Something different

Something different
Berkunjung ke teman William



" Sayang aku punya satu kejutan untukmu lagi." Kata William saat mereka pulang dari mall


" Apa itu Will?" Tanya Dhea penasaran.


" Nanti kau tau sendiri." Kata William.


" Pak kita pergi ke tempat yang aku katakan tadi ya?" Kata William pada supirnya.


" Baik tuan." Jawab Supir William.


Supir William menambah kecepatan kendaraannya. Hingga kemudian dia menghentikannya di depan sebuah bangunan rumah yang terlihat megah dan masih baru.


" Ayo kita turun di sini sayang!!" Ajak William pada Dhea.


Dhea kemudian turun dan mengikuti William yang sudah berdiri tegak di depan bangunan itu.


" Ini rumah siapa sayang?" Tanya Dhea sambil matanya menyapu keseluruhan bangunan tersebut, sembari mengagumi keindahan rumah itu.


" Ini rumah yang akan kita tinggali setelah menikah nanti." Jawab William.


" Ya Alloh Will, bagus sekali!!" Teriak Dhea histeris.


" Ya aku sengaja mendesainnya sendiri, agar kau nanti bisa betah untuk berduaan denganku terus di dalam rumah ini." Jawab William sambil tersenyum.


" Kau suka sayang?"


" Suka, sukaaaa sekali!!! Aku bahkan tidak pernah membayangkan, memiliki seorang suami yang bisa membuatkan rumah semewah ini padaku!!!"


" Aahhh kau pasti berbohong."


" Berbohong bagaimana Will?"


" Bukankah Reihan itu juga seorang pengusaha kaya?"


" Hehhh...kau tidak usah membahas dia sayang, sekarang yang ada adalah aku dan kamu oke?"


" Benarkah sayaaaang???" Tanya William sambil menatap penuh selidik.


" Iya Will, hanya ada kamu, aku dan cinta kita."


" Yahhh semoga kau tidak akan terharu saat dia datang ke pernikahan kita nanti."


" Apaaa??? Jadi kau mengundangnya?"


" Kenapa? Kau keberatan?"


" Bukan begitu, kapan kau mengirimi dia undangan? Kau datang sendiri menemuinya?"


" Menurutmu?"


" Eghhh tapi kau tidak mengucapkan hal yang tidak pantas padanya kan?" Tanya Dhea khawatir.


" Tenanglah sayang, aku tau mana yang pantas diucapkan dan mana yang tidak. Aku hanya mengatakan bahwa aku ini calon suamimu. Itu saja."


" Lalu bagaimana reaksinya? Dia terkejut?"


" Aku yakin pasti dia terkejut dan tidak menyangka rivalnya setampan ini." Jawab William percaya diri."


" Huuuuu....." Kata Dhea sambil mendorong tubuh William.


" Tapi kau mengakuinya kannnn???" Kata William.


" Iya saja deh daripada kau menangis."


" Hahaha aku terakhir menangis saat putus denganmu sayang, dan aku tidak ingin mengeluarkan air mata lagi, karena aku yakin hidup kita nanti pasti akan bahagia, yang ada hanya tawa dan jangan ada lagi air mata."


" Aaminn semoga saja ya Will."


" Masuk yuk!" Ajak William sambil menggandeng tangan Dhea.


Kemudian mereka masuk ke dalam bersama.


" Assalamualaikum." Kata Dhea dan William mengucap salam saat pintu sudah terbuka.


" Masha Alloh!!! Sayang bagus sekali furniture di dalam sini, kau yang memilihnya sendiri?"


" Iya sayang, kamu suka?"


" Sumpah aku suka sekali!!"


" Terimakasih ya Will kau sudah membuatku amat berharga dalam hidupmu."


" Sama-sama sayang." Jawab William.


Kemudian mereka berdua masuk ke semua ruangan di dalam rumah itu. Dhea tak henti-hentinya memuji interior di dalam rumah yang masih menyisakan aroma cat basah itu.


" Sayang nanti di dinding situ kita pasang foto pernikahan kita ya, agar setiap masuk ke rumah ini aku bisa langsung memandang wajahmu."


" Ahhh kau ini, setelah menikah nanti kan kaupun bisa memandangmu setiap hari."


" Ayolah sayang." Harap William.


" Ya ya ya...nanti kita pasang agar kecoa dan tikus tidak berani masuk ke rumah ini karena ada foto kita berdua ya." Jawab Dhea.


" Hahhhh...kau pikir foto kita lebih menyeramkan daripada racun serangga?"


" Bukan foto kita sayang, tapi fotomu hahaha." Jawab Dhea sambil terbahak.


" Kamu ya....." Kata William sambil menggelitik calon istrinya.


" Hahaha...ampun Will, geli tau."


" Ayo tarik tidak ucapanmu, atau aku tidak akan berhenti menggelitikmu." Ancam William.


" Iya iya maaf, kau itu calon suamiku yang sangaaattt rupawan, dan calon imamku yang saaangat baik." Jawab Dhea di sela tawanya.


" Nah itu baru benar." Jawab William sambil menghentikan gelitikannya.


" Insyaalloh Will, yang penting kita berdua bisa saling menjaga keharmonisan rumah tangga kita."


" Ya sayang, pasti itu."


" Ya sudah keluar yuk! Katamu tadi ingin mengajakku ke rumah temanmu?" Ajak Dhea.


" Iya ayo."


Kemudian Willian dan Dhea segera keluar dari rumah itu, dan tidak lupa mengunci lagi pintu rumah tersebut.


