
Saat tiba di rumah William Dhea diajak masuk ke dalam. Ruang tamu yang dulu pernah dimasukinya ternyata lebih luas dari dugaannya. Ada sebuah piano besar yang menghiasi rumah itu.
" Kau suka bermain piano?"
" Ya...saat aku sedang merasa sepi ", jawab William sambil terus berjalan masuk ke dalamnya.
" Memangnya kau pernah tidak merasa sepi, aku rasa setiap hari kau kesepian ", kata Dhea sambil menutup mulutnya menahan tawa.
" Maksudmu?" Tanya William sambil melihat Dhea sesaat.
" Jiwamu yang sepi iya kan? Hahaha kasian-kasian ", kata Dhea menggoda William.
" Kau mau mengajakku kemana? Rumahmu ini bisa tidak dibuat kecil saja?"
" Maksudmu difoto begitu?" Jawab William asal.
" Difoto???"
" Katamu diperkecil hahaha ", balas William karena sudah diperolok Dhea tadi.
" Hhhh sial dia membalasku ", gumam Dhea.
" Aku mau membawamu ke kamar ", kata William lagi.
" Kau gila!! Je kamar? Aku tidak mau!!" Teriak Dhea sambil menghentikan langkah kakinya.
" Kenapa? Bukankah kau ingin istirahat?"
" Ya tapi istirahat di kamarku bukan di kamarmu!!" Jawab Dhea ketus.
" Siapa bilang di kamarku?"
" Lalu di kamar siapa?"
" Di kamar khusus buat tamu, Dhea."
" Hhhmmm atau kau jangan-jangan memang benar-benar ingin ke kamarku?" Goda William sambil mengerling ke arah Dhea.
" Hhhhh....menjijikkan ", jawab Dhea sambil terus berjalan meninggalkan William.
" Heii kau mau kemana?"
" Kau bilang ke kamar tamu ", jawab Dhea sambil membalikkan badannya.
" Hahaha sok tau....itu arah ke kamarku sayang, belok ke arah sini letak kamarmu ", jawab William sambil tergelak.
" Hhhhh menyebalkan, makanya buat rumah jangan terlalu besar, lebih baik kau sewakan saja bisa menghasilkan uang ", gerutu Dhea.
" Lalu jika rumah ini kusewakan aku tinggal dimana?"
" Kau temani ayahmu, bukankah beliau juga tinggal sendiri? Pemborosan saja ", gerutu Dhea.
" Hahaha kau ini mirip sekali dengan ibuku, beliau orangnya sederharna sekali dan penyabar. Tapi sayangnya kau tidak penyabar dan sedikit cerewet ", goda William.
" Karena ada kamu aku cerewet, kau tau sebabnya?"
" Kenapa?"
" Karena aku tidak suka ada di dekatmu ", jawab Dhea lagi.
" Hahaha aku tidak perduli itu, yang penting aku suka kau ada di dekatku."
" Dasar egois ", jawab Dhea lagi.
" Nah ini kamarmu, istirahatlah di dalam. Nanti aku kirim orangku untuk meriasmu. Jam 7 malam kita pergi ke pesta itu."
Dhea segera masuk ke dalam kamar yang ditunjukkan William. Kamar itu sangat besar. Sebuah tempat tidur ukuran king size terlihat mendominasi ruangan tersebut, dengan alas spray berwarna kuning sangat kontras dengan cat warna putih di kamar tersebut. Dua buah lemari kaca turut melengkapi furniture di dalamnya, dan tidak ketinggalan pula satu buah tv layar datar besar dengan sound system di kanan kirinya, semakin menyempurnakan isi dari kamar tersebut.
" Dhe...", panggil William.
" Iya ", jawab Dhea sambil menengok ke arah William yang berdiri di belakangnya.
" Ingat, jangan lupa kunci kamarmu!! Karena jika aku tidak bisa menahan diri dan tau ada seorang wanita cantik di kamar ini, aku tidak segan-segan untuk masuk ", kata William sambil tersenyum.
Dhea segera tersadar dan buru-buru menutup pintu kamar itu.
" Hei jangan lupa nanti jam 7 malam ya ", kata William lagi sebelum pintu kamar Dhea benar-benar tertutup.
" Iya aku ingat dasar cerewet ", kata Dhea lagi. Lalu dia segera mengunci pintu kamarnya.
William hanya tertawa melihat sikap Dhea yang demikian takut padanya.
Dhea segera melepas jilbabnya setelah berada di kamar itu. Dia berkeliling melihat isi kamar tersebut. Dia kemudian masuk ke dalam toilet yang ada di dalamnya. Terdapat sebuah bathub besar di sana. Toilet yang sangat bersih dihiasi batu pualam. Semuanya terlihat modern. Perlengkapan mandi yang masih baru, berikut handuknya pula.
