
" Ayo sini, kuberitahu sesuatu, kau belum melihat ada tempat yang sangat mengasyikan untuk kita menghabiskan waktu di sini kan?" kata William saat mereka sudah berada di dalam kamar sambil menarik tangan istrinya.
" Tempat apa? apakah di kamar ini ada sebuah kebun binatang? atau jangan-jangan ada sebuah terowongan ajaib, sehingga memudahkanmu pergi kemanapun?" tanya Dhea bercanda.
" Hahaha kau anggap kamarku ini seperti negeri dongeng." Kata William terbahak.
" Hihihi mungkin saja. Karena semenjak aku menikah denganmu, aku seperti hidup di dalam negeri dongeng. Aku seperti seorang ratu, apa-apa dilayani. Apalagi saat di sini, sepertinya anggota tubuhku hanya berguna untuk melayanimu di atas ranjang saja, kau bahkan tidak mengijinkanku ke dapur." Kata Dhea.
" Apakah kau tidak menyukainya sayang?" Kata William.
" Hahaha...tentu saja aku suka sayang. Hanya saja mungkin pahalaku akan berkurang, karena keringatku tidak pernah menetes untuk menyiapkan makananmu." Jawab Dhea.
" Pahalamu tidak akan mungkin berkurang, karena itu perintahku. Dan dengan mematuhi perintahku itu sudah cukup bagimu untuk memilih pintu masuk syurga dari manapun yang engkau mau sayang. Mudah kan?"
" Ya sangat mudah, terlebih suaminya itu kamu sayang." Jawab Dhea.
Hahhhh...menyebalkan!!! Wanita manapun pasti akan mau menjadi istri seorang suami seperti William, tinggal menurut saja, semua pasti akan berjalan mudah. Dan hanya dengan menjentikkan jari, sambil berongkang-ongkang kaki, apapun yang kita mau cling.....langsung datang. Seperti hp touch screen saja, tinggal sentuh, maka keluar semua menu yang kita inginkan. Hemmmm...duniamu memang indah Dhea. Gumam para netizen🤭
William membuka pintu menuju balkon kamarnya itu, Dhea belum mengetahuinya, karena jendela kaca seluruh kamarnya masih tertutup rapat dengan hordeng.
" Lihatlah! kau pasti akan suka jika kuajak duduk berdua menikmati malam di tempat ini kan?" Kata William menunjukkan balkon depan kamarnya yang dilengkapi beberapa meja dan kursi, beberapa tanaman bunga segar dan juga sebuah ayunan gantung di salah satu sudutnya, menambah manis nuansa di atas balkon tersebut. Sebuah atap transparan yang sengaja dibuat untuk melindungi tempat itu, memudahkan William untuk tetap bisa nyaman berada di situ tanpa harus takut kehujanan, namun pandangannya masih bisa leluasa jika ingin melihat langit ataupun bulan, saat cuaca cerah.
" Ahhhh...orang kaya memang bebas mau menggunakan uang untuk membangun tempat favorit mereka, walaupun sebenarnya tempat itu hanya untuk sekedar berdiam diri sambil menghirup udara segar. Kalau aku dulu, jika ingin menyendiri dan mencari hawa yang segar, pasti harus menggotong kursi terlebih dahulu, lalu meletakkannya di bawah pohon mangga yang ada di samping rumah. Itupun masih beruntung tidak ada gangguan apa-apa, jika tidak, bisa saja tiba-tiba kejatuhan kotoran burung yang kebetulan membuat sangkarnya di pohon tersebut, atau bahkan kejatuhan buah mangga kecil yang mendarat manis di kepala, jika kebetulan pohon itu sedang berbuah." Kata Dhea dalam hati.
" Kau pasti dulu sering menghabiskan waktumu di sini kan?" tanya Dhea sambil berjalan ke pinggiran balkon tersebut, melihat pemandangan di bawahnya melalui tempatnya berdiri sekarang.
" Ya sayang, dulu aku sering menyendiri di sini."
" Hahaha...dulu kau pernah menyendiri? memangnya kau ada waktu untuk menyendiri? bukankah waktumu kau habiskan untuk berpesta dan merayu wanita? aku pikir kau menghabiskan waktumu di sini bersama kekasih-kekasihmu. Pasti sangat romantis sekali jika berduaan malam hari di tempat ini kan." Beberapa kalimat meluncur deras dari bibir Dhea, mencoba mengingatkan masa lalu suaminya, walaupun ada nada getir dan sedikit tidak senang pada kata-katanya itu.
" Kau pikir tubuhku ini seperti mesin robot? tidak punya rasa lelah, rasa jenuh, rasa bosan? aku juga butuh me time, dan disinilah biasanya aku sering menghabiskan waktu kesendirianku sambil menatap pemandangan luar." Kata William sambil menjatuhkan tubuhnya pada sebuah kursi yang ada di dekatnya.
