Something different

Something different
Pernikahan yang mendebarkan.



Semua orang sudah siap di depan rumah William. Mereka membawa dua buah mobil. Satu berisi William dan papanya. Dan satunya lagi berisi Mike serta Bram. Sebegitu tertutupnya pernikahan tersebut hingga William tidak mau ada orang lain yang mengetahuinya.


" Mike ".


" Iya Bram ada apa ?"


" Aku sebenarnya kasihan sekali dengan William, cintanya terhadap Dhea membuatnya jadi tersiksa ".


" Ya Bram, dari dulu dia tidak pernah berubah, jika menyayangi seorang itu terlalu posesif, seperti saat kecil dulu dia menjagaku. Tidak akan ada satupun anak yang dibiarkannya menggangguku ".


" Ya Mike, tapi itu sama saja dengan menyakiti diri sendiri ".


" Memang benar, dia tidak pernah rela orang yang disayanginya itu meninggalkan dia, dan dengan berbagai cara dia akan terus mempertahankannya. Dia tidak pernah berpikir, bahwa umur manusia ada batasnya. Mungkin saja bukan karena sebuah perpisahan yang menyebabkan pasangan itu meninggalkan kita, tapi bisa juga karena sebuah kematian. Tidak ada sesuatupun yang abadi di muka bumi ini, dan tidak juga sebuah cinta ".


" Ya benar Mike, sepertinya dia harus belajar tentang makna hidup padamu ".


" Hahaha aku hanya tau sebatas itu Bram, seharusnya kau lebih pintar dariku. Bukankah kau anak Tuhan yang begitu taat ?"


" Taat tapi belum tentu memahami Bram. Terkadang manusia itu hanya pandai sebatas teori saja, tapi saat mereka dihadapkan pada kenyataan, seperti tidak bisa menerima dengan apa yang Tuhan timpakan pada mereka. Berbicara itu memang lebih mudah dibanding dengan melaksanakannya Bram ".


" Berbicara tapi tanpa bukti itu sama saja nol Bram hahaha ".


Sementara itu Paula terlihat anggun dengan baju pengantinnya yang begitu mewah. Riasan wajahnya semakin menambah sempurna penampilannya. Terlihat dia sedang menuju gereja yang sama dengan yang dituju William dan keluarganya. Paula didampingi kedua orang tuanya yang datang dari luar kota semalam. Tiga mobil beriring iringan mengikuti kendaraan yang ditumpangi Paula di depannya, yang berisi sanak keluarganya yang memang sengaja ingin menghadiri pernikahannya.


" Senyum Paula seperti tak pernah hilang dari wajahnya ".


" Kau terlihat begitu gembira Paula ?"


" Ya pah, siapa yang tidak gembira akan menikah dengan salah satu anggota keluarga Anderson. Keluarga terpandang di negri ini, dengan segala kekayaan yang mereka miliki. Bahkan orang orang akan memandangku iri, karena bisa menikahi salah satu anak laki lakinya yang tampan itu pah ".


" Kau sangat beruntung Paula, papa bangga padamu nak ".


" Jangan sebut Paula pah, jika tidak bisa mendapatkan calon suami kaya hahaha ", jawab Paula tersenyum girang.


" Lalu bagaimana kandunganmu Paula ? anak di perutmu ini tidak menyusahkanmu bukan ?" Tanya mamanya.


" Tidak mah, anak ini sepertinya bandel. Dia tidak pernah membuatku kewalahan membawanya kemana saja, dia sepertinya ingin aku menikmati kehamilan pertamaku mah ".


" Hahaha pasti besarnya nanti anak itu sepertimu Paula, sangat bandel dan susah diatur ".


" Tapi selalu bisa membuat kalian bangga bukan ?"


" Ya....kamu memang anak yang bisa kami andalkan Paula ", sahut mamanya sambil memeluk Paula.


" Kenapa suamimu tidak ingin membuat pesta meriah untuk pernikahannya Paula ?"


" Dia hanya ingin tidak ada wartawan yang mengacaukan pernikahan kami nantinya, Tapi kalian tenang saja. Aku nanti akan memintanya untuk membuatkan pesta meriah di tempat tinggalmu pah ", jawab Paula berbohong.


