Something different

Something different
Kepulangan supir Dhea



"Assalamualaikum...!!!"


Terdengar salam dari luar kamar Dhea, sambil perlahan pintu kamarnya terbuka. Dokter serta suster yang sedari tadi menemani Dhea spontan menjawab bersamaan salam itu. Ternyata yang datang adalah ayah dan ibu Dhea. Suster dan juga dokter yang sedari tadi duduk di ranjang menemani Dhea, spontan berdiri saat mengetahui orang tua pasiennya datang.


" Ayah, ibu...!!!" panggil Dhea. Tanpa basa-basi ibunya segera memeluk Dhea. Dua orang ibu dan anak itu saling bertangis-tangisan, sedangkan ayahnya hanya duduk terdiam di sebelah ibunya.


" Bu, suamiku bu, suamiku William bu....!!!" kata Dhea sambil sesenggukan. Seperti saat dia kecil dulu, saat sedang menangis karena bertengkar dengan temannya, pasti langsung berlari ke pelukan ibunya dan berkeluh kesah pada orang tua itu. Dan seperti biasa, ibunya selalu berusaha untuk menenangkan anak semata wayangnya.


" Ya nak ibu sudah mendengar berita itu di televisi. Ibu ingat sore ini William akan berangkat ke London, makanya ibu memastikan dan langsung kemari. Harapan ibu, semuanya tidak benar, tapi ternyata?"


" Ya bu, tadi aku sudah bertanya ke bagian informasi, pesawat yang meledak adalah pesawat milik maskapai yang dinaiki suamiku...!!! Bu, kasihan suamiku, bagaimana nasibnya? Aku takut membayangkan kemungkinan terburuk yang menimpanya, bagaimana aku bisa melanjutkan hidupku bu....!!!"


Tangis Dhea semakin keras. Dan tentunya sebagai sesama wanita tetap air mata yang selalu menjadi andalannya, ibu Dheapun tidak kuasa lagi mengeluarkan kata-kata, terlebih memikirkan musibah yang berturut-turut menimpa anaknya.


" Ssstttt....jangan berkata seperti itu nak. Masih ada kami, orang tuamu yang selalu mendampingimu di kondisi apapun. Bersabarlah, Allah selalu bersama orang-orang yang sabar ya." Kali ini ayah Dhea yang berbicara.


Dokter dan suster yang sedari tadi berdiri di depan mereka, lagi-lagi ikut larut dalam kesedihan itu.


" Dokter, apakah anak saya tadi sudah diberikan obat? saya tidak mau kesehatannya terganggu karena masalah ini."


" Sudah pak, tadi nyonya Dhea sudah saya berikan obat." Jawab dokter singkat.


" Nak, apa kamu sudah benar-benar pastikan bahwa suamimu ikut pesawat itu? Bukankah kau belum mendapat informasi data korban kan?"


" Memang belum yah, tapi aku tadi ikut mengantar suamiku ke bandara. Saat pesawat take out tadi, aku masih di sana, dan jam serta warna pesawat yang aku lihat adalah milik maskapai yang dinaiki William. Aku memang sengaja belum pulang untuk memastikan bahwa pesawat yang dinaiki suamiku sudah berangkat. Aku juga menyaksikan sendiri dengan mata kepalaku, bagaimana pesawat itu meledak mengeluarkan kilatan cahaya. Suara ledakannya masih terngiang-ngiang di telingaku ayah." Kata Dhea sambil memejamkan mata, dan menutup telinga dengan kedua telapak tangannya. Dia seperti trauma dengan kejadian yang dia saksikan sore tadi.


" Astagfirullah hal adzim....!!! Ya Allah selamatkanlah menantuku." Bisik ayah Dhea pelan.


" Yah.....masikah ada harapan suamiku selamat?"


" Berdoalah nak, apapun berita yang kita dapatkan tentang suamimu nanti, itu adalah sudah menjadi takdir Allah. Tidak ada yang bisa menolak ajal nak." Kata ayahnya pelan.


Jawaban singkat dari sang ayah memang masuk akal, tapi Dhea tetap belum bisa menerima itu semua, dia masih ingin berharap, walaupun harapannya sangat kecil, namun dari yang kecil itu tadi tidak mustahil jika bisa terwujud.


" Ayah, ibu, kenapa Allah terus-terusan mengujiku? apakah tidak cukup kemarin Dia telah mengambil bayiku? apa salahku?" Protes Dhea.


" Jangan berkata seperti itu nak, Dia mengujimu karena sayang padamu, berkhusnudzonlah padaNya."


" Tapi jika Dia sayang padaku, kenapa selalu mengujiku dengan musibah terus-terusan."


" Rasa sayang Allah itu bukan ditunjukkan melalui kebahagiaan saja, namun juga ujian seperti ini bisa menjadi salah satu bentuk kasih sayangNya pada kita. Jika kau masih bisa kuat dan bersabar, maka semua itu bisa menjadikan semakin tinggi derajatmu di hadapan Allah, nak."