" Oh ya? pemandangan sekitaran rumah ini memang sangat asyik jika dilihat dari atas sini." Kata Dhea sambil mengikuti gerakan suaminya dan duduk di sebelahnya.
" Memangnya saat kau duduk sendirian sambil memikirkan apa?" tanya Dhea.
" Hahaha....kau ingin tau saja."
" Ahhhh...pasti kau memikirkan wanita ya? pasti otakmu dipenuhi pikiran-pikiran kotor ya??"
" Huusss...sembarangan!!" kata William sambil meremas gemas bibir istrinya yang mungil itu.
" Lalu apa?"
" Tapi bukan berarti kau lupa kan?" Tanya Dhea penasaran.
" Saat aku belum mengenalmu, saat di sini dulu aku sering memikirkan pekerjaanku, kehidupanku, dan yang paling sering kupikirkan adalah masa depanku." Jawab William.
" Hahaha....dulu kau punya pikiran seperti itu? bukankah dulu kau tidak punya tujuan hidup? kenapa bisa sampai memikirkan masa depanmu?" Kata Dhea setengah tidak percaya.
" Ihhhhh...sini...!!! kau ini ya!!! aku jadi ingin mengurungmu di dalam kamar bersamaku semalaman, jika kau meledekku lagi ya!!" Kata William sambil menarik tangan istrinya, dan mendekatkan kursi Dhea untuk menghadapnya. Dhea hanya tergelak melihat reaksi suaminya itu.
" Hihihi memangnya siapa yang tidak mau dikurung bersamamu???" kata Dhea menantang.
" Hemmmm.....kau genit ya sekarang." Kata William sambil mendekatkan dahinya ke dahi Dhea, lalu menggosokkan hidungnya beberapa kali ke hidung istrinya itu.
Kemudian William menggenggam jemari Dhea dengan kedua tangannya erat.
" Sayang, aku itu pria normal. Walaupun dulu hidupku pernah kacau, tapi bukan berarti aku itu tidak memikirkan masa depanku. Aku juga ingin memiliki pendamping hidup yang baik, yang bisa menjadi ibu untuk anak-anakku kelak. Dan saat aku mengenalmu itulah aku berpikir, kaulah orang yang aku cari, kau sangat berbeda dari wanita yang kukenal sebelumnya. Kau juga tidak begitu saja menerimaku, walaupun kau tau siapa aku, kau masih begitu sulit kudekati. Jika wanita lain, mungkin langsung bertekuk lutut di hadapanku."
" Tapi kemudian aku luluh padamu kan?"
" Ya, karena aku tidak pernah berhenti untuk mengejarmu."
" Sayang, aku bahkan belum kau beritahukan saat kita putus dan kau menemui papaku, kemudian menyatakan ingin mengikuti keyakinanku. Sepertinya sangat menarik jika kau ceritakan padaku sekarang."
" Kenapa kau penasaran sekali?"
" Tentu saja! karena saat itu jika kupikir-pikir, aku sepertinya habis-habisan kau kerjai. Aku merana sendiri, meratapi perpisahan kita, bahkan aku begitu takut membayangkan suatu hari kita tidak bisa bersatu. Ternyata di belakangku, kau sudah merencanakan sesuatu. Ahhhh...bodohnya aku!! rugi sekali air mataku yang keluar saat itu." Jawab Dhea sambil merengut kesal.
" Hahaha bisa aku bayangkan. Kau pasti setiap hari berjongkok di sudut kamar tidurmu, lalu sibuk mengusap air matamu, karena menangisi pangeran tampanmu ini kan." Kata William menggoda Dhea.
" Ihhhh kau menyebalkan sekali....!!" Kata Dhea sambil mencubit lengan suaminya.
" Hahaha...tapi benarkan??? ohhh iya, bukan...bukan...!! bukan di sudut kamarmu, tapi pasti di kolong mejamu kan...hahaha kau pasti lucu sekali waktu itu???" Kata William sambil terus terbahak.
" Iiiisshhhh....kenapa kurang kerjaan sekali aku masuk ke kolong meja segala? bukankah di atas kasur lebih menyenangkan?" Rajuk Dhea manja sambil semakin memanyunkan bibirnya.
" Iiiihhhhh....jangan manyun seperti ini lagi, jika tidak ingin membuatku geregetan melihatnya." Kata William sambil meremas bibir istrinya kembali.
" Jadi kapan kau akan menceritakannya jika terus menggodaku seperti ini?" Tanya Dhea masih terus penasaran.
" Oke aku akan ceritakan sekarang ya. Dengarkan baik-baik." Kata William sambil menarik nafasnya panjang.