
" Sayang kemarilah, duduklah di sampingku." Kata William sambil meminta Dhea menemaninya mengobrol bersama Daniel di dalam salah satu ruang santai di rumah itu.
" Apakah kehadiranku tidak mengganggu obrolan kalian nanti?" tanya Dhea.
" Tidak sayang kau itu bukan gangguan untukku, karena kehadiranmu selalu aku butuhkan." Kata William sambil merapatkan tubuhnya di dekat Dhea, kemudian menarik tangan istrinya ke dalam genggamannya.
" Ehemmm...ehemmm....hei dua anak manusia yang sedang dilanda cinta!! tolong kondisikan romantika kalian berdua itu ya....hellooo....ada pria jomblo di sini." Kata Daniel.
" Ohhh maaf Dan, aku pikir kau tidak mendengarnya." Kata William sengaja memperolok Daniel.
" Sialan kau pikir telingaku ini hanya asesoris? gendang telingaku masih normal ya. Lalu kenapa kau duduknya berdekatan seperti itu? kau pikir ini di dalam angkutan umum?"
" Lho ini kan rumahku? jadi aku bebas mau duduk berdekatan dengan istriku, ataupun duduk di pangkuannya. Jika kau tidak ingin milihatnya, silahkan kau menghadap ke sana saja."
" Heiii kau pikir aku sudah gila? aku mengobrol denganmu, tapi wajahku menghadap dinding rumahmu? Sungguh tidak masuk akal." Gerutu Daniel.
" Ya siapa tau sekarang kau sudah gila, dan mau mengobrol denganku tapi wajahmu menghadap dinding." Jawab William sambil terkekeh.
Dhea hanya terbahak mendengar dua sahabat itu dari tadi saling mengolok.
" Aku tidak menyangka, kalian ini mesra sekali sih." Jawab Dhea tiba-tiba.
" Hahhh...istrimu ini jarang berbicara, sekalinya berbicara kalimat yang dia keluarkan sungguh menikam jantungku Will."
" Menikam jantungmu bagaimana?"
" Ya menikam jantungku. Bagaimana tidak? aku dan kau itu dari tadi seperti ****** dan kucing, dia bilang kita ini mesra, aduhhh harus kuadukan kepada siapa kesalahpahaman ini Will? rasanya aku tak sanggup menghadapinya." Kata Daniel sambil memegang kepalanya, dan berekspresi berlebihan.
" Hahaha...dasar kau ini. Sudah jangan bercanda terus. Jadi kau tadi kemari ada keperluan apa Dan?"
" Kau ini bagaimana? sejak kalian menikah kan aku sama sekali belum bertemu istrimu, tentu saja aku ingin mengucapkan selamat pada kakak ipar baruku dong Will."
" Kakak ipar? sejak kapan aku punya saudara kandung seperti kau? lihatlah adikku, wajahnya itu tak jauh beda dari aku, sedangkan kau? aku yakin jika ibuku benar-benar melahirkan kau, dia pasti trauma hamil kembali, karena merasa gagal memberikan keturunan tidak baik dalam silsilah keluargaku."
" Hahhh...kau pikir ada yang salah dengan susunan struktur wajahku?"
" Tidak salah sih, hanya sedikit kurang proporsional hahaha." Daniel hanya bersungut-sungut saja diperolok oleh sahabatnya itu.
" Sayang jangan begitu ah, kau tidak boleh menghinanya. Ingat ada calon anakmu di dalam perutku, kau tidak mau kan anakmu ini nanti mirip dengannya." Dengan suara bisikan, tapi sengaja dikeraskan agar didengar Daniel.
" Astagfiruloh haladzim!!! kenapa aku lupa?? maaf Dan, jangan diambil hati ya jika aku terlalu jujur padamu."
" Tidak usah meminta maaf, dari awal tadi hatiku telah tercabik cabik dan hancur berantakan oleh kalian berdua." Jawab Daniel sambil memasang wajahnya yang sok sedih.
" Hahaha...kau pikir wajahmu yang memelas itu membuatku trenyuh, dan kemudian akan menaikkan 2 kali lipat gajimu?"
Daniel hanya garuk-garuk kepala saja mendengarkan kalimat sahabatnya, sekaligus bosnya yang sebenarnya sudah seperti seorang saudara baginya.
" Sayang, Daniel ini dulu selain teman seperjuanganku saat sama-sama brengsek, tapi juga sekaligus orang yang luar bisa yang selalu membantuku di saat-saat sulitku. Bukan hanya tentang masalah pekerjaan saja, tapi juga masalah pribadi juga."
" Dan satu lagi, teman yang membantu menyatukan kalian berdua. Ya tidak bos?" kata Daniel sambil memainkan satu matanya pada William. William seakan mengerti tentang maksud kalimat yang diucapkan oleh Daniel.
" Heiiii...kalian sedang membicarakan apa ya kalau aku boleh tau???" tanya Dhea penasaran.
" Tidak sayang, itu hanya sedikit kenakalan kami berdua saat sebelum menikah denganmu."
