
Satu minggu semenjak kepergian William Dhea merasa kesepian, tidak ada orang yang bisa diajaknya bersenda gurau, tidak ada orang yang diajaknya beradu argumen saat mereka sedang menyaksikan acara di televisi, tidak orang yang yang selalu usil mengganggunya saat dia sedang serius dengan pekerjaan-pekerjaannya. Laki-laki itu selalu mempunyai banyak cara untuk mendapatkan perhatian dari Dhea. Saat bangun pagi seperti inipun biasanya William selalu memeluknya terlebih dahulu sebelum mereka beranjak sholat subuh bersama. Bahkan Semenjak kepergian suaminya itu, William baru menelfonnya 2 kali, saat mengabari dia baru tiba di London dan saat meminta Dhea untuk mengirimkan data di laptopnya kepada Feri orang kepercayaannya. Setelah itu sama sekali William belum menelfonnya lagi, sedangkan Dhea begitu gengsi untuk menelfonnya terlebih dahulu.
Dhea melangkah gontai keluar dari kamarnya menuju meja makan. Dibukanya penutup nasi di depannya. Padahal berbagai menu sudah tersedia, namun Dhea tidak bernafsu sama sekali untuk menyentuhnya. Dia sudah terlihat rapi dengan pakaian kerjanya, dan entah mengapa dari semalam badannya seperti tidak bertenaga.
" Nyonya anda ingin makan apa biar saya buatkan?" Kata asisten rumah tangganya.
" Tidak usah bik, buatkan aku susu coklat saja." Kata Dhea. Semenjak kepergian William selera makannya jadi hilang, dia hanya sedikit sekali mengisi perutnya.
Sementara itu William terlihat sedang duduk di atas kursi kerjanya sambil mengotak atik laptopnya. Tiba-tiba saja pintu ruangannya terbuka lebar.
" Pah tumben kau datang ke sini? Jika kau ada perlu aku kan bisa datang ke tempatmu." Tanya William. Sambil memeluk papanya yang baru saja tiba di kantornya.
" Tidak apa-apa Will, sembari ayah jalan-jalan." Kata papa William.
" Kau sedang sibuk apa?" Tanya papa William sambil melihat laptop William dan ternyata William sedari tadi hanya bermain game.
" Tidak ada pah, hanya bermain game saja." Jawab William sambil mematikan laptopnya.
Kemudian papa William menuju sofa yang ada di ruangan itu dan duduk di atasnya.
William mengikuti papanya dan duduk di samping beliau.
" Bagaimana kabar istrimu di sana?"
" Baik pah." Jawab William singkat.
" Benarkah? Kau yakin dia sedang baik-baik saja?"
" Ada apa pah? Kenapa papa bertanya seperti itu?" Kata William sedikit curiga.
" Aneh saja, kau jauh-jauh datang kemari tanpa mengajak istrimu, dan di kantormu kau hanya menghabiskan waktu dengan bermain game, kau bilang istrimu baik-baik saja?" Kata papa William.
" Aku kemari karena ada pekerjaan penting yang hendak kuselesaikan pah." Bela William.
" Pekerjaan penting apa kalau boleh papa tau, sehingga kau masih sempat bermain game?" Selidik papa William.
" Will, perselisihan yang terjadi saat dua orang baru saja menikah itu sangat wajar, karena kalian berdua harus menyesuaikan diri dulu dengan kebiasaan masing-masing. Dari awalnya kalian sendiri-sendiri, kemudian tinggal satu atap, pasti ada saja ketidakcocokan, tapi itu semua bisa diatasi jika kalian sudah terbiasa." Kata papa William menasehati.
" Ini bukan masalah sebuah penyesuaian diri pah." Bela William.
" Lalu apa sehingga kau tega meninggalkan istrimu sendirian di sana?"
" Papa tau kan bagaimana aku melakukan berbagai cara untuk mengatur pekerjaanku agar bisa memiliki waktu banyak bersama keluargaku? Namun istriku justru terlalu sibuk dengan pekerjaannya bahkan sering meninggalkanku sendiri di rumah, begitupun malam hari, dia selalu sibuk berkutat dengan pekerjaannya pah. Aku ingin dia berhenti bekerja, tapi dia tidak mau, padahal secara ekonomi aku bahkan bisa memberikan apapun yang dia minta."
" Kau sudah tanya kenapa dia tidak mau berhenti?"
" Dia bilang ingin membalas budi orang tuanya pah. Padahal dia tau secara agama baktinya sekarang adalah kepadaku dan bukan kepada orang tuanya lagi."
" Kau sangat mengenal istrimu kan? Kau benar-benar yakin hanya itu satu-satunya alasan dia tidak mau berhenti kerja?"
" Sejauh ini hanya itu alasan yang aku tau pah."
" Hahahaha berarti kau belum paham hati seorang wanita nak."
" Maksud papa?"
" Maksud papa?"
" Nak, rasa kekhawatiran seorang perempuan itu lebih besar dibanding seorang laki-laki dalam menjaga keharmonisan keluarganya. Makanya seorang wanita itu sering tidak memikirkan kebahagiaan dirinya sendiri dibanding dengan kebahagiaan anak-anak dan suaminya. Dan disaat itulah wanita posisinya kadang lebih terlihat lemah saat menyaksikan suaminya berbuat tidak adil padanya, bahkan berkhianat padanya. Karena kau tau kenapa? Dia lebih memikirkan masa depan anak-anaknya dibanding masa depannya. Apalagi saat seorang wanita secara materi hanya mengandalkan pemberian dari suaminya saja, sudah pasti dia akan pasrah dengan nasibnya." Kata papa William panjang lebar.
