
Hari ini setelah hasil uji lab milik Dhea keluar, saat pulang dari rumah sakit, Dokter Sherli segera mengunjungi rumah Dhea. Ada perasaan campur aduk yang menyelimutinya. Ternyata perkiraannya benar. Hasil uji lab yang dia bawa menunjukkan hasil bahwa Dhea mengalami preeklamsi. Kabar baiknya adalah hal tersebut segera terdeteksi awal, sehingga efeknya belum sampai menyerang ke bagian organ tubuh Dhea. Namun kabar buruknya adalah, Dhea hasil merelakan janinnya untuk segera dikeluarkan karena dapat membahayakan nyawanya. Sebenarnya janin tersebut masih dapat dipertahankan, hingga jantungnya benar-benar kuat untuk lahir sebelum waktunya. Namun itu juga tergantung pada kondisi Dhea juga dan tetap tidak bisa menjamin bayi tumbuh dengan normal.
Saat datang ke rumah besar itu, Dokter Sherli langsung disambut oleh Dhea dan William yang sedang duduk santai di dalam rumahnya.
" Hai Dhe, bagaimana keadaanmu?" tanya Dokter Sherli berusaha menyembunyikan keresahan hatinya dan seolah tidak terjadi apa-apa sambil duduk di dalam sofa empuk di dalam rumah itu.
" Aku baik-baik saja dok." Jawab Dhea berbohong.
" Tidak dok dia bohong. Dua hari ini sakit kepalanya semakin parah, juga mualnya." Kata William menimpali.
" Hehhhh....kenapa cepat sekali perkembangan penyakitnya." Gumam Dokter Sherli dalam hati.
" Bagaimana dok, hasil uji labku sudah keluar?" tanya Dhea antusias.
" Ya Dhe. Ini sudah aku bawa. Aku kemari karena sengaja ingin membacakan hasilnya langsung pada kalian berdua."
" Oh iya anda ingin minum apa dok?"
" Terserah saja, aku peminum segala yang penting tidak memabukkan hahaha." Dhea tersenyum, lalu dia berjalan ke belakang meminta salah seorang pegawainya membuatkan minuman untuk dokter pribadinya itu.
" Bagaimana dok hasilnya? negatif kan?" tanya William saat Dhea pergi ke belakang.
Dokter Sherli menarik nafas panjang, dan diam sebentar.
" Sayangnya diagnosanya benar tuan." Katanya pelan, namun cukup membuat jantung William berhenti untuk sesaat, dan kemudian berdetak lagi namun lebih cepat dua kali lipat seolah sedang berpacu dengan waktu.
" Ya Allah.......!!!!" William langsung terkejut dengan berita yang dibawa oleh Dokter Sherli. Badannya langsung lemas seperti tidak bertenaga. Harapannya seakan musnah.
" Dok, benarkah? diagnosa anda salah kan dok?"
" Tidak tuan, semua hasil lab positif. Bersyukurnya semua bisa kita ketahui sejak dini, jadi kita bisa mengambil tindakan lebih cepat."
" Lalu apa yang harus kita lakukan? apakah Dhea bisa menerima semua kenyataan ini? dia pasti ingin mempertahankan janinnya dok?"
" Saya tau tuan, tidak ada seorang ibu yang mau mengorbankan anaknya. Namun kita harus melakukan pilihan, menyelamatkan salah satu dari mereka, atau dua-duanya menjadi korban. Namun pada kenyataannya, sedikit bayi yang bisa selamat walaupun kita mempertahankan hingga jantungnya matang. Dan itu justru semakin memperparah keadaan istri anda dengan mengulur-ulur waktu, mau tidak mau kita harus cepat melakukan tindakan."
" Dok apakah tidak ada jalan keluar lagi selain mengorbankan anak kami?"
" Maaf tuan hanya itu satu-satunya jalan. Percuma juga tuan, kalaupun anak anda lahir dampak preeklampsia akan memberikan risiko berbeda pada tiap janin. Dampak yang paling utama adalah kekurangan gizi akibat kekurangan pasokan darah dan makanan ke plasenta, hal ini mengarah ke gangguan pertumbuhan si bayi di dalam kandungan. Janin bisa berisiko lahir cacat hingga lahir meninggal, akibat tidak mendapatkan makanan. Preeklampsia pada ibu hamil juga bisa membuat bayi berisiko terkena penyakit tertentu. Ini disebabkan karena janin harus bertahan dengan pasokan nutrisi yang terbatas sewaktu di dalam kandungan."
