Something different

Something different
Pergi ke mall 2



Seperti biasa semakin siang pengunjung mall semakin ramai. Meskipun belum tentu pengunjung itu memiliki tujuan untuk membeli barang semua, tidak sedikit juga yang hanya sekedar cuci mata dan refreshing. Padahal justru mereka salah, cuci mata dan refreshing di dalam mall bukannya membuat otak kita kembali segar saat kembali ke rumah, namun justru semakin runyam, karena barang apapun yang kita lihat di dalam sana membuat mata kita tidak bisa berpaling. Bukan hanya yang memiliki uang saja yang tiba-tiba kalap hingga kemudian menguras seluruh isi kantong dengan tanpa sadar, namun juga yang tidak memiliki uang karena hanya bisa melihat sambil membayangkan kapan bisa memiliki barang itu.


Dhea lalu masuk ke dalam salah satu stand pakaian pria branded.


" Sayang kita beli kemeja untukmu yuk!" katanya sambil menggandeng tangan suaminya. Dan Williampun mirip seperti mainan yang dikendalikan oleh remote control, sekali tekan dia akan mengikuti semua perintah yang diberikan padanya.


Dhea asyik memilih-milih pakaian untuk suaminya. Diambil satu dua buah kemeja warna biru dan abu-abu muda, lalu ditempelkan di tubuh William sambil terus mengamat-amati.


" Sayang warna dan model ini sepertinya sangat cocok di tubuhmu." Kata Dhea sambil menyodorkan yang berwarna abu-abu.


" Apapun pilihanmu untukku, aku yakin pasti bagus sayang." Kata William tanpa mau ambil pusing dengan warna baju yang dipilihkan istrinya, walaupun sebenarnya dia sangat tau bahwa model pakaian pria itu tidak serumit seperti model baju wanita. Dan model yang dipilihkan istrinya tersebut sudah menumpuk di lemari bajunya. Namun demi menyenangkan istrinya, dia mengatakan kalimat tersebut.


" Kau coba ya." Kata Dhea lagi sambil menyodorkan baju yang dipegangnya pada William.


" Ok." Lagi-lagi William mengiyakan permintaan istrinya. Sambil membawa baju itu, William lalu masuk ke kamar pas. Tak lama dia sudah keluar lagi. Memutar badan di depan istrinya.


" Wowww...kau keren sekali sayang!!" kata Dhea sambil menyentuh pakaian yang membalut tubuh William.


" Heiiii...apa kau baru tau? Sssttt tanpa berpakaianpun aku sudah terlihat keren sayang." Kata William sambil membisik di telinga Dhea.


" Iiiihhhh....kau genit sekali sih." Kata Dhea sambil mencubit pinggang William. William hanya mengelak, lalu menangkap jemari Dhea, kemudian mencium jemari itu. Pramuniaga yang memperhatikan mereka berdua hanya tersenyum sinis saja melihat tingkah pembelinya.


" Hehhhh...seperti dunia milik mereka berdua saja. Mentang-mentang punya kekasih bule tampan saja, sok mesra sekali mereka. Aku juga kan ikut meramaikan jagat peradaban dunia, tapi kenapa mereka seolah-olah hanya tinggal berdua di sini. Heiiii...atau jangan-jangan wanita itu hanya simpanan bule tersebut ya??? kan banyak bule yang menikah kontrak dengan wanita di sini." Sang pramuniaga mulai berfantasi dengan segala asumsinya, antara rasa penasaran ingin tau status mereka berdua, iri dengan kemesraannya, dan yang lebih menjengkelkan adalah rasa cemburunya melihat bule tampan yang begitu mempesona tapi sudah memiliki gandengan.


" Ok bungkus yang ini ya sayang?" Kata Dhea.


" Ya, aku buka dulu ya?" kata William.


" Iya sayang." Jawab Dhea. Lalu William segera masuk ke kamar pas kembali.


" Pacarnya ya mbak?" tanya pramuniaga tersebut karena begitu penasaran dengan hubungan mereka berdua.


" Bukan mbak kenapa?" tanya Dhea balik bertanya.


" Kok kelihatannya mesra sekali? saya kira pacarnya."


" Bukan pacar saya mbak, tapi tepatnya mantan pacar saya." Jawab Dhea coba berteka teki dengan kalimatnya.


" Hehehe...iya mbak dia mantan pacar saya, tapi sudah jadi suami. Dan sekarang aku sedang mengandung anaknya." Kata Dhea bangga, menceritakan semuanya pada pramuniaga yang kepo itu.


" Oooohhhh suami istri. Maaf ya mbak saya kira masih pacaran."


" Ohhhh tidak apa-apa mbak." Jawab Dhea lagi.


Tak lama William keluar sambil membawa pakaian yang dicobanya tadi. lalu menyerahkannya pada Dhea.