" Lalu aku harus berbuat bagaimana pah?"
" Nak, mungkin itu yang dikhawatirkan istrimu. Tidak ada yang bisa menjaminmu untuk setia padanya. Mungkin ketakutan dia untuk kau campakkan sehingga dia tidak bisa berbuat apa-apa lagilah yang membuat dia mempertahankan pekerjaannya. Berikanlah dia jaminan agar dia merasa nyaman."
" Tapi kenapa dia tidak percaya padaku bahwa aku sangat mencintainya, dan tidak ingin mengkhianatinya?"
" Kau percaya perjalanan rumah tangga kalian mulus?"
" Nak godaan itu bisa datang kapan saja. Seorang ulama saja kadang-kadang tidak kuat menahan godaan seorang wanita, apalagi laki-laki mantan play boy sepertimu. Bukan meremehkanmu, papa hanya mengingatkanmu agar tidak terlalu sombong. Lakukan saran papah, dan papah yakin pasti istrimu akan mau menemanimu 24 jam sehari. Bukankah kau juga tidak kehilangan hartamu dan masih bisa kalian nikmati bersama selama rumah tangga kalian utuh?"
" Benarkah pah?"
" Percayalah nak, karena dulu mamamupun seperti itu. Beliaulah yang mengatakan langsung pada papa, dan kemudian papa memberikan sebagian perusahaan papa atas nama mamamu sebagai jaminan jika papa mengabaikannya mamamu tidak akan kebingungan menghidupi dirinya sendiri."
" Will sebagai seorang suami kau harus bisa memberikan kenyamanan pada istrimu, bukan hanya melalui kata-kata cinta saja, tapi tindakan juga. Wanita butuh bukti, karena manusia itu bisa berubah kapan saja. Pulanglah!! Temui istrimu. Aku yakin saat ini hatinya sangat sedih kau tinggalkan seperti ini." Kata papa William sambil memegang pundak anaknya.
" Iya pah, aku tau sekarang kenapa dia sepertinya tidak mau menuruti kata-kataku, ternyata itu yang dikhawatirkannya."
" Hehhhh...istrimu itu tidak seperti ibumu, dia tidak mungkin jujur mengatakan hal itu padamu karena dia pasti merasa tidak enak hati mengungkapkan semuanya. Jadi sebagai suami kau harus lebih peka terhadapnya ya?"
" Iya pah, ternyata aku harus belajar lebih banyak untuk menjadi suami yang baik."
" Kau bisa menjadi suami yang baik dan kepala rumah tangga yang baik, selama kau bisa mendengar masukan seluruh anggota keluargamu, tidak hanya istrimu, tapi juga anak-anakmu kelak."
" Terimakasih pah, aku sangat beruntung memiliki papa yang sangat bijaksana seperti papa."
" Sama-sama nak, kalau begitu papa pulang dulu ya? Jangan lupa jika kau ingin kembali ke Indonesia singgah dulu ke rumah, karena kau masih punya orang tua ini yang harus kau pamiti."
" Pasti itu pah, tidak akan mungkin aku mengabaikanmu." Kata William seraya memeluk papanya, yang kemudian pergi meninggalkan ruangannya.
William terlihat menarik nafas lega.
" Ya Alloh kenapa aku tidak memikirkan hal itu, benar kata papa, mungkin istriku mengkhawatirkan hal itu sehingga dia memilih mempertahankan pekerjaannya, padahal hatinya pasti saat ini sangat sedih aku tinggalkan dengan keadaan marah."
" Sayang maafkan aku." Bisik William.
Tiba-tiba saja ruangannya kembali diketuk. Hellen, pegawainya yang selama ini mengaguminya itu masuk ke dalam ruangannya, dan wanita itu lupa bahwa dulu William pernah mengingatkannya untuk tidak berpakaian seksi, namun kali ini dia kembali mengulanginya lagi.
Tiba-tiba dada William berdesir.
" Astagfirullah haladzim.....benar kata papa, manusia bisa berubah kapan saja, dia tidak tau apa yang akan terjadi beberapa menit bahkan beberapa detik yang akan datang. Baru saja tadi papa bilang begitu dan saat ini dadaku sudah berdebar-debar melihat pegawaiku berpakaian seperti itu." Kata William dalam hati.
" Sepertinya aku memang harus pulang menemui istriku, sebelum hasratku meledak di sini." Kata William lagi.
" Kembalilah ke tempatmu Hellen! Dan berikan berkas itu nanti pada Daniel saja, biar dia yang memeriksanya." Kata William sambil menunduk dan mencoba mengusir Hellen secara halus keluar dari ruangannya.
" Baik tuan." Jawab Hellen dan tidak jadi masuk ke dalam ruangan William."
" Aahhh aku harus memesan tiket kembali ke Indonesia, aku tidak mau membiarkan istriku seorang diri lagi merasakan kesedihannya." Kata William sembari mengambil handphone dan memesan tiket pulang.