
William menarik nafasnya panjang, mengumpulkan segala kekuatan dan daya upayanya untuk menyetorkan hafalan di depan orang tua Dhea. Terkesan lebay sih, baru hafalan segitu saja William merasa langit mau runtuh saja, dan menimpa kepalanya.Tapi memagg seperti itu yang dirasakan William, saat ini dia merasa ada kiloan batu sedang ditumpuk di atas kepalanya, begitu berat dan sangat melelahkan.
Akhirnya dia memberanikan diri untuk membuka bibirnya. Bacaan taawudz mulai diucapkan, pelan namun pasti, sembari dia berkonsentrasi agar hafalannya tidak begitu saja hilang dari ingatannya.
Feri sedikit lega saat bacaan taawudz selesai diucapkan oleh William. Cukup lumayan bagi seorang pemula yang belum pernah sama sekali melafazkan ayat suci seperti temannya ini, jadi wajar saja jika lidahnya sedikit kaku.
Satu persatu ayat mulai dilantunkan oleh William, suaranya yang terbata-bata karena belum bisa mengatur nafas secara benar, justru terdengar mirip seorang anak yang sedang belajar mengaji. Ayah Dhea mendengarkan dengan seksama. Feri terus menundukkan kepalanya, sembari bibirnya tidak berhenti berdoa untuk kelancaraan sahabatnya itu. Sudah cukup lumayan walaupun pelafazannya belum sempurna. Sebenarnya dada William tidak berhenti berdetak, namun semangatnya yang begitu besar memberikan tambahan energi pada dirinya sendiri. Akhirnya tibalah pada ayat yang terakhir, karena terburu-buru segera ingin menyelesaikannya, entah kenapa tiba-tiba William tersedak hingga terbatuk-batuk sampai mengeluarkan air mata.
" Minum dulu nak, minum dulu!!" kata ayah Dhea sambil memberikan teh yang dibuatkan oleh istrinya tadi.
Feri sebenarnya ingin tertawa tapi ditahannya, melihat wajah William memerah karena tersedak tadi, Feri menepuk-nepuk punggung temannya itu dengan telapak tangannya.
" Makanya jangan buru-buru seperti sedang mengejar angkutan umum saja. Aku tau kau ingin segera menyelesaikannya kan, makanya kemudian kamu tersedak?" kata Feri.
William tidak bisa menjawab, karena dia sibuk menepuk-nepuk dadanya, mungkin terasa sakit karena tersedak tadi.
Namun tiba-tiba ayah Dhea tertawa.
" Hahaha....dasar anak muda. Saya tau pasti dia begitu tegang, sehingga ingin cepat selesai, tapi malah jadinya begini." Kata ayah Dhea.
Feri hanya tersenyum sedangkan William cuma bengong melihat reaksi ayah Dhea.
" Hehehe....iya pak, sebenarnya saya tau dia sudah hafal, tapi mungkin dia begitu grogi saat mengucapkannya di depan bapak."
" Tapi usaha dia sudah lumayan. Dia mau berjuang demi untuk menunjukkan kepada saya tentang kesungguhannya itu."
" Jadi dia lulus pak?" tanya Feri.
" Untuk tahap pertama lulus nak Feri. Tapi masih ada tahap selanjutnya, nanti akan saya sampaikan setelah dia selesai mengucapkan sahadat."
" Iya pak, nanti saya sampaikan padanya."
" Oh iya, apakah William sudah mandi besar tadi?" tanya ayah Dhea.
" Saya tidak tau pak."
" Ohhh tidak apa-apa, nanti setelah prosesi pengucapan sahadatnya selesai, sampai di rumah suruh dia mandi besar, dan tolong ajarkan caranya juga doanya ya."
" Iya pak nanti saya beritahukan pada William."
" Kalau begitu kita makan dulu saja, tadi ibu sudah mempersiapkan semuanya." Kata ayah Dhea sambil berdiri.
" Ayo nak Feri jangan malu-malu." Ajak ayah Dhea.
" Baik pak." Kata Feri sambil berdiri.
William terlihat kebingungan.
" Will kenapa ayah Dhea pergi? apakah aku tidak lulus? lalu bagaimana kelanjutannya Fer? apa yang terjadi Fer?" William terlihat panik, sehingga memberondongkan beberapa pertanyaan pada Feri.
" Hehhhh....sepertinya ayah Dhea lebih mempercayakan anaknya kepadaku daripada kamu Will. Dia sepertinya kecewa dengan hafalanmu tadi."
" Hahhhh...benarkah Fer??? tidak! tidak mungkin!! kau kan sudah menikah!!! jangan main-main ya kau menginginkan gadisku?"
" Aku tidak menginginkannya, tapi ayah Dhea yang menginginkannya.
" Ahhhh tidak!! pasti ada yang salah ini, aku harus menemuinya. Seandainyapun dia tidak mau menerimaku sebagai menantunya, tapi aku tidak rela dia menikahkan Dhea dengan pria beristri sepertimu. Awas nanti kuadukan pada Mariyam, bahwa kau ingin menikah lagi." Kata William sambil buru-buru mengejar ayah Dhea yang berjalan ke dalam.
" Heiii...Will!! kau mau kemana? tunggu dulu!!" teriak Feri.
" Aku akan berbicara pada ayah Dhea agar membatalkan niatnya itu." Jawab William, tanpa mengacuhkan teriakan Feri.