" Ayah akan pergi ke bandara sekarang, ayah ingin mencari informasi tentang nama-nama korban, siapa tau mereka sudah berhasil mendapatkannya." Sambil berdiri dari duduknya.


" Tidak usah yah, tadi supirku sudah kembali lagi ke sana. Pasti dia sudah bertanya tentang nama penumpang yang naik pesawat tersebut. Suasana bandara juga masih sangat kacau, aku tidak mau ayah ikut berdesak-desakan dengan pengunjung lain."


" Apa supirmu sudah pergi sedari tadi?"


" Sudah ayah, setelah mengantarku pulang, dia langsung balik ke sana. Ini juga sudah terlalu sore, sebaiknya ayah di rumah saja."


" Aku yang salah. Sebenarnya waktu itu suamiku tidak ingin pergi ke London, tapi aku yang memaksanya, karena aku ingin dia hadir di pernikahan Mike. Seandainya saja aku tau kejadiannya akan seperti ini, mungkin aku tidak akan memaksanya bu, padahal dia sudah tidak mau dan merasa berat meninggalkan aku di rumah dengan kondisi kesehatanku yang belum pulih benar."


" Kau jangan berkata seperti itu nak. Yang namanya musibah itu tidak pernah ada satupun orang yang mau mengalaminya. Dan jika kita tau hal tersebut akan menimpa kita, sudah pasti kita semua sebisa mungkin akan menghindarinya. Ini semua adalah rahasiaNya nak, tidak ada satupun mahluk ciptaanNya yang tau segala sesuatu yang akan kita hadapi, bahkan 1 atau 2 menit ke depanpun kita tidak pernah tau."


" Oh iya, apakah kau sudah menelfon mertuamu mengenai berita ini?"


" Belum ayah, aku belum ingin mengabari mereka jika belum mendapatkan kepastian mengenai data penumpang, aku takut mereka semua panik."


" Tapi papa William sudah tau kan jika anaknya pergi ke London hari ini?"


" Aku juga belum tau ayah, karena saat sebelum berangkat aku tanya dengannya, dan dia bilang lupa untuk mengabari orang tuanya, setelah itu aku belum tau, apakah dia jadi mengabarinya atau tidak."


" Ya Allah....semoga saja William bukan termasuk salah satu penumpang di pesawat itu." Kata ayah Dhea kembali sambil menutup wajahnya.


Sementara itu supir Dhea terlihat memacu kencang kendaraannya, bibirnya terus sibuk komat-kamit menyebut asma Allah, butiran keringat membasahi wajahnya, sehingga berkali-kali dia harus menyeka dengan jemarinya, padahal pendingin ruangan telah dihidupkan, namun berita yang baru saja didapatkan dari petugas bandara membuat jantungnya berhenti mendadak.


Sang supir seperti sudah tidak sabar lagi untuk menemui Dhea di rumah, hingga dia lupa bahwa caranya membawa mobil bisa membahayakan dirinya sendiri. Saat tiba di rumah, dia segera turun.


" Mana nyonya Dhea?" Tanyanya pada seorang asisten rumah tangga yang kebetulan bertemu dengannya di ruang tamu, sambil nafasnya sedikit ngos-ngosan.


" Nyonya ada di atas, sedang bersama kedua orang tuanya. Kenapa bapak terlihat panik seperti itu?" Tanyanya ingin tau.


" Aku baru saja mendapatkan berita tentang tuan....!!! Katanya sambil setengah berlari menaiki anak tangga, menuju kamar Dhea yang sudah sejak lama dipindahkan lagi ke atas.


" Lalu bagaimana pak? tuan ikut naik pesawat itu juga? pak....!!! hei....!!! diajak bicara malah main pergi saja...." teriak asisten rumah tangga itu, dan sang supir tidak menggubrisnya.


Saat sudah ada di depan kamar Dhea, supir itu langsung mengetuk pintu di depannya. Pintu terbuka dari dalam dan ayah Dhealah yang membukakannya.


" Masuk pak!" Kata Dhea Dhea mempersilahkan supirnya masuk.


" Maaf nyonya, saya mengganggu istirahat anda."


" Tidak pak, justru kami semua sedang menunggu kedatangan bapak." Jawabnya antusias.


" Bagaimana pak? apakah ada kabar mengenai keberadaan suami saya?" tanyanya sudah tidak sabar lagi dengan berita yang dibawa supirnya.


" Iya nyonya. Tadi saya sudah mendapatkan informasi dari petugas bandara." Sesaat dia menghentikan kalimatnya dan mengusap peluh yang membasahi wajahnya.


" Lalu bagaimana katanya pak?"


" Tuan memang terdaftar menjadi salah satu penumpang pesawat tersebut, tapi....!!!" Semua mata orang yang ada di kamar itu memandang tak berkedip pada sang supir dan menanti kalimat dia selanjutnya.


" Tapi apa pak???" tanya Dhea.


" Tapi tuan.....!!!"


" Iya kenapa suamiku???"