" Will apakah temanmu itu berasal dari kota yang sama sepertimu?"


" Tidak Dhe, hanya saja kami kenal karena dulu pernah berkecimpung dalam bisnis yang sama."


" Jadi dulu dia teman bisnismu?"


" Bisa dibilang begitu, kemudian dia mendapatkan suami orang dari negaramu dan akhirnya menetap di sana."


" Ohhh begitu ya."


" Kalian sering berkomunikasi?"


" Aku lebih sering berkomunikasi dengan suaminya, karena sekarang suaminya yang lebih dominan mengurusi usahaku, dibanding dengannya. Dia fokus dengan 2 anaknya yang masih kecil-kecil."


Dhea hanya mengangguk-angguk mendengarkan cerita William. Tak lama kemudian mereka telah tiba di rumah besar bergaya Eropa, yang terletak di salah satu lokasi perumahan elite.


" Ayo turun sayang!!" Ajak William sambil menggandeng tangan Dhea.


Saat William memencet bel di pintu rumah itu, seorang wanita berwajah kebule-bulean menyembul dari balik pintu sambil tersenyum ramah dan mempersilahkan mereka berdua masuk.


" Hai...masuklah Will."


" Terimakasih." Jawab William sambil mengikuti si empunya rumah.


" Duduklah!!" Katanya lagi.


" Mar, ini Dhea calon istriku. Sayang kenalkan dia adalah wanita yang pernah kau cemburui waktu itu."


Dhea hanya melotot ke arah kekasihnya, karena merasa malu dengan teman William yang pernah dia cemburui itu, dan teman William tau jika Dhea sedikit tidak enak hati padanya.


" Hahaha...jangan sungkan Dhea, wajar kau mencemburuinya, karena dia memang sangat digilai oleh wanita, kecuali aku ya?"


" Maafkan aku, aku tidak tau." Kata Dhea.


" Ohhh tidak apa-apa Dhe. Kenalkan aku Mariyam." Kata teman William sambil menyodorkan tangannya.


" Mariyam??" Kata Dhea menegaskan, karena merasa heran ada seorang bule bernama Mariyam.


" Hahaha....sebenarnya dulu aku bernama Maria, hanya saja setelah mualaf kuganti menjadi Mariyam."


" Ohhhh begitu ya." Kata Dhea mengangguk-anggukan kepalanya tanda mengerti.


Dhea kagum melihat penampilan teman William itu. Tubuhnya dibalut gamis dari atas hingga ke bawah, serta dilengkapi jilbab besar yang menjuntai hingga ke lututnya.


" Kau sepertinya sudah benar-benar mendalami agama barumu Mar?"


" Harus itu Dhe, karena itu sudah keputusanku. Aku tidak mau jika meninggal nanti arwahku tidak diterima oleh umat manapun, karena setengah-setengah menjalankan ibadah agama yang kuanut."


" Luar biasa kau Mar, semoga hidupmu semakin berkah ya?" Kata Dhea.


" Aamiin, terimakasih doanya."


" Sayang dialah yang dulu sering menasehatiku saat aku baru saja mualaf, dan aku juga ingin seperti dia, serius menjalani agama baruku."


" Terimakasih ya Mariyam atas bantuanmu, akhirnya kami bisa bersatu."


" Ya Dhe sama-sama. Aku hanya bisa mendoakan saja, semoga rumah tangga kalian nanti langgeng." Jawab Mariyam.


" Aamiin." Jawab William dan Dhea bersamaan.


Tak lama kemudian datang seorang laki-laki yang baru saja turun dari lantai atas di rumah itu, wajahnya terlihat bersih, menggunakan baju koko dan celana di atas mata kaki.


" Assalamualaikum." Sapa laki-laki tersebut.


" Wa'alaikum salam." Jawab mereka bertiga berbarengan.


" William..bagaimana kabarmu?" Sapa teman William menggunakan Bahasa Inggris yang fasih.


" Alhamdulillah baik Fer."


" Hemmm...pasti ini Dhea calon istrimu kan?"


" Iya Fer." Jawab William singkat.


Feri hanya memberikan isyarat salam pada Dhea dengan merapatkan kedua tangannya di dada.


" Dhe, William ini sering menceritakanmu pada kami."


" Benarkah?" Tanya Dhea.


" Ya. Kami salut perjuangannya saat ingin mendapatkanmu. Hingga dia rela belajar mengucapkan Al Fatihah padaku, karena ayahmu menginginkan dia melafazkannya dengan benar, hingga berkali-kali sampai akhirnya ayahmu meluluskannya."


" Terimakasih atas bantuan kalian semua ya. Aku tidak tau ternyata diam-diam dia melakukan itu semua di belakangku."


" Ya, kau sangat beruntung mendapatkan laki-laki yang sangat mencintaimu. Bantulah dia agar lebih dekat padaNya." Kata Mariyam.


" Ya pasti itu, karena dia belum sepenuhnya meninggalkan cara hidupnya di sana."


" Semua butuh proses dan harus pelan-pelan Dhe, dulupun aku begitu, tapi sekarang aku sudah nyaman seperti ini. Ya bi." Kata Mariyam sambil menatap suaminya.


" Iya mi." Kata suami Mariyam sambil tersenyum.


" Sungguh keluarga yang harmonis." Kata Dhea dalam hati. Dia sangat mendambakan memiliki keluarga yang hangat seperti mereka berdua, semoga kelak William bisa menjadi panutan baginya dan anak-anaknya nanti.