Something different

Something different
Di Ruang Kantor William



Saat Dhea sedang mencoba sepatu baru, tiba-tiba ada seseorang mengetuk pintu kamarnya, Dhea segera beranjak bangun dari tempat duduknya.


" Tunggu sebentar!!" Teriak Dhea sambil meraih jilbab di dalam lemari dan segera membukakan pintu.


Dilihatnya seorang wanita berdiri tersenyum di depan kamarnya. Umurnya mungkin sekitar 60an, tapi masih begitu sehat, dan anggun.


" Selamat siang, maaf sudah mengganggu istirahatmu nona cantik ", katanya.


" Oh tak apa nyonya, ada perlu apa ya anda datang ke kamar saya?" Tanya Dhea.


" Ini untukmu ", dia menyerahkan sebuah kotak besar pada Dhea. Lalu Dhea segera membuka penutupnya, sebuah cake coklat yang begitu menggoda.


" Wow ini pasti enak sekali!! Terimakasih nyonya ", kata Dhea sembari tersenyum riang.


" Kebetulan aku belum makan siang ", bathin Dhea.


" Aku tetangga barumu, dan tinggal di sebelah kiri kamarmu ini, aku baru saja pindah kemarin siang nona."


" Ooh maaf aku tidak tau, namaku Dhea aku orang Indonesia ", kata Dhea sembari mengulurkan tangannya.


" Aku Cristy ", katanya sembari menyambut uluran tangan Dhea.


" Kau berasal dari Indonesia? Wow jauh sekali??"


" Iya nyonya, aku seorang mahasiswi dan mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan S2ku di sini."


" Ya ya ya pasti kau seorang gadis yang pintar."


" Terimakasih nyonya atas pujianmu. Senang sekali aku bisa bertetangga denganmu!"


" Aku juga senang nona cantik ", katanya.


" Aku ingin berkenalan denganmu dari kemarin, tapi sepertinya kau sibuk sekali?"


" Oh iya nyonya, aku kuliah siang, dan kerja malam hari, jadi waktuku hanya terbatas di rumah ", jawab Dhea lagi.


" Masuklah nyonya kita mengobrol di dalam saja."


" Ohhh terimakasih, sepertinya kau masih lelah karena baru saja datang, istirahatlah dulu, nanti lain waktu aku datang kesini lagi. Oh iya aku minta no telfonmu bisa? Siapa tahu aku membutuhkannya ", kata Nyonya Cristy lagi.


" Oh iya nyonya dengan senang hati ", sahut Dhea.


" Sebentar ya, aku akan mengambil kertas dan bolpoin dulu ", kemudian Dhea masuk, dan menulis nomornya pada secarik kertas.


" Ini nyonya, anda simpan di handphone anda ya?"


" Ok sayang terimakasih, kalau begitu aku masuk dulu ya?" Sembari mengusap wajah Dhea.


" Iya nyonya silahkan."


" Hmmm dia sepertinya wanita yang sangat baik ", bathin Dhea.


Kemudian wanita itu segera masuk ke kamarnya. Dhea segera menutup pintu kamarnya, rasanya Dhea sudah tidak sabar lagi menikmati makanan dari tetangganya itu.


Dhea memasukkan seiris roti ke mulutnya.


" Hmmmm rasanya begitu nikmat, mustahil jika Nyonya Cristy membuatnya sendiri, pasti dia membelinya ", pikir Dhea.


Diperiksalah kotak pembungkus kue yang telah dibuangnya tadi, dan Dhea membaca merk yang tertera disana, sebuah toko roti yang sangat terkenal di kota ini.


" Pantas saja enak, dan ini pasti mahal harganya ", kata Dhea dalam hati.


Mengingat dia pernah masuk ke toko itu, lalu keluar lagi tanpa membawa sepotongpun, kemudian berbalik arah masuk ke sebuah toko kecil dan membawa pulang sekantong makanan.


Dhea kembali asyik menghabiskan sepotong lagi kue di hadapannya.


Sementara itu, siang ini William sedang berada di dalam kantornya. Dia sedang asyik mengotak atik laptop di atas mejanya, sesaat kemudian seseorang mengetuk ruangannya.


" Ya masuk!!"


Ternyata Daniel, salah satu rekan bisnisnya yang datang, sekaligus teman nongkrong dan sama-sama pria penggemar wanita cantik seperti dirinya.


" Hallo Will?"


" Hallo Daniel, kenapa tiba-tiba kau kemari tanpa mengabariku terlebih dahulu?" Kata William sambil menyambut dan memeluk sahabatnya itu.


" Hahaha....harusnya aku yang bertanya denganmu, kemana saja kau? Akhir-akhir ini sepertinya kau seperti menghilang, aku sering mencarimu di tempat kita biasa nongkrong, tapi tidak ada. Bahkan kau juga tidak datang di tempat party rekan bisnis kita kemarin, bukankah kau tidak pernah absen dalam kegiatan seperti itu teman?


" Maafkan aku Daniel, aku hanya sedang merasa bosan saja."


" Bosan??? Hahaha sejak kapan kau merasa bosan dengan yang namanya party, apalagi banyak wanita cantik dan seksi di sana."


" Entahlah Dan, mungkin aku sedang jenuh."


" Hei apa yang terjadi denganmu? Apakah kau sudah sadar dan ingin segera bertaubat?" Selidik Daniel.


