
William terus menatap tubuh Dhea yang terus membelakanginya dan sudah tidak bergerak.
" Hehhhhhh....enak saja, cepat sekali dia terlelapnya. Dia sudah membuatku bad mood seperti ini, lalu tidak bertanggung jawab." Bathin William lagi.
Sementara itu Dhea terus pura-pura tertidur dan mempertahankan posisinya tetap seperti itu. Dia sebenarnya tertawa sendiri dalam hati, sambil menerka-nerka apa yang sedang dipikirkan suaminya saat itu.
" Hihihi...pasti saat ini dadamu sedang bergemuruh, gigimu sedang bergemeretak, dan kau sambil meremas jemarimu karena menahan cemburu dalam hatimu kan? iya kan? coba aku hitung ya, dalam hitungan ketiga aku yakin kau akan menggoyang-goyangkan tubuhku, memintaku bangun dan mengungkapkan kekesalanmu. Satu........Dua........." Baru sampai hitungan kedua, tiba-tiba seperti ada getaran gempa di tubuh Dhea. Benar saja tangan kekar William sedang menggoyang-goyangkan tubuhnya, memintanya untuk segera bangun.
" Sayang.....ayo bangun.....!!! sayang....aku ingin bicara denganmu sebentar!!!" Kata William sambil terus menggoyangkan tubuh Dhea, tanpa ada ciuman seperti biasa yang dilakukkan saat membangunkan istrinya itu.
" Hemmmmm.....aku ngantuk sayang!!! nanti saja ya." Jawab Dhea pura-pura masih mengantuk dan kembali tidur.
" Tidak sayang, aku mau sekarang!! ayo bangun!!!" katanya lagi. Kali ini sambil mengangkat kepala Dhea dan membantunya untuk segera bangun. Dhea pura-pura begitu malas mengangkat tubuhnya. Rambutnya yang acak-acakan dibiarkan tergerai menutupi sebagian wajahnya.
" Ayo pleas bukalah matamu, aku ingin berbicara sebentar." Kata William sambil menyelipkan rambut Dhea di belakang telinga.
" Ada apa sih sayang? aku ingin tidur, apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan? apakah tidak bisa ditunda barang sebentarrrrr saja. Aku ingin tidur dulu ya." Kata Dhea sambil hendak merebahkan tubuhnya kembali.
" Heiiiii....kau jangan tidur lagi!!!" Kata William sambil menahan tubuh Dhea.
" Sayang, kau ini aneh sekali. Ada apa sih?"
" Kau yang aneh."
" Aku yang aneh??? memangnya aku memiliki ekor?"
" Nah kau sendiri mengataiku aneh!!!" Balas William.
" Sikapmu sayang yang aneh."
" Lho kau baru sadar jika sikapku aneh?"
" Lho jadi benar ya, kalau sikapmu aneh?"
" Jadi sedari tadi kau baru menyadarinya sekarang???" Kata William sedikit jengkel.
" Ohhhh jadi sikap anehmu itu sudah terjadi sedari tadi? sejak kapan? kenapa aku baru menyadarinya saat aku ingin tidur, dan kau memaksaku bangun ya??"
" Hehhhh...kau ini menyebalkan sekali sih. Kenapa sifat sensitifmu itu jadi hilang dan tidak peka sama sekali!!!" gerutu William.
" Hihihi....nih suami lucu juga." Kata Dhea dalam hati.
" Ada apa sih sayang??? kau sedang ada masalah? apakah aku bisa membantumu?"
" Ya aku ada masalah, masalah besar, dan kaulah penyebabnya."
" Aku penyebabnya??? kapan? aku bahkan tidak menyadarinya!" kata Dhea sok bingung.
" Bagaimana kau sadar? kau sedang berbahagia di atas penderitaanku. Bahkan kau tidak memikirkan perasaan suamimu sendiri kan?"
" Perasaan suamiku? perasaanmu?"
" Memang siapa suamimu kalau bukan aku?"
" Hehhhh baru bertemu mantan sebentar saja sudah lupa dengan suami sendiri." Gerutu William lagi.
" Sstttt...sini sini....coba kau ceritakan dengan lengkap. Kenapa kau tiba-tiba uring-uringan seperti ini, menyalahkanku sebagai sumber penyebab kemarahanmu, padahal aku tidak tau sama sekali." Kata Dhea sambil memegang kedua tangan William, membenahi duduknya, dan bersila di depan suaminya.
" Bukan aku yang cerita, tapi kaulah yang harus cerita."
" Aku???"
" Ya kamu!!! apakah kurang jelas kata-kataku?"
