Something different

Something different
Cemburu



Entah kenapa, Reihan juga merasa bahwa saat ini pria yang berada di hadapannya ini seperti sedang menunjukkan eksistensinya sebagai suami mantan kekasihnya itu.


" Aku baru tau jika suamimu setampan ini Dhe." Kata Reihan.


" Hehhhh...kau baru tau ya bahwa aku tampan? ketampananmu bahkan tidak ada seujung kukuku!!" gerutu William dalam hati.


" Hahaha kau bisa saja Rei."


" Yaaaa...aku menyesal saja, kenapa kau tidak mengundangku datang ke pestamu, padahal aku juga ingin menyaksikan hari bahagia kalian." Sambung Reihan lagi.


" Bagus jika kau tidak datang, karena aku yakin jika kau hadir di sana justru aku yang tidak bahagia."


Jawab William kembali dalam hati. Namun wajahnya tetap ditunjukkan secool mungkin dan sok santai.


Dhea lalu mendongakkan kepalanya kepada William, mencoba mencari jawaban atas pertanyaan Reihan. William membalas tatapan matanya istrinya dengan datar, seolah tidak merasa bersalah dan tidak terjadi apa-apa.


" Hemmmm pasti bule ini sudah membohongiku waktu itu. Berarti kau dulu itu hanya mengerjaiku, awas kau ya akan kukerjai balik kau sekarang." Kata Dhea dalam hati.


" Oh ya Rei bagaimana kabarmu?" Dhea mulai beramah-tamah dengan maksud membuat suaminya cemburu.


" Alhamdulillah aku baik Dhei. Bagaimana denganmu?" Balas Reihan.


" Kau lihatlah sendiri."


" Hahaha...iya kau kelihatan semakin cantik, pasti pernikahanmu bahagia." Kata Rei bermaksud ikut berbahagia atas pernikahan mantannya itu.


" Heiiiii....kenapa kau malah merayu istriku dengan mengatakannya cantik??? Kau tidak perlu mengatakan itu di depanku, karena kau harusnya menyadari, wanita secantik dia memang lebih pantas bersanding dengan pria setampan aku dibanding dirimu!!" Bathin William penuh kejengkelan.


" Rei...mainlah ke rumah kami, suamiku pasti akan senang sekali. Iya kan sayang?" Sambil menatap William.


" Hahhhh...kau memintanya datang ke rumah sayang??? kau ini, apa kau tidak tau aku ini sedang cemburu???" Kata William sambil meremas jemarinya menahan jengkel. Namun tetap dipaksakan untuk tersenyum menjawab kata-kata istrinya, tapi Dhea tidak tau bahwa gigi suaminya saat ini sedang bergemerutuk.


" Ya Dhei...kapan-kapan aku pasti akan mampir ke rumah kalian. Bukankah tidak baik memutus silaturahmi, walaupun kita sudah tidak lagi berteman seperti dulu." Kata Reihan. Ada makna yang dalam dibalik kata-katanya itu, dan Dhea tau itu.


" Heiiii kau pikir aku tidak tau maksud kalimatmu itu? Kau sebenarnya ingin mengatakan walaupun kalian sudah tidak pacaran lagi seperti dulu kan?" Bathin William lagi.


" Ohhh harus itu, memutus silaturahmi kan dosa Rei. Ya tidak sayang?" lagi-lagi meminta persetujuan William.


" Tidak!!! apalagi silaturahmi dengan mantan, karena bisa saja kalian nanti menjalin hibungan lagi." Kata bathin William, namun sikapnya bertolak belakang dengan kata hatinya, dengan wajah sok manis dia tetap mengangguk mengiyakan kata-kata Dhea.


" Hahhhh...sial!! kenapa kau tidak segera pergi sih. Seandainya ini di negaraku, sudah pasti kusuruh anak buahku untuk menyeretmu menjauh dari hadapan kami. Sayang ini di Indonesia yang menjunjung tinggi sopan dan etika." Gerutu William dalam hati.