" Sialan kau Will, aku pikir jin mana yang sudah berhasil menyesatkanmu, sehingga tiba-tiba saja kau melupakan kesenangan itu hahaha."


" Bagaimana proyek baru kita? Apakah kau sudah berhasil melobbynya?"


" Tenang saja Will, sebentar lagi juga perusahaan itu akan segera bertekuk lutut padamu, siapa yang berani melawan Tuan William di kota ini, atau dia akan dibuat gulung tikar olehmu."


" Hahaha bagus Dan, aku suka cara kerjamu, segera selesaikan jangan menunda nunda waktu lagi, kau tau kan aku itu paling tidak suka dengan orang yang lambat."


" Tenang saja bos, kamu bisa percayakan semuanya padaku."


" Oh iya Will, nanti malam bagaimana kalau kita minum kopi di tempat biasa? Aku akan mengenalkan seorang teman wanita padamu, dia baru saja datang dari New York. Sesuai kriteriamu Wil, cantik, seksi cerdas, dan bukan wanita murahan hahaha, dijamin kau akan menyukainya."


" Kenapa kau tidak mendekatinya sendiri? Dan justru memberikannya padaku?"


" Dia itu teman kecilku Will, aku tidak akan merusak persahabatan kami yang sudah bertahun tahun it."


" Ahhh kau ini, kau pasti tidak percaya diri ya mendekatinya?"


" Sialan kau tau saja Will. Kau lihat kan aku tidak setampan kau, apalagi sekaya dirimu. Aku tidak percaya diri dengannya. Dia itu seorang wanita mapan, manager perusahaan terkenal di tempatnya sana. Masih single, pasti banyak pria hebat yang mendekatinya, mana mungkin dia tertarik padaku?"


" Aku tidak menyangka, selama ini yang aku tau kau seorang buaya darat, ternyata bisa tidak percaya diri juga hahaha."


" Hanya untuk dia saja Will aku angkat tangan."


" Tapi maaf teman, sepertinya untuk kali ini aku belum tertarik."


" Hei ada apa sebenarnya denganmu? Biasanya kau begitu antusias jika membicarakan mahluk yang berjenis kelamin wanita, tapi sekarang justru kau menolaknya, ceritalah padaku teman, kau sedang ada masalah?"


" Tidak Dan, aku sudah bilang bahwa aku sedang merasa bosan saja."


" Bosan dengan wanita? Atau bosan dengan keadaanmu?"


" Aku juga tidak tau, bisa jadi dua duanya."


" Aku merasa hidupku itu sepertinya berjalan monoton, kerja, wanita, pesta, ****, begitu terus rasanya aku mulai jenuh Dan, aku sepertinya tidak bisa menemukan titik kebahagiaan yang sesungguhnya."


" Lalu apa sebenarnya yang kau cari Will?"


" Itulah Dan, aku juga tidak tau, bahkan aku sendiri bingung, hartaku begitu banyak, tapi hidupku begitu hampa."


" Hei tunggu, kau bilang hampa? Jangan kau bilang bahwa hatimu yang hampa."


" Ya Dan, hatiku juga hampa."


" Ya Tuhan pasti kau saat ini sedang jatuh cinta ya?"


" Jatuh cinta? Jatuh cinta dengan siapa?"


" Mana aku tahu kau jatuh cinta dengan siapa?"


" Tau darimana kau kalau aku sedang jatuh cinta?"


" Hahaha dulu aku pernah mengalami itu teman, dulu sekali, saat aku belum jadi penggemar perempuan seperti sekarang ini, sebelum aku tau betapa indahnya hubungan tanpa ikatan dan tidak membutuhkan komitmen apa-apa yang memberatkanku."


" Pria sebobrok kau pernah jatuh cinta?"


" Sialan...kau pikir aku lahir langsung jadi seperti ini."


" Hahaha...lalu bagaimana kau bisa jadi sebejat ini?"


" Aku pikir sangat merepotkan jika kita itu terikat oleh salah satu wanita. Wanita itu banyak maunya, banyak tuntutannya, pencemburu, posesif, egois hehhhh sungguh menyulitkanku teman."


" Pantas kau tidak mau berkomitmen."


" Ya benar, bukankah sama denganmu saat ini? Lebih menyenangkan bukan hidup dengan kebebasan?"


" Dasar kau Dan ", sahut William sambil tersenyum.


" Lalu ngomong-ngomong siapa wanita yang sudah membuatmu jatuh cinta sehingga kau jadi serapuh sekarang dan sebosan sekarang? Pasti saat ini kau sedang merasa kesepian di tengah keramaian kan? Hahaha."


" Hahhh kau ini sok tau."


" Sudahlah jangan berdusta padaku, aku sudah bilang dulu aku pernah mengalami itu." Kata Daniel sambil tersenyum.


" Aku juga tak tau itu Dan, aku belum tau apakah jatuh cinta padanya, atau sekedar penasaran saja seperti saat aku mengejar-ngejar wanita lainnya."


" Ya ya ya, tapi kau tak pernah sejenuh ini sebelumnya kan?"


William menggelengkan kepalanya.


" Hati-hatilah teman, sepertinya Dewa Amor sedang mengincarmu hahaha ", Daniel tertawa terbahak-bahak, sedangkan William hanya diam saja pikirannya melayang-layang entah kemana.