" Ya kami yakin, uangnya tidak akan pernah habis hanya untuk membuat pesta sekali saja buat kami ".


" William Sean Anderson...aku akan mendapatkanmu, dan sebentar lagi nama keluarga Anderson itu akan disematkan di belakang namaku, Paula Alexandra Anderson....hhhmmm sepertinya cocok ". Kata Paula dalam hati sambil tersenyum sendiri, dan membuang pandangan ke jendela di sampingnya.


Sementara itu Daniel terlihat sedang berbincang di sebuah ruangan klinik. Pembicaraan mereka terlihat serius.


" Jadi anda teman dari calon suami nyonya Paula Alexandra pasien saya ?"


" Benar dokter saya temannya ".


" Lalu apa yang anda butuhkan sehingga datang kemari sendirian ".


" Begini dok, saya sedang mencari informasi tentang bayi yang dikandung oleh Paula. Teman saya meragukan bahwa itu bukan anaknya ".


" Bukan anak teman anda ? lalu anak siapa ?"


" Saya juga tidak tau dok, makanya teman saya meminta saya untuk mencari informasi tentang kehamilan Paula. Hari ini mereka hendak menikah. Teman saya tidak mau mempertanggungjawabkan anak yang bukan darah dagingnya, karena saat itu teman saya merasa dijebak olehnya ".


" Dijebak ? wanita secantik itu mau melakukan hal rendah demi untuk mendapatkan temanmu ?"


" Ya nyonya, karena teman saya itu orang yang kaya raya, dia salah satu anak keluarga Anderson, anda pernah mendengar kan ?"


" Keluarga Anderson ??? ya saya paham sekali, mereka adalah satu orang terpadang di kota ini ".


" Sebenarnya Paula bukan wanita baik baik, kasihan teman saya jika harus menikah dengannya. Saya harus menggagalkan pernikahan itu sebelum terlambat ".


" Hmmm pantas saja waktu temanmu mengantar nyonya Paula beberapa waktu lalu, wajahnya seperti tidak senang dengan kehamilan Nyonya Paula. Saya sendiri heran kenapa dia bersikap seolah tidak perduli, bahkan sedikit ketus dengan Nyonya Paula. Ternyata ini jawabannya ".


" Ya dokter. Saat ini saya benar benar membutuhkan bantuan anda ".


" Lalu apa yang bisa saya bantu ?"


" Begini dokter...", lalu Daniel menceritakan hal yang dibutuhkan dari dokter tersebut untuk membantu melancarkan rencananya nanti ".


" Begitu ya ".


" Iya dokter, pasti anda masih memilikinya kan ?"


" Oh pasti, aku salah satu orang yang rapih untuk hal itu ".


" Anda tunggu sebentar ya ?"


Dokter tersebut meninggalkan Daniel dan masuk ke dalam. Daniel menunggunya dengan sangat was was, dia memainkan jemarinya untuk menghilangkan rasa cemas yang mulai melanda. Tak lama kemudian dokter tersebut segera keluar.


" Ini tuan, silahkan anda ambil ".


Daniel menerimanya, dan langsung mengamatinya. Dia terus mengamati satu persatu dan tidak sedikitpun yang terlewati ".


" HHaahhh benar ternyata dugaanku...!!!" Teriak William girang, wajahnya begitu berseri seri.


" Kenapa tuan ? Anda sudah mendapatkannya ?"


" Ya dokter perkiraanku sangat tepat, terimakasih banyak dokter, ini boleh saya bawa kan ?"


" Silahkan tuan, itu hanya salinannya saja ".


" Terimakasih banyak dokter, aku senang sekali. Dan aku harus segera pergi, jam 10 nanti temanku akan mengucap janji di gereja, aku akan mencegah sebelum semua itu terjadi ", kata Daniel sambil menjabat tangan dokter tersebut dengan sangat erat. Sepertinya dia sangat bersyukur dokter tersebut mau membantunya.


" Ya tuan aku ikut senang mendengarnya, semoga masalah teman anda segera berakhir, pergilah dan hati hati di jalan. Jangan sampai kau mengendarai mobilmu dengan terburu buru dan sembrono ".


Daniel melihat arlojinya.


" Sepertinya memang harus sedikit terburu buru dokter ", kata Daniel sambil tersenyum.


