Something different

Something different
Kejujuran William



William semakin memacu kendaraannya dengan kencang. Dhea terus saja menangis meratapi nasibnya. William tidak mengeluarkan sepatah katapun, matanya tajam menatap ke depan, walaupun hatinya sangat teriris.


Tak lama kemudian William menghentikan mobilnya di sebuah pinggiran pantai. Pantai yang sore itu tidak terlalu banyak pengunjungnya karena hari ini bukanlah hari libur.


William memarkirkan mobilnya tidak jauh dari bibir pantai yang berpasir putih itu. Lalu dia segera turun dan menghampiri Dhea yang ada di kursi belakang.


Lalu William membuka ikatan tangan Dhea, Dan....


" Plak.....", Dhea menampar pipi William begitu keras.


" Kau jahat William, kau anggap aku apa sehingga memperlakukan aku seperti ini ?" Kata Dhea sambil mendorong tubuh William dan berlari keluar dari mobil.


" Dhea kau mau kemana ? Kau tidak tau jalan di daerah sini, kau bisa membahayakan dirimu sendiri ", teriak William sambil mengejar Dhea.


" Aku tidak perduli, yang penting aku bisa pergi jauh dari kamu ", teriak Dhea lagi sambil terus berlari.


William terus mengejarnya, hingga tiba tiba Dhea terjatuh akibat kakinya menyandung batu yang tidak sempat dilihatnya.


" Awww....", jerit Dhea sambil menopang tubuhnya dengan kedua tangan.


" Dhea...!!!!" William sangat terkejut melihat Dhea terjerembab di depannya, dan dia langsung menghampiri untuk membantunya berdiri.


" Lepaskan tanganmu, aku bisa berdiri sendiri ", kata Dhea sambil menepis tangan William di lengannya.


" Maaf Dhe, aku hanya ingin membantu ".


" Tidak !! Pergi dari hadapanku !! Kenapa kau mengganggu hidupku terus Will ? Kenapa kau tidak membiarkan aku tenang ? kenapa Will ? Kenapa ?" Jerit Dhea air matanya kembali tumpah, dia tidak jadi berdiri bahkan duduk bersimpuh sambil menutupi kedua wajahnya.


William sangat sedih melihatnya seperti itu, tidak pernah ada niat sedikitpun di hatinya untuk menyakiti ataupun mengganggu kehidupan gadis di depannya. Cintanya yang begitu besar membuat dia tidak bisa mengendalikan diri, bahkan kehadirannya justru dianggap sebagai pengganggu oleh Dhea.


William perlahan merunduk dan duduk di depan Dhea, sembari memegang lutut dengan kedua tangannya.


" Dhe...kamu tau tidak ? semenjak kamu hadir, semangat hidupku kembali bangkit, aku menemukan kembali jati diriku yang dulu sempat hilang, aku bisa ceria kembali melewati hari hariku tidak seperti dulu saat sebelum bertemu kamu ", kata William lirih.


Tatapannya jauh menerawang di tengah lautan, menyaksikan ombak yang semakin lama semakin besar menggulung ke tepian, dan kemudian terpecah hingga menjadi buih dan menghilang.


" Aku tidak tau kenapa ? Setiap saat yang aku inginkan adalah selalu di dekat kamu, aku bahkan sering melakukan hal hal di luar kendaliku untuk memaksamu bisa bersamaku. Dan kamu tau ? aku bahagia sekali saat itu, walaupun sekarang ini hatiku begitu sakit melihatmu menangis di hadapanku. Namun aku tidak kuasa untuk menolak rasa yang besar ini kepadamu, aku tidak bisa menguasai diri untuk tidak bertemu denganmu Dhe ".


William menundukkan kepalanya, hatinya begitu pilu, begitu banyak hal yang sudah dilakukannya agar Dhea bisa jatuh hati padanya, tapi justru itu membuat Dhea semakin membencinya.


Perlahan Dhea mengangkat kepalanya, dia benar benar terkejut dengan apa yang dikatakan laki laki di hadapannya ini barusan. Dhea melihat William tertunduk lesu, entah apa yang dipikirkannya, Dheapun tidak bisa menebak.


Perlahan William mengangkat kepalanya, Dhea melihat mata laki laki itu memerah.


" William....??? matanya begitu merah, apakah dia menangis...??? William menangis untukku...??? Ah tidak, pasti dia hanya berpura pura, bukankah dia pria yang pandai merayu wanita ? pasti apapun akan dilakukannya untuk mendapatkanku. Tapi kenapa sampai sejauh ini dia melakukan semua untukku ? Hingga menjelang hari pernikahannyapun dia justru ingin bertemu denganku ?" Kata Dhea dalam hati.


Dhea tetap bersikeras bahwa semua yang dilakukan William hanyalah kepura puraan, namun hati kecilnyapun sebenarnya sedikit ragu tentang kesungguhan laki laki itu.


" Dhe..." Panggil William lagi.


Dhea mengalihkan pandangannya ke wajah William, wajah laki laki yang beberapa bulan terakhir ini muncul di dalam kehidupannya, dan tiba tiba ingin mengatur semua hal tentangnya.


