhea Dhea, semejak aku mengenalmu, hidupku terasa lebih bersinar, kau bahkan sering membuatku tertawa sendiri melihat tingkahmu."
" Kau pikir aku lampu membuat hidupmu bersinar!!" Gerutu Dhea.
" Kau tau, semenjak aku mengenalmu
hidupku itu terasa gelap, suram, dan aku kehilangan semangat. Aku selalu takut untuk memulai aktivitasku, karena kau seperti momok dan selalu muncul di mana-mana ". Kata Dhea lagi.
" Hahaha...berarti aku menakutimu?"
" Ya sangat menakutiku, bahkan lebih menakutkan daripada zombie."
" Jadi kau sudah pernah melihat zombie?"
" Pernah dan lebih parah daripada zombie, yaitu kau...puas!!"
" Kau lucu sekali, aku semakin menyukaimu sayang."
" Hentikanlah, aku tidak suka kau memanggilku sayang, dan jangan coba-coba merayuku lagi."
" Oke oke aku tidak akan memanggilmu sayang lagi, tapi aku akan memanggilmu cinta, boleh?" Tanya William sambil melirik wajah Dhea yang terlihat semakin dongkol dengan ulah William.
Tak lama mereka sudah sampai di depan tempat tinggal Dhea.
" Turunlah, langsung istirahat dan jangan tidur terlalu malam."
" Hhhhh...siapa kau berani mengaturku?" Kata Dhea dalam hati.
Kemudian Dhea segera membuka pintu mobil.
Namun belum sempat turun William memanggilnya kembali.
" Dhe ini untukmu."
William memberikan bungkusan besar yang dibawanya dari restoran tadi.
" Apa ini?"
" Itu makanan dari restoran tadi, aku sengaja memesankannya untukmu."
" Kau pikir perutku itu terbuat dari karet, sehingga kau menyuruhku makan lagi."
" Hahaha bukan begitu, maksudku simpanlah di dalam lemari pendinginmu, dan besok pagi bisa kau hangatkan lagi."
" Hhhhhh....kau ini semaunya sendiri. Terimakasih, walaupun sebenarnya aku malas menerimanya."
" Ok sama-sama, ya sudah masuklah."
Dhea segera keluar dari mobil William dan berjalan menuju tempat tinggalnya. Seperti biasanya, Dhea mengintip William dibalik tirai jendela kamarnya, memastikan bahwa pria itu benar-benar telah meninggalkan rumahnya. Dan lagi-lagi William tersenyum melihat bayangan Dhea dibalik jendela kamar itu.
William segera berlalu, tiba-tiba dia merasa kesepian, tidak seperti tadi saat Dhea ada di sampingnya. Tingkah konyolnya, mulutnya yang tidak berhenti mengomelinya, bahkan sikapnya yang judes membuat William rindu dengannya.
" Ahhhh bisa-bisa aku gila sungguhan jika tidak bisa berhenti memikirkannya ", gerutu William. Dia segera memacu mobilnya membelah jalanan berjibaku dengan kendaraan lainnya