
Setelah kendaraan William tiba di sebuah lokasi perkantoran, dia segera turun dan berjalan menuju kantor tersebut.
Dilihatnya Feri sudah menantinya di depan sana.
" Hei Fer, kamu sudah tiba dari tadi?"
" Yah lumayanlah Will."
" Maaf ya, jalur yang aku lewati tadi macet, jadi aku sedikit terlambat."
" Tak apa Will, ayo kita masuk!!" ajak Feri.
Lalu mereka berdua segera masuk. Wajah Feri terlihat tegang, begitu juga William. Feri menceritakan kronologi kejadian sebenarnya, bagaimana semuanya bisa terjadi, hingga menjadi berita besar karena melibatkan sejumlah orang penting di kota itu. Seorang petugas mengantar mereka berdua ke dalam ruangan yang sekelilingnya diberi jeruji. Dilihatnya direktur hotel sedang duduk meringkuk disana, sambil menekuk wajahnya. Melihat kedatangan bos besarnya itu, direktur tersebut langsung spontan berdiri.
" Tuan William!! tuan....tolong saya!! Saya tidak tau menahu masalah transaksi itu. Saya tidak bekerjasama dengan mereka sama sekali." Katanya dengan wajah yang sangat memelas.
" Hehhhh...lalu kenapa bisa terjadi seperti ini? Kenapa mereka bisa leluasa menggunakan salah satu ruangan hotel sebagai tempat terlarang itu?"
" Ini semua salah saya tuan. Saya yang kurang tegas dalam menyeleksi setiap tamu yang masuk. Saya yang kurang disiplin dalam menjalankan peraturan yang sudah diterapkan dalam hotel itu."
" Kau yakin tidak terlibat sama sekali?"
" Iya tuan saya berani bersumpah."
" Ingat! kasus itu saat ini sedang disorot oleh banyak media. Dan tentunya banyak berbagai pihak yang memanfaatkan kesempatan tersebut demi kepentingannya sendiri. Psti para wartawan akan terus mencari informasi mengenai masalah tersebut, karena selama ini hotel kita terkenal dengan logo hotel famili, dan melarang setiap tamu hotel yang tidak memiliki hubungan apa-apa bisa tidur bersama, namun sekarang justru ada kasus memalukan seperti itu."
" Iya tuan itulah kesalahan saya, saya lalai dalam hal itu. Saya hanya memikirkan bagaimana caranya hotel itu bisa ramai, itu saja. Saya tidak menyangka jika kemudian dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab tuan. Tapi saya bersumpah tuan, saya tidak tahu menahu dengan transaksi tersebut."
" Kamu tau kan sekarang? semua pekerjaan itu ada resikonya? bahkan kamu yang hanya duduk enak di atas kursi empuk saja, harus menanggung resiko atas kelalaianmu. Jangan hanya uang saja sebagai motivasimu, sehingga tidak memikirkan akibatnya sama sekali!!"
" Iya tuan maafkan kesalahan saya, saya harusnya lebih berhati-hati dalam hal ini."
" Bagus, jika kau sadar. Aku memaafkanmu. Tapi tetap kau harus menanggung resiko atas keteledoranmu ini. Kau harus berusaha dengan keras untuk memulihkan nama baik hotel itu. Karena hal ini kau sudah membuat susah banyak orang. Kau tau kan sekarang? otomatis tamu hotel jadi berkurang, dan itu berarti kau juga merugikan banyak pegawai lainnya, jika nanti hal paling buruk terjadi pada hotel itu."
William dan Feri saling berpandangan. William menarik nafas panjang sesaat.
" Aku sudah menduga ini semua sebelumnya fer, pasti ada ketidakberesan di manajemen, sehingga bisa lolos dari pengawasan pegawai kita." Gumam William.
" Ya sudah kamu sabar dulu ya, saya akan mencoba bernegosiasi dengan petugas. Siapa tau mereka bisa melepaskanmu, yang penting tidak ada bukti yang menguatkan keterlibatanmu dengan mereka." Kata William pada direktur itu lagi.
" Iya tuan, saya mohon sekali bantuan anda." Jawab direktur tersebut dengan wajah yang sangat muram.
" Fer, ayo kita temui petuga!! kita harus menjelaskan bahwa tidak ada keterlibatan sedikitpun antara direktur hotel dengan mereka."
