Something different

Something different
Mengabari Dhea



William dan Dokter Sherli bertatapan sedikit lama, dan akhirnya Williamlah yang mengalah, dia langsung menunduk. Dan Dokter Sherli tau isyarat yang diberikan oleh William, bahwa dialah yang harus langsung menyampaikan kabar duka itu pada istrinya.


" Dokter, kenapa kau tidak menjawabku, dan malah memandang suamiku? Apakah kau sedang meminta pendapatnya? jangan khawatir dokter, apa yang aku harapkan, pasti sama juga dengan yang diharapkannya." Kata Dhea yang menganggap bahwa Dokter Sherli ingin meminta persetujuan William atas pertanyaannya itu.


" Dhe." Akhirnya Dokter Sherli mulai membuka mulutnya kembali.


" Manusia itu cuma bisa berharap dan Tuhan yang menentukan. Dan apapun yang sudah menjadi ketentuanNya, yakinlah bahwa itu pasti yang terbaik untuk kita. Janji Allah itu pasti sangat indah, tidak seperti janji manusia biasa seperti kita, yang terkadang sering membuat kecewa."


" Hahaha benar dok. Apalagi janji laki-laki ya, banyak gombalnya." Dhea masih bisa bercanda di situasi seperti ini. Hanya dia dan juga kedua orang tuanya yang masih bisa tersenyum mendengar candaan itu, sedangkan Dokter Sherli dan suaminya semakin bingung untuk menyampaikan kabar tersebut, apalagi melihat sikap Dhea saat ini.


" Sayang, kenapa wajahmu terlihat muram? ada apa? oh ya tadi kan kau aku minta untuk mengambil gambar anak kita. Mana coba aku lihat? aku yakin anak kita pasti cantik sekali." Wajah Dhea begitu sumringah, mengingat sebentar lagi dia akan melihat bayi kecil yang baru keluar dari perutnya itu.


" Sayang maafkan aku."


" Kenapa kau meminta maaf? kau lupa ya mengambil gambarnya?" tebak Dhea.


" Bukannya lupa sayang, tapi batre hpku habis, dari tadi aku tidak menyadarinya. Saat disana dan hendak mengambil gambar anak kita hpku mati."


" Yaaahhhh...padahal aku sudah tidak sabar untuk melihatnya." Jawab Dhea sedikit kecewa. Wajahnya berubah sedikit masam, padahal dia sudah tidak sabar menanti kedatangan suaminya sambil membawa gambar anaknya.


" Ya sudah tidak apa-apa. Kau charge saja dulu handphonemu, nanti kau bisa kembali lagi kesana dan mengambil gambar itu ya." Kata Dhea lagi wajahnya sedikit ceria kembali, karena mengingat kesalahan suaminya itu tidak disengaja.


" Dhe, suamimu tidak akan mungkin kembali lagi melihat anakmu di ruangan itu." Dokter Sherli tiba-tiba membuka mulutnya.


" Maksud dokter anakku sudah dipindahkan ke ruangan lain?"


" Bukan dipindahkan, tapi lebih tepatnya tidak akan berada di rumah sakit ini lagi."


" Tidak berada di rumah sakit ini lagi? lalu akan dipindahkan kemana dia?"


" Dia akan kami serahkan padamu."


" Padaku? apakah dia sudah sehat dokter? Ya Tuhan aku tidak sabar ingin memeluknya!!! Bu, ibu dengar kan kata-kata Dokter Sherli? anakku akan dibawa kemari, Allah mengabulkan doa kita bu." Dhea begitu bahagia mendengar kabar itu. Sedangkan ibunya hanya tersenyum tipis saja, justru firasatnya tidak mengatakan demikian, karena dia melihat wajah William yang terlihat muram.


" Hehhhh....Kenapa Dhea seperti tidak merasakan keanehan ini? kenapa dia bersikap seolah-olah semuanya baik-baik saja? pasti dia hanya ingin menghibur dirinya sendiri, dia kan paling sensitif jika berbicara tentang masalah perasaan. Ahhhh semoga Dhea bisa sabar melewati ini semua, apapun nanti yang terjadi. Amiin." Ibu Dhea berbicara dalam hati.


