Something different

Something different
Malam pertama



" Sayang kamu sedang menulis apa?" Tanya Dhea saat pesta sudah selesai dan William serta Dhea berada di dalam kamar rumah barunya yang dihias khusus untuk kamar pengantin mereka berdua.


" Aku sedang menulis sebuah aturan." Jawab William singkat dan terlihat serius.


" Aturan apa sayang?" Tanya Dhea penasaran.


" Aturan selama kau menjadi istriku." Jawab William singkat.


" Coba aku lihat sini!!" Kata Dhea sambil merebut sebuah kertas yang berada di tangan William. Lalu Dhea membacanya dengan seksama.


" Hei kau curang sekali!! Masak semuanya berisi larangan, dan hanya satu yang tidak, kau hanya membolehkanku mencintaimu itu saja, kau curang sekali Tuan William." Kata Dhea sembari mencubit pinggang William.


" Hmmm kau harus ingat!!! Sekarang aku adalah imammu ok." Kata William sambil memegang kedua tangan Dhea dan menatap istri yang baru dinikahinya itu dengan kedua mata elangnya.


" Hehhhh...menyebalkan ", gerutu Dhea.


" Hayo kau mulai berani protes ya dengan imammu ini ", sembari berganti menggelitik Dhea.


" Hei geli sayang!!!" , teriak Dhea sambil berusaha menghindarinya.


Namun tiba-tiba William menarik tubuh Dhea dan merengkuh ke dalam pelukannya.


" Sayang mulai hari ini tidak akan ada yang bisa melarangku untuk memelukmu, kau adalah istriku, milikku seutuhnya, aku benar benar mencintaimu", sembari menatap Dhea mesra.


Dhea hanya menunduk malu, dadanya berdegup tak beraturan. Kemudian William mengecup bibir Dhea pelan, Dhea memejamkan matanya menikmati semua itu. Tak ada lagi rasa khawatir akan dosa. Tidak ada lagi rasa takut untuk dipermainkan oleh laki-laki di depannya ini. Yang ada adalah rasa bahagia dan getaran hebat dalam dadanya.


Perlahan-lahan William melepaskan jilbab yang dipakai Dhea.


" Sayang bukankah aku sudah sah menjadi suamimu? Jilbab ini tidak perlu lagi menghalangi pandanganku untuk menatap kesuluruhan wajahmu." Kata William sembari melepaskan ikatan rambut Dhea.


" Masya Alloh sayang kau cantik sekali!!" Kata William saat rambut indah Dhea terurai. Dhea hanya tertunduk malu, baru sekali ini ada seorang lelaki kecuali ayahnya yang melihat rambut panjangnya itu.


Perlahan William mengangkat tubuh Dhea dan menidurkannya di atas ranjang pengantin yang bertaburan bunga. Mereka bertatapan begitu lama, seolah ingin mengungkapkan kerinduan yang selama ini begitu terpendam. Wajah William tiba-tiba mendekat hingga deru nafasnya yang tak beraturan terdengar seperti deru mesin pesawat di telinga Dhea. Entah kenapa tubuh Dhea bergetar hebat, baru kali ini Dhea sedekat ini dengan seorang laki-laki, dan membuat dada Dhea berdebar-debar tidak karuan.


" Sayang, aku takut." Kata Dhea tiba-tiba.


" Takut kenapa sayang?"


" Aku membaca sebuah tulisan bahwa ukuran pria di negaramu lebih besar dari pria Indonesia."


" Ukuran apa sayang? Ukuran pinggang?" Tanya William sok tidak tau.


" Bukan sayang itu ukuran itu." Kata Dhea lagi.


" Ukuran apa aku tidak paham?" Tanya William setengah berbisik sambil menggoda Dhea, dan tangannya mulai bermain-main kesana kemari.


" Sayang, pleas kenapa kau tidak paham? Apakah kau sedang menggodaku?" Tanya Dhea suaranya mulai melemah karena godaan William yang mulai bermain-main di sekitar tubuhnya.


