
William berjalan sambil mendorong koper-kopernya. Kepalanya menengok kesana-kemari mencari-cari seseorang.
" Siapa yang sedang kau cari sayang?"
" Daniel, kemarin aku sudah menelfonnya untuk menjemput kita di sini. Tumben anak itu belum muncul, biasanya dia selalu on time."
" Ya sudah kita tunggu saja dulu, mungkin jalanan sedang macet."
" Kalau begitu kita duduk dulu di situ ya." Ajak William, sambil menunjuk sebuah kursi kosong di depannya.
" Hehhhh...kemana anak itu? dia tidak tau jika istriku ini sudah mengantuk." Gerutunya, sambil terus mencari sosok temannya.
" Sabar sayang, atau kau telfon saja dulu dia."
" Ya coba aku menelfonnya." Sambil mengambil handphonennya. Sebuah suara terdengar di seberang sana, dan kelihatannya nafasnya sedikit ngos-ngosan.
" Hei....kenapa suaramu terlihat seperti sedang habis berlari berkilo-kilo meter?"
" Hahhh...aku memang sedang berlari, tunggu sebentar aku masih menuju ke arah situ!!!" Kata Daniel sambil mematikan handphonennya.
Benar saja, beberapa menit kemudian Daniel muncul dengan keringat yang membanjiri wajahnya.
" Aduhhhh....maaf teman, aku terlambat menjemputmu."
" Hehhhh...tumben? tidak biasanya kau seperti ini? memangnya kau sedang apa sehingga bisa lupa menjemputku?"
" Ahhhh...kau taulah, jika sudah menyangkut urusan lahir dan bathin itu, kadang tidak bisa dikompromikan lagi, padahal aku tadi sedang tanggung-tanggungnya." Sambil menyeka peluh di wajahnya.
Dhea yang mendengarnya hanya tersenyum saja, sangat paham dengan yang dimaksud Daniel, karena sahabat suaminya itu memang belum berubah sedikitpun pola hidupnya.
" Apa kabarmu teman???" sambil mendekat dan hendak memeluk William.
" Eitttssss...enak saja!!!" Sambil menghindar.
" Heiii...kenapa? kau tidak ingin melepas rindu dengan sahabat terbaikmu ini?"
" Hehhhh....tidak sudi aku memeluk tubuhmu, yang masih bercampur dengan saliva pasanganmu itu. Kau belum mandi kan?"
" Hehehe...belum sih, tapi kan bukan menempel di bajuku, tapi hanya di seluruh tubuhku." Bisiknya sambil terkekeh.
" Hahhh...sama saja, menjijikkan kau, sana jauh-jauh!!!"
" Hahaha...kau ini seperti lupa saja rasanya."
" Ya, tapi aku tidak sejorok kau. Kau itu belum mandi sudah kemana-mana."
" Kau salah memakai baju dalamanmu sendiri tidak? atau jangan-jangan dalamannya yang kau pakai?"
" Eitttssss...kau pikir aku tidak bisa membedakannya, walaupun tanpa melihatpun perasaanku masih peka teman."
" Hahaha...aku pikir kau sudah terbiasa."
" Sialan...kau pikir styleku sudah berubah ya...!!!"
" Hahaha siapa tau, setelah lama tidak bergaul denganku, kau terpengaruh dengan pergaulan yang sedikit menyimpang." Sambil terbahak.
" Yaaaa...bisa jatuh atributku sebagai penakluk wanita jika benar terjadi."
Dhea hanya tersenyum tipis mendengarkan obrolan dua sahabat, yang sangat tidak bisa dipahami secara akal sehatnya itu.
" Heiiii...!!! wanita cantik yang duduk di situ, kenapa kita acuhkan? Hallo Dhe? bagaimana kabarmu? kulihat kau semakin mempesona saja." Sambil mengulurkan jemarinya.
" Eittttssss....jangan berani-berani menyentuh tangan istriku ya...!!!" sambil menarik lengan Daniel.
" Kenapa Dan? aku kan hanya ingin menjabat tangannya saja, dan bukan untuk menggandengnya?"
" Yaaaa...tapi aku tidak membolehkannya. Bisa-bisa dia harus mandi 7 hari 7 malam untuk menghilangkan sial, karena berjabatan denganmu."
" Haaaahhhh...kau pikir tanganku mengandung kutukan?"
" Hemmmm...bisa jadi."
Dhea terkekeh kembali mendengar obrolan mereka.
" Hai Dan, maafkan suamiku ya, dia sepertinya rindu denganmu, makanya habis-habisan mengataimu."
" Ya Dhe, aku tau. Di sana pasti tidak ada orang seasyik aku, makanya setelah bertemu denganku, dia langsung menumpahkan semua perasaannya."
" Hahaha...siapa bilang orang sepertimu di sana tidak ada? bahkan banyak berceceran di jalanan."
" Hahhhhh...kau pikir aku apa? berceceran di jalan?" sambil cemberut.
