Something different

Something different
mengobrol dengan orang tua Dhea



Saat sedang asyik mengobrol, Dhea yang baru saja selesai sholat segera bergabung bersama mereka bertiga.


" Ayah? ibu? sudah dari tadi ya?" sambil menyalami kedua orang tuanya.


" Yaaaa...lumayanlah."


" Sayang kau sholatlah dulu, biar aku yang menemani ayah dan ibu." William segera mengiyakan perkataan istrinya, lalu beranjak dari tempat duduknya berpamitan sebentar, dan segera masuk ke dalam.


" Bagaimana keadaanmu nak?"


" Alhamdullillah aku baik-baik saja bu." Jawab Dhea menyimpan kondisi yang sebenarnya. Dia berpikir bahwa kedua orang tuanya belum tau apa yang sedang dialaminya. Namun orang tua Dhea segera membaca situasi tersebut, dan pasti Dhea tidak tau bahwa sebenarnya William telah bercerita banyak pada mereka berdua.


" Harapan ayah dan ibupun demikian nak. Kesehatan itu lebih penting dari segalanya, terkadang kita bisa mengorbankan segalanya demi untuk mendapatkan sehat. Percuma kan jika uang kita banyak namun badan kita sakit, makanan senikmat apapun tidak akan mungkin bisa kita konsumsi. Ya tidak bu?"


" Yaaa..benar sekali kata-kata ayah." Sambung ibu Dhea.


Ayah Dhea sengaja mengatakan hal tersebut, sebagai bentuk nasehat awal pada anak semata wayangnya itu. Dan sebenarnya Dhea merasa tersentil dengan kalimat tersebut. Dia memang mengorbankan segalanya demi mempertahankan buah hatinya itu, bahkan rela mengabaikan keselamatannya sendiri. Sebenarnya dia tau, jika tetap bersikeras dengan prinsipnya untuk bisa melahirkan anak itu ke dunia, belum tentu juga anaknya bisa tumbuh dengan normal, bisa jadi setelah itu kesehatannya juga akan ikut terganggu, namun rasanya tidak tega secara tidak langsung dia membunuh janinnya sendiri. Secara reflex tangannya segera membelai perut besarnya. Ikatan bathin antara ibu dan anak memang tidak bisa dipisahkan sama sekali, dan ibunya melihat itu semua. Ada perasaan miris di hatinya, ingat bagaimana dia juga dulu mempertahankan mati-matian janin yang dikandungnya, namun takdir berkata lain, Allah lebih sayang kepada buah hatinya itu.


" Nak kok wajahmu kelihatan pucat, kenapa?"


" Ohhhh....mungkin karena Dhea kurang bisa tidur nyenyak kalau malam bu."


" Kenapa? apa yang sedang kau pikirkan? ceritakan pada kami." Ibu Dhea berusaha mengorek informasi lebih jauh, dia ingin anaknya sendirilah yang bercerita padanya. Dia tau Dhea itu anak yang tegar, memiliki prinsip kuat, dia akan menyimpan masalahnya sendiri rapat-rapat, dan biasanya orang tuanyalah yang selalu bisa membaca gesture anaknya itu, jika ada sesuatu yang sedang membuat risau hatinya.


" Nak permasalahan rumah tangga itu memang selayaknya orang tua tidak boleh ikut campur. Setiap anak yang sudah keluar dari rumahnya dan dibawa suaminya itu, sepenuhnya tanggung jawab suami. Namun kami sebagai orang tua juga bisa kok kau jadikan tempatmu untuk memecahkan masalah. Kami juga tidak akan berpikir subyektif, orang tua terbaik adalah yang bisa berpikir obyektif dan tidak membela salah satu pihak, dan hanya sebagai penengah saja. Curhatlah pada orang yang tepat dan kau percayai, karena fatal akibatnya jika curhat dengan orang lain, bisa jadi dia mengambil keuntungan pada situasi tersebut." Sambung ayahnya.


" Iya ayah, namun ayah dan ibu tidak usah memikirkanku ya, insyaallah rumah tanggaku dengan suamiku baik-baik saja, jika memang aku sudah tidak kuat untuk menghadapinya, orang pertama yang akan aku mintai bantuan pasti kalian berdua."