" Astagfirullah hal adzim....Ya Allah...cobaan apa yang Kau berikan pada kami???" kata William sambil menundukkan wajahnya.
" Bersabarlah tuan, yang menjadi prioritas utama kita adalah menyelamatnya istri anda terlebih dahulu."
" Tapi anak kami bagaimana? dia itu juga berhak hidup dokter!!"
" Tapi tetap Allah yang memiliki kuasa dokter!!!" William tetap tidak mau kalah dengan argumennya.
" Tuan, semua Allah yang menentukan, tapi manusia punya akal dan bisa berpikir. Tapi semua terserah anda, anda bisa kok mengulur waktu, tapi aku tidak mau bertanggung jawab jika nanti bisa membahayakan nyawa istri anda."
Saat suasana sedang tegang, muncullah Dhea dari arah belakang diikuti oleh salah seorang asisten rumah tangganya, sambil membawa minuman dan beberapa camilan untuk tamunya itu.
" Sayang, kenapa lama sekali? apa tadi kau yang membuatkan minuman itu? kau kan bisa langsung meminta pegawai di rumah kita untuk membuatkannya." tanya William seolah tidak terjadi apa-apa.
" Tidak sayang, aku tadi ada sedikit memberi pengarahan pada pegawai kita saja."
" Ohhhh aku pikir kau yang membuatkannya."
" Hahaha...suamimu takut tanganmu terkena air panas Dhe, karena pasti kau akan segera dimasukkan ke dalam ruang icu." Kata Dokter Sherli menimpali sambil terbahak.
" Ya...dokter dia memang suami yang aneh, dimana-mana seorang suami itu selalu ingin dimasakkan dan dilayani istrinya. Ini beda dokter, dia ingin dilayani oleh orang lain."
" Yang penting yang melayaniku saat di atas ranjang bukan orang lain sayang." Jawab William sambil tersenyum penuh arti.
" Hahaha....jika itu tidak bisa diwakilkan Tuan William." Seraya tertawa terbahak.
" Ayo dokter silahkan diminum." Kata Dhea mempersilahkan dokter langganannya.
" Terimakasih Dhe."
" Oh ya dok bagaimana hasil labnya? aku sehat-sehat saja kan? aku bisa menebaknya dari raut wajah kalian berdua. Aku bilang juga apa sayang, aku itu sehat, aku bisa menjaga anak ini dengan baik kok. Ya tidak nak?" kata Dhea sambil menunduk mengajak calon bayinya berbicara.
" Makanya sayang, jangan berlebih-lebihan, kau tau kan sesuatu yang berlebihan itu tidak disukai Allah. Coba uang yang untuk memeriksaku kemarin kau belikan ayam goreng semua, bisa kita bagi-bagikan untuk pegawai di rumah kita dan semuanya senang." Kata Dhea panjang lebar dan tidak menyadari perubahan ekspresi dua orang di hadapannya itu.
" Ya kan dokter?" tanya Dhea sambil tersenyum pada Dokter Sherli.
" Dhe....maaf kamu dengar penjelasanku sebentar ya." Kata Dokter Sherli, sedangkan William menundukkan wajahnya seolah tidak mampu mendengar penjelasan yang diberikan Dokter Sherli pada istrinya nanti. Hatinya benar-benar hancur luluh lantak.
" Apakah begini rasanya kehilangan sebuah harapan??? padahal anak kami belum lahir, tapi aku benar-benar sudah menyiapkan rencana yang indah untuknya. Dan aku memiliki sebuah impian besar padanya, tapi ternyata semuanya menguap begitu saja." Jerit William pada dirinya sendiri. Dia terus menundukkan wajahnya, rasanya tidak mampu melihat ekspresi istrinya nanti jika mendengar berita itu.
" Iya dok, penjelasan tentang hasil lab ini?"
" Iya Dhe."
" Ya...silahkan dok, dengan senang hati akan saya dengarkan." Jawab Dhea sambil membenahi duduknya.
" Sayang, kenapa kau menunduk saja? dokter ingin menjelaskan tentang hasil labku." Kata Dhea sambil menengok ke arah suaminya. William kemudian mengangkat wajahnya yang terlihat begitu suram, namun Dhea tetap belum menyadari situasi tersebut. Situasi yang sebentar lagipun akan membuat dia mungkin lebih hancur daripada perasaan suaminya. Perasaan seorang ibu, yang sebentar lagi akan kehilangan janinnya. Naluri seorang ibu yang bagaimanapun caranya ingin melindungi buah hatinya, sekalipun itu nyawa taruhannya, namun harus menyerah pada sebuah takdir yang digariskan olehNya.