Something different

Something different
Di dalam kantor William



Dhea duduk di sofa berwarna merah di dalam ruangan William, dan tidak melakukan apa-apa. Rasanya sangat bosan. Entah apa maksud laki-laki itu, sehingga menyuruhnya duduk di sini sambil menemaninya bekerja. Sudah hampir satu jam Dhea duduk, perasaannya mulai jengkel dan sangat jenuh. Lalu Dhea memperhatikan sekeliling ruangan William. Matanya tiba-tiba menangkap sebuah bingkai foto yang ada di pinggir meja William. Dhea segera beranjak dari duduknya dan mengambil bingkai foto itu. William hanya meliriknya sebentar, lalu asyik berkutat dengan pekerjaannya kembali.


" Apakah ini foto keluargamu?"


" Hmm ", jawab William singkat.


" Kau masih nampak muda di sini, terlihat manis dan belum segarang sekarang."


" William diam saja tidak menanggapi kalimat Dhea.


" Ini pasti adik laki-lakimu ya?"


" Hhhmmm dari wajahnya sepertinya dia orang yang jauh lebih baik darimu, dan juga lebih tampan."


Dhea melirik William, dia sengaja ingin memancing kemarahannya, walaupun sebenarnya masih tampan William dibanding dengan adiknya. Ternyata William tetap tidak bergeming sedikitpun.


" Ini pasti kedua orang tuamu ya?"


" Wow ayahmu sangat mempesona, ibumu juga sangat cantik. Dari senyumannya mereka sepertinya orang yang sangat ramah ya? Benar kan kataku?"


" Dan yang terakhir ini dirimu. Di sini senyummu terlihat tidak lepas, seperti ada beban dalam hidupmu. Kenapa? Kau ada masalah? Aku yakin semenjak kau lahirpun pasti hidupmu penuh dengan masalah, hingga kau tumbuh menjadi pria arogan seperti sekarang, benarkan?"


Tiba-tiba William mengangkat kepalanya. Kesabarannya sudah habis mendengar Dhea sedari tadi memancing emosinya. Kemudian dia berdiri, lalu menarik tangan Dhea, dan mendorong tubuhnya hingga terduduk di sofa. William mendekati tubuh Dhea, dan mengungkungnya dengan kedua tangannya, posisi Dhea saat ini sangat tidak diuntungkan, tubuh William begitu dekat dengannya, dan wajahnya hanya berjarak 10 cm dengannya.


" Kau...kau mau apa Will?"


" Dengar!! Jangan pernah pancing emosiku, atau malam ini kau tidak akan pernah pulang ke rumahmu, karena aku akan mengurungmu di dalam kamarku sayang!!" Kata William. Nafasnya sangat berat dan terasa hangat menyapu wajah Dhea.


" Ka..kau gila!!"


" Kau tau aku gila, tapi masih terus saja membuatku semakin gila!!"


" Duduklah diam di sini!! Jangan menggangguku!!Aku akan selesaikan pekerjaanku oke!!"


" Iya..iya aku akan diam di sini."


" Bagus...gadis pintar ", kemudian William segera berdiri, dan berjalan menuju kursinya lagi.


Dhea segera bangun, dan duduk dengan tenang tanpa berani menatap William seperti tadi, hanya sekali-kali mencuri pandang dari sudut matanya. William hanya melirik Dhea sebentar, di dalam hati dia tersenyum melihat wajah gadis itu begitu pucat setelah apa yang dilakukannya . Sebenarnya dia sedikit iba, hanya saja dia harus melakukan hal tersebut, karena gadis itu hanya akan menurutinya jika dia sudah diancam.


William kembali sibuk dengan pekerjaannya. Dhea sangat jenuh, perlahan kantuk mulai menyerangnya. Sejuknya udara yang keluar dari pendingin di ruangan ini, membuatnya tertidur. Tubuhnya tak lagi tegak seperti tadi, tapi mulai terkulai di sofa dengan posisi kaki di bawah. William melihatnya. Ada senyum tersungging di bibirnya. Perlahan William mendekati Dhea. Dia membuka jasnya dan menggulungnya, kemudian diletakkan di bawah kepala Dhea sebagai bantal tidurnya. Lalu pelan-pelan dia mengangkat kaki Dhea ke atas. William memandangi wajah Dhea begitu lama.


" Mungkin benar kata Daniel, kamu sudah membuatku jatuh cinta Dhea. Bahkan sedetikpun aku tidak bisa berhenti memikirkanmu. Kau begitu cantik saat tidur begini. Walaupun aku tau wanita-wanitaku dulu tidak kalah cantik darimu, tapi cuma kamu yang bisa membuat jantungku berdetak hebat. Sampai kapan kau tetap menutup pintu hatimu untukku Dhea? Berilah aku kesempatan untuk menunjukkan rasa cintaku padamu." Kata William dalam hati.


Dhea tetap tertidur pulas, dan tidak tau bahwa William memperhatikannya sedari tadi. Sebenarnya William bisa saja memaksa Dhea saat ini, karena posisinya yang tidak lagi bisa pergi kemana-mana. Namun dia tidak mau melakukannya, wanita di hadapannya ini bukan gadis kebanyakan, dan William sangat menjaga itu.


Kemudian William kembali lagi duduk di kursinya, dia melirik sebentar ke arah Dhea lagi sambil tersenyum sendiri. Lalu kembali melakukan pekerjaannya. Tak lama kemudian William menekan tombol yang ada di atas mejanya.


" Hellen tolong kau bawa laporanmu padaku sekarang!"


" Baik tuan."