Dhea tetap bersikeras untuk merahasiakan kondisi sebenarnya pada orang tuanya, harapannya sangat besar untuk mendapatkan kesembuhan, sehingga merasa tidak perlu ikut membebani pikiran mereka berdua.


Sementara itu di dalam kamar setelah selesai sholat ashar, William terlihat sedang menerima telfon dari seseorang.


" Jadi kau memenangkan tender itu lagi Dan?"


" Iya Will...hahaha...jangan sebut Daniel jika tidak bisa menjadi salah satu perusahaan terbonafit di wilayah ini Will." Katanya dengan sangat bangga.


" Orang-orang di sini siapa yang tidak mengenal William Sean Anderson, pemilik sebuah perusahaan besar dengan anak cabang dimana-mana."


" Hemmm...ya, aku memang sangat mengakui kehebatanmu, tapi kenapa kau yang sombong ya dan justru aku biasa-biasa saja."


" Hehehe bukan sombong Will, hanya sedikit bereforia. Tapi terkadang memang begitu Will, satpam lebih galak daripada pemilik rumahnya." Bela Daniel.


" Hemmm... tapi kau tidak bermain kotor kan?"


" Haaahhh...bermain kotor bagaimana? kau pikir aku bermain becek-becekan? enak saja."


" Hehhh...kau ini!! ingat ya!! jika sampai ketahuan kau menghalalkan segala cara, aku tidak akan memaafkan kesalahanmu."


" Tenang saja bos, aku masih ingat pesanmu."


" Lalu bagaimana saham kita?"


" Hahaha....jelas naik tinggi Will, masak harus kujelaskan lagi."


" Hehhhh...mulai sombong lagi dia, kau belum tau ya kemarin aku lihat di tv orang sombong matinya susah."


" Heiii....jangan menyumpahiku begitu, cukup hidupku saja yang susah, jangan pula matiku ikutan susah."


" Mukamu juga susah, kenapa tidak kau sebutkan juga?"


" Hemmmm...jika itu namanya terlalu jujur Will."


" Hehehe.....kau tau ya."


" Oh ya bagaimana kabar rumah tanggamu? kalian baik-baik saja kan?"


William diam sebentar, dan tidak langsung menjawab. Jika disinggung masalah satu itu, dia memang tidak bernah bisa berpura-pura dan menyembunyikan rahasia kesedihannya, dan Daniel sangat mengenal sahabatnya itu.


" Will, kenapa diam? ada setan lewat ya?" Kata Daniel bercanda, mencoba mencairkan suasana seperti biasa yang dilakukannya saat sahabatnya itu berduka.


" Hahaha...jangan begitu Will, ada apa? jika kuterawang dari sini, kau pasti sedang ada masalah ya? ayo ceritakanlah. Kita itu walaupun hanya sahabat, tapi aku bisa merasakan kegelisahan hatimu. Aku merasa seperti bayanganmu Will, ibarat saudara kembar, jika yang satunya sakit, yang lainnya juga akan merasakan kesakitan itu."


" Aku memiliki kembaran sepertimu? hemmm...aku sangat yakin, bahwa aku dilahirkan secara normal, sedangkan kau didownload dari aplikasi kartun di android kan?"


" Hehhhh....suka-suka kaulah Will, agar hatimu senang." Kata Daniel pasrah.


" Hehehe...maaf teman, aku hanya bercanda."


" Yaaa...aku itu tidak akan marah karena aku tau kau itu tidak pernah sungguhan. Tapi ceritakanlah padaku, bahwa benar kan tebakanku ada masalah yang sedang kau alami sekarang? dan bukan bercanda? bukan aib keluarga kan sehingga kau ingin menyimpannya rapat-rapat dariku?" cecar Daniel.


William kembali menarik nafas panjang, seolah ingin melepaskan beban di hatinya.


" Ya Dan, kandungan istriku sedang bermasalah, dan itu sangat mengganggu pikiran kami berdua."


" Bermasalah bagaimana?"


" Secara kedokteran dia menderita preeklamsia, dan itu mengancam keselamatan anak kami."


" Lalu?"


" Ya dia sekarang sedang terus menjalani pengobatan, namun bukannya membaik tapi justru gejalanya semakin memburuk."


" Ya Tuhan....semoga semua baik-baik saja, dan anakmu bisa diselamatkan."