" Jangan takut sayang, percayalah padaku, kau tau kan aku ahli dalam hal ini." Kata William, dan ciumannya mulai bergerilya kesana kemari. Sedangkan Dhea hanya mengangguk pasrah.


Tiba-tiba seluruh persendian Dhea seperti lemas, jangankan untuk bergerak, berbicarapun dia sudah tidak mampu. William menguasai sepenuhnya permainan itu. Akal sehat Dhea sudah mulai hilang. Yang dia rasakan saat ini adalah seperti ada puluhan kupu-kupu yang sedang terbang di kepalanya, perutnya seolah teraduk aduk tidak karuan, dan denyut jantungnya seperti berdetak tak menentu.


" Sayang malam ini kamu milikku, benar-benar milikku, tidak akan ada lagi yang memisahkan kita", bisik William di telinga Dhea. Dhea hanya bisa memejamkan matanya saja.


Namun saat hubungan yang sebenarnya akan dimulai, tiba-tiba saja handphone William berbunyi amat nyaring. Spontan mereka berdua terkejut dengan bunyi handphone itu.


" Hehhhhhh......" Wajah William terlihat kesal.


" Maaf sayang aku lupa mematikannya." Kata William konsentrasinya tiba-tiba terganggu.


" Angkatlah dulu siapa tau penting." Kata Dhea sambil mendorong tubuh suaminya yang berada di atasnya.


" Ahhhhh....mengganggu saja!!" Gerutu William sambil mengambil handphonennya yang tak berhenti berdering.


" Siapa sih semalam ini menelfon?" Gerutu William. Dilihatnya nama Daniel sahabatnya berkedip-kedip di layar handphonennya.


" Siapa sayang?" Tanya Dhea sambil membenahi kancing baju piyamanya yang hampir copot semua.


" Daniel, sayang." Kata William.


Dengan sedikit jengkel Williampun mengangkat telfon itu.


" Hallo....!!" Kata William ketus.


" Hai.....teman bagaimana kabarmu? Selamat ya atas pernikahan kalian. Kau pasti saat ini sedang mengadakan pesta yang sangat meriah kan? Maaf ya aku tidak bisa datang, aku harus menyelesaikan urusan kantormu di sini." Kata Daniel seolah tidak bersalah.


" Hehhhh...kau ini, pestaku sudah selesai dari 7 jam yang lalu." Gerutu William.


" Maksudmu?" Kata Daniel bingung.


" Kau lupa ya bahwa selisih waktu di London dan di sini itu 7 jam, kau tau jam berapa di sini sekarang?" Kata William jengkel.


" Memangnya jam berapa Will?"


" Jam 10 malam Daniiiiiellll.........!!! Kau ini, biasanya kehadiranmu itu selalu di saat yang tepat, tapi sekarang bukan saja tidak tepat, tapi sangat tidak tepat sekali!!!" Kata William jengkel.


" Oh ya? Apakah itu berarti kau saat ini sedang berduaan dengan istrimu ya?" Tanya Daniel.


" Bukan hanya berduaan, tapi kau sudah merusak malam pertamaku, baru saja kami akan memulainya, suara telfonmu itu merusak mood kami!! Dasar sial!!" Gerutu William.


" Maaf aku lupa Will jika disana ternyata sudah larut malam. Tapi kalau boleh aku tau, tadi kau akan masuk ronde ke berapa?" Selidik Daniel sambil menggoda William.


" Ronde apanya? Baru saja mulai pemanasan, ibarat orang lomba lari aku itu baru aba-aba bersedia, dan tiba-tiba saja kau mengganggu kami. Awas kau ya!! Kopotong gajimu bulan ini 200 %." Kata William masih dengan nada ketus.


" Waduhhh ampun bos, aku tidak sengaja. Tapi biasanya kau kan selalu butuh bantuanku." Kata William masih terus-terusan menggoda William.


" Hahhhh....kalau urusan ini aku tidak butuh bantuanmu, aku sudah sangat hafal caranya."


" Hahaha aku pikir kau butuh seorang navigasi untuk menunjukkan dan mengarahkan posisi yang benar."