" Sepertinya William memang sengaja menyiapkan ini semua untukku ", bathin Dhea.
Diliriknya sebuah jam yang menempel di dinding kamar.
" Pukul 3 lebih, ahhh lebih baik aku istirahat dulu saja sebentar ", bathin Dhea.
Kemudian dia segera membaringkan tubuhnya di kasur empuk itu, dan tak lama kemudian sudah terlelap.
Sementara itu William sedang berbaring di atas ranjangnya, matanya menerawang di atap langit langit kamar. Pikirannya sangat gelisah, mengingat gadis pujaannya itu ada di dalam rumah ini, namun tidak bisa dia sentuh sedikitpun tidak seperti perempuan-perempuan lain yang pernah dibawanya ke rumah ini. Jangankan untuk disentuh, diajaknya naik ke dalam mobilnya saja William harus memakai berbagai macam cara untuk memaksa gadis itu agar bersedia.
William tersenyum sendiri mengingat semua itu. Dia tidak menyangka pertemuannya dengan gadis itu bisa membawanya masuk ke kehidupan Dhea yang semakin dalam.
" Apa yang sedang dilakukan gadis itu di dalam kamar? Atau jangan-jangan dia sedang mencari akal untuk kabur ya ", gumam William.
" Hhhhh kau itu tidak akan bisa keluar dari rumah ini Dhea, aku sudah menyuruh orang orangku mengawasi setiap akses yang bisa membuatmu melarikan diri ", kata William sambil tersenyum.
William terus saja asyik dengan khayalan-khayalannya. Sedangkan Dhea terlihat pulas di atas kasurnya. Kasur di kamarnya sekarang saja tidak seempuk dan senyaman yang ada di kamar ini, sehingga Dhea lupa bahwa dia saat ini sedang berada di rumah William, laki-laki yang sangat dibencinya. Dhea tertidur hingga sore hari dan terbangun saat sebuah ketukan terdengar di telinganya.
" Tok tok tok ", Dhea mendengarnya lagi, kali ini lebih keras.
Perlahan Dhea segera bangun dari tidurnya dan membukakan pintu, tak lupa diraihnya jilbab dan dipakai sekenanya. Dia berjalan ke pintu masih dengan terkantuk-kantuk, kemudian membukanya.
Dilihatnya sosok William sudah ada di depan pintu kamarnya, Dhea sedikit terkejut, dan spontan menutup pintunya kembali. Dia segera bersandar di belakang pintu sambil mengusap-usap kedua matanya.
" Hei kenapa laki-laki itu ada di sini?"
" Kau habis mandi dengan minyak wangi ya?"
" Kenapa?"
" Bau parfummu membuatku mual ", kata Dhea berdusta.
" Baru kali ini ada orang yang tidak menyukai parfumku ", gerutu William.
" Dan bukan parfummu saja yang tidak kusukai, tapi kamu juga!!"
" Hhhh kau mulai lagi. Buruan mandi sana, kau pasti baru saja bangun. Ini untukmu ", kata William sambil menyodorkan bungkusan ke arah Dhea.
" Apa ini?"
" Baju dalamanmu, aku tunggu kau di samping dekat kolam renang."
" Ini kau yang membelinya sendiri untukku??" Tanya Dhea melotot, karena terkejut ada seorang pria berani memberikan dalaman untuknya.
" Enak saja, asistenku yang membelinya."
" Memangnya kau tau ukuranku???"
" Hhhhmmmm tubuh seperti kau mungkin saja ukurannya 30." Sambil melihat ke dada Dhea yang tertutup jilbab.
Dhea beringsut melindungi tubuhnya dengan kedua tangan. Lalu segera menutup pintu kamarnya tanpa basa basi.
" Hahaha Dhea Dhea, aku itu sudah terlalu sering melihat tubuh wanita, jadi tidak perlu kau tanya ukuranmu berapa ", gumam William tersenyum sambil beranjak pergi meninggalkan kamarnya.
Dhea segera mandi, dan sholat ashar. Lalu mengganti pakaiannya dengan pakaian yang dibelikan William tadi. Badannya kembali segar. Setelah dirasa rapi Dhea segera keluar dari kamarnya .
Dhea berjalan pelan sambil mencari-cari tempat yang dimaksud William tadi. Lalu datang seorang wanita yang dari seragamnya merupakan salah seorang asisten rumah tangga di sini menegurnya.
" Maaf nona apakah anda sedang mencari Tuan William?"