" Apa yang harus kuceritakan? aku adalah istrimu, segala hal tentangku tidak ada yang kurahasiakan padamu. Masa kecilku, masa remajaku, semuanya kau sudah mengetahuinya."
" Tapi ada satu hal yang belum aku ketahui."
" Apa itu? tidak ada satu rahasiapun yang aku sembunyikan darimu."
" Ada, dan aku sangat merasakan itu."
" Apa sayang? aku bingung apa maksudmu?"
" Perasaan apa? perasaan yang mana?"
" Kau jangan berpura-pura lagi. Perasaanmu terhadap mantanmu Reihan."
" Perasaanku terhadap Reihan???"
" Ya terhadap Reihan. Aku tadi bisa melihat raut wajahmu yang begitu gembira saat bertemu dengannya."
" Lho apakah itu salah? Masak aku harus menekuk wajahku di hadapannya."
" Tidak seperti itu juga, tapi bukan berarti harus berlebihan seperti tadi. Kau bahkan menawarinya untuk makan siang bersama kita. Kau ingin memperpanjang pertemuan dengannya?"
" Ya ampun sayang, aku hanya ingin lebih leluasa mengobrol dengannya, tidak sambil berdiri seperti tadi. Bukankah makan siangnya bersamamu juga? dan bukan berdua denganku saja?"
" Ya benar. Tapi tetap saja aku tidak suka dengan sikapmu tadi."
" Hemmmm katakan saja bahwa kau cemburu kannn??? ayolah mengaku jangan berbelit-belit begitu."
" Ya aku cemburu. Dan aku tidak suka kau dekat-dekat dengannya lagi. "
" Hei....bukankah kau dulu sudah pernah bertemu dengannya? bahkan mengirimi undangan pernikahan kita kan? lalu kau mengenalkan diri sebagai calon suamiku? lalu kenapa kau masih cemburu padanya? kau sudah mengenalnya kan? dia mantan kekasihku dan hanya mantan, itu saja."
" Tidak!!! aku belum mengenalnya sama sekali."
" Lho dulu itu kau cerita padaku katanya kau sudah mendatanginya di rumahnya, dan mengirim undangan pernikahan kita?"
" Aku hanya membohongimu."
" Kenapa kau bohong padaku?"
" Karena aku tidak ingin kau mengundangnya hadir di pernikahan kita, karena pasti aku akan sangat cemburu padanya."
" Ohhhhh...jadi waktu itu kau sengaja membohongiku dengan mengatakan sudah mengiriminya undangan, agar aku tidak mengiriminya lagi, dan otomatis dia tidak hadir di pernikahan kita?"
" Ya, memang itu rencanaku."
" Heiiii...kenapa kau jadi membahas masa lalu? Selesaikan urusan kita dulu."
" Urusan yang mana?"
" Urusan kau tadi bermanis-manis dengan Reihan. Apa coba maksudmu bersikap seperti tadi?"
" Ihhhhh kau ini, wajahku kan memang manis, jadi tanpa harus kubuat-buatpun aku tidak perlu lagi bermanis-manis di hadapannya."
" Aku serius Dhe, tolong jangan bercanda!!" Kata William mulai sedikit terpancing emosinya.
" Ihhhh...jadi serius nih ceritanya?"
" Kau pikir sedari tadi aku cuma bersandiwara?"
" Kau tidak tau apa yang kurasakan tadi saat kau mengobrol dengan mantanmu itu?"
" Tidak." Kata Dhea sok polos sambil menggelengkan kepalanya.
" Hehhhhh...kau menyebalkan sekali." Kata William sambil beranjak bangun dari tempat tidur.
" Heiiiii...kau mau kemana?" Teriak Dhea.
" Aku mau keluar. Pusing kepalaku melihat sikapmu yang seolah tidak terjadi apa-apa itu."
" Tunggu sayang!!!" Teriak Dhea sambil beranjak turun dari tempat tidurnya.
William menghentikan langkahnya sesaat.
" Apa? apa yang harus aku tunggu lagi? sedari tadi aku minta kau jujur tentang perasaanmu, kau malah anggap aku sedang bercanda."
" Apa kurangnya aku Dhe? aku bahkan berusaha untuk menjadi yang terbaik untukmu. Apapun kulakukan demi dirimu. Aku menutup semua mata, telinga, dan hatiku semuanya untukmu. Tapi kau sendiri? lihatlah? apakah ketulusanku ini belum cukup?"
" Waduuuhhh...kenapa jadi panjang begini? Aku harus akhiri. Dan harus segera mengeluarkan jurus rayuan mautku." Kata Dhea dalam hati, yang merasa bahwa suaminya tidak akan bisa menghindar dari rayuannya.