Something different

Something different
Telfon mendadak dari Feri



" Aahhhhh...nyamannya." Gumam Dhea saat baru saja tiba di rumah mereka.


" Kau lelah sayang?" tanya William.


" Lelah sih tidak, cuma masih mengantuk saja."


" Tolong letakkan di dalam kamar saya saja pak kopernya." Kata William memberi perintah kepada supir pribadinya yang baru saja masuk ke dalam rumah sambil membawa koper mereka.


" Baik tuan."


" Nyonya, tuan jika anda ingin langsung makan, saya sudah menyiapkannya semua." Kata asisten rumah tangga mereka yang lain.


" Nanti saja bik, aku ingin mandi lalu tidur dulu." Jawab Dhea.


" Baik nyonya, kalau begitu saya permisi dulu."


" Silahkan bik."


" Ayo sayang ke kamar, kau bilang ingin istirahat dulu." Kata William.


Dhea lalu menyodorkan kedua tangannya. Seolah tau dengan keinginan istrinya, William lalu menarik tangan tersebut untuk membantunya berdiri.


Lalu Dhea berjalan ke atas duluan di depan, sedangkan William mengikuti di belakangnya.


" Heiii...sayang, kau mau kemana?" tanya William.


" Ke kamar kitalah sayang, memang kemana?"


" Kamar kita sudah pindah di bawah sayang, waktu itu kan aku sudah bilang akan memindahkannya di bawah."


" Hahhh...kenapa secepat itu?"


" Iya tidak apa-apa, biar kau lebih mudah untuk pergi ke kamarmu. Jika kau sudah melahirkan kita pindah lagi ke atas ya."


" Hemmm...baiklah, yang penting aku ingin tidur dulu." Kata Dhea sambil menuju sebuah kamar yang terletak di bawah.


Tiba di kamarnya Dhea langsung saja merebahkan tubuhnya.


" Heiiii...katamu kau ingin mandi dulu sayang? kenapa malah langsung tidur?"


" Aahhhh aku sudah ngantuk sekali, nanti saja ya mandinya. Kata Dhea sambil memejamkan matanya."


" Hehhhhh....dasar wanita, gampang sekali berubah mood." Gumam William sambil tersenyum, melihat istrinya dalam hitungan menit tubuhnya sudah tidak bergerak lagi, hanya suara tarikan nafasnya yang mulai teratur.


William segera masuk ke dalam toilet untuk membersihkan tubuhnya. Dan tak lama dia sudah keluar lagi dengan kondisi rambutnya yang masih basah. Harapannya selesai mandi nanti dia akan segera merebahkan tubuhnya juga. Baru saja dia hendak menjatuhkan tubuhnya di kasur, tiba-tiba saja dia teringat untuk segera mengabari Mike bahwa mereka berdua telah tiba di Indonesia. Dilihatnya jam di dinding kamarnya.


" Hemmm pukul sebelas, berarti di sana sudah malam, aku kirimi dia sms saja, karena aku tidak mau jika menelfonnya nanti, bisa menganggu tidurnya."


Setelah menuliskan sms sebentar, kemudian William segera menaruh handphonennya di meja, mencium pipi istrinya sebentar, lalu segera merebahkan tubuhnya di samping Dhea.


Rasa lelah seperti terbayarkan, saat dia bisa kembali nyaman merebahkan diri di dalam kamarnya itu.


Baru saja memejamkan matanya sejenak, tiba-tiba saja handphonennya berbunyi, otomatis William terbangun kembali, lalu beranjak untuk mengambil handphone yang jauh dari jangkauannya. Dia tadi lupa untuk mematikan benda elektronik itu, padahal biasanya saat menjelang tidur dia selalu menonaktifkannya.


Dilihatnya ternyata Feri sahabatnyalah yang menelfon. Diangkatnya telfon itu sambil berjalan keluar kamar, karena takut suaranya bisa mengganggu tidur Dhea.


" Hallo Fer."


" Tidak Fer, aku sudah ada di rumah. Kami baru tiba jam 10 lebih tadi. Ada apa Fer?"


" Kebetulan Will, ini ada masalah sedikit."


" Masalah apa Fer?"


" Aku baru dapat berita dari salah satu karyawan, bahwa direktur hotel sekarang ada di kantor polisi."


" Hahhhh...kenapa Fer?"