" Mbak yang ini saja ya." Kata Dhea tanpa melihat harga terlebih dahulu pada baju branded yang baru dipilihnya itu, karena nominal bukanlah masalah untuknya. Pramuniaga itu lalu membuatkan nota pembayaran, dan diserahkan ke Dhea.


Setelah membayar sejumlah uang ratusan ribu rupiah, William dan Dhea kembali melenggang santai keluar dari stand tersebut sambil bergandengan tangan. Serasa berjalan di pinggiran pantai sambil menikmati deburan ombak dan semilirnya angin yang menerpa wajah dan tubuh mereka berdua. Saat sedang berjalan seraya bercanda berdua, tiba-tiba saja suara yang sangat tidak asing di telinga Dhea terdengar. Terlebih dengan panggilan khasnya itu, tidak lain dan tidak bukan, dia adalah laki-laki yang pernah mengisi hatinya.


" Rei????" Gumam Dhea sambil menengok ke arah sumber suara tersebut. Seorang pria mendekati mereka berdua. Mendengar nama Rei disebut oleh istrinya William spontan ingat nama itu. Nama orang yang fotonya pernah dikirimkan oleh salah satu orang suruhannya saat membuntuti Dhea bersama mantannya itu pergi berdua. Entah kenapa tiba-tiba William segera bertindak seperti seorang bodyguard yang siap melindungi orang yang sedang dijaganya, dengan seluruh jiwa dan raganya. Tangannya yang awalnya hanya memegang jemari Dhea, tiba-tiba dilepasnya dan berpindah mengalungkannya di pundak Dhea, serta sedikit menarik tubuh istrinya merapat ke badannya. Hemmmm sepertinya tindakannya cukup berlebihan jika menyebutnya seperti seorang bodyguard, mana ada seorang bodyguard melakukan adegan memeluk dengan mesra segala.


Dhea spontan menengok pundaknya sendiri, melihat tangan suaminyanya begitu erat memeluknya, bahkan tubuhnya seperti terhimpit oleh tubuh besar suaminya.


" Ihhhhh...apa-apaan sih ini bule? kenapa dia menarik tubuhku sampai terjepit tubuhnya seperti ini. Hemmmmm....pasti dia sengaja ingin sok mesra di depan Reihan...hehehe...awas saja, akan aku kerjai dia!!" Bathin Dhea sambil tersenyum dalam hati.


" Dhei????" Kata Reihan setelah posisinya dekat dengan Dhea dan William.


" Rei???? kau di sini juga ya?"


" Iya Dhei ada yang ingin aku beli." Jawab Reihan.


" Ehhh ini suamimu ya?"


" Iya, lho bukankah kalian pernah ketemu ya?" Tanya Dhea bingung, karena dulu William pernah bercerita, katanya pernah menemui Reihan.


" Hahaha...bertemu bagaimana? Kau menikah saja tidak mengundangku, bagaimana aku bisa tau suamimu." Jawab Reihan. Dhea semakin bingung. Karena kata William saat menemui Reihan dulu, dia hanya ingin menyampaikan undangan pernikahan mereka berdua pada mantan kekasihnya itu. Tapi pada waktu itu Reihan memang tidak menampakkan batang hidungnya sedikitpun di pesta pernikahan mereka. Dan saat itu Dhea berpikir bahwa Reihan memang tidak ingin datang. Dhea langsung tersadar dari lamunannya dan segera mengenalkan William pada Reihan.


" Sayang, ini Reihan........"


" Teman SMU Dhea." Kata Reihan memutus kalimat Dhea yang terlihat ragu ingin diucapkannya, sembari mengulurkan jemarinya. Reihan amat tau dan bisa langsung membaca situasi tersebut. William segera melepas pelukannya dan menyambut uluran jemari Reihan. Namun setelah itu posisi tangannya kembali lagi ke pundak Dhea. Dan kali ini lebih parah lagi, tangan kiri suaminya itu tiba-tiba saja sudah terselip ke belakang pinggangnya sendiri, dan menarik tangan Dhea yang kiri dan melingkarkannya di pinggang William sambil tangan kiri William memeganginya.


" Ihhhhh apa-apaan sih sayang? Cemburu sih cemburu, tapi nggak harus kayak gini juga dong. Apa kau tidak tau kalau aku jadi susah bergerak? Tanganmu itu juga kan berat, kau pikir pundakku tidak sakit menahan beban tanganmu ini, kenapa terus di pundakku seperti ini sayaaaaanggg ihhhhh???" Dhea seolah sedang mentransfer suara hatinya kepada sang suami. Namun mungkin karena terlalu ramainya suasana di mall, sehingga sinyal bathin diantara mereka terhalang oleh noise yang berseliweran di kanan kirinya. Bukannya merenggangkan pelukannya, William malah justru semakin mempereratnya. Sambil sok senyum-senyum ramah pada Reihan.