
Setelah melakukan persiapan berhari-hari, akhirnya hari pernikahan itupun tiba. Pernikahan yang dilakukan di dalam gedung hotel milik William. Dhea amat cantik dibalut kebaya putih dan jilbab warna senada, sedangkan William sangat tampan memakai setelan jas warna putih juga dan peci yang menempel di kepalanya.
" Nak, ini hari terakhir tugas ibu dan ayah untuk mendampingimu. Setelah ini ganti William yang bertanggung jawab semuanya atas dirimu. Taatilah dia seperti kau menaati kami berdua." Kata ibu Dhea saat mendampingi Dhea yang sedang dirias oleh seorang penata rias di dalam salah satu kamar hotel.
" Iya bu doakan Dhea dan William agar pernikahan kami bahagia ya?"
" Iya nak doa ibu tidak pernah berhenti di setiap hembusan nafas ibu untukmu." Jawab ibu Dhea.
" Terimakasih ya bu, atas kasih sayang ibu dan ayah selama ini, yang selalu dengan sabar membimbing Dhea, mendidik Dhea hingga Dhea bisa melangkah ke jenjang pernikahan ini. Maafkan Dhea jika pernah membuat ayah dan ibu kecewa."
" Tidak sayang, kami berdua amat bersyukur memiliki kamu. Kamu adalah anak yang sangat baik dan membanggakan kami. Tetaplah menjadi Dhea yang seperti kami kenal ya. Takutlah kepada Alloh, karena dia maha segala-galanya, dan tetap sederhana. Jangan lupa dengan sesama, walaupun kau sudah memiliki seorang suami kaya raya, tapi jangan pernah lupa asal usulmu." Kata ibu Dhea panjang lebar.
" Pasti itu bu, Bukan harta yang jadi ukuran, tapi di dalam sini yang lebih penting." Kata Dhea sambil menunjuk dadanya.
" Ya nak semoga kau tetap memegang prinsip itu." Kata ibu Dhea sambil memeluk anak semata wayangnya itu, dan memandangnya di cermin yang ada di hadapan mereka.
" Kau cantik sekali nak hari ini. Pasti William akan terkagum-kagum melihatmu." Kata ibu Dhea.
" Ahhh ibu jangan membuatku besar kepala."
" Tidak sayang ibu tidak berbohong, wajahmu terlihat sangat berseri-seri, kau pasti amat bahagia."
" Ya bu, aku tidak menyangka akhirnya kami berdua bisa menikah setelah apa yang kami lewati bersama."
" Saat kalian sudah menikah nanti, dan datang sebuah masalah, ingatlah perjuangan kalian yang akan membuat hubungan kalian semakin kuat."
" Iya bu, insyalloh Dhea tidak akan melupakannya."
Della salah seorang sepupu Dhea tiba-tiba masuk ke dalam kamar.
" Dhe ayo kita keluar, kau harus duduk di samping William, karena sebentar lagi dia hendak mengucapkan ijab kabul." Kata Della.
Dhea segera menatap ibunya, ibunya menganggukan kepalanya sambil tersenyum.
" Berdoalah nak, semoga William nanti bisa lancar mengucapkan ijab kabul."
Dada Dhea tiba-tiba berdegub kencang. Sambil didampingi Della dan ibunya, Dhea keluar dari kamarnya melalui tangga yang menghubungkan kedua ruangan itu. Suara pembawa acara terdengar menggema di seluruh ruangan, memberitahukan bahwa mempelai wanita sedang berjalan turun menuju tempat akad nikah.
Semua mata menatap Dhea yang sedang berjalan pelan ke arah mereka. Tak terkecuali William, matanya tak berkedip melihat sosok cantik calon istrinya itu. Sebuah senyuman tersungging di sudut bibir William ketika mata mereka berdua beradu. Dada Dhea berdesir saat mengingat laki-laki itu sebentar lagi akan menjadi suaminya. Mata William seperti tidak bisa beralih dari sosok Dhea yang kemudian duduk di sampingnya. Bahkan penghulu sempat menggodanya dengan pura-pura batuk melihat dua insan yang sedang dilanda kasmaran dan saling bertatapan mesra itu. Sehingga kemudian Dhea tersadar dan menundukkan wajahnya karena malu.
