
Setelah mengantar Dhea pulang, William segera berpindah tempat, dia kembali lagi duduk di depan.
" Kita pergi sekarang Will?"
" Tunggu dulu, aku harus memastikan gadis itu sudah masuk ke kamarnya."
" Darimana kau tau bahwa gadis itu sudah berada di dalam kamar."
" Tunggu saja, sebentar lagi dia akan mengintip kita di balik jendela kamarnya, coba kau perhatikan jendela di atas kita itu."
Benar saja tak lama kemudian Dhea mengintip William dari balik jendela kamarnya.
" Benar Will, itu bayangan dirinya. Dia sedang mengintip di belakang tirai jendelanya."
" Tidak salah kan yang aku katakan tadi?"
" Hahaha Gila kau Will, sampai sedetail itu kau memperhatikan dia."
" Aaah sudah...tutuplah mulutmu, ayo kita pergi ke bar sekarang."
" Hei aku pikir setelah bertemu gadismu, kau sudah tidak berminat lagi pergi denganku."
" Kau ini, aku bukan pria yang plin plan ya."
" Oke oke...ini baru William yang sebenarnya, kita jalan sekarang ", kata Daniel sambil tertawa.
Daniel menghidupkan musik dari tape mobilnya. Lagu melantun pelan, menemani perjalanan mereka berdua membelah jalan di kesunyian malam.
Tak berapa lama Daniel menghentikan mobilnya di halaman bar yang mulai terlihat ramai. Memang tempat seperti itu akan semakin dipenuhi pengunjung saat hari semakin malam.
Daniel dan William segera masuk ke dalam bar tersebut, seseorang mempersilahkan mereka duduk di sebuah kursi yang nampak kosong. Kedua pria ini adalah merupakan langganan tetap, sehingga mereka mendapatkan pelayanan yang spesial dibanding pengunjung lain.
" Daniel memesan beberapa minuman keras untuk menemani mereka berdua."
" Jadi tadi itu wanita yang kau kejar kejar selama ini Will?" Tanya Daniel.
" Ya, namanya Dhea."
" Pantas kau mengejarnya, dia memang cantik, tapi penampilannya hhhmmmm......"
" Berbeda? Aneh ? Begitukan menurutmu?"
" Ya, dia muslim?" Tanya Daniel.
" Benar dia penganut muslim yang taat, bahkan dia tidak mau kusentuh sedikitpun."
" Lalu kenapa kau masih mendekatinya? Kalian memiliki sebuah perbedaan yang sangat sulit untuk dilewati?"
" Siapa bilang sulit?"
" Kau dan dia bukan berbeda agama saja Will, tapi juga asal usul, kau mau mengorbankan semua demi dia?"
" Hahaha...kenapa kau begitu serius? Aku saja sampai saat ini belum berhasil mendapatkan tempat di hatinya sedikitpun, kenapa harus memusingkan hal itu?"
" Tapi itu harus dipikirkan Will, apa kau tidak berniat serius dengannya?"
" Itu belum terpikir olehku teman."
" Kau memang benar-benar pria gila ", jawab Daniel sambil tertawa.
" Aku ingin minum banyak malam ini, kamu temani aku, dan jangan ikut-ikutan, karena aku tidak mau kita ketiduran di tempat laknat ini sampai siang oke?"
" Ya ya ya...kamu sepertinya sedang mengalami stres berat, aku akan menemanimu di sini, minumlah sampai puas!!"
Malam itu William minum begitu banyak, bahkan bicaranya sudah mulai tidak terkontrol.
Tiba-tiba muncul seorang wanita di hadapan mereka.
" Hai William? Hai Daniel?"
" Hai Paula ", jawab Daniel.
William tidak menjawab karena dia sudah mulai dikuasai alkohol sehingga sudah tidak ingat apapun.
" Kenapa temanmu itu? Apa dia minum terlalu banyak, sehingga tidak menyambut kedatanganku?"
" Ya...lihatlah sendiri. Kau datang kemari dengan siapa Paula?"
" Kebetulan aku sendirian Dan."
" Kalau begitu bergabunglah dengan kami."
Paula menerima tawaran Daniel, dan dia tidak segan-segan duduk di samping William.
" Dhea? Siapa wanita itu Dan? Kenapa dalam keadaan mabukpun William menyebutnya?"
" Dia bukan cuma mabuk minuman keras Paula, tapi juga sedang dimabuk cinta. Apakah kau tidak mengetahuinya?"
" Tidak Dan, aku sudah lama tidak bertemu dengannya mungkin sudah 1 bulan lebih."
" Ya ya ya karena dia memang sedang fokus mengejar wanita itu, sehingga melupakan segalanya." Jawab William lagi sambil tersenyum.