Lalu William dan Feri berjalan menuju ruang pimpinan di dalam kantor. Setelah bercakap-cakap sebentar dengan salah satu petugas, lalu mereka diantar oleh petugas itu menuju ruang pimpinan mereka.
" Silahkan duduk kata orang nomor satu di dalam kantor itu." Saat mereka berdua telah tiba di depan pintu.
Lalu William dan Feri segera masuk, dan berjabat tangan terlebih dahulu, sambil kemudian duduk di hadapan orang nomor satu di dalam kantor tersebut.
Terlihat berbagai macam tanda pangkat di kanan kiri lengan bajunya. Hanya orang-orang tertentu yang tau maknanya, yang jelas tanda itu menunjukkan siempunya pasti memiliki jabatan tinggi dalam jajaran kemiliteran. William memandang sekeliling ruangan yang dimasukinya. Berbagai piagam penghargaan terpajang rapi di dalam almari. Entah piagam apa saja, William tidak bisa membacanya satu-persatu, karena tulisannya begitu kecil. Lagipula dia tidak sekurang kerjaan itu, jauh-jauh kesana hanya untuk membaca deretan piagam yang ada di dalam ruangan yang dimasukinya. Tujuannya hanya satu, yaitu bernegosiasi untuk mengeluarkan direkturnya yang tidak bersalah.
Tidak hanya piagam yang menjadi pemanis ruangan tersebut, ternyata masih ada pula deretan foto yang tertempel di dinding ruangan yang memperlihatkan beberapa pejabat terkenal di negeri ini, sedang berswafoto bersama orang yang saat ini sedang duduk di hadapannya. Bahkan di dinding tepat di atas kursi orang tersebut duduk, terdapat orang yang tidak begitu asing di mata William. Walaupun dia kurang lebih baru setahun tinggal di Indonesia, namun ia sering melihatnya wara wiri di layar televisi. Ya benar, ingatannya pasti tidak salah dengan sosok orang nomor satu di Indonesia itu. Dua orang itu terlihat sumringah, sambil melambaikan tangan ke arah kamera.
" Hemmmm foto yang sangat ceria, semoga seceria senyuman rakyat di negeri ini." Gumam William dalam hati.
" Maaf ada yang bisa saya bantu?" Tanya orang yang dipanggil komandan oleh bawahannya tadi, saat mereka baru saja hendak masuk.
" Begini komandan." Kata William mengikuti sebutan bawahan yang dia dengar tadi.
Feri hanya tersenyum dalam hati. Mendengar William iku-ikutan memanggil komandan pada orang itu, sebenarnya sah-sah saja sih, dan sedikitpun tidak ada yang aneh dengan cara William memanggio orang itu. Tapi bukan Feri namanya jika tidak bisa menertawai William, dengan segala tindak tanduknya yang seharusnya tidak perlu dipermasalahkan, bahkan hanya menertawainya dalam hatinya saja.
" Hehhhh...sok akrab sekali dia pakai ikut-ikutan memanggil komandan, sejak kapan dia jadi salah satu bawahannya? aku yakin jika dia jadi salah satu bawahan di kesatuan ini, pasti kerjaannya hanya selfi, lalu update status dan dengan narsisnya dia akan menulis caption 'Polisi ganteng juga harus bertugas', hahaha sudah pasti itu!!!" kata Feri dalam hati. Dan William tidak tau bahwa sekarang dia jadi bahan bullian temannya itu, walaupun hanya sekedar di dalam bathin saja.
" Ehhhh tapi tidak!! mana mungkin kesatuan ini menerima bule sebagai salah satu anggotanya? memangnya tidak ada orang lokal yang lebih membutuhkannya? ya ya ya benar, bule ganteng seperti dia mana mau kerja di tempat seperti ini, apalagi jika harus disuruh mengatur lalu lintas dan berpanas-panasan, ahhh jangan-jangan dia nanti cuma bisa cari perhatian dengan para pengemudi cantik saja. Aahhh sudah benar di posisimu yang sekarang ini saja William, jangan pernah berkhayal ingin menjadi polisi ya." Kata Feri dalam hati. Padahal itu kan cuma bayangan dia saja yang memikirkan William menjadi salah satu anggota di kepolisian ini, tapi kenapa lalu dia merevisi kalimatnya sendiri? hemmm sepertinya mulai banyak orang aneh di negeri ini.