
Setelah mengganti pakaiannya, William segera mengambil handphonennya dan menelfon Daniel.
" Hallo Dan, tadi kau menelfonku ya? Ada apa?" tanya William saat Daniel sudah mengangkat telfonnya.
" Hanya ingin menanyakan kabar saja Will. Sejak kau kembali ke Indonesia, kau belum mengabariku sama sekali. Aku kan ingin memastikan bahwa bos besarku baik-baik saja."
" Hahaha...kau ini sok basa-basi. Sudah, apa sebenarnya yang ingin kau bicarakan? jujur saja." Kata William.
" Hemmmm...kenapa kau berpikiran buruk padaku. Apakah wajah polosku tidak bisa membuktikan ketulusanku padamu Will?"
" Hahaha....orang butapun tau tanpa harus melihat wajahmu. Saat kau melewatinya, bau tubuhmu itu sudah mengisyaratkan orang yang patut untuk dicurigai."
" Hahhhh....enak saja sembarangan kau bicara."
" Hahaha...memang seperti itu kenyataannya."
" Hemmmm...bagaimana kabar istrimu?"
" Kau malah menanyakan kabar istriku?"
" Lho memangnya salah ya? aku kan hanya ingin tau saja, jika kabar istrimu baik, itu berarti hubungan kalian juga baik."
" Lalu apa hubungannya?" Tanya William baik.
" Yahhh..jika hubungan kalian baik, berimbas juga pada suasana hatimu."
" Ya suasana hatiku sedang baik. Dan itu berarti saat ini adalah waktu yang tepat kau untuk menyampaikan maksud hatimu padaku kan?"
" Will, jangan seperti itu. Aku jadi tidak enak hati. Kenapa kau sangat mengerti isi hatiku. Kau benar-benar pria yang romantis baby. Aku sangat cemburu pada Dhea mmmmmuachhh.....!!"
" Woooyyyy....tarik tidak kecupanmu tadi??"
" Haaaahhhh...bagaimana aku bisa menariknya? kalau tidak kutambahi satu lagi saja ya, biar seimbang?"
" Eitttsssss...nooooo....jangan sampai istriku mendengar ya? dipikirnya kita ada hubungan terselubung lagi. Sudah katakan cepat apa maksudmu?"
" Ehhhemmm.....ehemm." Daniel pura-pura batuk.
" Sudah jangan pakai batuk segala, cepatlah sedikit."
" Begini Will. Aku itu tau kau sudah sangat baik padaku. Kau seorang sahabat sekaligus sudah seperti saudara buatku dan bos yang sangat pengertian padaku. Mungkin tidak ada lagi kata-kata yang dapat kuucapkan untuk mengungkapkan seluruh kebaikanmu dan kemurahan hatimu padaku. Jika ada petugas Guinnes World Record, aku ingin mendaftarkan kau sebagai seseorang yang memecahkan rekor, membantu seorang teman paling banyak."
" Satu....dua...." Tiba-tiba William mulai menghitung maju. Dan hebatnya Daniel sangat tau maksud hitungan sahabatnya itu.
" Ya..ya..ya stop!! oke aku katakan maksudku."
" Hemmm begini Will."
" Begini lagi!!! Sedari tadipun kau sudah mengucapkan begini, lalu kapan begitunya jika begini terus???" Kata William.
" Hahaha...kau ini malah bercanda."
" Yahhhh...sakit nih orang, aku serius kau bilang bercanda lagi. Kau sudah mengulur waktu. Aku ini mau sholat Dan, jangan terlalu bertele-tele."
" Yaaaaa....aku mau pinjam uang Will!!" Kata Daniel sedikit berteriak.
" Nahhhh...benar kan tebakanku, pasti kau mau pinjam uang."
" Yaaaa......kau malah main tebak-tebakan, pleas Will, aku butuh sekali demi masa depanku yang lebih cerah Will."
" Hahhhh...memangnya kau tau darimana dengan uang yang kau pinjam tadi masa depanmu itu bisa cerah? wajahmu saja kusam, bagaimana masa depanmu bisa cerah?"
" Hahhhh...kau ini. Wajah kusam itu karena butuh perawatan di salon Will, tidak ada hubungannya sama sekali dengan masa depanku." Gerutu Daniel
" Lalu kau butuh uang berapa?" tanya William. Daniel menyebutkan sejumlah uang.
" Haaaahhhhh...gila!!! banyak sekali???"
" Heiii...kenapa berteriak seperti itu, sampai lalat di depanku terbang mendengar teriakanmu itu."
" Lalat itu memang terbang Dan, jika yang melompat itu kau."
" Hahhhh...kau pikir aku katak pakai melompat segala."
" Mirip-mirip sih sedikit hehehe."
" Ahhhh sialan kau." Gerutu Daniel lagi.
" Jadi buat apa uang sebanyak itu? kau dikejar-kejar dept kolektor karena tidak bisa bayar cicilan baju dalammu?"
" Eitttssss....separah itukah tampangku hingga membeli baju dalam saja harus menyicilnya?"
" Tidak sih, hanya sedikit lebih hancur daripada itu hahaha."
" Kau ini, benar-benar pembunuhan karakter." Gerutu Daniel lagi.
" Lalu untuk apa uang sebanyak itu? apakah gaji bulanan yang kuberikan tidak cukup untuk makanmu satu bulan?"