" Kau boleh percaya dan boleh juga tidak ini semua hakmu ".


" Semenjak aku mengenalmu, aku tidak pernah lagi mencari wanita lain apalagi berhubungan badan seperti yang sudah sudah, dan yang terakhir adalah Paula, itupun satu bulan yang lalu, dan aku melakukannya dalam keadaan mabuk, bahkan aku tidak sadar saat aku bersamanya, dan setelah sadar aku langsung mengusirnya. Yang aku pikirkan saat itu adalah, bagaimana aku bisa bertemu denganmu setiap hari ? bagaimana caranya aku bisa ada di sampingmu setiap hari ? Bahkan setiap selesai aku mengantarmu, bagiku waktu begitu lama berputar, rasanya aku tidak sabar untuk menunggu esok hari dan bisa melihatmu kembali ".


Dhea tetap tidak bergeming mendengar cerita William.


" Dhe....aku memang seorang pria yang kasar dan tidak tau caranya untuk menjadi laki laki lembut yang bisa mengambil simpatimu agar tertarik padaku. Karena yang aku tau selama ini, setiap wanita yang kudekati begitu mudahnya menyerahkan diri hanya dengan iming iming sejumlah barang mahal padanya, dan saat berhadapan denganmu aku begitu kewalahan, dan tidak tau lagi caranya untuk bisa mendapatkanmu. Dan bodohnya aku hanya tau satu cara yaitu memaksamu, padahal itu justru membuatmu semakin jauh dariku ".


Dhea tidak bisa menjawab kalimat satupun yang keluar dari bibir William, wajahnya memandang kaku pada pria di depannya itu. Wajah William terlihat suram, ada kantung di bawah matanya,


" Mungkin sudah berhari hari dia tidak tidur, pasti dia sedang memikirkan pernikahan yang tidak diinginkannya itu ", kata Dhea dalam hati.


" Dhea ajari aku....ajari aku bagaimana cara bisa membuatmu luluh ? Apakah aku harus bersimpuh di hadapanmu saat ini ?" kata William tiba tiba.


Wajahnya berubah seperti orang kebingungan. Kemudian dia menengadahkan kepalanya ke atas, dan menjerit sekuat kuatnya ia seperti ingin melepaskan beban yang ada di pundaknya.


" Aaaaarggggggg....". Jerit William. Kemudian lemah dan kembali menundukkan kepalanya, lalu menelungkupkannya di atas kedua lututnya.


Dhea menatap iba dengan pria di depannya ini. Sepertinya dia memang merasa sangat berat menghadapi hari hari bersama Paula nantinya.


" Will...kamu tidak perlu melakukan apapun untuk mendekatiku ".


" Maksudmu kau tidak menyukaiku ?"


" Tidak Will, aku tidak memungkiri tidak ada satupun wanita yang tidak tertarik melihatmu, apalagi jika tau asal usulmu. Tapi aku tetap tidak bisa bersamu. Sudah kujelaskan dari dulu kan ? kita berbeda, agama kita jadi penghalang besar untukku. Lebih baik kita hindari mulai sekarang, daripada kau terus berusaha mendekatiku kemudian kita tidak bisa bersatu, bukankah itu akan lebih menyakitkan ?"


" Tapi aku bisa menerima perbedaan itu Dhe !!"


" Tapi aku tidak Will !!"


" Akan dosa besar jika aku melanggar itu semua. Berarti aku sudah mengorbankan Tuhanku dan memilih mahluk ciptaanNya dibanding Dia ".


" Will sudahlah, hentikanlah...lebih baik kau belajar untuk mencintai Paula. Dia akan menjadi istrimu ".


" Rasanya aku tidak akan mungkin bisa mencintainya Dhe ".


" Belajarlah Will, belajarlah...Didiklah dia sesuai dengan ajaran yang benar, jadilah suami yang baik yang bisa membimbingnya, aku rasa kau akan bahagia nantimya ".


" Hhhhh....padahal aku baru saja berpikir untuk merubah semua masa laluku yang buruk bersamamu Dhe. Sebelum ini hubunganku dan kamu sudah hampir membaik, namun hadir Paula yang mengacaukan semuanya. Kau mengajariku banyak hal, tentang apa artinya sebuah hidup, tentang menghargai sebuah perbedaan, dan juga menghargai sebuah cinta. Namun semuanya benar benar akan berakhir Dhe, besok aku akan menikah dengan Paula, dan aku tidak tau bagaimana hidupku selanjutnya, apakah akan lebih baik dari sekarang ataukah justru lebih buruk ".


" Tidak Will, semuanya belum berakhir. Kau bisa memulainya lagi dengan Paula, dia pasti bisa mendampingimu dengan baik. Karena dia mencintaimu dan tidak sepertiku ".


" Tidak Dhe, dia tidak mencintaiku, tapi dia hanya mencintai uangku ".


" Cinta bisa tumbuh jika kalian sering bersama, percayalah padaku ".


William terdiam, hati kecilnya benar benar tidak terima oleh semua takdir yang ditimpakan padanya. Rasanya dia ingin lari dan pergi jauh dari kota ini, untuk melupakan semua beban hidupnya.