Daniel tidak tau bahwa William sudah lama tidak lagi berhubungan dengan Paula, dan mereka berdua bahkan sedang memiliki masalah karena Paula pernah mencelakai Dhea.
" Dhea...ayolah kemari, kenapa kau selalu menghindariku? Kau tidak ingin aku peluk? Dhea...sayangku...aku membutuhkanmu, aku tergila gila padamu ", kata William merancau tidak jelas, sambil menarik tangan Paula ke dalam pelukannya.
Paula menurut saja dan menikmati bau harum tubuh William di dalam dekapannya.
" Dhea tubuhmu wangi sekali, apakah kau baru saja mandi sayang? Pleas jangan tinggalkan aku, aku ingin bersamamu."
" Dan, sebaiknya kita pergi dari sini, dia sudah sangat mabuk."
" Ya, ayo bantu aku membawanya."
Kemudian Daniel segera memapah tubuh William keluar dari bar tersebut, dan masuk ke dalam mobil.
William tetap tidak mau melepaskan tubuh Paula.
" Kita antar dia pulang Dan."
Daniel hanya mengangguk, kemudian dia segera menghidupkan mesin mobilnya dan mengantarkan William kembali ke rumahnya. William tetap saja merancau tidak jelas duduk di belakang bersama Paula, dan terus-terusan memanggil nama Dhea.
Setelah tiba di rumah William seorang asisten rumah tangga membukakan pintu untuk mereka, Daniel dan Paula segera membawa masuk William ke dalam kamarnya.
Saat Paula hendak melepaskan tangan William yang memeluknya sedari tadi, justru William semakin mempererat pelukannya.
" Kau mau kemana sayang? Temani aku di sini, jangan pergi kemana-mana, aku membutuhkanmu."
" Pergilah Dan!! Biar aku temani dia di sini."
" Kau tidak keberatan Paula?"
" Tidak, bukankah aku sudah sering menemaninya?"
Jawab Paula sambil tersenyum.
" Ok, kalau begitu aku pulang dulu ya?"
" Silahkan ", jawab Paula singkat.
Sepeninggal Daniel, tingkah William semakin menjadi. Halusinasinya tentang Dhea semakin menguasai alam bawah sadarnya. Hingga dia mengira bahwa wanita di hadapannya itu adalah Dhea. Paula justru memanfaatkan kesempatan itu, dan berperan bahwa dia adalah benar-benar sosok Dhea. Paula bahkan berani menggoda William. Dan tanpa disadari, saat ini mereka berdua sudah bergumul diatas kasur. William benar-benar sudah tidak mengenali, bahwa yang sedang digaulinya ini adalah Paula. Hingga keesokan harinya saat bangun William sangat terkejut, karena mereka berdua berada di dalam satu selimut dan tanpa menggunakan sehelai benangpun. William menyingkirkan tangan Paula yang memeluk tubuhnya. Matanya berkeliling mencari tau, dimana saat ini dia berada.
" Shit...kenapa aku tidur bersama wanita jalang ini? Bukankah ini kamarku? Lalu dimana Daniel?"
William segera bangun, dan mengambil pakaiannya yang berserakan di lantai. Tanpa basa basi dia segera membangunkan Paula.
" Heiii...Paula bangun...!!!"
Paula tidak bergeming.
" Paula cepat bangun...!!! Kenapa kau ada di kamarku?"
Perlahan Paula membuka matanya.
" Hai sayang...jam berapa ini? Apakah sudah pagi?"
" Jangan banyak bicara, kenapa kau ada di dalam kamarku?"
" Ohhh itu, semalam kita bertemu di bar, kau mabuk parah, dan mengira aku adalah Dhea, dan semalam kau ahhh...begitu liar sayang, aku benar benar kewalahan ", kata Paula sambil tersenyum.
" Sialan.....Jadi semalam kita melakukan hubungan badan karena aku mengira kau Dhea."
" Iya sayangggg....kenapa? Bukankah dulu kita sering melakukannya?"
" Ya itu dulu, dan hari ini jika semalam tidak mabuk, aku tidak akan mungkin mau tidur denganmu!!"
" Cepat beresi pakaianmu, dan segera pergi dari rumahku!!" Kata William ketus sambil beranjak pergi.
" Hei kau mau kemana?"
" Aku mau keluar, dan ingat setelah ini jangan pernah muncul di hadapanku lagi!!"
" William tunggu, Williamm.......!!!" teriak Paula. William tidak menghiraukan teriakan Paula, dan justru segera keluar sambil membanting pintu kamarnya."
" William brengsek kamu!! Awas ya kamu sudah menghinaku, kau akan segera merasakan akibatnya...Williaaammmm......!!"