" Ya, silahkan hati hati ya ?"


" Iya dokter ".


Daniel lalu segera keluar dari ruangan tersebut dan langsung berlari menuju mobilnya, dia bahkan hampir menabrak sesorang karena sangat terburu buru.


" Ohhh maaf nyonya ", kata Daniel sambil terus berlari.


Orang tersebut hanya bisa melihat Daniel sambil geleng geleng kepala.


Setelah tiba di parkiran, dia langsung mencari kendaraannya dan masuk ke dalamnya. Lalu memacunya dengan kecepatan penuh. Daniel terus melihat arlojinya berharap dia bisa tiba disana dengan tepat waktu.


Sementara itu William sudah terlihat berdiri berhadap hadapan dengan Paula di depan Pendeta. Pikirannya tak bisa berkonsentrasi menanti kadatangan Daniel dan mendengar kabar baik darinya. Entah apa yang dikatakan pendeta, dia tidak mendengarnya sama sekali, bibirnya sibuk berdoa sendiri memohon agar jarum jam berhenti berdetak untuk menangguhkan upacara ini.


" Ya Tuhan kemana anak itu, kenapa belum ada kabar juga darinya ? Jangan jangan dia tergoda salah satu wanita di sana, dan lupa dengan tugasnya. Dia selalu lupa segalanya jika sedang bersama wanita ", gerutu William dalam hati.


" Tuan William...apakah anda melaksanakan pernikahan ini dengan ikhlas hati ?" Suara pendeta terdengar sedang menanyainya.


William diam saja, karena pikirannya sedang terbagi dengan menunggu kabar yang akan dibawa oleh Daniel.


Semua mata memandang heran terhadap William karena tidak menjawab pertanyaan Pendeta. Paula terlihat sebal dengan sikap yang ditunjukkan William.


" Tuan William ?" Pendeta memanggilnya sekali lagi.


William tetap menundukkan wajahnya dan tidak mendengar panggilan pendeta di sampingnya. Kesabaran Paula habis, dia segera memanggil nama William untuk menyadarkannya.


" Hei Will....hei kau melamun ya ? itu pendeta memanggilmu ". Bisik Paula.


" Haahh apa ?" Tanya William.


" Itu Pendeta sedang menanyaimu ", kata Paula sedikit ketus sembari berbisik.


" Oh Ehm iya ?" kata William singkat.


" Tuan William, apakah anda melaksanakan pernikahan ini dengan ikhlas hati ?" Mengulangi pertanyaannya kembali.


" Iya saya ikhlas ", jawab William.


Semua orang yang hadir bernafas lega, kecuali William. Dadanya masih saja berdebar menunggu kedatangan Daniel.


Kemudian Pendeta gereja mulai mengucapkan beberapa kalimat sebagai awal proses pernikahan di mulai.


" Mempelai berdua yang berbahagia, setelah mengadakan penyelidikan seperlunya, dan dikuatkan oleh pernyataan para saksi, saya selaku pejabat Gereja meluluskan permintaan saudara. Akan tetapi sebelum perkawinan saudara diresmikan, saya minta saudara menyatakan kesungguhan hati saudara di hadapan umum. Apakah anda berdua bersedia ?".


" Kami bersedia ", jawab Paula dan William berbarengan.


Kemudian Paula dan William berhadap hadapan.


" Saya William Sean Anderson menyatakan bahwa saya meresmikan perkawinan ini dengan ikhlas hati. Saya bersedia.......".


" Hentikan....", Tiba tiba sebuah teriakan terdengar dari arah luar, semua mata memandang sumber suara itu, dan ternyata Daniel terlihat sedang berdiri di sana ".


Haiii...penasaran ya sama kelanjutannya ??? hari ini cukup dulu ya, dilanjut besok lagi, kalo diterusin jadi kurang seru deh hehehe . Makanya jangan lupa ya.


* Like


* Komen


* Follow akunku


* Klik tombol favorit


* Dan satu lagi tolong di share ya


Hehehe maunya banyak ya...??? Nggak papa ya biar akunya tambah semangat bikin episode yang lebih gila lagi, dan membuat kalian semua jadi greget campur keringet dingin bacanya. Makasihhh ya udah mau mengapresiasi karyaku.