Something different

Something different
Rencana yang gagal



Paginya Dhea sudah bangun dan bersiap-siap berangkat ke kampus. Dia sudah cantik sekali dengan dandanan dan pakaian yang dikenakannya. Tiba-tiba dia ingat Nyonya Christy tetangganya. Dari kemarin dia belum melihat wanita tua itu sekalipun, maka diputuskannya untuk mengunjungi kamar wanita itu terlebih dahulu sebelum pergi ke kampus.


" Tok tok tok ". Dhea mengetuk kamar Nyonya Christy.


Terdengar suara langkah kaki mendekati pintu yang ada di depannya.


" Hai Dhe...kau sudah rapih sekali, kau akan pergi ke kampusmu? Bukankah ini masih belum jam 7?"


" Iya nyonya, aku sengaja berangkat pagi agar tidak bertemu dengan orang gila di depan nanti ", jawab Dhea sambil tersenyum.


" Orang gila? Siapa yang kau maksud?"


" Anda tidak akan tau siapa dia, karena anda belum pernah mengenalnya. Dia selalu mengejar-ngejarku dan menguntitku kemanapun aku pergi. Dan hari ini aku harus berangkat lebih awal agar bisa menghindarinya."


" Ohhh pantas saja, kau pasti takut sekali dengannya?"


" Ya nyonya karena aku rasa dia sangat berbahaya, dan lebih berbahaya daripada seorang pembunuh bayaran ", kata Dhea sambil melotot lucu.


" Hahaha kau ini terlalu berlebihan menganggap orang gila itu lebih berbahaya daripada seorang pembunuh bayaran."


" Hei ayo masuk dulu, kau belum sarapan kan?"


" Terimakasih nyonya, aku sudah sarapan. Semalam ada seorang konglomerat menyebalkan memberiku makanan banyak."


" Konglomerat menyebalkan? Apa maksudmu konglomerat menyebalkan?" Tanya nyonya Christy penuh selidik.


" Hahaha bukan apa-apa nyonya, lupakan saja. Kalau begitu aku pergi dulu ya?"


" Silahkan Dhe, hati-hati di jalan ya?"


" Baik nyonya, terimakasih."


Kemudian Dhea membalikkan badannya masuk ke kamar dia lagi untuk mengambil tas dan perlengkapan lainnya, sedangkan Nyonya Christy langsung menutup pintu kamarnya.


" Hhhmmmm rasanya sudah cukup dan tidak ada yang tertinggal ", gumam Dhea.


Lalu dia segera memakai sepatu ketsnya dan juga mematut diri sebentar di depan cermin untuk membenahi riasannya, sebentar kemudian dia sudah melenggang keluar dari kamarnya.


Sementara itu William sedang menerima telfon dari seseorang. Dan tanpa pikir panjang dia langsung mengganti pakaiannya dan segera meluncur bersama mobil mewahnya.


" Kau ini ingin memperdayaku ya, hahhh jangan kira kau bisa berhasil. Bahkan jika kau bersembunyi di lubang semutpun aku akan segera menemukanmu ", gerutu William, sambil menambah kecepatan mobilnya agar segera tiba di tempat tujuan.


Benar saja, saat tiba di tempat tujuan, dilihatnya orang yang hendak di temuinya sudah berdiri tegak di sebuah halte pemberhentian bus. Dhea....wanita itu sedikit terkejut saat mengenali laki-laki yang baru saja berhenti di depannya, dan mengintip melalui kaca jendela mobilnya.


" Selamat pagi nona Dhea, kau terkejut bukan aku bisa mengetahui bahwa kau sudah berada di halte ini?"


" Ka...kau...darimana kau tau?"


" Hahaha apa aku harus mengatakan dua kali bahwa aku itu punya seribu mata yang bisa mengawasi gerak gerikmu setiap waktu?"


Mata Dhea berkeliling mencari tau, sekiranya ada seseorang yang patut dicurigainya dan mengawasinya setiap saat. Dhea hanya ingat ada satu orang pria berperawakan tinggi sedang mengajak hewan peliharaannya jalan-jalan di sekitar tempat tinggalnya.


" Hhhmmm pasti pria itu, aku harus berhati-hati dengannya ", kata Dhea dalam hati.


" Ayo naik!"


Kali ini Dhea tidak menolaknya, dan menuruti kata kata William.


" Bagus, sekarang kau mulai mematuhi perintahku dan tidak perlu lagi memaksamu." Kata William saar Dhea sudah duduk di sampingnya.


" Aku hanya tidak mau kau terus menyentuhku setiap memaksaku masuk ke dalam mobil ini."


" Hahaha serugi apa kau jika aku menyentuhmu? Aku bahkan tidak pernah melukai kulitmu."


" Karena kau bukan apa-apaku, bukan suamiku, bukan saudaraku, dan yang paling penting kau bukan mahramku!!" Jawab Dhea ketus.


" Kau dari kemarin mengatakan tentang mahram terus, siapa mahram itu sehingga kau begitu mempermasalahkannya?"