" Aduhhhh...apakah aku salah bicara??? Dhea malah jadi salah menafsirkan kata-kataku." Kata Dokter Sherli dalam hati, dia sendiripun bingung bagaimana cara menyampaikan berita itu agar Dhea tidak terkejut. Namun sebenarnya seindah apapun kalimat Dokter Sherli, dan sebaik apapun dia menyusun kata-kata, sebuah berita kematian tetap akan menjadi sebuah berita yang sangat menyedihkan bagi orang yang mendengarnya.


" Dhe...aku harap kamu bisa menerima kenyataan ini dengan ikhlas, anakmu sudah dipanggil yang kuasa. Kami semua sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkata lain."


" Maksud dokter?" Dhea seolah ingin menegaskan maksud kalimat Dokter Sherli, padahal semua orang yang berada di situpun sangat tau apa maksud kalimat dokter tersebut. Dan hanya Dhea sendiri yang seolah ingin dokter tersebut mengucapkan kalimat itu dengan jelas dan gamblang.


" Dhe, anakmu sudah meninggal. Dan sebentar lagi suster akan membawanya kemari."


Dhea langsung terbengong, seolah bagai ribuan batu yang menghujamnya bertubi-tubi. Perasaannya sangat hancur. Sebelumnya dia memang sudah mempersiapkan hatinya untuk bisa menerima kenyataan yang paling buruk sekalipun. Namun ibu tetaplah seorang ibu. Dhea benar-benar shock mendengar kabar itu, dia tidak dapat berbicara apa-apa hanya diam dan terpaku. William yang melihatnya langsung spontan memeluk tubuh istrinya.


" Sayang...ikhlaskan semuanya. Ingat semua ini Tuhan yang menentukan. Dia yang menghidupkan, dia juga yang mematikan." Dhea tetap terdiam, hanya air matanya yang menetes satu persatu, namun tanpa suara sedikitpun, jangankan jeritan isakanpun tak terdengar dari bibirnya, karena terlalu shocknya dia mendengar berita itu, sehingga hanya diam terpaku.


" Nak....dia nanti yang akan menjadi syafaat bagi kalian berdua. Dia masih suci dan belum berdosa. Jadi ridholah dan ikhlaskan dia." Kata ibunya sambil membelai kepala Dhea. Ibunya sangat tau bagaimana rasanya kehilangan seorang buah hati, apalagi dia belum sempat melihat anak itu barang sebentar saja, pastilah hatinya sangat hancur.


Dhea tetap tidak bergeming dan air matanya terus menetes membasahi dada suaminya.


" Sayang, menangislah kalau kau merasa bisa meredakan semua rasa sedihmu."


" Aku hanya merasa kecewa belum sempat memeluknya, seperti bayi lainnya saat mereka baru saja lahir, dan sekarang aku hanya bisa melihat dan memeluk jasadnya saja." Kata Dhea di sela tangisnya yang berusaha ditahannya sekuat mungkin.


" Ya sayang aku tau apa yang kau rasakan, yang penting sekarang doakan dia agar bisa tenang di sana."


" Sekarang cucu kami dimana dokter?" Tanya ayah Dhea.


" Mungkin sebentar lagi akan dibawa kemari. Bapak dan ibu tunggu saja di sini, kami akan memberikan pelayanan yang terbaik untuk kalian semua."


Memang sejak dari awal Dhea selalu mendapatkan prioritas yang utama. Memang tidak salah William selalu memberikan yang terbaik pada istrinya itu, bahkan untuk fasilitas kesehatannya. Tidak ada yang tidak mungkin buatnya. Jika uang masih bisa digunakan, tentu saja dia masih bisa melakukan apa saja, kecuali hal-hal yang memang tidak bisa ditukar dengan rupiah, seperti nyawa anaknya yang baru saja melayang. Padahal rumah sakit sudah mengusahakan segala macam peralatan untuk menyelamatkannya, dan diharapkan bisa menyambung hidupnya.


Tidak ada satupun prosedur yang harus dilakukan William untuk membawa pulang jasad anaknya, tidak ada satupun surat yang harus ditandatanganinya, seperti pasien lain pada umumnya. Semua sudah diurus dengan dokter pribadinya, bahkan dia sendiri yang menjamin pasien spesialnya itu.