" Hotelmu semalam diserbu oleh polisi, karena disinyalir di salah satu kamar dijadikan sebagai tempat transaksi seksual."


" Apa? kenapa bisa begitu Fer? memangnya aturan tamu yang datang menginap di hotel itu tidak dipatuhi?" tanya William setengah emosi.


" Aku juga belum mendapatkan informasi jelasnya. Namun penggunanya diketahui adalah orang-orang yang memiliki jabatan di kota ini, makanya ditangani sedikit serius."


" Oke, kalau begitu aku akan segera kesana. Kau sekarang dimana?"


" Aku sedang dalam perjalanan menuju kesana Will." Kata Feri sambil menyebutkan tempat dimana direktur hotel sekarang berada.


" Oke tunggu aku ya."


" Ya Will." Jawab Feri. Lalu Williampun menutup telfonnya.


William buru-buru masuk kembali ke dalam kamar, mengganti bajunya sebentar, lalu segera keluar lagi.


Dipanggilnya supir pribadinya untuk segera mengantarkannya.


" Bik nanti tolong bangunkan istriku saat sholat dhuhur ya. Lalu tolong katakan padanya, aku ke rumah Feri, ada urusan pekerjaan yang harus aku selesaikan. Suruh dia makan siang dulu ya, dan tidak perlu menunggu aku." Kata William pada salah satu asisten rumah tangganya.


" Baik tuan, nanti saya sampaikan pada nyonya."


" Terimakasih bik." Kata William lagi, lalu segera pergi keluar menuju kendaraannya.


" Ayo pak jalan."


Kendaraan yang dikemudikan supir pribadi William berjalan pelan keluar dari lokasi perumahan elit yang cukup terkenal di kota itu, dan mulai memasuki jalan utama yang seperti biasa selalu macet dan asap kendaraan dimana-mana.


Sebenarnya rasa lelah William belum hilang, dan masih ingin memejamkan matanya barang sejenak. Namun kabar yang diterimanya dari Feri memaksanya harus datang, dan ikut untuk bertanggung jawab atas kejadian di hotel tersebut, terlebih dialah pemilik bangunan itu.


Namun semuanya yang terjadi sungguh di luar pikiran William. Karena semenjak pertamakali hotel itu dibangun, William sudah membuat peraturan tentang syarat wajib pengunjung yang menginap di hotelnya. Namun kenapa semuanya bisa luput dari pengawasan dan justru tempat itu dijadikan sebagai salah satu ajang transaksi seksual, sehingga melibatkan pihak yang berwajib juga?


William sepertinya sudah tidak sabar untuk segera tiba di tempat dimana direkturnya ditahan, sehingga dia meminta supir pribadinya untuk mempercepat laju kendaraannya. Mobil terus melaju membelah ramainya jalanan kota. Di suasana macet seperti itu, klakson sudah tidak berfungsi lagi untuk meminta kendaraan di depannya bersedia memberikan jalan, satu-satunya yang bisa dilakukan adalah bersabar. William menarik nafas panjang, kenapa di situasi genting seperti ini dia harus terjebak di tengah kemacetan, diliriknya kanan dan kiri mobil yang ada di sebelahnya, yang rata-rata berisi satu orang saja. Mungkin itulah salah satu penyebab kemacetan, namun semua tidak bisa disalahkan, karena dia sendiripun saat ini menjadi salah satu penyumbang kemacetan juga.


Rasanya di saat kondisi seperti ini, laju kendaraan yang dinaikinya masih kalah cepat dengan langkah kakinya saat berlari. Walaupun olahraga itu merupakan salah satu olahraga favoritnya setiap hari, namun mana mungkin sudi jika saat ini dia turun dari kendaraannya, lalu berlari menuju ke tempat tujuan, apalagi di cuaca yang sangat menyengat ini.


Akhirnya William hanya bisa diam sambil meremas jemarinya. Rasanya geregetan sekali dan tidak sabar segera tiba di tempat tujuannya. Sesekali matanya melihat arloji di tangan, menandakan kegelisahan hatinya dan berharap waktu berhenti berputar.


" Hehhhh...kenapa harus macet sih!!!" Gerutu William.


" Apakah tidak ada jalur alternatif menuju kesana pak? agar kita bisa menghindari kemacetan ini?" tanya William.


" Tidak ada tuan, hanya jalur utama inilah menuju kesana. Tenang tuan sebentar lagi kita akan segera tiba." Jawab supirnya.