Tak berapa lama Hellen sudah ada di dalam ruangannya. Saat masuk matanya tidak bisa berpaling dari sosok Dhea yang sedang pulas tertidur di atas sofa.


" Kenapa kau melihatnya terus? Kau ingin tau siapa dia?" Tanya William saat tau Hellen melihat terus ke arah Dhea.


" Maaf tuan ", kata Hellen menunduk.


" Dia itu kekasihku, namanya Dhea. Lihatlah tubuhnya tertutup dari atas hingga ke bawah. Bahkan aku tidak bisa melihat kulit dibalik telapak kakinya, dan kamu tau? Itu yang membuatku tertarik serta penasaran padanya."


" Iya tuan ", jawab Hellen singkat, walaupun di dalam hatinya ada sedikit perasaan cemburu dan iri, saat tau bos pujaannya ini ternyata sudah memiliki kekasih.


" Dan kamu...???"


" Iya tuan, ada apa dengan saya?"


" Hari ini pakaianmu sudah lumayan sopan. Bagus....kau justru lebih terlihat mahal dengan tampil begini dibanding dengan waktu itu."


" Terimakasih tuan."


Padahal dalam hati Hellen sedang mengutuk bosnya itu, dia merasa bahwa selama ini bosnya tersebut menganggap dia murahan.


" Baik, laporanmu sudah benar, biarkan di mejaku dulu nanti kupelajari lagi. Silahkan kembali ke ruanganmu."


" Baik tuan."


Hellen kemudian segera beranjak dari duduknya, sebelum keluar disempatkannya melirik Dhea lagi, mencari tau bagaimana rupa gadis yang bisa membuat bosnya itu jatuh cinta, namun tidak berhasil karena posisi tidurnya yang meringkuk hingga menutup sebagian wajahnya.


" Hmmm nyenyak sekali tidurnya, pasti dia kelelahan. Ini sudah pukul 3.20 padahal pukul 4 nanti dia harus bekerja. Lebih baik kutelfon Bram saja." Gumam William.


Terdengar nada panggil di sana, sesaat kemudian terdengar suara Bram menyapa.


" Hallo Will."


" Hallo Bram."


" Ada apa kau menelfonku?"


" Aku hanya ingin memberitahumu, bahwa salah satu pegawaimu tidak bisa masuk hari ini."


" Salah satu pegawaiku? Dhea maksudmu?"


" Ya Dhea, dia sedang di sini bersamaku."


" Di sini bagaimana maksudmu???" Tanya Bram panik, suaranya setengah berteriak.


" Heiii...tenang saja teman, kenapa kau begitu mengkhawatirkannya?"


" Jelas aku khawatir, bahkan Dhea selama ini selalu menolak bertemu denganmu, apakah kau memaksanya sehingga dia mau ikut denganmu?"


" Yahhh sedikit, hanya perlu menggertaknya saja untuk mau menuruti kata kataku ", jawab William sambil tertawa.


" Kau jangan macam-macam Will, gadis itu tidak pernah memiliki masalah denganmu sebelumnya."


" Ya...dia memang tidak memiliki masalah denganku, tapi dia sumber dari masalahku."


" Maksudmu?"


" Ya dia jadi sumber penyebab aku tidak bisa berhenti memikirkannya teman."


" Will kau....???"


" Sudahlah Bram percayalah padaku, aku belum menyentuhnya sedikitpun, maksudku menyentuh bagian tubuhnya, kau tau kan maksudku??" Kata William sambil tertawa.


" Will....jika kau menyakitinya, kau akan berhadapan denganku."


" Kau berani menantangku sekarang?"


" Maaf untuk kali ini iya, aku tak perduli walaupun kau ini sahabatku. Dhea itu gadis yang sangat baik, dia jauh-jauh pergi dari negaranya hanya untuk menuntut ilmu, bahkan pengorbanan dia begitu besar untuk sampai di sini, dan bukan untuk bertemu pria bejat sepertimu."


" Hahaha Bram Bram, aku tau kau juga mencintainya, tapi bukan berarti kau lebih baik dariku."


" Ya aku memang tidak lebih baik darimu, tapi minimal aku tidak akan merusak gadis baik-baik seperti Dhea."


" Sepertinya kau sangat serius?"


" Kau pikir aku dari tadi main-main? Aku itu tau semua tentangnya, kehidupan pribadinya, bahkan cerita tentang keluarganya, makanya aku berusaha melindunginya saat di sini."


" Dengar!! Mulai sekarang aku akan menggantikan posisimu."


" Posisiku untuk melindunginya?"


" Ya untuk melindunginya."


" Hahaha omong kosong, bahkan dia sangat takut saat bertemu denganmu."


" Aku akan membuat rasa takutnya berganti dengan cinta, itu janjiku Bram !!"


" Hhhhh aku pegang omonganmu sebagai seorang laki-laki sejati Will."


" Ya...silahkan, ingat kata-kataku ini Bram."


" Oke aku akan berusaha percaya denganmu, kau akan melindunginya dan bukan merusaknya. Lalu dimana dia sekarang?"


" Dia sedang tertidur di sofa ruangan kantorku, sepertinya dia kelelahan, padahal dia baru saja sembuh tapi sudah pergi kemana-mana."


" Ya sudah nanti kau bangunkan dia 1 jam lagi , karena dia harus menjalankan ibadahnya."


" Ok Bram, nanti akan kubangunkan dia."


Kemudian William menutup telfonnya. Dia melihat Dhea kembali, posisinya masih sama dengan pertamakali saat dia tertidur di sofa itu.