Something different

Something different
Mencoba move on



Sepeninggal orang tuanya juga dua orang perawat yang baru saja keluar dari dalam kamarnya, hanya tinggal Dokter Sherli saja yang masih berada di dalam ruangan.


" Dhe, kau wanita yang luar biasa, bahkan kau bisa setegar itu menghadapi ini semua. Aku yakin setelah ini Allah akan memberimu kebahagiaan yang berlipat ganda."


" Amiin. Aku tau anda hanya menghiburku dokter, anda lihat sendiri kan tadi hatiku sangat hancur? bahkan aku tidak sanggup untuk menghentikan air mataku."


" Ya aku tau itu, tapi kau tetap wanita yang sangat tangguh. Tidak semua orang bisa sanggup menahan kesedihannya seperti kau tadi." Dhea hanya diam saja tidak menjawab kalimat dokter tersebut. Dokter cantik yang menurutnya sangat perfeck dengan kepintaran yang tidak diragukan lagi, dan dengan umur yang masih sangat muda, sudah memegang jabatan penting di rumah sakit ini, namun pintar juga bermain kata-kata. Dan menurut Dhea kalimatnya itu sedikit berlebihan. Saat ini dia tidak butuh pujian apapun dari Dokter Sherli ataupun orang lain, yang dia butuhkan bagaimana caranya dia bisa cepat melupakan bayangan wajah anaknya yang tidak bersalah itu.


" Dhe, istirahatlah saja. Aku kembali dulu ke ruanganku ya. Jika ada perlu apa-apa kau boleh menelfonku."


" Ya dokter terimakasih." Jawab dia singkat. Walaupun sebenarnya saat ini dia tidak butuh apa-apa, yang dia butuhkan adalah, ingin tidur sejenak, dan saat bangun nanti dia sudah lupa dengan kejadian ini, lupa bahwa dia baru saja kehilangan bayinya, lupa bahwa dia tidak jadi memiliki bayi mungil, lucu yang cantik. Dia ingin bangun nanti dengan suasana hati yang gembira, dan seolah tidak terjadi apa-apa. Bahkan mungkin kalau boleh memilih, dia ingin amnesia sesaat, agar tidak ingat dengan kesedihannya itu.


" Sayang aku ingin tiduran." Kata Dhea. Lalu dengan dibantu dengan suaminya, dia merebahkan tubuhnya di atas ranjang besi rumah sakit, yang jika bergerak sedikit saja, ada bunyi berdecit dari rodanya. Rumah sakit tetap rumah sakit, walaupun kamar yang disewanya adalah kamar terbaik, tetap saja ranjang yang ditempatinya adalah ranjang khusus untuk pasien, bukan kasur empuk berukuran besar dan nyaman seperti di dalam rumahnya.


" Sayang aku antar Dokter Sherli dulu ya." Kata William setelah membantu istrinya tidur.


" Ya sayang silahkan." Kata Dhea. William lalu segera berjalan mengikuti Dokter Sherli yang sudah duluan pergi.


Sepeninggal William, Dhea sama sekali tidak bisa memejamkan matanya. Malah pikirannya melayang-layang entah kemana. Dan yang paling membuatnya miris adalah, membayangkan situasi pemakaman anaknya yang tanpa didampingi dirinya dan suaminya. Konon katanya, jika anak belum lahir, ada kepercayaan bahwa pamali membelikan perlengkapan bagi calon bayi itu, jika usia kehamilannya belum menginjak 7 bulan lebih. Dhea sebenarnya tidak percaya takhayul itu, namun sebenarnya tanpa adanya pantangan tersebutpun, dia memang belum mempersiapkan apapun untuk calon janinnya, tapi ternyata dia tetap saja kehilangan bayinya. Akhirnya yang saat ini bisa dilakukannya adalah hanya mengiriminya doa untuk sang anak, agar mendapatkan jalan yang terang menuju keharibaanNya. Tak terasa air matanya kembali menetes.


" Ya Allah aku lupa memberi dia nama." Gumam Dhea yang baru saja ingat bahwa dia tadi tidak sempat memberi nama untuk anaknya.


" Ahhhh...tapi pasti ayah dan ibu tau nama yang terbaik buat anakku." Katanya lagi, yang akhirnya mempercayakan semua pada kedua orang tuanya. Sementara Dhea sedang mati-matian berusaha memejamkan matanya, namun belum juga berhasil, di luar kamar William terlihat mengobrol bersama Dokter Sherli.


" Dokter berapa hari istriku dirawat di rumah sakit ini?"


" Kenapa anda menanyakan itu? dia meminta pulang lagi?"


" Tidak dokter, tapi aku tau dia tidak nyaman di sini."


" Hahaha...mana ada orang yang nyaman tinggal di rumah sakit tuan? jika nyaman, aku pasti orang pertama yang akan menyewa duluan salah satu ruangan di rumah sakit ini." Jawab Dokter Sherli mematahkan kalimat William.


" Hemmmm maksudku, jika memang istriku bisa dirawat di rumah, aku ingin dia dirawat di rumah saja. Anda bisa menyediakan segala kebutuhannya di sana kan? dan aku juga belum memutus kontrak kerja dengan dokter yang kemarin aku sewa. Toh aku lihat di sini juga dia hanya diberikan obat melalui infus saja bukan? dan aku rasa itu bisa dilakukan di rumah kami." Jawab William yang sedikit banyak tau tentang prosedur pengobatan di rumah sakit.