" Tidak, pasti ada rahasia jahat yang kalian sembunyikan? ayo ceritakan padaku sayang."
" Hehhh...kau ini. Maaf sayang, sebenarnya ide gila dulu saat aku mendekatimu itu semua berasal dari orang ini, jadi jangan salahkan aku ya."
" Ohhh jadi dia ini tim suksesmu ya?"
" Begitulah sayang hehehe."
" Huuhhhh....Sebenarnya jika semuanya aku ketahui dulu saat aku belum jadi istrimu, mungkin dialah orang pertama yang akan aku cari, dan jika bisa, aku akan langsung lempar dia ke Planet Mars, agar tidak mempengaruhi pikiranmu dengan ide gilanya. Biar saja dia berteman dengan para alien di sana."
" Waduhhhh...istrimu ternyata sangat ganas ya Will."
" Sssstttt...itu baru di luar, belum jika sedang di dalam." Kata William sambil berbisik pada Daniel.
" Hahaha...sialan kau. Oh iya biasanya kau kan mengajakku mengobrol di balkonmu, kenapa sekarang di sini?" Tanya Daniel.
" Sembarangan, kamar itu sekarang yang boleh memasukinya hanya aku dan istriku, serta pegawai yang ingin membersihkannya. Mahluk sejenis dirimu itu ada tanda verboden ya."
" Ohhh ya, hanya verboden kan? tapi bukan berarti aku dilarang parkir di depan pintunya kan?"
" Hahhh...kau mau menurunkan penumpang di situ pakai parkir segala?" Daniel hanya terkekeh saja.
" Kalian ini apakah setiap bertemu selalu seperti ini? Berdebat terus, jika tidak olok-olokan?"
" Jika kau lihat kami masih terus olok-olakan berarti hubungan kami masih baik Dhe, tapi jika dia sudah berbicara secara resmi, biasanya dia sedang dirundung masalah. Namun jika dia menelfonku, kemudian saat aku tiba disana dia sedang diam saja termenung sambil menatap kendaraan di bawahnya, itu berarti dia sedang kesepian Dhe, dan itu artinya dulu dia sedang merindukanmu hahaha, benar kan Will?"
" Issshhhh...sampai hafal sekali kau dengan kebiasaanku."
" Harus aku hafal Will, supaya aku tidak salah memberikan jalan keluar. Jadi tanpa harus kau ceritakan, dari ekspresi yang kau tunjukkan saja, aku sudah harus bisa menyiapkan amunisiku untuk membantumu."
" Hahaha...kau sungguh beruntung sayang memiliki teman yang sangat mengertimu luar dalam."
" Tuh Will, istrimu saja tau. Itu berarti kau harus melakukan sesuatu untuk membalas budimu."
" Ya aku memang harus mencarikan sesuatu untukmu, yaitu seorang istri, agar kau bisa mengatur hidupmu untuk lebih baik lagi ke depannya." Gumam William.
" Waduhhh teman, maaf!! lebih baik aku mencarinya sendiri saja ya? kau tidak usah repot-repot mencarikan untukku." Kata Daniel sambil mengangkat kedua telapak tangannya, seraya menggoyangkan ke kiri dan ke kanan, sebagai penegasan penolakannya.
" Ahhh sepertinya reputasiku sebagai penakluk wanita bisa terancam di sini, kalau begitu aku pulang dulu, sebelum kalian berdua semakin menyudutkanku." Pamit Daniel sambil beranjak dari tempat duduknya.
" Hei pembicaraan kita kan belum selesai?"
" Tidak ada yang perlu diselesaikan teman, rasanya perkenalan resmiku pada istrimu sudah selesai."
" Siapa bilang sudah selesai? istriku bahkan belum tau siapa orang tuamu, dan asalmu dari mana?" Kata William sedikit mengeraskan suaranya, karena Daniel mulai berjalan menjauh.
" Hahaha kenapa kau tidak mengatakan bahwa istrimu juga ingin tau aku lahir dimana? dan nama dokter yang membantu persalinanku siapa? atau bahkan istrimu juga penasaran nama kakek buyutku siapa? begitu kan teman?" Kata Daniel membalikan badannya sebentar.
" Katakan saja padanya, aku ini berasal dari selatan datang kemari ingin mencari kitab suci. Beres kan? aku pulang dulu." kata Daniel lagi, seraya membalikkan badannya kembali, lalu melambaikan tangan, dan tanpa basi basi dia telah melangkahkan kaki menuju keluar untuk kembali ke tempat tinggalnya.
William dan Dhea hanya bengong sambil berpandangan melihat tingkah konyol temannya itu.
" Hehhhh...kasihan sekali kau teman, sepertinya permasalahan hidupmu begitu berat!!" gumam William, lalu kemudian mereka tertawa bersama.
" Hei teman, hati-hatilah di jalan!!!" teriak William.
" Okkk siap bossss!!!" jawab Daniel tanpa memalingkan mukanya lagi.