" Kau ingin tau?"


" Kau benar-benar pria yang tidak tau apa-apa ", gerutu Dhea.


" Maka dari itu aku bertanya padamu agar bisa paham."


" Mahram itu hanya ada dalam agamaku. Mahram artinya orang yang tidak boleh kita nikahi oleh sebab tertentu."


" Lau apa sebabnya?"


" Banyak sebabnya, karena kita memiliki hubungan sedarah, memiliki hubungan sepersusuan walaupun tidak sekandung dan masih banyak lagi."


" Lalu apa hubungannya sehingga aku tidak boleh menyentuhmu?"


" Karena itu bisa menimbulkan nafsu padamu tuan, dan jika kau sudah bernafsu itu artinya akan bisa terjadi hubungan yang sering kau lakukan di luar pernikahan itu, dan dalam agamaku itu merupakan dosa besar. Bagaimana sekarang kau paham?"


" Hmmm ya aku paham, tapi masih banyak yang ingin aku tanyakan padamu?"


" Kenapa hubungan di luar pernikahan itu sangat kau benci?"


" Karena itu berarti tidak ada bedanya dengan seekor binatan."


" Maksudmu, kau sedang menghinaku?"


" Bukan, aku tidak menghinamu jangan salah paham dulu. Kau tau kan binatang? Jika ingin menyalurkan hasrat seksualnya mereka akan langsung saja melakukannya dengan lawan jenis tanpa pikir panjang. Lalu apa bedanya yang kau lakukan dengan binatang itu? Tidak ada pernikahan, tidak ada sebuah perjanjian untuk pertanggungjawaban ke depannya. Lalu jika wanitamu hamil bagaimana? Kau pasti akan membiarkan dia mengurus kehamilannya sendiri dan melahirkan tanpa kau dampingi, karena mudah bagimu untuk sekedar membiayai hidup hasil hubungan badan kalian. Tapi apakah itu menurutmu benar?"


" Tapi kami sama-sama menikmati?"


" Ya dan itu artinya dalam hal ini seorang wanita akan merasa paling dirugikan. Kau tau? Dalam agama kami wanita itu begitu mulia, bahkan kami diajarkan untuk menutup seluruh bagian tubuh kami agar tidak bisa dinikmati oleh pria hidung belang seperti kalian kalian ini."


" Hahaha tapi golonganmu juga sangat senang jika kemolekan tubuh kalian itu bisa memanjakan mata kami."


" Ya mungkin ada sebagian yang seperti itu, tapi aku!! Jangan harap aku akan menampakkan sehelai rambutpun di hadapanmu, kecuali untuk suamiku sendiri."


" Hhhhh...agamamu terlalu banyak aturan, sungguh merepotkan."


" Hei kau boleh menghinaku, tapi jangan pernah hina agamaku. Kepercayaanmu dan kepercayaanku beda, dan itu artinya kau tidak bisa memaksakan yang kau percaya itu kepadaku, dan juga sebaliknya."


" Tapi kau sedang memaksaku untuk mempercayai ajaranmu."


" Siapa bilang aku sedang memaksamu untuk mempercayai ajaranku. Kau tadi bertanya, dan aku menjelaskan, agar setelah paham kau bisa lebih menghargaiku dan tidak memperlakukanku sembarangan seperti sebelumnya."


" Ya oke...aku paham, tapi aku tidak bisa berjanji jika kau terus-terusan menolakku seperti sekarang ini, bahkan kau sengaja ingin menghindari bertemu denganku."


" Itu hakku untuk menolakmu dan menghindari bertemu denganku."


" Oke oke....itu hakmu. Tapi sebenarnya masih banyak yang ingin aku tanyakan padamu, tentang larangan makan untukmu, tentang.....".


" Stop cukup itu dulu." Kata Dhea memotong kalimat William.


" Kenapa?"


" Karena aku tidak mau menjelaskan sesuatu sedangkan aku tidak terlalu menguasai ilmunya, aku takut kau salah mengartikannya, tadi saja kau terus mendebatku."


" Lalu darimana aku bisa mendapatkan jawaban dari pertanyaanku?"


" Kau harus menemui orang yang ahli di bidang itu."


" Hmmm orang yang ahli ya, siapa? Seorang profesor? Guru? Atau siapa ?"


" Hhhhh.....kau ini aku malas menjawabmu ", jawab Dhea ketus. Dhea paham bahwa William sebenarnya tau orang yang dia maksud. Hanya saja sepertinya William memang sedang ingin menggodanya.


Tak lama kemudian Dhea telah tiba di kampusnya. Dia segera turun dari mobil yang dikemudikan oleh William.


" Aku akan menjemputmu nanti di sini, dan jangan coba menghindariku ", kata William.


" Hhhhhh....laki-laki arogan ", gerutu Dhea sambil membanting pintu mobil di depannya.


Kemudian dia segera meninggalkan William, tanpa menengok sedikitpun kepada pria itu yang sedari tadi memperhatikannya, hingga hilang masuk ke dalam kampusnya.