Acara ijab kabul segera dimulai. Penghulu kemudian membuka kalimat pertamanya dengan khotbah nikah dan nasehat pengantin. Dhea tau sebenarnya William tidak paham dengan yang dikatakan oleh penghulu, namun pria itu sangat menikmati prosesi acara tersebut, dan terlihat serius mendengarkan setiap kalimat yang keluar dari mulut penghulu. Latihan yang dilakukan William bersama Feri selama beberapa hari ini, sepertinya membuat William sangat yakin akan kelancaran prosesi ijab kabulnya nanti. Benar saja, dengan begitu lancar William mengucapkan ijab kobul, disaksikan semua keluarga Dhea dan keluarganya yang datang langsung dari London.
Semua orang serempak mengucapkan kata 'sah' saat ijab kabul selesai diucapkan oleh William. Dhea langsung bisa bernafas dengan lega, dan mengucap syukur karena akhirnya semua berjalan sesuai dengan yang diharapkannya. William menatap mesra pada Dhea, kemudian tersenyum, Dhea membalas senyuman William. Dan dilanjutnya acara sungkeman yang menguras air mata.
Resepsi mewah diadakan di dalam hotel. Tamu berdatangan silih berganti.
" Istriku kau terlihat sangat menggoda." Kata William di telinga Dhea. Dhea merasa geli mendengar panggilan baru itu.
" Hei kenapa kau diam saja?" Tanya William pada Dhea.
" Tidak sayang, aku hanya tidak percaya bahwa aku telah benar-benar menjadi istrimu.
" Hemmm....kau pasti sedang memikirkan sesuatu yang tidak-tidak kan?" Tanya Dhea penuh selidik.
" Aku hanya memikirkan bagaimana caranya bisa cepat membuka kancing bajumu yang begitu banyak itu." Kata William sambil menggoda Dhea.
" Ihhhhh kau ini, jangan macam-macam ya." Kata Dhea sambil melotot.
" Hahaha...ingat aku adalah imammu!! Jika detik ini juga aku menggendongmu dan masuk ke dalam kamar kita, tidak akan ada yang bisa menghalanginya." Kata William sambil tersenyum nakal.
" Heiiii....jangan permalukan aku ya, lihat masih banyak orang di sini."
" Yaaa....aku tau sayang, sekarang aku berada di negaramu yang sangat menjunjung tinggi sopan santun."
" Ya dan kau harus membiasakannya mulai dari sekarang." Jawab Dhea.
Tak lama kemudian datang seorang wanita dan pria berjalan mendekati mereka berdua.
" Bram? Nyonya Christy", kata Dhea berteriak.
" Ya Alloh kalian datang!" Sembari memeluk nyonya Christy.
" Ya sayang akulah yang meminta mereka datang kesini untukmu", kata William.
" Sayang terimakasih banyak ya, kau sudah membuatku bahagia", Sembari menatap mesra pada William.
" Tapi ingat kau tidak boleh dekat-dekat dengan pria ini lagi ya ", gurau William sambil menunjuk Bram.
" Ah kau Will, siapa yang Berani mengganggu istri seorang konglomerat sepertimu? Bisa bisa aku pulang tinggal nama saja." Kata Bram.
" Hahaha aku hanya bercanda teman, terimakasih kau sudah mengenalkan wanita luar biasa ini kepadaku ya."
" Tapi jangan kau coba-coba menyakitinya, karena aku orang pertama yang akan mengambilnya jika kau berani menghianatinya."
" Hahahaha, tidak akan mungkin Bram, karena aku akan menjaganya 24 jam dari orang-orang berwatak jahat sepertimu." Jawab William, kemudian mereka tertawa bersama.
" Hei...heiii...kalian ini bahagia sekali sehingga melupakanku!!" Kata Mike yang tiba-tiba datang menghampiri mereka.
" Nah ini orang satu lagi yang siap menerima Dhea dengan tangan terbuka Will." Kata Bram.
" Ada apa rupanya? Kenapa bawa-bawa namaku?" Tanya Mike kebingungan.
" Ini Mike aku mengatakan pada William, jika dia menyia-nyiakan Dhea, aku siap menerimanya dengan tangan terbuka, dan kamu juga pasti berpikiran sama denganku kan?" Tanya Bram pada Mike.
" Hemmm kalau aku tidak perlu berbasa basi Bram, langsung saja aku bawa lari dia dan menikahinya." Jawab Mike.
" Hehhhh...sepertinya posisiku terancam dengan dua orang ini sayang?" Kata William sambil menatap Dhea.
" Makanya kau jangan macam-macam, masih banyak orang yang mengharapkanku." Kata Dhea bangga.
" Hahaha...kau tidak usah khawatir sayang." Kata William disambut tawa yang lain.