
Sepiring ayam goreng habis dilahap oleh Dhea tanpa nasi dan tanpa karbohidrat yang lain.
" Sayang kau lapar apa doyan sih?" kata William menggoda Dhea yang sedari tadi tidak berhenti menguyah.
" Hahaha...dua-duanya sayang." Kata Dhea sambil tertawa.
" Aku jadi kenyang sendiri melihatmu makan seperti itu."
" Baguslah bisa menghemat pengeluaran. Aku yang makan dan kau yang kenyang. Iya kan?"
" Hahaha..ujung-ujungnya aku bisa terkena asam lambung."
" Ya sudah makanlah, tapi jangan melihatku biar tidak kenyang. Kalau tidak makanlah di dapur sana, biar tidak terlihat olehku."
" Hahhhhh...di dapur??? kau tega melihat suamimu ini makan di dapur???"
" Iya di dapur sambil jongkok depan pintu, dan ditunggui kucing hahaha."
" Isssshhhh...kau ya nakal sekali, meminta suamimu ini makan di dapur mana ditunggui kucing lagi." Kata William sambil memeluk istrinya dengan satu tangannya.
" I love you." Katanya lagi.
" Love you too. Sudah nanti lagi romantis-romantisannya. Sekarang makan dulu ya." Kata Dhea sambil melepaskan tangan suaminya yang merangkul ke pundaknya.
" Oke. Aku habiskan dulu makanan ini."
Lalu merekapun terlihat asyik menikmati makanan di piringnya. Selesai makan dan membayar sejumlah uang, mereka berdua lalu segera pulang dengan keadaan perut kenyang. Walaupun sepanjang jalan William masih terus memikirkan kondisi istrinya yang masih belum jelas itu, namun dia berusaha terlihat tenang di hadapan istrinya. Dia tidak ingin Dhea ikut merasakan kerisauan hatinya, walaupun lambat laut jika memang yang dikatakan Dokter Sherli benar adanya, Dheapun akan segera mengetahuinya juga. Namun untuk sementara waktu, rahasia itu disimpannya rapat-rapat.
" Hehhhhh....tubuhku lelah." Kata Dhea sambil membaringkan tubuhnya di atas kasur setelah mereka berdua tina di rumahnya.
" Bagaimana kondisimu? masih mualkah? pasti tidak kan? apalagi sudah diisi ayam goreng satu piring."
" Enak saja, bukan ayam goreng yang menyembuhkan mualku, tapi obat yang diberikan Dokter Sherli sayang."
" Hahaha...aku pikir ayam goreng tadi." Kata William sambil melepas kemejanya dan menggantinya dengan sebuat tshirt. Dhea memperhatikan suaminya yang sedang mengganti baju di hadapannya. Diamatinya seluruh lekuk tubuhnya. Body atletisnya dengan otot-otot yang terlihat jelas menonjol, menunjukkan bahwa suaminya itu memang gemar sekali berolah raga. Bahkan setiap pagi dia selalu menyempatkan diri berlari. Jika tidak sempat memutari komplek, maka dia hanya menggunakan alat fitnes yang memang sudah tersedia lengkap di salah satu ruangan yang ada di rumah besarnya itu.
" Hei kenapa kau mengamatiku seperti itu sayang? apakah pernikahan kita yang sudah setengah tahun ini masih saja belum bisa mengurangi rasa kagummu padaku?"
" Hahaha....kau ini percaya diri sekali." Kata Dhea sambil melemparkan guling yang dipegangnya pada William.
" Upppsss..." William segera menangkapnya.
" Karena kau itu sedari tadi menatapku tanpa berkedip. Dan lihatlah air liurmu sampai menetes begitu." Kata William sambil mendekati istrinya.
" Ihhhhh apa sih." Kata Dhea sambil memukul tubuh suaminya.
" Sini." Kata William sambil menarik tubuh Dhea bersandar di dadanya.
" Kau belum ingin tidur kan?"
" Tidur bagaimana? kita kan belum sholat dhuhur."
" Yeeer....dasar." Kata Dhea sambil menarik hidung suaminya.
" Hahhhh...hidungku lagi yang kau serang." Gerutu William, dan Dhea hanya terkekeh saja.
