Something different

Something different
Pasangan baru



Perlahan lahan Nyonya christy mendekati Dhea.


" Nona maafkan aku ya? Bukan maksudku membohongi anda."


" Nyonya, kenapa kau memanggilku seperti itu? bukankah kau sudah kuanggap seperti orang tuaku sendiri?"


" Maaf nona, tapi anda sekarang adalah kekasih majikanku."


" Walaupun aku sudah menjadi kekasih pria tampan ini." Kata Dhea sambil melirik William, William hanya tersenyum mendengar pujian dari Dhea.


" Tapi aku tidak ingin kau bersikap beda padaku, sayangi aku seperti dulu nyonya!"


" Nyonya aku sangat merindukanmu." Kata Dhea lagi sambil memeluk Nyonya Christy.


" Aku juga sangat merindukanmu sayang." Kata Nyonya Christy.


" Hei sayang! Tadi aku ingin memelukmu tapi kau larang, kenapa dengan Christy kau mau?...Hhmmm aku sangat iri denganmu Christy." Kata William bercanda.


" Heiii tuan apakah anda ingin merasakan ini!!" Ancam Dhea sambil menunjukkan kepalan tangannya.


" Hahaha tidak sayang." Jawab William sambil tertawa.


" Sayang, aku lega sekali, akhirnya kau bisa menerima Tuan William menjadi kekasihmu. Semoga hubunganmu dengan Tuan William baik baik saja ya? Jangan ada air mata lagi, dan aku yakin Tuhan memiliki rahasia besar yang sedang direncanakan untukmu."


" Ya nyonya, ini karena setiap hari dia selalu merayuku, aku jadi merasa risih." Canda Dhea.


" Hmmm...kalau begitu aku akan terus merayumu sayang, agar kau semakin risih, lalu bersedia menikah denganku." Kata William.


" Hahaha...ya tuan sepertinya harus seperti itu." Kata Nyonya Christy sambil tertawa.


" Kalau begitu saya permisi dulu tuan, masih ada perkerjaan yang harus saya selesaikan." Pamit Nyonya Christy pada William.


" Ya masuklah, terimakasih atas bantuanmu !!"


" Ya tuan sama sama."


" Dhea....nikmatilah kebersamaanmu malam ini bersama kekasih barumu ya!" Bisik Nyonya Christy.


Dhea hanya mengangguk dan tertawa mengiyakan perkataan Nyonya Christy. Nyonya Christy, kemudian segera pergi meninggalkan mereka berdua.


Kemudian William menarik tangan Dhea dan mengajaknya duduk di dekat kolam renang.


" Will kenapa kau mengajakku kemari? Bukankah tadi kita akan pergi ke pesta? Lihatlah tampilanku sudah sesempurna ini, bahkan kau bilang tadi seperti bidadari, kenapa malah kau ajak duduk di pinggir kolam renang?"


" Tidak sayang, aku tidak jadi pergi kesana."


" Kenapa? Apa kau tidak takut mengecewakan temanmu?"


" Aku lebih takut membuatmu kecewa karena di sana nanti kita bisa bertemu wanita itu, dan sepertinya akan lebih mengasyikan jika berduaan di sini, dan aku bisa puas memandangi wajah kekasih baruku ini." Jawab William sambil tersenyum.


" Hehhh..kau membuatku semakin besar kepala Will."


" Aku itu sangat mengagumimu Dhe, belum pernah kutemui wanita seperti kamu sebelumnya."


" Sudahlah Will kau ini terlalu berlebihan Will."


" Tidak sayang, aku hanya ingin jujur tentang yang aku rasakan selama ini. Hari ini aku sangat bahagia, bahagiaaaa sekali!! Seandainya saja kau suka pesta, aku ingin sekali merayakan hari jadian kita ini dengan pesta yang sangat meriah."


" Hahaha....Baru kau pria di dunia ini yang ingin merayakan pesta jadian dengan meriah tuan."


" Karena mungkin itu satu satunya yang bisa mengekspresikan kebahagiaanku Dhe."


" Dhe, seandainya saja tidak ada penghalang di antara kita, mungkin aku tidak akan menunggu lama, dan pasti aku akan langsung melamarmu. Apakah kau bersedia Dhe?"


" Aku bersedia Will, asalkan keyakinanku dan keyakinanmu sama, tapi kau yang harus mengikutiku."


" Hehhhhh...tapi jangan kau pikir bisa semudah itu Will."


" Maksudmu?"