" Amiin...terimakasih doanya Will."


" Kenapa kau tidak membawanya kesini Will? bukankah pengobatan di sini jauh lebih baik daripada di sana?"


" Enak saja kau berbicara, kau pikir di sini aku tidak memberikan pengobatan yang terbaik?"


" Bukan begitu Will. Di sini kan chanelmu dengan orang kesehatan banyak, dan orang-orang yang memang sudah tidak diragukan lagi track recordnya, tinggal pilih saja Will."


" Ya, aku harus membicarakannya dengan istriku dulu."


" Hehhh...aku bisa merasakan kau sangat sedih dengan masalahmu ini Will?"


" Sudah tentu Dan, itu berkaitan dengan keselamatan anak kami. Kau belum pernah merasakannya sih, ingin menjadi seorang ayah tapi anak yang dikandung istriku nyawanya terancam."


" Hehhhh...ribet sekali!! tapi kan kau bisa membuat anak lagi. Jangan terlalu dibuat pusing kenapa Will?"


" Heiii...kau pikir yang dikandung istriku itu anak-anakan? mudah sekali kau mengatakan kami bisa membuatnya lagi. Walaupun dia masih di dalam perut istriku, tapi dia juga berhak hidup Dan."


" Maaf Will, jangan tersinggung. Maksudku seandainya hal terburuk itu terjadi, ikhlaskanlah. Bukan berarti kemudian semuanya itu berakhir, kau tetap harus melanjutkan hidupmu, dan mulai semua dari awal dan lebih berhati-hati lagi."


" Ya Dan aku tau. Namun memulai semuanya dari awal itu mungkin sedikit berat, apalagi untuk istriku, pasti dia akan mengalami trauma. Kau tau kan? bahwa anak itu sangat diharapkan kehadirannya dalam keluarga besarku, juga keluarga besarnya. Dia merupakan anak tunggal, dan aku juga anak pertama. Kami sama-sama sangat mendambakan kehadiran anak itu."


" Will, aku itu memang bukan orang baik. Tapi orang sekotor aku saja itu sangat percaya, bahwa apa yang ditimpakan Dia kepada kita itu tidak hanya semata-mata begitu saja diberikan, pasti ada maksud dan tujuannya. Mengapa justru kau orang yang telah memilih jalan yang benar jadi meragukanNya?"


" Aku tidak ragu Dan, hanya saja aku takut jika istriku tidak bisa setegar aku."


" Kesedihan akan hilang dengan sendirinya Will, itu hanya masalah waktu saja, percayalah padaku. Jika istrimu tidak bisa tegar, kaulah yang harus bisa lebih tegar, agar bisa menguatkan istrimu, itulah gunanya suami istri. Aku saja yang belum menikah paham masak kau tidak? Makanya sering-seringlah membaca buku tentang menuju rumah tangga yang harmonis jangan membaca buku keuangan terus."


" Memangnya kau sering membacanya?"


" Tidak juga sih, hanya menguping saja pembicaraan teman-teman kalau sedang curhat hahaha."


" Issshhhhh...sialan kau. Tapi walaupun ilmumu itu hasil dari menguping, aku tetap berterimakasih padamu. Terkadang ilmu itu memang belum tentu kita dapatkan dari seorang yang ahli, namun bisa juga dari orang sekitar kita, ya sepertimu ini. Kita tidak bisa menilai siapa orang yang berbicara, tapi apa yang dia bicarakan."


" Hemmmm....bagus Will, ternyata selama ini kau sudah menyerap ilmuku dengan baik." Jawab Daniel sok serius.


" Ilmu apa? ilmu melenyapkan diri?"


" Lebih tepatnya melenyapkan harga diri Will, alias tak tau malu hahaha."


Dua orang sahabat itu terbahak bersama. Memang kehadiran Daniel serasa sebuah hujan di tengah gurun yang panas dan gersang, selalu di waktu yang tepat. Walaupun kadang-kadang juga membuat William sedikit jengkel, namun dia tetaplah sahabat yang baik, dan mau mengerti kekurangan serta kelebihannya.


Maaf ya teman2 episode agak tersendat ini, authornya lagi galau gara2 corona🤭🤭🤭 stay di home aja ya, smg kalian sehat semua amiin