Something different

Something different
Di rumah orang tua William



Malam ini Dhea telah siap menunggu William di ruang tamunya. Tak lama kemudian pintu kamarnya diketuk dari luar.


" Hai sayang...!!" Sapa William.


" Hai Will." Jawab Dhea.


" Bagaimana kau siap?"


" Lihatlah sendiri." Jawab Dhea.


" Hemmmm....tapi sepertinya ada yang kurang sayang."


" Kurang apanya Will?"


" Kau kurang bisa bersikap romantis padaku Dhe!" Jawab William sambil tersenyum.


" Hemmm....apakah artinya kau ingin memintaku sedikit mesra padamu???" Tanya Dhea menyelidik.


" Boleh, jika kau mau. Aku sangat tidak keberatan sayangg!!" Jawab William sambil tersenyum.


" Oh ya sayaaanggg...? Kau ingin bermesraan denganku?" Tanya Dhea sambil mendekati William, menatap kedua matanya kekasihnya itu dengan tatapan menggoda. Tiba tiba tangan Dhea membelai rambut Wiliam dengan jemarinya yang lentik.


" Heiii..Dhe...Dhe...stop.. Dhe...stop aku tadi hanya bercanda, tolong jangan teruskan!" Kata William panik.


" Kenapa sayang? Bukankah kau bilang aku kurang romantis? Tanya Dhea dengan suaranya yang semakin menggoda.


" Iya...tapi pleas jangan kau teruskan, aku takut tidak bisa mengontrol diri Dhe." Jawab Wiliam panik, jemarinya bergerak gerak di samping tubuhnya, seperti sedang menahan sesuatu di dadanya yang seperti ingin meledak.


" Haaaahhhhh.....!!! Teriak Dhea tiba tiba mengagetkan William.


" Kau pikir aku tidak bisa seperti wanita wanita penggoda itu sayang?? Aku bisa saja membuatmu tergila gila padaku, tapi itu nanti jika kita sudah menikah dan bukan sekarang, oke!!! Ayo kita pergi!!" Ajak Dhea sambil beringsut mundur menjauhi William dan berjalan keluar.


" Hehhhhhh....!!" William menarik nafas lega.


" Untung saja...!!" Bisik William sambil mengikuti Dhea di belakangnya.


" Kita nanti makan malam di tempat papaku saja ya Dhe." Kata William.


" Di tempat papamu?" Tanya Dhea.


" Kau tidak usah khawatir, aku tadi sudah mewanti wanti pegawai papaku, bahwa calon istriku ini seorang muslim sayang." Kata William menghilangkan rasa kekhawatiran Dhea.


" Ohhh...ok kalau begitu."


William segera memacu kendaraannya, tak lama kemudian mereka telah tiba di rumah besar itu.


" Ayo masuk sayang!" Ajak William sambil menggandeng tangan Dhea.


" Pah..!!" Panggil William. Sambil berjalan mencari cari papanya.


" Hai Will." Sapa papa William yang baru saja terlihat keluar dari kamarnya.


" Apa kabar pah?" Tanya William sambil menyalami dan memeluk papanya.


" Baik Will."


" Pah...ini aku bawakan kekasihku." Kata William pada papanya.


" Akhirnya kau mendapatkannya nak!"


" Dhea, namamu Dhea kan? Kalau aku tidak salah." Tebak papa William sambil mengulurkan tangannya pada Dhea.


" Benar tuan, ingatan anda sangat luar bisa." Jawab Dhea sambil menyambut uluran tangan papah William.


" Hahaha, bagaimana aku bisa lupa nama wanita yang sempat membuat anakku tergila gila."


" Benarkah tuan?"


" Ya..Dhe, sepertinya dia tidak akan mungkin bisa berhenti untuk tidak memilikimu nak, dan gara gara kamu dia hampir putus asa karena Paula meminta dia menikahinya hahaha!!"


" Jangan begitu pah, kau membuatku malu!!" Jawab William sambil mengaruk garuk rambutnya yang tidak gatal.


" Hahaha...ternyata kau masih punya rasa malu juga nak?" Tanya papa William bercanda. Dhea hanya tersenyum saja melihat ekspresi William itu.


" Ayo ajak dia makan Will! Bukankah tadi siang kau sudah meminta asistenku untuk menyiapkan makanan buat kekasihmu ini?"


" Oh iya, ayo sayang!" Ajak William.


Baru saja mereka bertiga hendak menuju ruang makan tiba-tiba Mike muncul.


" Selamat malam!" Sapa Mike.


" Selamat malam." Jawab mereka bertiga kompak.


" Lho Will aku pikir kau datang ke sini sendirian? Tadi papa menelfonku katanya kau akan datang kemari." Tanya Mike sambil berjalan menyalami papanya juga William.


" Tidak Mike, aku ingin mengajak kekasihku ini makan di rumah calon mertuanya."


" Kekasih? Apakah aku tidak salah dengar?" Tanya Mike seolah tidak percaya.


" Ya Mike, dia sudah resmi jadi kekasihku. Bukan begitu sayang?" Tanya William sambil menatap Dhea untuk meminta jawabannya.


" Iya Mike, benar yang diucapkan William."


" Hemmmm berarti aku harus berusaha menerima kenyataan pahit lagi." Kata Mike.


" Heiii....kau jangan mulai lagi ya!!" Kata William.


" Hahaha....kenapa? Kau takut aku patah hati sepertimu Will?" Tanya Mike.


" Apakah kau bisa berlapang dada Mike?"


" William William...sudah tentu aku sangat berlapang dada. Aku lega petualanganmu akan segera berakhir dan berlabuh pada wanita yang tepat."


" Kau tidak kecewa Mike?"


" Aku akan lebih kecewa jika kau terus terusan menghancurkan hidupmu." Jawab Mike.


" Terimakasih Mike, kau memang adikku yang sangat pengertian." Kata William sambil memeluk Mike.


" Lihatlah tuan, anda beruntung sekali memiliki anak anak yang manis seperti mereka." Kata Dhea pada papa William.


" Ya...nak benar katamu, persaudaraan itu memang lebih penting dari segalanya." Kata papa William sambil tersenyum.


" Ya sudah ayo kita makan dulu." Ajak papa William.


Kemudian mereka berempat menuju meja makan bersama.