
Hari ini Dhea malas sekali pergi ke kampus, makanpun seperti tidak berselera, apalagi setelah semalaman dia menangis akibat kesal dengan William. Dhea memandang wajahnya di cermin, matanya begitu sembab sisa menangis semalam.
Diambilnya handpone di atas meja riasnya, kemudian dia menelfon Bram sahabatnya.
" Hallo Dhe?" Jawab Bram di telfon.
" Hallo Bram."
" Ada apa kau menelfonku pagi pagi Dhe?"
" Bram, hari ini aku tidak ke kampus, besok aku pinjam catatanmu ya?"
" Kenapa Dhe? Kamu sakit ya?"
" Tidak Bram, aku hanya sedang malas. Semalam aku tidak bisa tidur, hari ini aku ingin tidur seharian." Jawab Dhea.
" Oh iya Dhe, tenang saja nanti akan kucatatkan yang rapi untukmu Dhe."
" Ya..awas kalau tulisanmu seperti benang kusut, kau bisa membuat mataku jadi rabun mendadak karena membaca tulisanmu."
" Hahaha sialan kau Dhe."
" Ya sudah Bram, mataku sangat berat aku ingin tidur dulu."
" Ok Dhe selamat tidur ya?"
"Ya Bram", jawab Dhea singkat. Lalu dia segera menutup telfonnya.
Setelah menelfon Bram, kemudian diapun menelfon Hendrik, supir William.
" Selamat pagi nona?"
" Ya selamat pagi Hendrik."
" Ada apa nona?" Tanya Hendrik kepada Dhea.
" Maaf Hendrik hari ini aku tidak pergi ke kampus, aku sedang tidak enak badan." Kata Dhea berbohong.
" Kalau begitu saya antarkan anda ke dokter saja nona, bagaimana?"
" Tidak usah Hendrik, aku hanya ingin istirahat di dalam kamarku saja, kau tidak perlu repot-repot mengantarku."
" Benarkah nona? Aku hanya tidak ingin terjadi apa apa denganmu saja."
" Ya Hendrik aku paham. Tapi tenanglah, setelah bangun tidur nanti pasti badanku kembali segar."
" Ya sudah nona, jika perlu apa apa segeralah menelfonku."
" Ya Hendrik terimakasih sebelumnya."
" Sama sama nona."
Kemudian Dhea merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang sembari menghidupkan musik dari mp3nya. Pikirannya menerawang jauh entah kemana.
" Ada apa denganku? Mengapa aku begitu marah dengannya? Ya Alloh apakah aku benar benar jatuh cinta padanya? Tapi aku sangat malu mengakuinya." Kata Dhea dalam hati.
Lalu Dhea menutupi wajahnya dengan bantal, berusaha mencoba menghilangkan bayangan William yang sedang bermain main di pelupuk matanya. Tak lama kemudian dia tertidur kembali.
" Ting tong, ting tong, ting tong." Bunyi bel kamar Dhea menggema di kamarnya sangat nyaring, disertai ketukan pintu yang menambah berisik telinga Dhea seperti anak kecil yang sedang bermain main, dan menekannya tanpa henti.
Dhea terkejut, dan spontan terbangun dari tidurnya. Diliriknya jam dinding kamarnya, pukul 09.30.
" Siapa orang yang memainkan belku? Apakah ada orang iseng?" Bathin Dhea.
Dhea segera berdiri dan mencari tau siapa yang berada di depan kamarnya itu.
" Heiiii siap....!!"
Suara Dhea tertahan. William, pria itu berada di depan kamar Dhea dan masih lengkap dengan membawa serta kopernya.
" Baru kemarin siang aku mengobrol di telfon dengannya, kenapa tiba tiba dia berada disini? Jangan jangan dia membohongiku, dan sebenarnya dia tidak pergi kemana mana." Kata Dhea dalam hati.
" Sayang kau tidak apa apa kan? aku baru saja tiba dari bandara lalu menelfon Hendrik, dan katanya hari ini kau tidak ke kampus karena tidak enak badan." Tanya William terlihat panik.
" Tidak, aku tidak apa apa ". Kemudian Dhea segera masuk ke dalam.
" Masuklah", kata Dhea. Mimik mukanya masih tetap tidak bersahabat.
William segera membuka pintu kamar Dhea lebar lebar, lalu masuk ke dalam, kemudian duduk di depan Dhea. Dhea duduk sambil melipat kedua tangannya di dada, wajahnya tidak mau memandang William sedikitpun, walaupun sebenarnya dia amat rindu dengan laki laki yang sedang duduk di depannya itu, namun rasa marah semalam belum juga reda.
" Heiii sayang kenapa denganmu? Matamu begitu sembab? Apakah kau habis menangis?"
" Eh ehm tidak aku tidak menangis, hanya semalam kemasukan debu." Jawab Dhea berbohong.
" Hehehe benarkah sayang?"
" Bukan karena kau cemburu kemarin?"
Kata William sambil menatap Dhea seraya menggodanya.
