
Setelah William pulang dari rumah orang tuanya, dia segera menjemput Dhea. Sepanjang jalan William diam saja tidak seperti biasanya. Dhea bertanya tanya dalam hati melihat sikap laki laki di sampingnya yang tidak biasanya ini.
" Will ", panggil Dhea.
" Ya ".
" Tumben kau diam saja ?"
" Kenapa ? kau rindu untuk kugoda ?" Tanya William tanpa sedikitpun memandang Dhea dan masih dengan mimik muka yang datar.
" Bukan, maksudku biasanya kau cerewet sekali seperti bebek ".
William tersenyum dalam hati mendengar kalimat Dhea yang memperoloknya.
" Aku sedang tidak ingin bicara ", jawab William.
" Hhhmmm kau pasti sedang datang bulan ya ???" goda Dhea.
" Kau ini candaanmu sama sekali tidak berbobot nona Dhea ". Jawab William, padahal bathinnya tertawa terpingkal pingkal, tapi dia tetap memasang wajah serius.
" Kemarin aku diam saja kau bilang sedang datang bulan. Kalau kau ingin candaan yang lebih berbobot mending kau isi batu biar lebih berbobot ".
William tiba tiba menghentikan mobilnya.
" Kau bisa diam tidak ? kalau tidak aku turunkan kau di sini ?" Ancam William dengan nada sedikit keras.
" Kau menurunkan aku di sini ? hahaha dengan senang hati tuan William ", kata Dhea tanpa basi basi, dia langsung membuka pintu di sebelahnya dan keluar dari mobil William.
" Hei kau mau kemana Dhe ?" Panggil Dhea.
" Hhhhhh......bandel sekali ", gerutu William sambil turun mengejar Dhea.
" Hei kau mau kemana ?"
" Kau bilang akan menurunkanku di sini ? kenapa ? kau berubah pikiran ?"
" Ayo naik lagi ".
" Tidak, kau pikir aku takut pulang sendirian ?"
" Ayo cepat naik !!" Teriak William, dan kali ini dengan lebih keras.
Dhea hanya menurut saja, dia malas sekali selalu ribut, tapi tidak pernah bisa merubah apa apa. Kemudian Dhea kembali naik ke dalam kendarann William. Setelah itu William menjalankan kembali mobilnya.
Kali ini Dhea diam saja dan membuang pandangannya keluar jendela. Hatinya sangat marah sekali dengan sikap William tadi.
" Aku baru bertengkar dengan Mike lagi dan sekarang lebih parah ". Kata William kemudian membuka percakapan.
Dhea diam saja, seolah tidak perduli dengan cerita William.
" Jessy tadi merayuku, bahkan berani menciumku di dapur dan ketahuan oleh Mike ".
Dhea tetap diam saja, tapi pikirannya konsentrasi mendengarkan cerita William selanjutnya.
" Mike salah sangka padaku, dia dan papa menyalahkanku ".
Kemudian William menatap Dhea sesaat, dia melihat gadis itu tidak sedikitpun merespon ceritanya.
" Dhe...kau mendengarku kan ?"
Dhea tetap diam saja.
" Dhe..kau masih marah ?"
" Maafkan aku...tadi aku emosi, pikiranku sedang kalut memikirkan nasib pernikahan adikku ".
Dhea tetap tidak bergeming.
William kembali menghentikan mobilnya di tepi jalan.
" Dhe...., ayolah jangan marah begini, aku minta maaf ya ", kata William memelas.
" Dhea aku itu memang pria yang kasar, tapi aku tidak tahan jika kau mendiamkanku seperti ini, pleas Dhe ".
" Kau ingin aku melakukan apa biar kau bisa memaafkanku ? ayo bicaralah, apa kau ingin tau aku bisa membuat wajahku sejelek ini ?"
Tiba tiba William mempraktekkan bentuk wajahnya yang sangat lucu di hadapan Dhea, dia memenekuk wajahnya sedemikian rupa seperti seorang anak kecil yang sedang bercanda dengan temannya.
Dhea tak bisa menahan tawanya, laki laki ini bisa berbuat sebodoh itu hanya untuk meminta maaf padanya.
" Hahaha..." tawa Dhea begitu lepas.
" Kau ini sudahlah, mukamu jelek sekali jika seperti itu, lebih buruk dari seekor kera ".
Wajah William langsung terlihat ceria tidak sesuram tadi.
" Hhhhh....syukurlah kau tidak marah lagi denganku ". Kata William sambil menarik nafas lega.
" Siapa bilang aku sudah tidak marah, aku masih sebal denganmu ".
" Kalau begitu aku tidak akan mengantarmu pulang, hingga kau benar benar memaafkanku ".
" Kau ini...ya sudah aku memaafkanmu ", kata Dhea.
" Sungguh ?"
" Hahaha rupanya tadi kau mendengarku ya, hhhmmm kau pura pura jual mahal kannn ??"
" Kau mau aku marah lagi ?" Ancam Dhea sambil melotot.
" Oke oke, ampun sayang...aku akan melanjutkan ceritaku ya ".
Kemudian William menjalankan kendaraannya kembali sambil bercerita kepada Dhea.
