
Pagi harinya William bangun seperti biasanya. Setelah berolahraga sebentar, lalu dia duduk santai sambil menikmati teh panas. Tak lama kemudian dia memanggil salah seorang asistennya.
" Anda memanggil saya tuan?"
" Ya, aku ingin memberikan tugas lagi padamu."
" Apa itu tuan?"
" Tolong pagi ini kamu pergi awasi gadisku di rumahnya. Cari tau siapa orang yang sudah berani mengantarnya kemarin, aku rasa sekarang dia pasti kembali menghindariku. Hari ini aku ada rapat di kantor dan tidak bisa mengantarnya. Aku tunggu laporanmu secepatnya. Dan ingat jangan sampai ketahuan olehnya!!"
" Baik tuan aku akan kesana sekarang."
" Oke berangkatlah!!"
" Permisi tuan."
" Silahkan."
William kembali menyeruput minumannya. Ada senyum di bibirnya.
" Dhea...kau pikir aku akan berhenti begitu saja, kau itu milikku, tidak ada satupun yang bisa menghalangiku ", gumam William sambil membasahi bibirnya, seolah sedang membayangkan sosok Dhea ada di hadapannya.
Sementara itu, Andrew terlihat sudah ada di depan tempat tinggal Dhea. Tak lama kemudian Dheapun keluar dari kamarnya dan segera naik ke mobil Andrew.
" Pagi Dhe!!"
" Pagi An!!"
" Cantik sekali kau pagi ini!"
" Hahaha setiap haripun aku begitu ", kata Dhea bercanda.
" Kau ini bisa bercanda juga ", jawab Andrew sambil tersenyum.
" Kita berangkat sekarang?"
" Yup...", jawab Dhea singkat.
Kemudian Andrew segera menghidupkan mesin mobilnya dan beranjak pergi meninggalkan rumah Dhea.
" Memangnya laki-laki itu semalam menungguimu lagi Dhe?"
" Bukan cuma menungguiku An, tapi juga menarikku keluar dari toko dan marah-marah di sana."
" Mengapa sih tidak kau lawan? Bukankah dia sudah sangat keterlaluan?"
" Aku harus melawannya dengan apa An? Dengan tenaga? Bahkan tenaga dia 10 kali lebih kuat dari tenagaku."
" Bukan begitu, maksudku bicaralah kau tidak menyukainya, kau ingin dia menjauhimu."
" Hahaha kalau cuma itu, sampai berbusa mulutku mengatakan padanya, tapi tidak pernah berpengaruh, justru dia semakin gila."
" Jadi sekarang kau akan terus menghindarinya?"
" Iya cuma itu yang bisa kulakukan."
" Sampai kapan?"
" Sampai dia lelah mengejarku."
" Jika dia tidak merasa lelah?"
" Jika dia tidak merasa lelah berarti aku yang lelah hahaha."
" Jangan bilang kau bersedia bersamanya ya?"
" Yah kita lihat saja nanti."
Dhea dan Andrew sudah hampir tiba di kampusnya. Perjalanan terasa lebih menyenangkankan karena Dhea sudah tidak canggung lagi seperti saat pertama kemarin, dan ternyata Andrew adalah orang yang asyik diajak ngobrol.
Saat tiba di kampusnya mereka berdua berjalan beriringan menuju kelas.
" An kau tadi sebelum berangkat sudah makan atau belum?"
" Kenapa Dhe?"
" Ehhmm kau mau kue tidak?"
" Kue? Kau habis membuat kue?"
" Tidak...Semalam William yang membelikannya untukku."
" William?"
" Ya pria yang mengusikku itu."
" Ohh...aku pikir siapa."
" Nih...ambil untukmu."
Kata Dhea sambil mengambil satu plastik kue dari dalam tasnya.
" Banyak sekali Dhe?"
" Ini cuma separuhnya An, dan separuhnya lagi sudah aku bagi-bagikan kepada tetanggaku."
" Kau tidak memakannya?"
" Tidak, aku tidak mau makan pemberian darinya kecuali terpaksa."
" Maksudmu terpaksa?"
" Maksudku jika aku sudah benar-benar merasa lapar hahaha."
" Hahaha Dhea Dhea kalau mau menolak itu orangnya saja, jangan makanannya, itu namanya menolak rejeki."
" Yang penting aku kan tidak membuangnya, justru kuberikan pada orang lain, dan kurasa itu juga bermanfaat."
" Ya masuk akal juga alasanmu."
" Aku langsung masuk kelas saja, aku tidak mau jika anak-anak lain melihat kita berdua-duaan disangkanya kita pacaran, dan aku tidak mau itu terjadi nanti pasaranmu bisa jatuh ", jawab Dhea sambil tersenyum.
" Hahaha kau pikir aku barang dagangan."
" Ya sudah aku masuk duluan ya, jangan lupa pulangnya nanti kita janjian di depan kelasku lagi." Teriak Dhea sambil berjalan lebih cepat menuju kelasnya.
" Ok Dhe sampai nanti."
Dan tubuh Dhea kemudian hilang masuk ke dalam kelasnya.
Sementara itu William sedang terlihat memimpin rapat di dalam ruang kantornya.