" Kau percaya diri sekali ", jawab Dhea ketus.
" Sayang kenapa kau tidak mempercayaiku? lihatlah buat apa aku susah susah membawa 2 koperku kemari dengan naik taksi, jika hanya ingin membohongimu. Apa kau ingin melihat isi pakaian kotorku di dalam koper ini?" Goda William.
" Tidak..tidak...!! Pasti bau asam bajumu akan menyebar ke seluruh ruangan ini!!" Jawab Dhea sambil menutup hidungnya.
" Aku memang sengaja meninggalkan pekerjaanku di sana, karena aku sangat panik saat tau kemarin kau begitu marah ditelfon, dan hpmu tidak bisa kuhubungi. Makanya aku langsung pulang ke sini menemuimu."
" Sungguh?"
" Ya Dhe, kau itu amat berharga buatku!"
" Sekarang?"
" Sekarang, besok, lusa, dan hari hari yang lain."
Wajah Dhea memerah mendengar kata kata William.
" Kau sangat cantik Dhe jika wajahmu tersipu malu seperti itu ", kata William menggodaku.
" Hhhhhh kau jangan coba merayuku ya. Lalu wanita itu siapa?" Jawab Dhea masih penasaran.
" Dia itu istri teman bisnisku sayang, jika kau tidak percaya, sekarang aku bisa menelfonnya dan kau boleh berbicara langsung dengannya."
" Kau tidak berbohong?"
" Iya Dhe, jika aku berbohong buat apa aku pulang buru-buru seperti ini dan ingin menjelaskan kesalahpahamanmu."
" Ya, kalau begitu aku percaya."
" Hehhhh...susah ya punya kekasih cemburuan." Gerutu William sambil melirik Dhea.
" Hei siapa yang cemburuan?" Jawab Dhea ketus.
" Ehhh hehehe bukan siapa-siapa, aku yang cemburuan sayang, aku cemburu sekali saat jauh darimu, dan takut kau akan berpaling dariku."
" Hmmm apa bukan sebaliknya?"
" Ya ya ya..aku tau pasti sulit sekali membangun kepercayaan padaku. Tapi aku akan berusaha terus untuk membuatmu percaya bahwa aku benar-benar mencintaimu."
" Buktikan saja jika kau memang serius dengan kata-katamu itu."
" Apakah itu berarti kau menerima cintaku Dhe?"
" Eh enak saja, siapa bilang aku menerimamu? Aku hanya bilang agar kau membuktikan kata katamu, itu saja!!"
" Yaaa...aku pikir kau menerimaku."
Wajah William bersungut sungut. Sedang Dhea tertawa dalam hati melihat reaksi laki laki di depannya ini. Selama hidup baru kali ini ada seorang laki laki mau berkorban begitu besar padanya, walaupun dia sempat benci sekali karena William telah menodainya, namun kesungguhan sikap yang ditunjukkannya itu mampu membuat hatinya perlahan luluh.
" Sayang, aku punya sesuatu buatmu." Kata William sambil membuka koper miliknya.
Kemudian dia mengeluarkan sebuah boneka beruang yang amat manis pada Dhea.
" Ini untukmu sayang."
" Wow lucu sekali, terimakasih Will!!" Jawab Dhea gembira.
" Darimana kau tau aku suka dengan boneka beruang?"
" Aku tau semua tentangmu Dhe, bahkan jadwal datang bulananmupun aku tau." Jawab William sambil tersenyum.
" Ishhh kau ini menyebalkan!"
" Maaf boneka ini tidak sebesar yang dulu, karena koperku tidak muat untuk membawanya."
" Tidak apa Will, dulupun kau sudah pernah memberiku yang lebih besar dari ini." Jawab Dhea.
" Tapi dulu saat menerimanya kau tidak segirang sekarang sayang?"
" Ya itu dulu, karena aku sangat membencimu!"
" Dan sekarang kau mulai mencintaiku begitu?"
" Ihhhhh diamlah kau, atau aku akan marah lagi!" Ancam Dhea.
" Hahaha jangan sayang, aku tidak sanggup jika kau mendiamkanku, apalagi marah denganku. Hindupku pasti akan sangat menderita."
" Sudahlah, kau sangat berlebihan." Jawab Dhea, masih dengan sikapnya yang sok jual mahal.
" Ya sudah Dhe aku pulang dulu ya, aku ingin istirahat dulu di rumahku."
" Secepat itu Will?" Tanya Dhea polos.
" Hmmm apakah kau masih merindukanmu sayang? Atau kau ingin aku istirahat di kamarmu?" Goda William.
" Ihhhhh enak saja, pulang sana, aku tidak mau kau mengotori tempat tidurku dengan bau keringatmu itu." Kata Dhea sambil berdiri.
" Hahaha...aku hanya bercanda sayang. Ya sudah sampai nanti malam ya sayang." Kata William sambil berjalan keluar.
Dhea mengangguk dan mengantarkan William hingga di depan kamarnya, kemudian menutup pintunya kembali dengan rapat.