
Dhea pingsan sambil terus ditunggui oleh supirnya yang duduk di bawah lantai. Wajahnya terlihat susah dan memelas. Karena begitu bingung dan paniknya, hingga supirnya itu tidak ingat untuk menelfon orang tua ataupun oramg-orang yang ada di rumah Dhea. Justru dia hanya duduk bengong sendirian, sambil menatap orang-orang yang sibuk berlarian kesana kemari, dan saling bertangis-tangisan.
" Ya Allah nyonya, rahasia apa yang sedang Dia rencanakan untuk anda? baru saja anda kehilangan bayi anda, tapi sekarang giliran suami anda yang dipangl olehNya. Semoga anda kuat nyonya menghadapi cobaan ini." Gumam supir tersebut sambil menatap iba pada majikkannya yang masih belum bergerak.
Seorang wanita setengah baya menghampiri mereka berdua.
" Maaf pak, apakah ini anak anda? apakah keluarganya jadi salah satu korban pesawat yang meledak tadi?" tanyanya.
" Dia majikan saya bu, suaminya ikut naik di dalam pesawat yang meledak tadi." Katanya singkat tanpa menoleh pada wanita tersebut. Dia merasa bahwa orang itu hanya sekedar ingin tau saja, seperti orang lain yang sedari tadi menatap mereka berdua iba. Menatap seorang laki-laki paruh baya yang duduk di lantai sambil menunggui majikkannya yang tak kunjung siuman.
" Ohhh saya ikut berbelasungkawa pak. Ini berikan pada majikan anda jika dia siuman." Katanya sembari menyodorkan sebotol air mineral yang masih tersegel.
Supir Dhea menengadahkan kepalanya, ternyata perkiraan terhadap wanita tadi sedikit meleset, dia sedikit perduli pada kondisi mereka berdua, dan tidak hanya sekedar ingin tau saja.
" Ambillah pak. Saya lihat bapak sedari tadi tidak melakukan tindakan apa-apa pada majikan bapak, sedangkan dia belum sadarkan diri."
" Saya bingung bu, harus membantunya apa? sedangkan sebelumnya saya belum pernah menangani orang yang pingsan."
" Bolehkah saya membantu bapak?"
" Ohhh silahkan bu."
Wanita tersebut segera mengeluarkan sebuah cairan dari dalam tasnya. Seperti semacam minyak angin.
" Tolong bapak duduk di sini." Kata ibu tersebut sambil meminta supir untuk pindah duduk di bawah kaki Dhea. Saat supir tersebut sudah pindah, dia segera meletakkan kedua kaki Dhea di atas pangkuan supirnya, memposisikan kaki lebih tinggi daripada kepala.
" Maaf ya pak, tolong anda pangku dulu kakinya. Agar aliran darah ke otaknya lancar, dan kesadarannya segera pulih."
" Iya bu, tidak apa-apa."
Setelah itu, wanita tersebut melonggarkan jilbab yang digunakan oleh Dhea, juga melepaskan satu kancing baju yang melekat di tubuhnya, dan kemudian mengoleskan sedikit minyak gosok di bawah hidung Dhea.
Benar saja, baru beberapa menit wanita tersebut memberikan pertolongan, perlahan Dhea sudah mulai bergerak. Dia mulai membuka matanya.
" Nak, kau sudah bangun?" katanya.
Dhea diam saja, dan mencoba mencari tau berada dimana dia sekarang. Perlahan tubuhnya bangun. Dengan dibantu wanita tersebut Dhea segera duduk. Dilihatlah sekelilingnya.
" Bandara ini bandara?" Gumamnya, sambil mengingat ingat kejadian yang baru saja menimpanya. Dan ketika sadar, dia langsung menangis kembali sambil menutup wajah dengan kedua telapak tangannya.
" Williaaaammmm......!!" katanya lirih.
" Sabar ya nak." Kata perempuan itu, yang memang dari awal tidak diketahui siapa dia, dan begitu perduli dengan mereka berdua.
" Pak saya permisi dulu ya, majikan anda telah siuman, tenangkan saja dia."
" Iya pak sama-sama."
" Nak, doakan saja suamimu, jangan meratapinya ya." Katanya sambil memegang pundak Dhea, kemudian berlalu.
Dhea tetap diam saja tidak perduli dengan apa yang dikatakan oleh wanita itu. Dia mungkin bisa berkata jangan bersedih, tapi apa iya saat kita kehilangan orang yang kita cintai wajah kita datar saja seolah tidak terjadi apa-apa. Menangis adalah bentuk pengekspresian diri, dengan menangis rasanya bisa mengurangi dadanya yang terasa sesak dan seakan ingin meledak.
" Nyonya mari kita pulang saja, saya khawatir dengan kesehatan anda. Bukankah anda belum sembuh benar?"