" Sayang...aku tidak sabar menanti kelahiran anak kita, pasti dia akan lucu sekali, dan pasti kebahagiaan kita akan semakin sempurna." Kata Dhea sambilmembelai perutnya. William menarik nafas panjang, ada rasa perih di dadanya seperti sebuah sembilu yang mengirisnya.
" Sayang kau percaya takdir kan?"
" Iya aku percaya. Kenapa kau berkata begitu."
" Kita hanya berusaha menjalani takdir Allah. Apapun yang kita alami sekarang adalah merupakan rahasia Allah. Semua yang kita miliki di dunia inipun juga hanya titipanNya, jadi kita harus ikhlas jika Dia mengambilnya kembali."
" Sudah tentu sayang, tapi sayang aku jadi bingung, kenapa kau seperti orang yang putus asa? biasanya kau antusias sekali jika membicarakan kehamilanku?" Kecurigaan Dhea semakin besar, bahwa ada yang sedang suaminya sembunyikan darinya.
" Tidak sayang. Aku hanya sedang berusaha menjadi umatnya yang tidak lebih mencintai segala hal di dunia ini kecuali cintaku padaNya. Aku takut jika segala hal yang aku harapkan ternyata tidak sesuai dengan kenyataan yang kuhadapi." Kalimat William yang bermakna dalam begitu aneh di telinga Dhea. Namun, walaupun ada yang yang sedikit janggal, Dhea tetap yakin bahwa dignosa dokter itu tidak bisa melebihi kekuatan Allah. Manusia bisa memperkirakan, namun Allahlah yang berkehendak. Dhea tidak ingin memikirkan kemungkinan-kemungkinan terburuk yang terjadi padanya.
" Sayang....lihatlah perutku, lucu ya bentuknya? Kau masih saja tertarik denganku, padahal aku mirip seperti orang yang sedang cacingan." Kata Dhea mencoba mencairkan suasana.
" Hahaha....jika perut yang cacingan sebesar ini, lalu cacingnya sebesar apa?" Kata William.
" Cacingnya sebesar kau hahaha."
Mereka berdua terus bercanda di atas kasur. Entah apa sebenarnya yang membuat dua orang itu betah sekali mengeram di dalam kamar. Mungkin mereka pikir tidak ada ruangan yang lebih nyaman untuk bercanda selain di kamar itu. Bagaimana tidak? rumah mereka yang besar itu membutuhkan banyak orang untuk membantu Dhea mengurusnya. Jadi setiap mereka memasuki ruangan, ada saja salah satu pegawainya yang berseliweran, apalagi mereka berdua sering mengumbar kemesraan, mereka tidak mau orang-orang di rumah ini jadi sungkan sendiri. Jadilah seperti sekarang ini, tiap hari hanya bersenda gurau di dalam kamar saja. Hanya sekali-sekali saja mereka duduk di ruangan lain, sembari mencari suasana yang beda.
Tiba-tiba handphone William berbunyi.
" Sebentar ya sayang aku angkat telfonku dulu."
" Angkatlah, aku juga ingin sholat." Kata Dhea sambil turun dari ranjang kemudian masuk ke dalam toilet.
William lalu segera menggulir tombol yang ada di handphonennya itu.
" Hallo Will?" ternyata itu adalah papa William.
" Hallo pah, bagaimana kabarnya?"
" Papa sehat nak. Bagaimana kau dengan istrimu."
" Kami semua sehat pah."
" Lalu calon cucuku bagaimana? dia baik-baik saja kan?" tanya papanya lagi.
William diam sesaat, lalu menengok ke arah toilet. Dilihatnya Dhea belum keluar dari dari ruangan itu.
" Will, hallo kenapa kau diam? apakah ada sesuatu yang terjadi?"
" Sebentar ya pah, aku akan keluar, aku takut istriku mendengarnya." Kata William sambil keluar kamar dan menuju ruang santai yang sedikit jauh dari letak kamar pribadinya.
William tidak pernah bisa merahasiakan apapun dari orang tua itu. Walaupun hal sepele sekalipun, papanya pasti akan segera mengetahuinya. Papanya sangat hafal sifat putra sulungnya itu, walaupun hanya melihat dari gesturnya saja.