" Kau pikir aku sedang mengendarai apa butuh navigasi segala??" Masih dengan nada jengkel.


" Kenapa kau jadi pemarah sekali teman, seperti besar saja kesalahanku."


" Hahhhh...bukan hanya besar tapi juga fatal, Danieeelllll......!!!"


" Hahaha sory teman aku hanya bercanda dan ingin mengucapkan selamat tadi, salahmu sendiri kau lupa mematikan handphonenmu. Kalau begitu lanjutkanlah, tapi kali ini jangan lupa matikan semua benda-benda yang mengganggu konsentrasi kalian. Dan satu lagi, jangan lupa kunci kamarmu atau kau mau asisten rumah tanggamu masuk dan menarik alas tidurmu untuk dibersihkan hahaha." Kata Daniel seolah tidak puas menggoda William.


" Dasar...awas kau ya."


" Ya sudah teman, sekali lagi maafkan aku. Malam pertamamu tidak harus diselesaikan malam ini, masih ada malam-malam yang lain, jangan buru-buru kau selesaikan, kasihan istrimu pasti dia lelah seharian berdiri di pesta itu."


" Selamat ya, semoga keluarga kalian bahagia, dan doakan aku agar segera menyusulmu, dan lelah dengan petualanganku." Sambung Daniel lagi.


" Ya Dan, terimakasih. Percayalah menikah itu ternyata sangat indah, dan membuatku lebih tenang. Semoga kau bisa cepat menemukan tambatan hatimu sepertiku." Kata William. Dia tak pernah sungguh-sungguh marah dengan sahabatnya itu, karena selama ini dialah yang telah banyak membantunya keluar dari masa-masa sulit saat mendekati Dhea.


" Ya sudah selamat istirahat ya, aku juga sedang bersiap-siap untuk pulang."


" Oke terimakasih Dan."


" Salam untuk istrimu ya."


" Ya pasti, nanti aku sampaikan." Kata William.


Kemudian William segera menaruh handphonennya kembali, saat dia melihat ke arah Dhea, ternyata istrinya itu sudah terlelap duluan, sambil meringkuk. William mendekati Dhea, dibelainya rambut panjangnya. Ada senyuman di sudut bibir William melihat wajah polos Dhea yang sedang pulas.


" Kau pasti sangat lelah sayang, karena seharian tadi di pesta. Benar kata Daniel kita masih bisa melakukan malam pertama kita kapan saja. Tidurlah dengan nyenyak, dan semoga mimpi indah." Bisik William sambil mencium kening istrinya.


Kemudian William segera berbaring di samping Dhea, dan merengkuh tubuh Dhea dalam pelukannya, melindungi tubuh kurus istrinya itu, hingga mereka berdua terlelap.


Aduhhhhhh....maaf...malam pertamanya gagal, sebenernya author kurang pintar merangkai kata-kata untuk menceritakan hal itu, selain itu malu juga sama dunia kalau terlalu vulgar, karena misi author menulis novel ini ingin memberikan masukan yang positif buat pembaca sekalian bukan yang lain...tapi jangan khawatir...masih ada cara lain untuk membuat kalimat romantis untuk menggambarkan kemesraan malam pertama mereka berdua tanpa harus membuat pembacanya panas dingin, dan nanti bisa disimak di episode selanjutnya. Buat yang dibawah 17 tahun maaf ya...ini bukan wilayah kalian, lewatin aja hehehe.


Makasihhhhh...sekali lagi yang masih terus baca novel ini, author cuma minta tolong kasih vote ya biar author lebih semangat lagi berkarya. Seneng lho saat ada seseorang yang mengapresiasi karya kita walaupun itu bukan berbentuk materi semata tetapi sekedar ucapan saja.


Oh ya...yang sering bolak balik buka aplikasi ngecek sudah up apa belum? Sebenernya itu nggak perlu lagi, tinggal pencet aja tombol favorit yg dilingkarin merah itu, jadi waktu author udah up langsung otomatis ada pemberitahuannya. Tetep simak terus ya dan semoga nggak bosan dengan jalan ceritanya