" Rei....semenjak aku menikah sepertinya kita belum pernah mengobrol lagi ya. Bagaimana jika kita mengobrol dulu sambil makan??? boleh kan sayang??" Kata Dhea sengaja memancing kemarahan suaminya.


" Apa sayang???" Tanya William sedikit terkejut.


" Sayanggggg.....kita pulang saja ya? kau kan sedang hamil? kita sudah dari tadi perginya, nanti kau kelelahan, aku tidak mau kau membahayakan kehamilanmu ini."


" Lhooo...kau sudah hamil Dhe?"


" Ya istriku sedang hamil, dan anak yang sedang dikandungnya itu adalah anakku." Jawab William, ada penekanan dalam kslimatnya.


" Hahaha...sudah tentu anak anda tuan, masak anakku? bukankah anda itu suaminya?" Reihan sepertinya mulai menangkap rasa ketidaksukaan William terhadapnya yang mulai kentara.


" Yaaaa......jadi aku akan mengajaknya pulang. Aku tidak mau dia makan sembarangan di sini, karena belum tentu higienis."


" Heiiii...sejak kapan dia memikirkan masalah kehiegenisan??? bukankah dulu hampir setiap hari saat di London kita makan di restoran sayang???" Tanya Dhea dalam hati.


" Hemmmm...apakah artinya kau sudah berhasil kukerjai???" Sambung Dhea lagi.


" Sayangggg...ayolah!!! Aku ingin mengobrol sebentar dengannya. Aku yakin dia belum tentu mau datang ke rumah kita rengek Dhea.


" Bagus itu jika dia tidak datang. Kalaupun dia berani ke rumah kita, aku akan jamin dia tidak akan mungkin selangkahpun bisa melewati gerbang pagar rumah kita, karena aku akan menyuruh pegawaiku untuk mengusirnya duluan." Gerutu William lagi dalam hati.


" Sayaanggg....kenapa diam saja? mau ya?"


" Maaf Rei...sepertinya aku harus mengajak istriku pulang, aku ingin dia makan dan istirahat di rumah saja." Kata William tiba-tiba mengambil keputusan sepihak tanpa persetujuan Dhea lagi.


" Sayang kok pulang sih?? aku kan masih ingin membeli sesuatu." Rengek Dhea.


" Besok lagi ya kita kemari. Kau makan dulu dan istirahat. Ingat jaga anak kita!!"


" Sayang aku belum lelah!!"


" Sayanggg pleasss!!" jawab William lagi.


" Pulanglah Dhei, kan masih ada waktu kita untuk mengobrol lagi. Benar kata suamimu kau harus menjaga kesehatanmu, apalagi kondisimu sedang hamil." Kata Reihan yang mulai tidak enak hati.


" Hehhhh...kau jangan sok menjadi pahlawan dan mencoba mencari simpati istriku ya." Jawab William dalam hati kembali.


" Ya sudah Rei maaf ya. Padahal banyak yang ingin aku bicarakan denganmu."


" Ayo sayang!!" Ajak William sambil menggandeng tangan Dhea.


" Eh Rei kami permisi dulu ya?" Kata Dhea sedikit berteriak, sambil mengikuti langkah William yang sudah tidak perduli lagi dengan Reihan, dan buru-buru mengajak Dhea meninggalkan tempat itu.


" Hahaha...William...William...istrimu itu tipe wanita yang setia. Jika dia mau menghianatimu, sebelum menikah dulu sudah tentu dia mau aku ajak balikan. Jadi kau tidak perlu merisaukannya dan cemburu padanya, kau pikir aku tidak tau gesturmu? sedari tadi gelisah dan ingin segera pergi dari hadapanku? Kau laki-laki beruntung William bisa mendapatkannya." Kata Reihan dalam hati sambil menatap kepergian mereka berdua.