
William merasa bingung karena Mike berhenti secara tiba-tiba, dan mimik wajah adiknya itu terlihat begitu tegang. William merasa, pasti ada yang tidak beres yang hendak disampaikan Mike padanya.
" Lho kenapa berhenti Mike?" tanya William. Mike tidak menjawab, tetapi pandangan matanya langsung beralih pada papanya. Sang papa yang berada di sebelahnya, seolah mengerti maksud Mike, kenapa dia berhenti di depan pintu. Papa Mike menganggukan kepalanya, memberikan tanda bahwa dia setuju dengan apa yang hendak dilakukan anak bungsunya itu.
" Will....Dhe....sebelum kalian melihat anakku, aku ingin menceritakan sesuatu pada kalian berdua, agar kalian nanti tidak terkejut saat sudah berada di dalam."
" Memangnya apa yang terjadi Mike? sehingga kau harus terlebih dahulu memberitahukan kami di sini." tanya Dhea penasaran.
" Sebenarnya cobaan ini cukup berat untuk kami berdua, dan tentunya ini juga sangat berpengaruh pada keberlangsungan masa depan keluarga besar kita. Tapi aku juga tidak pernah meminta ini semua terjadi padaku. Entahlah, mungkin ini adalah satu ujian Tuhan untukku dan juga istriku. Walaupun semuanya sangat berat kuhadapi, dan ini semua membuat hubunganku juga istriku menjadi jauh. Papa sudah mengetahui semuanya. Tidak satupun hal yang aku sembunyikan dari papa akibat dari hadirnya bayi ini di tengah-tengah keluarga kecilku. Untungnya papa adalah orang tua yang begitu bijak dan selalu mensuportku."
" Mike, ada apa sebenarnya? aku jadi bingung, apa yang terjadi pada Devian? Dia baik-baik saja kan?"
" Tidak Will."
" Maksudmu? apakah dia menderita penyakit tertentu, atau kelainan bawaan?"
" Ya Will. Devian memiliki kelainan bawaan."
" Maksudmu??" tanya William lagi.
" Anakku tidak dapat melihat. Dia tidak memiliki indra penglihatan Will." Kata Mike sambil tertunduk.
" Astagfirullah hal adzim!!" Dhea dan William mengucapkannya hampir bersamaan, karena mereka berdua merasa terkejut dengan kalimat yang dikatakan oleh Mike.
" Kenapa bisa begitu Mike?"
" Aku juga tidak tau. Dokter mengatakan itu bawaan dari lahir. Dan tidak ada cara satupun yang dapat mengobatinya."
" Ya Allah Devian!!" kata Dhea lirih.
" Aku akan melihatnya!!!" Kata Dhea tiba-tiba, dan langsung membuka pintu yang ada di belakang Mike, dia tidak perduli bahwa Mike belum mempersilahkan mereka untuk masuk ke dalam kamar anaknya.
Dilihatnya seorang baby sitter sedang memberi susu pada Devian, melalui sebuah botol sembari memangkunya.
" Devian..." panggil Dhea sambil berjalan pelan mendekati keponakannya, diikuti oleh William, Mike dan papanya.
Bayi kecil yang ada di pangkuan sang baby sitter seolah tak bergeming dengan panggilan Dhea. Bayi mungil tanpa dosa yang diabaikan sang ibu itu, terus saja asyik minum susu dari botol dotnya. Deasy memang tidak mau mulut sang bayi bersentuhan langsung dengan kulit tubuhnya, sehingga dia lebih rela menampung air susunya dalam sebuah botol, dibandingkan menyusukan langsung pada buah hatinya.
" Ya Allah nak, kenapa Allah memperlakukanmu sespesial ini? Bersabar ya, ini adalah bentuk Allah menyayangimu, karena Dia tidak ingin kau melihat banyak bentuk kemaksiatan di sekitarmu." Kata William dalam hati, sambil menyelipkan sebuah doa untuk keponakannya itu.
Dhea langsung mengambil bayi tersebut dari pangkuan baby sitter, dan langsung menggendongnya. Bayi tersebut seolah merasakan pelukan hangat seseorang yang menyayanginya. Dia diam saja, dan terus menghabiskan susu yang sedang dipegang oleh Dhea. Dhea tidak tau apakah bayi itu sedang tidur atau tidak, karena kondisi matanya itu. Hanya kaki mungilnya yang bergerak-berak, dari situlah Dhea tau bahwa bayi itu sedang terjaga.
" Mike, mana Deasy? kenapa Devian minum dari botol susu, dan tidak langsung pada Deasy?"
" Deasy tidak mau menyusui Devian langsung Dhe. Jadi setiap hari Deasy menampung air susunya dalam botol." Jawab Mike pelan.
" Kenapa Mike?"
" Dia sangat membenci Devian karena kondisinya itu. Bahkan saat tau Devian tidak dapat melihat, dia ingin membuang Devian."
" Astagfirullah hal adzim!!! Jahat sekali sih dia!!!"
" Aku juga tidak tau bagaimana hubunganku dengan Deasy sekarang. Dia terlalu egois. Kami tinggal serumah, tetapi jarang sekali bertegur sapa."
" Kenapa begitu Mike?"
" Aku lelah Will. Lelah dengan sifatnya itu. Dia tidak bisa aku beri masukan sedikitpun. Aku merasa malu dengan kalian semua. Dulu saat menikah dengan Deasy, harapanku ini adalah pernikahanku yang terakhir, namun sepertinya sifat Deasy tidak bisa kutolelir lagi."
" Kau ingin berpisah dengannya?"
" Aku sudah tidak tahan Will. dia bahkan tidak perduli dengan Devian, padahal Devian adalah darah dagingnya sendiri. Menurutnya, keadaan Devian bisa mempermalukan dirinya."
Dhea dan William hanya menarik nafas panjang, sangat prihatin dengan kondisi rumah tangga adiknya itu.
" Pah, maafkan aku ya, sepertinya aku harus mengecewakanmu lagi dengan keadaan rumah tanggaku."
" Sudahlah nak jangan kau pikirkan papa. Kau pikirkan saja rumah tanggamu. Kalau bisa dibicarakan saja dulu baik-baik nak, itu saran papa."
" Ya pah, pasti itu. Aku akan membicarakannya sekali lagi dengan Deasy, tapi jika memang tidak bisa dikompromikan lagi, apa boleh buat, aku menyerah pah."
" Yahhh...keputusan tetap ada padamu nak, kami semua hanya bisa mendoakan yang terbaik buat kalian."