
" Istrimu tidak ingin kau temani Wil?" tanya papanya saat dia sudah kembali lagi dari mengantar istrinya ke dalam kamar, lalu kemudian duduk di sebuah kursi yang ada di samping papanya.
" Dhea ingin aku menemanimu dulu pah." Katanya sembari kemudian menyeruput minuman yang sedari tadi sudah disediakan oleh asisten rumah tangga papanya.
" Bagaimana Will, sejak pertengkaranmu terakhir itu, apakah tidak ada persoalan berat lagi yang kalian hadapi?"
" Tidak pah. Semoga pertengkaran itu merupakan pertengkaran yang pertama dan sekaligus yang terakhir dalam keluarga kami."
" Ya semua itu wajar Will, namanya kalian masih pengantin baru, jika ada sedikit ketidak cocokan masih bisa dimaklumi."
Dua orang asisten rumah tangga datang dengan membawa dua nampan penuh makanan, dan juga buah-buahan yang memang telah disiapkan oleh papanya, untuk menyambut anak dan menantunya itu.
" Ahhh papa, ini pasti kau yang sudah menyiapkannya untuk kami kan?" tanya William sambil menggeser sedikit gelas minumannya dan mempersilahkan dua orang pegawai itu untuk meletakkan bawaannya.
" Ya, papa sudah meminta pegawai papa untuk menyambut kalian berdua. Ohya, tadi istrimu belum sempat makan apa-apa kan?"
" Tadi sebelum kemari kami sudah makan pah, dan istriku tidak akan mungkin mau makan apapun jika hendak tidur." Jawab William sembari mengambil sebuah anggur dan kemudian memasukkan ke dalam mulutnya.
" Ya sudah, nanti jika dia bangun papa akan meminta pegawai untuk membuatkan susu untuknya. Susu kan baik untuk janinnya."
" Iya pah, terimakasih atas perhatianmu pada istriku. Aku tadi sudah menebak, pasti papa tidak akan tinggal diam menanti kedatangan kami, bahkan tadi aku melarang Dhea untuk membeli kue-kue ini untukmu, karena aku tau pasti, bahwa akan ada banyak makanan di rumah ini." Kata William menatap kotak kue yang sedari ada di atas meja.
" Oh ya, papa sampai lupa menanyakannya, maaf ya karena papa terlalu gembira menyambut kalian berdua. Jadi ini kue yang dibelikan oleh menantuku?"
" Ya pah, saat di jalan tadi istriku sengaja ingin membelikannya untukmu. Katanya tidak pantas jika datang ke rumah orang tua dengan tangan kosong."
" Hemmm...ternyata istrimu itu sangat perhatian ya. Sini kuenya!! papa ingin mencicipinya." Kata papa William sembari mengambil kotak tersebut dan memindahkannya ke pangkuannya, lalu memilihnya satu untuk kemudian segera melahapnya sedikit demi sedikit.
" Kue yang enak, sangat lembut. Katakan terimakasih papa pada istrimu ya. Papa sangat suka pemberian dia ini. Nanti biar papa bawa ke dalam kamar saja, agar bisa menikmatinya lagi."
" Ya pah nanti aku sampaikan."
" Apakah selama aku tinggal di Indonesia Mike sering mengunjungimu pah?"
" Syukurlah. Maafkan aku ya pah, karena tidak bisa menemanimu di sini." Kata William sambil menunduk, ada sedikit kesedihan di wajahnya.
" Hei jangan begitu Will!! dari dulu juga papa sudah biasa sendiri. Kau pikirkan saja rumah tanggamu.. Seperti yang papa bilang, papa itu bahagia jika bisa melihat anak-anak papa bahagia."
" Iya pah." Jawab William sambil menatap wajah papanya yang semakin menua. Rahang kokohnya dan sisa ketampanannya tidak bisa menutupi bahwa usianya tidak lagi muda, ditambah semakin banyak kerutan di wajahnya.
