Something different

Something different
Flasback William mualaf 7



" Bagaimana Will, sudah lega kan kau sekarang? rasanya tidak sesakit dikhianati wanita kan?" Canda Feri.


" Hahaha....kenapa kau menyamakan rasanya dengan dikhianati wanita? jika dikhianati wanita itu kan sakitnya di sini, tapi kalau dikhitan kan sakitnya di sini." Jawab William sambil menunjuk dada dan bagian bawah tubuhnya.


" Yang mana Will maksudmu? coba aku lihat bagian mana yang sakit kalau dikhitan?" tanya Feri menggoda William kembali.


" Enak saja, kau tadi bahkan puas memperhatikan punyaku, kenapa kau ingin melihatnya lagi? jangan-jangan kau mau menconteknya ya?" kata William.


" Hahaha...kau pikir kita sedang membahas matematika pakai contek-contekan segala?"


" Lho kan hampir sama dengan matematika, kita kan membicarakan perihal ukuran panjang dan besar juga bukan?" jawab William.


" Hahhhh sialan kau ini, besok kurendam dengan minyak tanah biar melar ya."


" Hahaha kau pikir itu terbuat dari karet." Kemudian dua orang laki-laki dewasa itu terbahak bersama.


" Sepertinya jika kondisimu seperti ini, kita tidak perlu menunggu lama untuk proses pengucapan sahadatmu Will. Kau bahkan tidak kesulitan berjalan kan?"


" Iya Fer, semakin cepat semakin baik. Dengan begitu aku juga bisa cepat kembali ke negaraku, rasanya aku sudah rindu dengan gadisku di sana."


" Lho kau bilang kalian sudah putus, dan kau tidak ingin menampakkan diri di hadapannya dulu sementara waktu ini?"


" Iya itu memang benar, tidak menampakkan diri kan bukan berarti aku tidak boleh memandangnya teman, walaupun itu cuma bisa kulakukan dari jauh."


" Hehhh...hubungan kalian itu rumit sekali sih Will?"


" Ahhh kau tidak usah protes. Kau kan belum tau apa yang sedang kurencanakan untuk dia."


" Kau tidak sedang memikirkan untuk membuat sensasi melamar dia dengan menjatuhkan diri dari puncak Himalaya kan?"


" Hahaha itu namanya bukan membuat sensasi Fer, tapi bunuh diri. Sialan kau." Kata William sambil menonjok bahu Feri. Dan Feri hanya tertawa lebar.


" Fer, bagaimana perkembangan perusahaanku di sini?"


" Tenang saja Will, aku sudah menempatkan orang-orang yang tepat di perusahaanmu itu, kau tidak perlu mengkhawatirkannya."


" Ya, aku percaya padamu Fer."


Kendaraan Feri terus membelah jalanan, hingga tidak lama kemudian merekapun telah tiba di tempat tujuan. Mariyam menyambut kedatangan mereka berdua di depan pintu rumah. Dia keheranan melihat William tampilannya tidak berubah sama sekali, seperti awal dia berangkat tadi.


Setelah menyalami suaminya. Mariyam menanyakan perihal keherananannya tadi.


" Lho bi, apa William tidak jadi dikhitan? mana sarung yang umi berikan padanya tadi?"


" Teknologi memang sudah semakin maju mi, William sudah selesai dikhitan, tapi dia tidak perlu menggunakan kain sarung seperti abi dulu saat kecil."


" Oh ya bi? tidakkah berbahaya nantinya jika luka itu tergores oleh celananya?" Tanya Mariyam lagi.


" Tenang saja mi, abi juga baru tau kalau sekarang helm itu bukan hanya digunakan di kepala saja, tapi juga digunakan di situ." Bisik Feri pada Mariyam.


" Ohhh begitu ya, lucu juga ya bi." Jawab Mariyam sambil berbisik pula.


" Hahaha...." Suami istri itupun terlihat tertawa bersama.


" Hei kalian berdua!! sudah selesai belum membicarakanku?" tanya William pada pasangan di depannya itu.


" Sebenarnya belum selesai sih Will, masih ada banyak hal yang ingin kutanyakan padamu, tapi sepertinya kau tidak perlu menjawabnya, karena aku sudah bisa menyimpulkannya sendiri." Kata Mariyam sambil tersenyum lalu meninggalkan mereka berdua.


" Fer apa maksud kata-kata istrimu sih?" tanya William keheranan.


" Tidak sama sekali Fer." Kata William sembari menggelengkan kepalanya.


" Sama kalau begitu Will, aku juga tidak paham." Kata Feri seraya tertawa lebar.


