Something different

Something different
Pulang dari rumah sakit



" Sayang....kau ini bagaimana sih? untung semalam aku tidak bermain kasar, kalau tidak kan aku bisa menyakitinya." Kata William sambil memegang perut Dhea.


" Ihhhh apa sih sayang....?? jangan keras-keras, malu tuh terdengar oleh supir."


" Hemmmm....kau tidak mendengarnya kan??" tanya William, sambil menatap wajah sang supir dari spion yang ada di atas kursi kemudi.


" Ehhh tidak tuan, aku tidak mendengar apa-apa, tenang saja. Kalaupun aku mendengarnya, aku sudah cukup umur, jadi jangan khawatir aku melakukan tindakan di luar asusila." Jawab sang supir sambil menahan rasa gelinya, karena sebenarnya dia mendengar dengan jelas kalimat William tadi.


" Tuhhh sayang, dia tidak mendengarnya. Kalaupun mendengar, dia pasti akan langsung lupa. Benar begitu kan? sambil mengajak supirnya berbicara lagi."


" Ohhh iya tuan aku lupa. Bahkan aku juga lupa aku sudah makan atau belum hehe."


" Hemmm...kau ini, bilang saja kalau kau lapar."


" Hehe...bercanda tuan."


" Hiiihh...dasar, sifat bulemu yang cuek itu masih saja tersisa ya." Kata Dhea sambil mencubit pinggang suaminya


" Awwww...." Teriak William kesakitan, bukannya marah, tapi langsung memeluk istrinya dan mencium dahi sang istri.


" Aku bahagia sekali sayang. Terimakasih ya, sudah mau mengandung anakku, aku sangat mencintaimu."


" Ya sayang, aku juga sangat mencintaimu. Aku mau mengandung berapapun anak yang kau inginkan, selama Allah mengijinkan."


" Kau benar-benar istriku yang sholehah."


" Kau juga suamiku yang sholeh sayang."


" Oh iya, aku harus menelfon papa sekarang. Papa pasti sangat gembira mendengar berita ini." Kata William tiba-tiba, sembari mengambil handphonennya.


Dhea hanya tersenyum melihar reaksi kebahagiaan suaminya itu. Ada sebuah rasa syukur yangterselip di hatinya. Doa khusus dia panjatkan untuk calon buah hatinya itu, sambil mengusap perutnya.


Sebuah nada dering terdengar nyaring di seberang sana, tak berapa lama telfonpun diangkat.


" Hallo pah...!!" Sara William terdengar bersemangat sekali.


" Hallo Will....!"


" Ada apa nak? suaramu terdengar ceria sekali?"


" Pah...aku ada kabar gembira untuk papa..!!"


" Kabar gembira apa nak??"


" Pah....Dhea hamil pah...!!Dhea istriku hamil...!!" Kata William antusias.


" Dhea hamil?? benarkah nak??"


" Iya pah, benar. Ini aku masih berada di mobil, baru saja pulang dari rumah sakit."


" Ya Tuhannnn....!! akhirnya kau akan mendapatkan keturunan kembali nak...!!"


" Iya pah...!!"


" Kalau begitu, kita harus merayakan kebahagiaan ini...!! Besok malam kita adakan makan besar di rumah. Papa akan mengerahkan semua pegawai untuk menyiapkannya. Kau tidak keberatan kan?"


William lalu menutup speaker di handphonennya menggunakan telapak tangan, kemudian berbicara pada Dhea.


" Sayang, papa ingin mengadakan acara di rumah untuk merayakan kehamilanmu. Kau tidak keberatan?"


" Kenapa harus bertanya padaku sayang???"


" Ya kan aku takut kau tidak nyaman menghadirinya nanti."


" Tidak sayang....kebahagiaan papa adalah kebahagiaanku juga."


" Benarkah sayang??"


" Ya...katakan pada papa, kita pasti nanti hadir di sana."


" Hallo...Will, kenapa kau diam?"


" Ehh maaf pah, ini tadi aku sedang berbicara dengan Dhea, apakah dia tidak keberatan jika papa mengadakan pesta untuk kehamilannya."


" Lalu apa jawabnya?"


" Dia tidak keberatan pah. Silahkan jika papa ingin merayakannya, kami besok akan ke rumah papa."


" Ahhh...kenapa harus besok Will? sekarang saja kalian menginap di sini. Papa tidak sabar ingin bertemu istrimu." William lalu menatap Dhea lagi.


" Ada apa lagi sayang?"


" Papa ingin kita kita tidur di rumahnya lagi." Bisik William.


" Sini handphonennya." Kata Dhea meminta handphone yang sedang dipegang susminya, dan Willismpun memberikannya.


" Hallo papa."


" Hallo nak, bagaimana keadaanmu? kau sehat kan?"


" Tentu saja papa. Aku sehat, papa jangan khawatir ya."


" Bagaimana papa tidak khawatir? kau sedang hamil nak."


" Iya pah, aku tau yang papa khawatirkan."


" Nak, kemarilah!! papa ingin sekali bertemu denganmu."


" Iya pah, nanti kami ke rumah papa ya. Sekarang kami kembali ke apartemen dulu, sembari mengambil pakaian."


" Iya pah."


" Ya sudah hati-hati di jalan."


" Terimakasih pah." Jawab Dhea singkat, lalu kemudian telfonpun ditutup.