" Jadi sekarang Mike akan menceraikan Jessy ?"
" Ya, tadi Mike bilang begitu ".
" Kasihan adikmu, sepertinya dia orang yang sangat baik, tapi sangat sial mendapatkan wanita seburuk Jessy.
" Itulah Dhe, aku hanya memikirkan dia , aku tidak ingin perceraiannya bisa membuatnya terpuruk ".
" Seperti kau dulu kan ? hahaha ".
" Jangan memperolokku ya, karena sikapmu itu bisa membuatku semakin gemas denganmu sayang ", kata William sambil melirik nakal pada Dhea.
" Ihhh awas kau kalau macam macam !!" jawab Dhea.
" Aku itu heran dengan kalian berdua ". Kata Dhea lagi.
" Heran kenapa ?"
" Kalian ini adik kakak yang sama sama mapan, bahkan wajah kalian itu bisa dibilang lumayan ".
" Eits tunggu....kau sebenarnya ingin bilang tampan kaann ??? ayolah jangan memakai istilah lain dalam kata katamu Dhea ", goda William.
" Kau bisa serius tidak ? jangan bercanda terus, atau aku tidak akan melanjutkan kata kataku ".
" Oke oke aku tidak akan bercanda lagi ", jawab William sambil memasang tampang sok serius.
" Ya begitu bagus....aku akan melanjutkan kalimatku ya. Apa sih kurangnya dari kalian ? harta banyak ? tampang ? lumayan, tapi sepertinya hanya karena masalah wanita saja hidup kalian itu sepertinya akan segera berakhir. Hidup ini indah tuan, masih banyak wanita lain di luaran sana yang bisa kalian ajak untuk hidup bahagia bersama dengan kalian ".
William menengok ke arah Dhea hendak mengucapkan suatu kalimat, tapi didahului oleh Dhea.
" Eitttsss tapi wanita itu bukan aku ya tuan ". Kata Dhea sambil tersenyum.
" Hhhhmmm baru saja aku ingin mengatakan demikian ", gerutu William.
" Hahaha aku sudah sangat tau karaktermu ".
" Ya aku paham, tapi Itu kan berarti kami sama sama tipe lelaki yang setia ". Bela William kemudian.
" Mungkin, tapi itu bukan alasan yang kuat ".
" Lalu apa alasan lainnya ?"
" Karena kalian itu sama sama tidak memiliki iman ".
" Iman ? maksudmu ?"
" Ya, kalian tidak pernah berpikir hikmah dibalik itu semua. Seharusnya kamu ataupun adikmu bersyukur tau keburukan Jessy lebih awal dan di saat yang tepat ".
" Maksudmu ?"
" Coba pikir, bagaimana jika misalnya kau tau keburukan Jessy saat kau sudah menikah dengannya 20 atau 30 tahun yang akan datang, saat kau sudah beranjak tua, tubuhmu sudah lemah, hartamu sudah habis, dan kau terlambat menyadarinya, dan kemudian Jessy meninggalkanmu, apa yang akan terjadi ? yang aku bayangkan mungkin kau akan menjadi seorang tua sakit sakitan yang tidak berdaya dan sudah tidak ada seorangpun yang mau menemanimu, dan kau akan menderita di sisa umurmu. Harusnya kau ini lebih bersyukur bukan ? tubuhmu masih sehat, dan karena wanita itu meninggalkanmu, justru kau semakin terpacu untuk mengembangkan bisnismu lebih besar lagi, benarkan kataku ?"
William hanya diam saja, dia sedang mencerna kata kata Dhea.
" Will kau mendengarku tidak ? Mulutku sudah berbusa tapi kau diam saja ", kata Dhea sambil memandang William.
" Aku mendengarmu Dhea ".
" Will, jangan pernah punya dendam dengan orang yang pernah menyakitimu, ikhlaskanlah aku rasa hidupmu akan menjadi tenang ".
" Benarkah Dhe ?"
" Cobalah Wil, kau tau bahwa di dalam tubuh sesorang itu terdapat segumpal darah yang jika darah itu buruk, maka buruk pula perilaku orangnya, dan jika darah itu baik, maka baik pula perilaku orangnya ".
" Apakah itu Dhe ?"
" Hati Will ".
" Hati Dhea ".
" Ya, manusia itu punya hati. Dan jika manusia bisa mengendalikan semuanya dengan hati dan akal sehat tanpa emosi, aku jamin hidup kita akan tentram ".
" Benarkah Dhe ?"
" Cobalah Will ".
" Dhe makasih ya, kau sudah memberiku pelajaran baik dan mengingatkanku banyak hal. Sebelumnya belum pernah ada satu orangpun yang mengatakan itu semua padaku ".
" Makanya kau itu jangan kasar kasar padaku, karena aku masih mempunyai banyak pelajaran baik yang belum aku beritahukan padamu ". Kata Dhea sambil tersenyum.
" Hahaha kau ini ".
Dhea dan William sama sama tertawa. Sepertinya dua orang anak manusia itu sudah mulai bisa mengontrol egonya masing masing, sehingga tidak lagi berseteru.