Something different

Something different
William memaksa lagi



Dhea langsung naik ke dalam mobil. William lalu mengenakan kacamata hitamnya, dan segera keluar dari parkiran kampus menuju jalan raya.


" Kita mau kemana? Ini bukan jalan menuju tempat tinggalku?"


" Memang bukan."


" Lalu kau mau mengajakku kemana lagi?"


" Aku ingin mengajakmu makan, bukankah kau tidak lagi memiliki persedian makanan di rumahmu kan?"


" Maksudmu?"


" Maksudku kue yang aku berikan padamu sudah habis kau bagi-bagikan pada tetanggamu bukan? Dan itu berarti mulai hari ini aku tidak akan lagi membelikan makanan untuk di kamarmu, tapi aku akan langsung mengajakmu keluar makan bersamaku. Bagaimana ide yang brilian bukan?" Kata William sambil menatap Dhea sebentar.


" Dasar wong edan ", umpat Dhea menggunakan bahasa Jawanya.


" Kau bilang apa itu tadi?"


" Wong Edaaaannnn.....!!!!" Teriak Dhea.


" Artinya???"


" Artinya pikir saja sendiri ", jawab Dhea sambil merengut kesal.


" Hahaha.....kau semakin menggemaskan Dhe." gumam William sambil tertawa.


" Kita makan seafood saja ya Dhe, agar kau tak bosan makan ikan dan sayuran terus."


" Terserah kau, asal tidak kau beri aku racun saja."


" Hahaha mana mungkin aku mau meracunimu, yang ada kau sudah meracuni otakku dengan khayalan-khayalanku bersamamu Dhea."


" Hhhhh....", gumam Dhea sambil membuang muka ke kaca sampingnya.


Kemudian William menghentikan mobilnya di sebuah restoran seafood. Cukup ramai dan cukup asri tempatnya.


" Ayo Dhe turun!"


Dhea menuruti kata-kata William. Kemudian berjalan menuju restoran itu.


Setelah memilih tempat duduk, William memanggil pelayan untuk memesan beberapa makanan.


" Will."


" Iya Dhe?"


" Jangan pesan terlalu banyak, kau pesankan aku udang saja, sayang jika makanan itu nanti sisa."


" Ok Dhe apapun maumu aku turuti ", jawab William.


Setelah menerima kertas menu yang ditulis William, kemudian pelayan itu meninggalkan mereka berdua.


" Wajahmu kelihatan lelah Dhe, kau kurang tidur?"


" Aku bukan kurang tidur tapi banyak pikiran."


" Memangnya kau memikirkan apa?"


" Aku memikirkanmu."


" Sungguh Dhe? Kau mulai belajar untuk memikirkanku?"


" Memikirkanmu agar bisa pergi jauh dari kehidupanku." Jawab Dhea ketus.


" Ohhh Dhe ayolah mengapa seserius itu, bukankah aku tidak pernah berbuat macam-macam padamu?"


" Bukannya tidak pernah, tetapi belum, dan itu berarti bisa saja besok atau lusa akan terjadi!!!"


" Berarti kau mengharapkan itu?"


" Siapa juga yang mau ", jawab Dhea ketus.


" Dhe...seandainya aku itu mau, aku bisa saja memaksamu dengan berbagai cara untuk mendapatkan tubuhmu, tapi itu tidak pernah kulakukan, kau tau mengapa???" Tanya William sambil menatap mata Dhea tajam.


" Mengapa???" Jawab Dhea, sambil membalas tatapan mata William.


William diam saja tidak menjawab pertanyaan Dhea, dia justru begitu takjub memandang dua mata indah Dhea yang menatapnya tanpa berkedip. Tiba-tiba saja seperti ada sebuah belati yang menghujam jantungnya, membuat dia tak bisa berbuat apa-apa, terdiam dan kaku. Tatapan mata Dhea mampu menghipnotisnya, dan dia merasa begitu tenang.


" Mengapa kau diam saja? Ayo jawab ", tantang Dhea.


" Tidak ", sahut William kemudian, dia segera tersadar dan memalingkan wajahnya menghindari tatapan mata Dhea.


" Hei kenapa laki-laki garang ini tiba-tiba wajahnya berubah datar? Apa yang sedang dipikirkannnya? Padahal beberapa menit yang lalu dia seperti seekor serigala ganas yang menakutkan ", kata Dhea dalam hati.


William dan Dhea sama-sama memilih untuk diam. Mereka hanya sibuk dengan perasaannya masing-masing. Tak lama kemudian makanan yang mereka pesan sudah datang, dan tidak butuh waktu lama untuk menghabiskannya.