" Waduhhh....nekat sekali dia."
William segera mendekati ayah Dhea yang telah siap duduk di depan meja makan. Tanpa basa-basi dia langsung berjongkok di samping kursi yang sedang diduduki ayah Dhea dan meraih tangannya.
" Pak kenapa William pak?Apa yang terjadi? kenapa dia berjongkok sambil memohon-mohon seperti itu?" tanya ibu Dhea yang duduk di sebelah suaminya, wajahnya kebingungan.
" Bapak juga tidak tau bu, tadi bapak cuma mempersilahkan mereka makan saja, tidak lebih. Hahhh...begini susahnya punya calon menantu bule, serasa hidup di planet lain saja, tidak tau apa yang sedang dia bicarakan." Gerutu ayah Dhea.
William masih saja merengek-rengek dengan bahasa yang tidak dimengerti oleh orang tua Dhea.
" Mana Feri pak?" Tanya ibu Dhea masih dengan seribu pertanyaan di kepalanya.
Tiba-tiba Feri masuk. Wajahnya sempat bengong melihat William sedang berjongkok di lantai di bawah ayah Dhea sambil mengucapkan permohonannya.
" Will, ayo berdiri!! apa yang sedang kau lakukan???" tanya Feri sambil menarik tangan William untuk segera berdiri.
" Tidak Fer, aku tidak akan berdiri sebelum ayah Dhea membatalkan rencananya untuk menikahkan Dhea dengan kamu."
" Heiii...dasar bule stres, aku tadi hanya bercanda!!! kau anggap kata-kataku sungguhan???"
" Apa??? jadi kau mengerjaiku lagi???" Kata William sambil kemudian berdiri.
" Mana ada orang tua yang mau anak perempuannya dimadu Will??? hehhhh....pria menyedihkan, aku pikir kau ini pintar, ternyata aduhhhh!!" Kata Feri sambil memukul dahinya sendiri.
Orang tua William masih kebingungan dengan kejadian yang baru saja terjadi.
" Ayo duduk nak!! tenangkan William dulu" kata ayah Dhea.
" Terimakasih pak." Jawab Feri.
William mengikuti gerakan Feri, wajahnya terlihat memerah karena menahan malu.
" Sialan kau Fer, awas nanti di rumah ya." Kata William sambil berbisik sembari menginjak kaki Feri.
" Awwwww.....!!" teriak Feri kesakitan.
" Ada apa nak???" tanya ibu Dhea terkejut.
" Oh tidak pak kaki saya terantuk kaki meja bu!!" jawab Feri sambil meringis, sebenarnya dia ingin membalas, tapi ternyata William telah mengantisipasi dan menjauhkan kakinya dari jangkauan kaki Feri, sehingga dia bisa memberikan senyuman kemenangannya pada Feri.
" Rasakan pembalasanku!!" kata William dalam hati.
" Ada apa sebenarnya nak Feri? kenapa William bersikap seperti tadi???" tanya ayah Dhea.
" Ohhh maaf pak, sebenarnya saya hanya sedang mencandainya saja. Saat bapak masuk ke dalam tadi, dia kan tidak tau bahwa bapak menyuruh kami makan, dan dia bertanya kenapa bapak meninggalkan kami berdua. Saya jawab saja, bahwa bapak kecewa dengan hafalannya, dan tidak sudi menikahkan Dhea dengannya, dan memilih menikahkannya dengan saya. Saya tidak menyangka bahwa dia senekat ini memohon pada bapak untuk tidak menikahkan Dhea dengan saya. Begitu pak, maafkan kami ya."
" Hahaha...William William, ternyata cintanya pada Dhea membuat akal sehatnya hilang." Kata ayah Dhea.
" Kalau Dhea tau, pasti anak itu akan terbahak-bahak melihat kebodohan kekasihnya ini nak Feri." Sambungnya lagi.
" Hehehe....maaf pak, bu. Tapi bapak dan ibu jangan salah paham, dia itu sebenarnya bukan orang bodoh, hanya saja akhir-akhir ini dia mendadak amnesia dan lupa bahwa sebenarnya dia pandai." Jawab Feri sambil tersenyum.
" Hahaha tentu tidak nak Feri, kalau dia bodoh mana bisa jadi pengusaha sukses. Cinta memang bisa merubah seseorang jadi aneh. Tapi dengan begitu kami jadi tau bahwa dia benar-benar mencintai Dhea, sehingga rela senekat itu memohon pada suami saya." Kata ibunya.
" Iya bu, dia sudah bercerita banyak pada saya pengorbanannya untuk mendapatkan tempat di hati Dhea, hingga mengantarkan dia kemari untuk menemui bapak dan ibu."
" Ya sudah silahkan makan dulu, lupakan saja kejadian tadi ya. Ayo jangan sungkan-sungkan." Kata ayah Dhea kemudian mencoba mencairkan suasana kembali.
" Hei bule aneh!! ayo kita makan, jangan berbuat bodoh lagi ya!!" kata Feri pada William.
" Hehhhh...kau itulah yang membuatku terlihat bodoh Fer." Gerutu William.
" Hahaha...kapan lagi bisa mengerjai bos kaya raya sepertimu." Jawab Feri sambil tersenyum.
" Sialan awas kau ya." Gumam William.
Hari ini satu dulu ya...author lg liburan soalnyaππππππ