" Isshhh...aku pikir setelah hidup lama dengan istrimu, kau bisa memahaminya luar dalam, bahkan suara hatinya juga." Gerutu William.


" Hahaha...kau pikir aku paranormal, bisa tau suara hati orang? aneh-aneh saja kau Will."


Lalu William dan Feripun masuk ke dalam rumah.


" Bagaimana tadi bi prosesnya lancar?" tanya Mariyam pada suaminya sambil ikut duduk di sebelah Feri.


" Alhamdulillah mi lancar."


" Syukurlah aku pikir gunting dokter tidak bisa bekerja dengan baik, karena kulitnya pasti sudah kadaluarsa. Tadi bahkan aku memikirkan untuk meminjamkan gunting taman yang biasa dipakai tukang kebun kita bi."


" Hahaha..berarti mengandung racun dong mi kalau kadaluarsa?" Jawab Feri sambil tergelak.


" Ohhhhh tentu Fer, racun yang memabukkan." Bisik William di telinga Feri.


" Ihhhhhhh...mulai lagi kalian ini. Ya sudah aku masuk dulu, kalian selesaikan pembicaraan laki-laki dewasanya ya." Kata Mariyam sambil berjalan masuk ke dalam rumahnya.


" Lalu kapan kau menelfon orang tua Dhea lagi Fer?"


" Ahhhh kau ini tidak sabaran sekali. Besok saja aku telfon, lihat perkembangan kondisimu dulu. Biusmu itu kan belum hilang, jadi kau belum merasakan apa-apa. Siapa tau setelah bius itu hilang kemudian kau merasa kesakitan, biasanya bisa bengkak juga sebesar ini." Kata Feri sambil memperagakan kedua tangannya.


" Ahhhh...aku sudah tidak percaya lagi dengan kata-katamu, kau pikir aku tidak tau kau sedang mengerjaiku lagi. Kemarin kau bilang segini, lalu sekarang segini, tolong kau ambil keputusan dulu, tetapkan pilihanmu yang segini atau yang segini." Kata William sambil mempraktekkan dengan kedua tangannya dan jari kelingkingnya.


" Hehhh..jadi tidak asyik lagi kalau begini." Jawab Feri sambil bersungut-sungut. Dan Williampun kali ini tersenyum penuh kemenangan.


" Mana istriku tadi ya?" Gumam Feri.


" Kenapa Fer?"


" Rasanya nikmat jika siang-siang begini minum jus buah segar." Katanya menjawab pertanyaan William.


Tak lama kemudian Mariyam terlihat keluar sambil membawa minuman dan camilan untuk suami dan sahabatnya itu.


" Wahhh enak sekali ya ternyata punya istri, tanpa diminta dia sudah tau isi hati kita, sepertinya ada sinyal telfon dalam tubuh kalian berdua." Kata William.


" Hahaha Itu jika kau dapat istri sholehah...dan kau juga bisa mendidik istrimu dengan baik, baru bisa kau sebut enak. Jika istrimu itu durhaka padamu, kau jangan cuma salahkan dia, tapi kau juga ikut andil atas keburukan ahlaknya, karena itu menunjukkan kau tidak berhasil mendidiknya dan kurang tegas padanya."


" Iya Will, dulupun kau tau sendiri siapa aku. Bahkan saat pertamakali memakai baju ini rasanya aku sedang berada di dalam gua, begitu gerah. Tapi karena suamiku yang begitu sabar selalu memberiku pengertian, maka hasilnya jadi seperti ini." Kata Mariyam sambil meletakkan makanan yang dibawanya di hadapan mereka.


" Ayo diminum Will, jus buah ini bisa menyegarkan tubuhmu."


" Iya benar mi, tadi aku lihat wajah dia saat di atas ranjang dokter begitu tegang, seperti seorang pesakitan yang sedang menghadapi putusan hakim saja dia mi." Kata Feri.


" Hahaha....benarkah Will? bisa aku bayangkan pasti wajahmu jelek sekali, seperti sedang menahan hajat di perutmu bukan?"


" Issshhhh...tidak sejelek itu juga Mar, masak kau tidak tau? wajahku kalau sedang jelek itu ya seperti wajah suamimu saat dia sedang tampan, begitulah kira-kira kau bisa membayangkannya sendiri kan?" Jawab William santa sambil menyeruput minuman yang telah disediakan oleh Mariyam seolah tanpa rasa bersalah.


" Ehhh sialan kau!! kau sedang mengataiku ya?"


" Ya, sepertinya sih begitu hehehe."


" Aku deportasi ke negaramu baru tau rasa kau." Gumam Feri, sedangkan Mariyam hanya tertawa saja.