" Seseorang berpindah keyakinan itu harus dari panggilan hati, dan jangan karena orang lain. Jika kau mengikuti agamaku hanya karena ingin menikahiku, itu sama saja dengan kau mempermainkan Tuhan Will, hukumannya sangat berat."


" Lalu aku harus bagaimana Dhe?"


" Berdoalah, mintalah petunjuknya. Jika memang kita berjodoh pasti Tuhan akan beri jalan buat kita untuk bersatu."


" Dhe apakah itu berarti aku harus menunggu Tuhan membuka pintu hatiku?"


" Mungkin iya, mungkin juga tidak."


" Maksudmu?"


" Will pintu hatimu itu bisa terbuka jika kau bersedia membukanya. Kau memiliki akal pikiran yang bisa kau gunakan untuk mengetahui suatu kebenaran. Dan kebenaran itulah yang harus kau cari dan kau ketahui. Tergantung apakah kau mau menerima kebenaran itu atau tidak. Jika kau tetap menolaknya, maka kau akan sulit untuk membuka pintu hatimu, tapi jika kau gunakan nalar dan logikamu untuk berpikir, mungkin bisa jadi kau tidak akan mengingkarinya lagi."


" Tapi terlalu sulit untuk mengakui dan percaya sesuatu yang pada awalnya belum kita ketahui Dhe!"


" Pasti itu Will. Tapi kau yakin tidak jika itu bisa?"


" Entahlah Dhe."


" Sekarang kau bisa lihat aku Will!! Kau tau dulu aku tidak mengenalmu, tiba tiba kau datang mengganggu hidupku, membuatku sangat kewalahan menghadapimu. Dulu betapa aku sangat membencimu? Betapa aku sangat tidak mempercayaimu? Tapi lihatlah sekarang! Aku justru berbalik jadi mencintaimu, dan bisa mempercayaimu."


" Tapi itu juga karena usahaku untuk selalu membuatmu percaya padaku Dhe? Aku berusaha semampuku untuk mendekatimu terus."


" Apakah kau tidak tau bahwa Tuhan juga sudah berusaha untuk selalu membuatmu percaya? Selalu membuatmu yakin padaNya"


" Maksudmu?"


" Kau lahir dengan fisik yang sempurna, dengan wajah yang begitu tampan, dengan harta yang berlimpah, lalu masih bisa menghirup udara segar hingga hari ini. Kau pikir siapa yang sudah memberimu ini semua? Pemerintahmu? Atau klien klienmu?"


" Aku masih bingung dengan penjelasanmu Dhe."


" Hemmm sepertinya memang sedikit sulit Will. Tapi aku tetap tidak mau memaksamu, karena sesuatu yang jika dipaksakan itu tidak akan bertahan lama. Dan itu yang tidak aku inginkan. Kau mengikuti keyakinanku karena keterpaksaan. Lebih baik kita jalani dulu semua seperti ini Will, hingga kita benar benar terdesak lalu bisa ambil keputusan masing masing." Kata Dhea sambil menatap ke dalam kolam renang yang airnya begitu tenang.


" Dhe?"


" Ya?"


" Kau nyaman tidak tinggal di apartemen itu?" Tanya William mengalihkan pembicaraan.


" Kenapa Will?"


" Aku tidak mau jika kau merasa tidak nyaman, aku hanya ingin memberikan kebahagiaan buatmu saja. Atau kau mau Christy menemanimu di sana? sekalian membantumu untuk membersihkan apartemenmu setiap hari."


" Tidak usah Will, aku sangat nyaman di sana. Aku kan biasa mengerjakan apa apa sendiri. Kamu juga kan setiap hari selalu menemaniku Will."


" Ya sudah, jika kau perlu sesuatu katakan padaku ya? jangan sungkan sungkan."


" Iya sayaaaang....Kamu jangan berlebihan begitu."


" Heiii....ini kata kata perdanamu memanggilku sayang!!" Teriak William antusias.


" Ihhh kau ini mengejutkanku saja." Kata Dhea sambil tersipu malu.


" Hmmmm....wajahmu memerah lagi Dhe, kenapa? Bukankah aku sudah jadi kekasihmu? Kau bebas memanggilku apa saja Dhea, sayang, cinta, apa saja silahkan, dan kedengarannya itu romantis bukan?" Kata William sambil tersenyum menggodanya.


" Ihhh kau itu." Kata Dhea sambil membuang pandangannya menghindari tatapan William yang sempat membuatnya tersipu.