" Oh iya, dimanakah dia sekarang?"
" Tuan sedang duduk di dekat kolam renang, mari saya antarkan."
" Terimakasih banyak ", jawab Dhea.
Dan perempuan itu hanya membalas ucapan Dhea dengan senyumannya.
Dhea terus mengikutinya hingga terlihat sosok William yang sedang asyik menikmati segelas coklat panas di depannya.
" Heii...kau sudah cantik rupanya, duduklah di sini ", perintah William sambil menarik sebuah kursi di sampingnya.
Dhea segera duduk di kursi yang telah disediakan oleh William.
" Apakah ada yang masih anda butuhkan tuan?" tanya asistennya.
" Dhe kau mau minum apa?"
Dhea melihat gelas yang ada di hadapan William.
" Seperti punyamu saja terlihat menggoda."
" Tolong kau buatkan gadisku ini minuman seperti punyaku ya? Dan jangan lupa bawakan makanan kecil kemari agar badannya lebih berisi ", kata Wiliam sambil mengejek Dhea.
Dhea hanya diam saja selalu dikatakan kurus oleh William.
" Kau memiliki berapa asisten di rumah ini?"
" Ada apa memangnya?"
" Aku lihat semenjak masuk tadi ada beberapa orang di depan sana. Belum lagi di dalam rumahmu. Apa saja yang mereka kerjakan sehingga kau membutuhkan orang sebanyak itu?"
" Kau lihat kan bangunan rumahku? Belum lagi halamanku, kemudian yang mengurus kendaraanku, juga yang mengamankan rumahku. Kau hitung saja sendiri."
" Pantas kau tidak butuh istri, di dalam rumah inipun kau sudah memiliki banyak orang yang menyediakan segala kebutuhanmu."
" Hhhh lalu apa hubungannya dengan istri?"
" Jika ada seorang istri, dia yang akan menyiapkannya untukmu, dan bukan orang lain."
" Hahhhh kau anggap istri itu sama dengan pembantuku. Jika aku memiliki istri, dia tidak akan kusuruh-suruh, aku hanya ingin menyuruhnya menemaniku ngobrol, menemaniku minum kopi, dan satu lagi yang paling penting, melayaniku di kasur setiap kali aku menginginkannya ", bisik William sambil menatap wajah Dhea.
" Kau ini berpikirnya hanya seputar urusan ranjang saja, bisakah otakmu itu diperbaiki? Sepertinya ada syaraf yang rusak ", jawab Dhea ketus.
" Hahaha memang seperti itu rencanaku jika aku mempunyai istri."
" Kau tidak ingin memberikan pahala pada istrimu dengan melayanimu yang lain dan lebih bermanfaat?"
" Pahala?"
" Ya pahala."
" Maksudnya?"
" Dalam agamaku pengabdian seorang istri terhadap suaminya itu bisa mendapatkan sebuah ganjaran yang besar dari Tuhan. Dan itu akan memudahkan dia masuk ke dalam surga asalkan dia melayani suaminya dengan ikhlas."
" Benarkah, mulia sekali status seorang istri sehingga begitu mudahnya dia mendapatkan ganjaran hanya sekedar melayani seorang suami."
" Ya, itulah mengapa aku ingin suatu hari nanti mendapatkan seorang suami yang bisa benar-benar membimbingku dengan baik, sehingga aku akan selalu senang jika melayaninya."
" Misalnya pria seperti aku kan?"
" Kamu? Hahaha...perintah Tuhanmu saja tidak pernah kau kerjakan padahal Dia yang telah memberimu hidup dan bisa kapan saja mengambil nyawamu, lalu bagaimana kau bisa memperlakukan istrimu dengan baik, rasanya mustahil Tuan William."
" Tapi orang yang baik itu belum tentu baik juga agamanya."
" Tapi berkaitan tuan. Tidak ada agama yang mengajarkan keburukan, dan setiap perilaku yang kita kerjakan sehari-hari jika mengacu pada ajaran agama, maka kita tidak akan berbuat semena-mena, karena kita ingat ada Dia yang mengawasi kita."
" Jadi kau ingin mengatakan aku ini bukan pria baik ya?"
" Hhhh pikirlah sendiri, selama ini perilakumu itu sudah melanggar perintah agamamu atau tidak? Aku saja tidak tau seperti apa ajaranmu ", gerutu Dhea.
Mereka terus mengobrol hingga menjelang petang. Dan tanpa terasa Dhea telah memberikan sedikit pencerahan terhadap William. Selama ini belum pernah ada satu orangpun yang mengingatkan hal tersebut. Bahkan kuarganyapun tidak.