" Ahhhh...kalian ini, ayo kapan pulangnya? aku sudah mengantuk nih....!!!"rajuk Dhea manja.
" Uhuk..uhukk...." Daniel sok terbatuk-batuk.
" Ayo sayang, kita pulang sekarang ya, biarkan Daniel, mungkin dia sedang terserang TBC." Sambil meraih istrinya untuk diajak berdiri, dan meninggalkan bawaannya, kemudian melenggang santai.
" Heiii....!!! bawaanmu ini bagaimana?" Teriak Daniel.
" Itu tugas pertamamu Dan, untuk selanjutnya menyusul." Jawab William tanpa menoleh sambil menggandeng tangan Dhea.
" Hehhhhh...nasib-nasib. Aku pikir kau juga akan menggandeng tanganku, ternyata justru menggandeng kopermu." Sambil berjalan di belakang mereka.
" Sayang, kamu duduk di belakang ya, aku di depan." Kata William sambil membukakan pintu untuk istrinya.
" Iya temanilah Daniel di depan." Sambil masuk ke dalam mobil.
" Jaga diri baik-baik di sini ya, aku pasti akan sangat merindukan kebersamaan kita berdua sayang, sebenarnya sangat berat, hanya saja orang di depan ini menjadi penghalang kita berdua." Sambil membalikkan badannya, setelah duduk di depan.
" Woooiiiii.....kalian ini sedang bermain apa sih?"
" Kenapa sih Dan? aku kan sedang menitipkan pesan pada istriku."
" Kau pikir aku tidak dengar? mobil yang kau naiki dengan istrimu itu sama, hanya duduknya saja yang terpisah. Pesanmu pada istrimu seperti dia akan pergi merantau ke dunia lain saja." Dhea hanya terkekeh saja, dia tau jika suaminya memang sedang berusaha membuat Daniel sebal.
" Biar saja, dia kan istriku, terserah aku mau berbicara apa padanya, aku kan pakai mulutku sendiri tidak pinjam mulutmu."
" Hahhhh...ada ya suami istri seaneh mereka berdua."
" Ahhhh...sudah jalankan mobilmu, awas jika sampai istriku ketiduran di mobil, kau yang kusalahkan?"
" Hahhhh...mata istrimu yang tidur, aku yang kau salahkan. Ya, pria memang selalu salah." Gerutu Daniel, dan Williampun hanya terbahak.
" Kenapa kau membatalkan kedatanganmu saat pernikahan Mike, Will? padahal waktu itu aku sudah mempersiapkan diri untuk menyambut kedatanganmu."
" Apa memangnya yang kau persiapkan?"
" Biasalah, kau tau sendiri."
" Hahhhh....jangan coba meracuniku lagi ya, aku sudah menjaga jarak dari suguhan laknat itu."
" Heiii...memangnya apa yang kusuguhkan?"
" Kau bilang seperti biasa. Apa coba kalau bukan yang itu."
" Enak saja. Walaupun aku ini belum bisa move dari dunia fatamorgana, tapi aku sangat menjunjung tinggi rasa penghormatanku, terhadap temanku yang sudah berdamai dengan hidup yang lurus."
" Jadi apa yang kau persiapkan?"
" Aku itu sudah meminta seluruh orang-orangku untuk menyiapkan makanan khusus yang tidak mengandung alkohol, dan menu-menu yang pantang dimakan olehmu."
" Woooow.....kau sangat perhatian sekali denganku teman."
" Kau saja yang tidak merasakan betapa besar perhatianku padamu, beib." Dengan sikap kemayu.
" Heiii...jangan sampai istriku curiga dengan sikapmu barusan ya."
" Hahaha.....tenang saja sayang, aku sudah tau hubungan kalian yang sesungguhnya itu sebenarnya seperti apa." Sambil terbahak.
" Nahhh...kan, apa kubilang." Daniel hanya terkekeh saja.
" Tapi aku sangat beruntung Dan, jika tidak kubatalkan kepergianku waktu itu, mungkin kau tidak akan melihatku selamanya."
" Maksudmu?"
" Pesawat yang kunaiki meledak, sesaat setelah lepas landas."
" Ya Tuhan, kau sangat beruntung sekali Will? kenapa kau tidak cerita padaku."
" Ini aku baru cerita padamu."
" Maksudku pada waktu itu."
" Tidak terpikir untuk memberitahumu Dan. Selamat dari kecelakaan itu saja, aku merasa Allah seperti ingin memberiku kesempatan untuk semakin memperbaiki hidupku."
" Syukurlah jika kau bisa mengambil hikmah semuanya."
" Makanya jangan coba-coba memberiku pengaruh buruk lagi ya...!! awas kau...!!!"
" Hahhhhh...lagi-lagi aku yang disalahkan?"
" Memangnya siapa yang harus kusalahkan? hanya ada kita bertiga, jadi kaulah yang menurutku lebih tepat disalahkan."
" Yahhhh...terserah apa katamu. Kembali ke pasal satu, bos selalu benar." Jawab Daniel sambil menambah kecepatan kendaraannya.