" Ohhh tidak teman. Gaji yang kau berikan bahkan cukup untuk makanku 4 bulan, ditambah dengan membagi sedikit kebahagian untuk gadis-gadis cantik setiap hari."
" Hehhhh.....itulah kenapa uang gajimu tidak terkumpul. Saat kau membutuhkannya seperti sekarang ini, kau harus meminjamnya lagi padaku."
" Kau ini pakai berpuitis segala. Untuk apa uang sebanyak itu?"
" Aku ingin mengembangkan bisnisku sendiri Will. Kau tau kan selain sebagai tangan kananmu, aku juga memiliki satu buah bisnis walaupun kecil-kecilan, dan aku ingin mengembangkan itu."
" Ya aku tau. Lalu maksudmu uang itu untuk mengembangkan bisnis yang seperti apa?"
" Aku ingin memperluas jaringannya Will, dan itu butuh modal lebih besar lagi dari yang sekarang. Aku kan ingin berkembang juga Will."
" Dan setelah berkembang, kemudian kau meninggalkan aku begitu kan?"
" Tidak Will. Aku akan tetap mengurusi perusahaanmu, bisnisku kan bisa kukendalikan dari jarak jauh saja, dan tidak mungkin aku terjun sendiri."
" Hahaha.....jangan tidak enak hati seperti itu Dan. Semua orang berhak maju. Aku tidak ingin menghalangi jalanmu untuk menuju kesana. Justru aku akan ikut senang jika kau semakin berkembang."
" Ahhhh....kau ini terlalu bijaksana Will. Kata-katamu sangat menyentuh hatiku."
" Hehhhh...mulai kambuh lagi gilamu. Tadi sudah sedikit benar, sekarang bertingkah aneh lagi."
" Hahaha....ini kan hanya selingan Will. Jangan dibawa serius bisa stres kau nanti."
" Lalu kapan kau akan menggunakan uang itu?"
" Kalau bisa sih secepatnya."
" Kau ini pinjam, tapi mintanya buru-buru."
" Lho tadi kau yang tanya kapan butuhnya??? hehhhh....pria yang susah untuk dipahami, untung istrimu betah tinggal denganmu."
" Heiii...jangan bawa-bawa istriku!! Dia itu milikku ya?"
" Hahhhh...siapa juga yang mau membawa istrimu. Ambillah semua untukmu, aku juga tidak sudi dapat sisamu. Menyebalkan!!!"
" Hahaha....kacau kau." Kata William lagi.
" Kau tuh dan jalan pikiranmu juga seluruh darah, daging, dan juga syarafmu yang kacau." Balas Daniel.
" Jadi kapan nih uangnya kau transfer ke rekeningku?" Tanya Daniel lagi.
" Hahhhh....enak saja. Bos sekelas aku kenapa harus bersusah payah mentransfer ke rekening bawahannya seperti kau?"
" Aduhhhh...mulai rusak lagi nih orang."
" Apa kau bilang?"
" Kau mulai rusak lagi. Sepertinya ada syaraf motorik dan sensorikmu yang terputus."
" Sialan kau sudah pinjam menghina pula."
" Hahaha...ayolah teman, kurang manis apa aku merayumu. Kapan kau mengirimkan uang itu?"
" Bersabarlah, setelah ini kau tutup telfonmu. Kemudian aku sholat dulu. Setelah itu aku ingin bersenda gurau dengan istriku terlebih dahulu, sembari minum kopi, lalu setelah itu aku makan malam sebentar, nah baru....."
" Baru kau mentransferku begitu kan?"
" Enak saja siapa bilang?"
" Hahhhh...nasib...nasib....hanya pinjam uang sedikit saja sudah kau kerjai habis-habisan. Awas ya jika aku sudah jadi orang kaya, aku akan meminta anak buahku mengusirmu, dan melarangmu menghirup udara yang sama denganku."
" Hahhhhh...kau pikir udara ini milik nenek moyangmu. Saat kau jadi orang kaya, aku bahkan sudah menjelma menjadi milyader Dan. Akulah mungkin yang akan mengusirmu duluan hahaha."
" Ahhhhh...terserah kaulah yang penting uangku cair." Kata Daniel menyerah.
" Tenanglah...aku sholat dulu ya..Setelah itu nanti baru aku telfon bagian keuangan perusahaanku untuk segera mentransfermu."
" Benarkah Will?Ya Tuhan, ada ya orang sebaik kau di jagat raya ini."
" Sudah jangan berlebihan, atau aku tarik kembali kata-kataku."
" Oh ya jangan teman. Oke terimakasih banyak ya hehe."
" Kau ini. Ingat bunganya 10 persen ya?"
" Haaaa....apakah kau masih kurang kaya sehingga ingin membungakan uang?"
" Hahaha...tidak teman, aku tidak ingin memberi makan hasil riba untuk keluargaku."
" Riba? apa itu riba?"
" Riba itu sebutan hasil bunga tadi, dalam agamaku disebut riba. Ya sudah tutuplah telfonmu, aku ingin sholat dulu."
" Ok Will, silahkan. Salam untuk istrimu ya."
" Kau titip salam sekali lagi untuk istriku, kudeportasi ke Wuhan kau ya."
" Haaaa...ampun Will, aku masih ingin hidup!!" kata Daniel.
" Ya sudah, aku sholat dulu ya. Bye." Kata William sambil menutup telfonnya.