" Yaaaaa....mana bisa aku menolak permintaan dari pasienku yang luar biasa seperti anda tuan. Apapun akan aku lakukan demi kenyamanan kalian. Nanti akan aku urus semuanya. Nanti aku akan mengunjungi kalian satu hari sekali. Tapi untuk malam ini sebaiknya istri anda berada di sini dulu, dan besok baru aku akan mengurus kepulangannya." Kata-kata ironi yang baru diucapkan oleh Dokter Sherli yang maknanya lebih kepada ungkapan sifat keras kepala William, membuat Dokter Sherli akhirnya menyerah.


Dokter Sherli yang merasa bahwa tidak ada masalah jika Dhea dirawat di rumah sendiri, akhirnya mengabulkan permintaan William. Ya tentunya ada imbalan besar dibalik fasilitas spesial itu.


WIlliam merasa sangat lega mendengar jawaban dari Dokter Sherli, dia tau rumah adalah tempat terbaik untuk kesembuhan istrinya. Disana juga banyak pegawai yang siap dimintai bantuannya 24 jam untuk merawat istrinya, selain satu orang dokter dan juga perawat khusus yang disewanya itu.


" Baiklah tuan saya permisi dulu. Jika ada perlu apa-apa, anda bisa telfon saya."


" Ya dokter terimakasih."


Sepeninggal Dokter Sherli, William segera masuk kembali ke dalam kamar, dilihatnya mata istrinya masih belum juga terpejam.


" Sayang kenapa kau belum tidur?"


" Matamu atau pikiranmu yang sulit diajak tidur?"


" Hehehe dua-duanya."


" Kenapa? kau memikirkan anak kita ya? kau bilang sudah mengikhlaskannya."


" Ya aku sudah mengikhlaskannya, tapi bukan berarti aku bisa langsung melupakan wajahnya yang begitu polos itu."


" Sayang, anak itu titipan Tuhan, jadi kita tidak bisa memaksaNya jika Dia belum ingin menitipkan pada kita."


" Tapi kenapa sayang? kita bahkan tidak kekurangan apapun, tapi kenapa Dia belum mempercayakan kepada kita."


" Bukan tidak percaya pada kita sayang, tapi masih belum ingin menitipkan pada kita. Bisa saja Dia ingin memberi kesempatan kepada kita untuk menikmati waktu berduaan lebih lama. Berpikirlah positif terhadap apa yang telah Dia gariskan pada kita. Pasti Dia akan memberikan anugrah itu di saat dan waktu yang lebih tepat. Kau jauh mengenal islam lebih dulu dibanding aku, jadi kau harus lebih memahami semua hal ini daripada aku kan?"


" Ya sayang." Kata Dhea sambil menunduk.


" Jangan karena kau merasa kecewa dengan takdirNya, lalu membuat keimananmu menjadi turun. Seharusnya ini dijadikan sebuah penyemangat untuk lebih meningkatkan lagi keimananmu padaNya. Dia sedang menguji kita sayang, sejauh mana cinta kita padaNya, dan tidak bisa dikalahnya oleh cinta kita pada mahluk ciptaanNya. Jangan sampai Allah cemburu pada kita karena merasa diduakan ya." Dhea terbengong mendengar kalimat suaminya yang begitu luar biasa. Laki-laki yang baru saja mualaf, tapi justru tindakannya melebihi daripada dia yang sejak dari lahir sudah menyandang gelar muslim.


" Sayang, terimakasih telah mengingatkanku. Terimakasih selalu berada di sampingku, menjadi penyemangatku disaat aku sedang rapuh." Kata Dhea sambil menggenggam jemari suaminya.


" Ya sayang, makanya kau cepat sembuh, nanti kubuatkan kau bayi kecil yang lebih cantik dari anak kita kemarin ya." Canda William sambil mencubit pipi istrinya.


" Heiiii...kau sudah berani genit ya....lukaku saja belum sembuh." Kata Dhea sambil membalas mencubit hidung suaminya.


" Ahhhh sayang, aku rindu candaan kita seperti ini." Bisik William sambil menatap mata istrinya.


" Maafkan aku ya sayang, karena terlalu lama larut dalam kesedihan ini."


" Tidak sayang, kau tidak bersalah. Hidup kan memang seperti ini, terkadang senang, terkadang juga sedih. Tinggal bagaimana kita menyikapinya." Jawab William.


" Kita mulai semuanya dari awal, lupakan semua kesedihan itu. Ikhlaskan anak kita, tapi tetap tidak lupa untuk mendoakannya ya." Katanya lagi.


" Iya sayang terimakasih atas semuanya. Aku sangat mencintaimu." Sambil memeluk suaminya. Dan akhirnya Williampun membas pelukan istrinya, seperti dua orang sahabat yang sepertinya lama tidak bertemu. Mereka seolah baru saja menemukan chemistry kembali, setelah beberapa lama seperti lupa dengan perasaan masing-masing, karena sibuk memikirkan masalah yang sedang mereka hadapi.


" Sayang, kau duduklah di sofa panjang itu, pasti punggungmu lelah duduk di kursi seperti itu terus." Kata Dhea sambil menatap kursi yang diduduki William selama menungguinya.


" Tapi sekarang kau tidur ya, aku akan menemanimu, karena jika kau tidak tidur, aku tidak akan beranjak dari kursi ini."


" Heiiii kau mengancamku?" protes Dhea.


" Dari semenjak dulu aku mendekatimu kan, kau s?sukanya selalu diancam dan baru akan menurut. Kau ingat kan?"


" Hemmmm...oke siappp....aku tidak ingin terus kau intimidasi." Jawab Dhea sambil berusaha memejamkan matanya. William hanya tersenyum, sambil kemudian mengecup dahi istrinya, sambil membisikkan kalimat cinta.