" Pak, kenapa hidup saya seperti ini? apa salah saya? sehingga Allah memberikan cobaan begitu berat? bahkan saya belum sepenuhnya bisa melupakan kesedihan setelah kehilangan bayi saya, sekarang ganti suami saya yang pergi meninggalkan saya. Bagaimana saya bisa kuat untuk melanjutkan hidup ke depannya." Kata Dhea sambil terus terisak.
" Jangan berkata seperti itu nyonya. Tuan William orang baik, dan Allah mungkin lebih sayang padanya. Dia pergi dengan keadaan yang sangat baik, dan dalam keadaan islam. Pasti Dia memberikan tempat yang terbaik buat tuan."
" Tapi saya bagaimana pak? bisakah saya menghadapi ini semua?"
" Nyonya, masih banyak orang-orang yang menyayangi nyonya, ada orang tua nyonya, ada saudara-saudara nyonya, mereka semua masih mengharapkan kehadiran nyonya di tengah-tengah mereka."
" Ayo pak kita harus segera ke dalam, kita cari informasi. Semoga William tidak termasuk dalam daftar korban pesawat tadi." Kata Dhea sembari berdiri.
" Nyonya saya mohon. Tolong pikirkan kesehatan nyonya. Wajah anda sangat pucat nyonya. Lebih baik saya antarkan nyonya pulang ya? nanti biar saya yang kembali lagi kesini untuk mencari informasi itu. Saya janji."
" Tapi pak?"
" Saya mohon nyonya. Kesehatan nyonya yang utama, banyak amanah peninggalan tuan yang harus nyonya jaga di sini. Jangan sampai nyonya sakit dan semuanya berantakan. Nyonya tidak ingin mengecewakan suami nyonya karena tidak menjaga amanahnya kan?"
Dhea diam sesaat. Dia baru sadar, banyak hal yang harus diurusnya setelah ini. Jika suaminya benar menjadi salah satu korban pesawat itu, otomatis Dhea harus mengambil alih semua tugas suaminya. Memang sangat berat ditinggalkan seseorang saat sedang sayang-sayangnya. Ahhh seperti syair lagu saja.
" Nyonya kita pulang sekarang ya?"
Akhirnya Dhea mengangguk, masih tetap dengan sesenggukan dan langkah gontai, Dhea dan supirnya berjalan ke arah parkiran. Dhea merasa kehidupan ini seperti berhenti. Semangatnya tiba-tiba hilang. Dia seperti kehilangan segalanya, hatinya, jiwanya, semua telah dibawa pergi oleh William. Dia tidak bisa melakukan apa-apa, bahkan untuk melihat jasad suaminyapun tidak akan mungkin, sedangkanbesi pesawat saja bisa hancur berkeping-keping dengan ledakan dahsyat yang dilihatnya sore tadi, apalagi tubuh manusia, sudah pasti akan berubah menjadi seperti serpihan kertas yang tercabik-cabik.
Membayangkan hal sengeri itu Dhea kembali menutup wajahnyanya dengan kedua telapak tangannya.
" Astagfirullahhal adzim...!!! Ya Allah jika memang suami hamba menjadi salah satu korban dalam pesawat itu, ampuni semua kesalahannya ya Allah." Gumamnya sambil menangis.
Supirnya hanya diam saja menatap sedih majikkannya itu, tanpa bisa melakukan apa-apa, hatinyapun terasa teriris. Walaupun mereka berdua tidak ada ikatan persaudaraan, namun dia juga bisa merasakan bagaimana sedihnya kehilangan pasangan, sekaligus sandaran hidup majikannya itu.
Suasana bandara terlihat kacau. Mobil dan motor terparkir sudah tidak pada tempatnya lagi. Mungkin ditinggalkan pengemudinya begitu saja, saat melihat ledakan tadi. Bukan harta benda lagi yang mereka pikirkan, tapi nasib sanak saudaranya yang juga ikut naik dalam pesawat tadi.
Sang supir segera membukakan pintu untuk Dhea, dengan berat hati dia segera naik ke dalam mobil. Padahal dia ingin sekali tau mengenai bagaimana nasib para penumpang di sana tadi, namun menyadari suasana bandara yang begitu kacau, pasti sangat sulit untuk mendapatkan informasi tersebut. Yang dilakukannya hanya bisa bersabar, biar supirnya saja nanti yang kembali kesana, dan mencari tau tentang kelanjutan informasi kecelakaan pesawat yang dinaiki suaminya.
Maaf ya buat temen-temen yang masih setia baca novelku, kemarin bikin sedih sebentar, habisnya kalau nggak digituin yang komen cuma itu-itu aja, akhirnya pada bersuara kan hehehe.... sekali-kali buat shock therapy biar ga garing yeaaaaahhhhðŸ¤