Dulu saat dia masih sendiri, belum terpikirkan bahwa papanya pasti kesepian tinggal di rumah sebesar ini dan hanya ditemani oleh beberapa pegawainya. Namun sekarang, saat dia sudah memiliki istri, baru semua itu dia sadari, bagaimana menyenangkannya setiap hari bisa bercengkerama dengan pasangan, membicarakan banyak hal berdua, melakukan kegiatan secara bersama-sama. Walaupun baru tiga bulan menikah, William bisa merasakannya, ketika dia pulang ke London sendirian, dia merasa amat kesempian, hatinya begitu kosong, seperti ada bagian yang hilang dalam hidupnya.
Mungkin inilah sekarang yang papanya rasakan. Dulu saat mereka tinggal serumah dan formasi keluarga masih lengkap, rumah itu tak pernah sepi dengan canda tawa yang menghiasi hari-hari mereka. Dan yang William rasakan hanya kehangatan dan kenyamanan yang ada di dalam rumah ini. Namun sekarang, walaupun ada beberapa pegawai, namun mereka hanyalah pekerja, belum tentu mereka bisa diajak bertukar pikiran dan berbagi cerita seenjoy saat kita bisa berbagi dengan pasangan ataupun anggota keluarga kita.
Dulu William dan Mike pernah meminta papanya untuk menikah lagi, agar bisa menemaninya di sisa hari tuanya itu. Namun papanya selalu menolak, kesetian cintanya terhadap istrinya begitu besar, sehingga tidak pernah mau menggantikan posisi mamanya di hatinya. Itulah, terkadang ada seorang anak yang tidak membolehkan orang tuanya menikah lagi, dengan alasan tidak ingin posisi almarhum ayah atau ibunya tergantikan oleh orang lain. Bahkan tidak jarang kita melihat ada anak yang kemudian memutus silaturahmi dengan orang tuanya, karena ketidaksetujuan orang tuanya menikah lagi. Bahkan mereka menganggap, untuk apa sudah tua harus berkeluarga kembali? bukankah semua urusan dunia sudah terpenuhi? namun mereka tidak pernah berpikir, pernikahan itu bukan hanya untuk kebutuhan penyaluran hasrat saja, namun ada hal lain yang tidak kalah penting dari itu, seperti papa William sekarang. Bahkan tidak jarang dia berbicara sendiri dengan foto mendiang istrinya, meluapkan segala kegundahan hati dan kegelisahan yang dirasakannya. Sedangkan anak-anaknya? mungkin mereka hanya bisa menemani untuk sementara waktu saja.
" Kenapa kau melihat papa seperti itu Will." Tanya papa William yang sedari tadi melihat anaknya sedang menatapnya tanpa berkedip, menyusuri setiap inci wajahnya.
" Ooohhh...tidak pah, maaf, aku hanya rindu denganmu saja." Kata William berbohong.
" Hahaha...kau ini. Besok jika kau pulang ke Indonesia, bawalah foto papamu ini, dan pajanglah di dindingmu, agar jika kau rindu bisa setiap saat menatap foto itu." Canda papa William mencoba mencairkan suasana.
William hanya tersenyum tipis saja menanggapi candaan papanya, yang dia tau bahwa orang tua di hadapannya ini hanya sedang mengalihkan perhatian anaknya saja.
" Oh ya, bagaimana? apakah kau nyaman dengan agama barumu itu?"
" Ya pah, aku nyaman, bahkan sangat nyaman. Banyak hal yang masih harus kupelajari untuk memperbaiki semuanya."
" Baguslah Will, papa senang mendengarnya. Papapun sekarang sedang ingin mendekatkan diri pada Tuhan."
" Benarkah pah?"
" Iya nak. Selama ini papa lupa, bahwa kehidupan ini semuanya akan kembali lagi padaNya. Apalagi orang seusia papa, apa lagi yang akan papa cari? ujung-ujungnya tetap menunggu mati. Dan kamu, jangan menunggu tua seperti papa dulu baru bertobat, karena belum tentu usiamu nanti mencapai seusia papa ini."
" Iya pah, pasti itu. Terimakasih atas nasehatnya. Aku sangat bahagia mendengar semua ini. Terlalu lama kita terlena dengan silaunya dunia, dan aku harap papa akan semakin menemukan kedamaian saat dekat dengan Tuhan. " Kata William sambil kembali menyeruput minumannya yang hampir dingin, sambil kemudian mengambil sepotong kue untuk mengganjal perutnya.