" Sayang, kita ambil pakaian di apartemen lalu langsung ke rumah papa ya?"


" Kita kan baru satu malam tidur di apartemen sayang."


" Tidak apa-apa sayang. Kasihan papa jika harus menunggu sampai besok untuk menunggu kita berdua."


" Hemmm...baiklah jika kau tidak keberatan."


" Sayang, tidak ada hal yang memberatkan demi untuk menyenangkan orang tua, jika kita bisa kenapa tidak?? Selagi mereka masih sehat, masih dapat mendampingi kita, puaskanlah membahagiakan mereka sayang, jangan sampai kita menyesal jika mereka sudah tidak ada lagi."


" Ya sayang....terimakasih ya, kau sudah menyayangi papa."


" Papamu adalah papaku juga ok?"


" Ya..ya..ya ok sayang hehehe."


Kendaraan terus melaju membelah jalanan yang ramai, menuju apartemen mewah milik William. Dan seperti biasa, saat mereka berdua masuk ke dalam apartemen itu, semua pegawai yang melihatnya langsung memberinya senyum ramah.


" Sayang kau duduklah saja, biar aku yang membereskan baju-baju kita. Kau tinggal memberitahukan saja apa yang harus dibawa ya." Kata William sambil membuka pintu kamarnya.


" Terimakasih ya sayang." William hanya mengangguk. Dia benar-benar ingin istrinya istirahat total, dan tidak mau kelelahan di saat usia kehamilannya masih sangat muda.


" Sayang....selama kehamilanmu ini, aku akan menyewa dokter khusus untuk terus mengawasi perkembangan kehamilanmu ini. Karena kau kan pernah mengalami eklamsia, jadi perlu penanganan khusus di kehamilanmu kali ini. Kau tidak keberatan kan?" Sambil tangannya terus memasukkan baju ke dalam koper.


" Tentu saja tidak sayang. Aku juga tidak mau lalai lagi seperti kehamilanku yang pertama, yang penting buah hati kita sehat sayang." Kata Dhea sambil memperhatikan suaminya.


" Apa ini sudah cukup sayang??"


" Aku rasa cukup. Misalnya ada yang kurang, kita kan bisa mengambilnya langsung."


" Hehehe...iya juga sih, kenapa bingung-bingung ya?"


" Kau ini belum jadi papa sudah pikun."


" Hahaha....." William hanya tertawa mendengar candaan Dhea.


" Okk...sudah siap semua, ayo kita berangkat!!!" Kata William sambil menyeret kopernya.


" Ohhh ya..." Kata William sambil tiba-tiba menghentikan langkahnya.


" Ada apa sayang?" tanya Dhea.


" Mulai sekarang tidak ada cerita naik tangga selama kehamilanmu ya."


" Maksudnya??"


" Mulai hari ini, jangan naik tangga lagi. Kamar kita di Indonesia pindah ke bawah lagi, nanti saat di rumah papa, kita juga tidur di bawah. Ok!!"


" Harus ya??"


" Sangat harus sayanggg..."


" It' s ok...yang penting jika ada sesuatu yang harus aku ambil di atas, kau bersedia mengambilkannya untukku Tuan William."


" Siaaapp...apa sih yang tidak untuk istriku yang sedang hamil ini." Dheapun hanya tersenyum.


Lalu mereka berdua berjalan ke arah lift, dan menghindari tangga yang biasanya mereka lewati.


Saat tiba di rumah mertuanya, ternyata papa William telah menunggu mereka sedari tadi.


" Hahaha...akhirnya kalian datang juga!!!" teriak papanya gembira.


" Papa kenapa ada di depan? papa kan jarang sekali duduk di ruang depan seperti ini?"


" Karena papa sudah tidak sabar ingin bertemu dengan kalian, khususnya bertemu menantu papa ini." Sambil memeluk Dhea, dan Dhea menyambut pelukan hangat papa mertuanya.


" Ahhh papa...kan baru dua hari yang lalu kita bertemu."


" Eh biar saja. Suka-suka papa dong Will!!"


" Hemmm...papa ini. Belum ada perubahan yang significant pada tubuh Dhea pah, dia masih langsing seperti kemarin, tunggu beberapa bulan dulu ya." Kata William sambil menjatuhkan diri di atas sofa empuk yang ada di dekatnya.


" Hahaha....biar saja sayang...kau ini ya." Kata Dhea yang sangat tau, bahwa William paham papanya itu sangat menyayangi istrinya.


" Ayo kita langsung makan ya. Tadi papa sudah meminta juru masak, membuatkan makanan yang bergizi untuk calon anakmu."


" Oh ya??"


" Iya nak."


" Terimakasih ya pah. Anda sangat perhatian dengan kami."


" Denganmu sayang, bukan denganku." Sambung William.


" Hahaha...kenapa kau jadi cemburu padaku sayang??"


" Itu belum apa-apa sayang. Setelah perutmu membesar, aku jamin papa akan terus memantaumu 24 jam seperti dulu."


" Hahaha...biarkan saja suamimu berbicara sendiri, ayo kita kesana saja, kita habiskan makan berdua ya nak!!" kata papa William sambil menggandeng Dhea.


" Heiii..tunggu aku!!" Teriak William sambil beranjak bangun dari tempat duduknya, menyusul mereka berdua.