
Malamnya sebelum jam 7 William memanggil seorang ahli make up untuk merias Dhea, Dia ingin malam ini Dhea membuatnya bangga di depan teman-temannya, seperti saat dia dibuat kagum oleh Dhea ketika pergi bersama Bram ke pestanya tempo hari.
Setelah selesai sholat magrib pintu kamar Dhea diketuk. Dan Dhea membukakannya. Seorang wanita berdiri di depan pintu kamarnya sambil tersenyum.
" Anda nona Dhea bukan?"
" Ya benar, anda siapa?"
" Namaku Angie, tuan William memintaku untuk merias anda."
" Oh silahkan masuk Angie ", jawab Dhea. Kemudian Dhea kembali menutup pintu kamarnya dan tak lupa menguncinya.
" Apakah anda ingin kurias sekarang?" Tanya Angie.
" Oh sebentar ya, aku ingin ke toilet dulu ", kata Dhea sambil kemudian melepas jilbabnya.
Rambutnya masih terlihat sedikit basah, sehingga dia melepas ikatannya.
" Anda cantik sekali nona dengan tanpa kain itu di kepalamu, rambut anda panjang dan indah."
" Terimakasih Angie ", kata Dhea sambil masuk ke dalam toilet, sebentar kemudian dia sudah keluar lagi.
" Jika tuan William tau anda seperti ini, pasti dia tidak akan memalingkan wajah sedikitpun."
" Hahaha kau ini berlebihan Angie, banyak wanita yang lebih cantik dariku."
" Tapi kecantikan anda begitu alami. Kau dianugerahi Tuhan kecantikan yang begitu sempurna."
" Kecantikan di sini lebih penting Angie daripada di sini ", jawab Dhea sambil menujuk wajah dan dadanya.
" Ya benar nona, tapi orang akan lebih sering melihat wajah kita dulu daripada hati kita, bukankah begitu ?"
" Kau ini sudahlah jika kita membahas kecantikkan saja, kapan kau meriasku ? Tuanmu akan meradang jika kau terlambat mengerjakannya ".
" Hahaha baik nona, mari kita mulai sekarang ".
Tangan Angie begitu lincah memainkan alat make upnya di wajah Dhea, dalam tempo singkat Dhea sudah terlihat sempurna. Dia bahkan kagum sendiri saat melihat wajahnya di depan cermin.
" Wow benarkah ini aku ? cantik sekali Angie, kau sungguh wanita yang pintar. Sepertinya aku harus belajar cara merias wajahku padamu ", kata Dhea sambil melihat Angie dari balik cermin ".
" Hahaha tidak perlu nona Dhea, jika anda menikah dengan tuan William aku yang akan merawat wajahmu setiap hari agar terlihat selalu cantik ".
" Menikah dengan pria itu ? Hhhhh aku tak sudi ", gumam Dhea.
" Mengapa nona, bukankah Tuan William itu laki laki yang mapan dan sangat tampan, apalagi yang kurang darinya ?"
" Yang kurang itu ? pertama karena aku tidak mencintainya, dan kedua kita itu berbeda Angie dan yang lebih penting lagi dia tidak seiman denganku ", jawab Dhea.
" Tapi bukankah itu tidak masalah ? kita bisa hidup berdampingan tanpa harus mengganggu keyakinan masing masing ?"
" Tapi dalam agamaku dilarang, dan itu benar benar tidak bisa ditolelir ".
" Begitu ya nona ".
" Ya Angie, kau paham kan sekarang ?"
" Tapi satu lagi nona, kenapa anda tidak menyukai Tuan William, bukankah wajah dia sangat menggoda ?"
" Benar Angie, tapi ketampanan bukan segalanya. Aku tidak menyukai pria yang kasar dan egois seperti dia ". Kata Dhea lagi, sementara itu Angie mengangguk angguk.
" Ok kalau begitu nona, aku keluar dulu. Kau siap siap saja, sebentar lagi Tuan William pasti akan memanggilmu ".
" Sama sama nona ", jawab Angie sambil tersenyum, kemudian dia berjalan keluar.
Ternyata William sudah menunggu Dhea di ruang tamu, dan Angie menghampirinya di sana.
" Bagaimana kau sudah mengerjakan perintahku dengan baik ?"
" Ya tuan, semuanya sudah aku laksanakan ".
" Bagaimana menurutmu ?"
" Aku bahkan dibuat terpukau oleh wajahnya tuan ".
" Maksudmu ?"
" Saat aku pertama masuk dia melepaskan penutup kepalanya, aku tidak bisa berpaling dari wajahnya itu. Dia terlihat lebih cantik dengan rambutnya yang panjang dan begitu indah. Seandainya aku tadi membawa handphone, pasti sudah kuambil gambarnya dan kuberikan padamu tuan ".
" Tidak Angie itu larangan buatnya, aku cukup mendengar ceritamu saja dan aku sudah bisa membayangkannya ".
" Lalu apalagi yang dia katakan ?"
Angie bercerita panjang lebar kepada William, William mendengarnya dengan seksama sambil sesekali menganggukan wajahnya.
" Ya aku sudah paham. Baiklah, silahkan kau kembali ke rumahmu, jika butuh lagi akan kupanggil kau kemari ", kemudian William menyodorkan sejumlah uang dan Angiepun pergi meninggalkan rumah besar itu.
Sepeninggal Angie, lalu William segera beranjak dari duduknya dan segera menuju ke kamar Dhea.
Diketuknya kamar Dhea perlahan.
Tak lama kemudian Dhea membuka pintu kamarnya. William dibuat takjub dengan penampilan Dhea malam ini. Begitu mempesona, dan membuat matanya tidak berkedip.
" Dhe sumpah kamu cantik sekali !!"
Kata William sambil terus menatap wajah Dhea dari atas hingga ke bawah.
" Hentikanlah menatapku seperti itu, kau membuat tubuhku merinding, dan kau seperti sedang ingin menelanjangiku !!"
" Hahaha kau ini jauh sekali prasangkamu terhadapku, aku hanya ingin mengagumi ciptaan Tuhan yang begitu sempurna ini ".
" Sudah ayo berangkat, sebelum aku berubah pikiran dan kembali pergi tidur ". Kata Dhea. Sambil keluar melewati tubuh William Tak lupa dibawa semua barangnya.
" Kau mau ke pesta atau mau kemana Dhe ? membawa barang bawaanmu semua ?"
Tanya William sambil mengikuti langkah Dhea di belakangnya.
" Aku mau setelah dari pesta itu kau mengantarku pulang Will ".
" Bukankah itu semua bisa kita ambil setelah pulang nanti ?"
" Tidak ! aku tidak mau kembali ke rumah ini lagi, dan kau harus menurutiku, karena besok pagi aku ada kuis di kampus ".
" Ok sayang jika itu maumu ", jawab William lagi.
" Kenapa jalanmu cepat sekali ? kau tidak ingin menggandeng tanganku ? bukankah tampilanmu sudah seperti seorang putri, dan sudah seharusnya seorang putri itu berjalan bergandengan dengan pangeran tampannya ?" Kata William menggoda.
" Awas kau jika melakukannya, akan kupermalukan kau di pesta itu nanti ", ancam Dhea.
" Hahaha ok Dhea jangan terlalu serius begitu aku hanya bercanda. Aku suka jika melihatmu mengomel seperti itu ", sahut Willism sambil tertawa.
Kemudian mereka berdua naik ke dalam mobil menuju pesta rekan bisnis William.