" Semoga anda semua bisa paham penjelasan saya, dan saya harap kita bisa bekerjasama dengan baik demi kemajuan perusahaan kita bersama. Baiklah ada pertanyaan ?" Sunyi, tidak ada satupun orang di dalam ruangan itu yang mengajukan pertanyaan kepada William.
" Oke berarti semua setuju dengan segala keputusan saya, karena tidak ada lagi pertanyaan, rapat hari ini saya tutup, dan selamat bekerja. Selamat siang."
" Selamat siang pak ", jawab peserta rapat kompak.
Kemudian satu persatu dari mereka keluar meninggalkan ruangan untuk kembali ke pekerjaan mereka masing-masing. Sedang William terlihat sedang menelfon seseorang.
" Bagaimana kau sudah mengetahuinya?"
" Hhhmmm ya ya ya bagus, ternyata hanya teman satu kampusnya."
" Baiklah, segera susun rencana selanjutnya, ingat jangan sampai ketahuan dan jangan sampai gagal. Sebentar lagi aku akan menjemputnya." Kemudian William menutup telfonnya.
" Hhhhhh....idemu untuk menghindariku gagal Dhea, sebentar lagi kau tidak akan lagi bisa pulang dengannya."
Tak lama kemudian William segera meninggalkan ruangannya menuju ke kampus Dhea.
William tidak lagi berhenti di tempat biasa, tapi justru masuk ke dalam halaman kampus dan menuju ke tempat parkir kendaraan mahasiswa. Dia menunggu Dhea di sana.
Dan benar saja, dari kejauhan William melihat Dhea sedang berjalan dengan seorang pria. Ada perasaan aneh yang tidak dapat dia jelaskan. Perasaan yang begitu berkecamuk dalam hatinya, melihat gadis yang diincarnya itu terlihat tertawa-tawa bersama pria lain. Rasanya William ingin menonjok wajah laki-laki di samping Dhea itu, namun diurungkannya, karena dia hanya butuh Dhea mau ikut bersamanya dan bukan yang lain.
" Persetan dengan laki-laki itu, biar diurus dengan orang-orangku saja ", gerutu William.
Saat Andrew dan Dhea hendak naik ke mobil, mereka berdua terkejut karena ternyata roda mobil yang akan mereka naiki kempes.
" Dhe...rodanya kempes nih."
" Di sebelah sinipun kempes juga An."
" Mengapa bisa begitu Dhe??"
" Jangan-jangan....??" Gumam Dhea.
" Jangan-jangan apa Dhe?"
" Coba kau lihat roda belakangnya An."
Kemudian Andrew berjalan memeriksa roda belangnya.
" Iya Dhe sama kempes juga."
" Belakang sini juga sama An."
Wajah Dhea berubah pucat, dia sudah tau siapa pelakunya.
" An...dia ada di sini ", bisik Dhea.
" Dia siapa?"
" William...laki-laki yang mengejarku itu ", kata Dhea matanya tidak bisa diam berkeliling sambil mencari sosoknya.
" An aku harus segera pergi dari sini sebelum dia menghampiriku."
" Ya Dhe pergilah biar kuurus mobilku sendiri."
Baru saja Dhea hendak pergi tiba-tiba William sudah berada di belakang Dhea.
" Hai sayang kau mau pergi kemana? Apa kau mau naik bus lagi? Bukankah lebih menyenangkan jika naik mobil bersamaku?"
" Hhhhh sudah kutebak pasti kamu pelakunya kan Will? Kau ini sangat keterlaluan. Lihat kau tidak kasihan dengan temanku? Kau sudah menyulitkannya."
" Siapa suruh berani mengajak wanitaku pergi."
" Ohhh jadi pria ini yang mengejarmu Dhe?" Kata Andrew menimpali.
" Ya benar brother akulah orangnya. Kau sudah tau kan sekarang? Bagaimana? Bukankah aku tidak terlalu buruk untuk mendampingi temanmu?"
" Kau memang cukup tampan, tapi maaf kau tidak pantas buat Dhea."
" Hhhhh apa kau ingin bilang bahwa kau lebih pantas dariku?"
" Bukan begitu, hanya saja caramu mendekati Dhea itu sudah di luar batas, kau justru sudah mengusik ketenangannya."
" Kau jangan pernah ikut campur jika masih mau ada di kampus ini."
" Kau mengancamku?"
" Stop Will....". Teriak Dhea.
" Oke aku mau ikut bersamamu."
" Hhhhmmm bagus kalau begitu, aku jadi tidak perlu berlama-lama debat dengan temanmu ini ", jawab William.
" Dhe tapi kamu...." Sahut Andrew.
" Sudahlah An, aku tidak mau dia berbuat macam-macam padamu. Biar aku pulang dengannya saja."
" Benar Dhe?"
" Iya An, jangan khawatirkan aku ya?"
Andrew hanya mengangguk, kemudian Dhea mengikuti William yang berjalan ke mobilnya. Andrew hanya bisa melihat mereka berdua meninggalkannya. Ada perasaan marah dalam hatinya mengetahui pria itu benar-benar menginginkan Dhea.