Tak berapa lama dua orang perawat masuk, sambil membawa bayi Dhea yang sudah tidak bernyawa. Bayi yang masih sangat mungil dan terlihat tertutup rapat kedua matanya, dibalut dengan kain warna putih seluruh tubuhnya, kecuali wajahnya saja yang masih terlihat.


Saat kedua orang perawat itu masuk, tidak ada satupun orang yang berada di dalam kamar membuka mulutnya, semua tatapan mata mengarah pada dua orang perawat tersebut. Dhea spontan melepas pelukan suaminya. Salah seorang perawat yang menggendong jasad bayi Dhea, segera menyerahkannya pada Dokter Sherli.


" Dhe, kau ingin menggendong bayimu untuk terakhir kalinya?" Kata Dokter Sherli, dia perlu menawari Dhea dulu, karena dia takut Dhea tidak bisa menguasai emosinya. Lalu Dhea hanya mengangguk pelan.


" Nak kamu yakin akan kuat?"


" Ya ayah, insyaallah Dhea kuat."


" Tapi ingat ya, jangan sampai kau memberatkan langkahnya." Kata ayah Dhea berusaha mengingatkan Dhea dengan aturan agamanya, bahwa tidak diperbolehkan meratapi kepergian seseorang yang sudah meninggal. Dan Dhea mengangguk untuk kedua kalinya. Wajahnya masih saja datar tanpa ekspresi, walaupun sebentar-sebentar William mengusap air mata istrinya, dan tisu yang dibuangnya sudah terlihat menumpuk di atas meja yang ada di sebelahnya.


Akhirnya Dokter Sherli menyerahkan bayi mungil itu. Dhea menatapnya setengah tidak percaya, walaupun secara fisik bayi yang baru dilahirkannya itu masih sangat kecil, namun sudah bisa terlihat jika anaknya itu mewarisi gen suaminya, terlebih bentuk hidungnya yang berbeda dengan kebanyakan hidung orang Indonesia. Dhea tidak mampu berkata-kata, dipeluknya jasad anaknya, sambil memejamkan kedua matanya, dan berusaha sekuat mungkin untuk menahan air mata agar tidak jatuh di jasad bayinya tersebut. William langsung mengusap bahu Dhea, berusaha untuk memberi kekuatan pada istrinya.


" Sayang, anak kita sangat cantik bukan? benar kataku dia sangat mirip denganmu?" Bisik Dhea pelan, namun masih bisa didengar William yang memang berada sangat dekat dengannya.


" Ya sayang, dia sangat cantik." Jawab William.


" Nak, tidurlah dengan tenang. Mama dan papa mengikhlaskanmu. Maafkan kami, karena tidak bisa menjagamu dengan baik, tapi jangan khawatir, suatu hari nanti kita pasti bisa berkumpul bersama. Tunggu kami di surga ya." Kata Dhea sambil terus memeluk buah hatinya itu. Orang-orang yang berada di situ, tidak kuasa menahan air mata, melihat Dhea begitu tegar menerima bayinya yang sudah tidak bernyawa. Imannya yang begitu besarlah, yang menjadi kekuatannya. Sesakit apapun sebuah kehilangan, itu adalah sebuah hukum alam yang tidak dapat dihindari. Setiap ada kehidupan, pasti ada kematian, setiap ada yang datang, pasti ada yang pergi. Dan itu semua akan kita alami, hanya waktunya saja yang berbeda.


Dhea dan William bergantian mencium bayi itu, sebelum ayahnya memintanya untuk kemudian dibawa pulang dan segera dimakamkan.


" Nak, ayah dan ibu akan mengurus pemakaman dulu. Inshaallah nanti malam ayah akan kembali kesini lagi."


" Iya ayah, terimakasih banyak ya atas bantuan ayah dan ibu." Kata Dhea pelan. Kemudian ayah dan ibunya segera pergi meninggalkan kamar sambil membawa jasad bayinya, diiringi tatapan matanya yang perlahan tanpa disuruh, air matanya keluar lagi dan tidak bisa dibendung. Dan lagi-lagi Williampun memeluk tubuh istrinya, membiarkan dadanya basah oleh air mata.