" Tumben makananmu habis Dhe? Biasanya sisa?"


" Karena perutku lapar berdebat denganmu terus ", jawab Dhea sekenanya.


" Wow baguslah, jika kau mau makan banyak berarti aku harus membuatmu emosi dulu dong ", kata William sambil menggodanya.


Setelah makanan habis, William membayar sejumlah uang di kasir, lalu langsung mengajak Dhea naik ke mobilnya kembali.


" Aku ingin mengajakmu membeli baju."


" Membeli baju untuk apa?"


" Nanti malam aku akan mengajakmu ke pesta."


" Ke pesta?"


" Ya, kenapa?"


" Aku tidak mau, kau tau kan aku harus bekerja nanti malam."


" Aku akan menelfon Bram."


" Walaupun Bram mengijinkannya aku tetap tidak mau, di pestamu tempo hari saja terlalu banyak maksiat."


" Maksiat bagaimana?"


" Maksudku terlalu banyak kegiatan yang melanggar aturan agamaku."


" Misalnya?"


" Kau pikir saja sendiri."


" Hahaha jika pesta di tempatku itu memang hanya untuk bersenang-senang saja untuk merayakan kemenangan, tapi pesta nanti malam adalah pesta resmi. Salah satu rekan bisnisku akan menikah."


" Menikah, benarkah?"


" Ya, mengapa kau begitu antusias?"


" Aku hanya kasian saja denganmu, teman-temanmu sudah banyak yang menikah, sedangkan kau? Hahaha pacarpun kau tak punya, kasihan sekali kau tiap kali hanya bisa tidur dengan wanita yang berbeda."


" Hhhhh...kau tidak merasa bahwa kau yang akan kujadikan pacar nona Dhea??"


" Aku tak sudi jadi pacarmu!!!" Jawab Dhea ketus.


" Hahaha tunggu saja waktunya Dhea, kita lihat kau atau aku yang akan berhenti dalam permainan ini ", gumam William sambil melirik Dhea.


William menghentikan mobilnya di depan sebuah toko baju muslim.


Masyarakat London memang mayoritas beragama Kristen, namun banyak umat muslim juga di sana, sehingga butik baju muslim mulai bermunculan.


" Kau pilih beberapa potong untukmu pergi ke kampus, dan satu untuk acara kita nanti malam ", pesan William saat masuk ke dalam toko tersebut.


Dhea rasanya enggan memilih baju itu, walaupun sebenarnya model baju di toko tersebut sangat modis dan trendy. Namun karena orang yang membelikannya adalah William maka moodnya menjadi hilang. Namun pasti William tidak akan suka jika pemberiannya ditolak, maka Dhea hanya membeli 1 stel baju casual dan satu gamis pesta.


Dhea memanggil William yang sedang duduk menunggunya di sebuah kursi tak jauh dari tempatnya berdiri.


" Sudah Dhe?"


" Sudah nih ", jawab Dhea sambil menunjukkan pakaian di dalam kantong yang dia pegang.


" Kau tadi memilih berapa stel?"


" Dua stel, satu baju pesta dan satu baju casual."


" Ambil lagi."


" Apa ambil lagi? Tidak sudah ini saja cukup."


Tiba-tiba tanpa menjawab William langsung mengambil beberapa buah baju yang sesuai di tubuh Dhea.


" Hei Will, itu untuk apa? Banyak sekali?"


" Untukmu, ayo ke kasir dulu ", ajak William.


" Hhhh...selalu begitu ", gerutu Dhea.


Setelah selesai membayar Dhea dan William langsung meninggalkan toko tersebut.


" Kita kemana lagi?" tanya Dhea.


" Ke rumahku ", jawab William singkat.


" Apa ke rumahmu? Kau semakin keterlaluan saja Will, aku tidak mau!"


" Apa aku meminta pendapatmu?"


" Kau....."


Dhea merasa sebal sekali, waktu itu William sudah mengajak dia ke rumah papanya, dan sekarang gantian ke rumahnya.


" Aku tidak mau jika kau kuantarkan pulang, pasti kau tidak akan mau kuajak ke pesta itu nanti malam, dan berusaha menghindariku lagi."


" Tidak, aku janji akan ikut denganmu, tapi tolong ijinkanku pulang dulu."


" Hhhh...ini sudah keputusanku ", kata William.


Dan lagi-lagi Dhea dibuat meradang olehnya.