
Seminggu lagi pernikahan Paula dan William akan segera dilaksanakan. Siang ini Paula sedang fitting baju pengantin diantar William, tentunya Paula harus memaksanya dulu agar mau mengantarnya pergi.
" Hai nona Paula ".
" Hai Rose ".
" Ooohh ini rupanya calon suamimu, tampan sekali dia ", kata desainer baju pengantin Paula.
" Terimakasih Rose, kenalkan dia William ".
" Aku Rose tuan William ", kata Rose mengenalkan diri, William hanya tersenyum sekilas.
" Oh ya, kenapa anda hanya membuat baju untuk mempelai wanitanya saja ? apakah calon suami anda ini tidak ingin membuatnya juga ?"
" Tidak nona, aku tidak berminat membuat baju pengantin, bukan hanya tidak berminat membuatnya saja, tapi juga tidak berminat mendampinginya di altar nanti ". Jawab William ketus.
" Hei kenapa rupanya ? biasanya seorang calon pengantin akan semangat menyambut hari istimewanya itu ?"
" Tapi buatku ini bukan moment yang istimewa, karena mempelai wanitanya sangat memuakkan !!" Kata William sambil melirik Paula dengan sadis.
" Ohh ehm maaf Maria calon suamiku ini memang suka bercanda, ayolah William hentikanlah candaanmu, nanti Maria salah paham dengan kita, bukankah kita ini pasangan yang saling mencintai dan sangat menginginkan pernikahan ini ".
" Hhhhh dasar wanita munafik ", gerutu William.
" Ayo Paula kau harus mencoba bajumu dulu ", ajak Rose.
Kemudian Paula mengikuti Rose di belakangnya. Di dalam Paula mengganti pakaiannya dengan baju pengantin yang dipesannya.
" Hei kenapa bajunya jadi sempit begini ? kau pasti makan banyak akhir akhir ini Paula.
" Ya Rose, bayi di perutku ini sepertinya ingin membuatku gemuk ", kata Paula sambil tersenyum.
" Wow kau sedang hamil Paula...? selamat ya...pasti kau sangat bahagia, karena saat melahirkan nanti ada seorang suami tampan yang mendampingimu ".
" Bukan hanya tampan Rose, tapi juga kaya raya hahaha ", bisik Paula kemudian tertawa.
" Benarkah ? kau memang wanita yang sangat beruntung Paula ".
" Ya Rose aku sangat bersyukur dengan kehamilanku ini ".
" Ayo kita keluar, tunjukkan pada calon suamimu, dia akan merasa takjub melihatmu memakai baju ini ".
Kemudian Rose dan Paula keluar dari dalam ruang ganti, dan menemui William di luar yang sedang duduk sambil bermain handphone.
" Lihatlah Tuan William calon pengantinmu ini cantik bukan ?"
William hanya melirik sesaat tanpa berkomentar, lalu kembali asyik dengan handphonennya.
" Hei ada apa dengan calon suamimu ? apakah dia sedang marah ?" Bisik Rose.
" Dia memang seperti itu kalau sedang banyak masalah di kantornya ", bisik Paula juga.
" Hmmmm ya ya ya ".
" Tuan William...apakah anda suka dengan tampilannya sekarang ini, pantas bukan ?"
William mengangkat kepalanya, wajahnya terlihat sebal dengan situasi sekarang ini.
" Aku tidak perduli dengan tampilannya nona Rose, apakah dia pantas atau tidak memakai baju itu, bagiku dia itu sama saja !" Jawab William ketus.
" Hei kau jangan begitu William, Rose sedang membantuku mempersiapkan semuanya, agar aku terlihat cantik di hari pengantin kita nanti ".
" Hhhhh bagiku itu sangat tidak penting Paula ".
" Ya ya ya...oke, aku tau kalian pasti sedang ada masalah, dan itu mungkin hal yang biasa jika seorang calon pengantin bersiteru menjelang hari pernikahannya, mungkin kalian sedang stres berat. Aku hanya ingin mengatakan kepada anda Tuan William, jangan kau biarkan bayi di dalam perut kekasihmu ini meminta ibunya untuk makan terus, kalau tidak baju ini nanti tidak akan muat di tubuhnya, jadi kau jangan menunda nunda waktu lagi ya, sebelum perutnya semakin membesar dan aku tidak punya stok kain untuknya, betul begitu Paula ?"
" Hahaha kau ini bisa saja Rose ".
" Hhhhhh dua wanita yang menyebalkan ", gerutu William.
" Ayo kita ke dalam Paula, dan kita bungkus baju ini ".
" Iya Rose ", jawab Paula.
Kemudian mereka berdua masuk ke dalam. Beberapa saat kemudian mereka keluar lagi, sambil membawa sebuah bungkusan di tangan Paula.
" Terimakasih ya Rose, aku suka sekali hasil karyamu ini ".
" Iya Paula, semoga pernikahan kalian berdua lancar, dan bayi dalam kandunganmu ini sehat sehat saja ". kata Rose sambil memegang perut Paula.
" Ya Rose, terimakasih sudah mendoakan kami. Aku permisi dulu ya ?"
" Iya Paula hati hatilah di jalan, dan anda Tuan William jangan terlalu kencang mengemudikan mobilmu, atau kau akan menyakiti bayimu ", kata Rose sambil tersenyum.
Kemudian Paula dan William segera pergi menuju apartemen Paula.
" Sikapmu tadi membuatku malu di hadapan Rose Will ".
" Malu ? Hhhh....kau hanya punya malu jika di depan orang orang saja, apa kau ingin dipandang baik di mata mereka ? jangan terlalu banyak berpura pura Paula, bersikaplah apa adanya ".
" Tapi tidak harus seperti kamu juga, kau tidak menghargaiku sedikitpun !"
" Aku harus menghargaimu berapa ? Kau bahkan sudah tidak ada harganya lagi di mataku ".
" Jaga mulutmu William !! Sikapmu setiap hari semakin kurang ajar saja padaku ".
" Hhhh...tapi kau bahkan tidak berniat untuk meninggalkanku kan, padahal sikapku sungguh tidak manis padamu ".
" Enak saja...kau pikir aku tidak ingin anakku lahir didampingi kedua orang tuanya ".
" Ya...tapi mungkin setelahnya kau tidak bisa berharap banyak padaku untuk bisa bersikap lebih baik dari ini oke ?"
" Aku tidak perduli itu tuan William, bagiku status sebagai istrimu itu cukup bisa membuatku bernafas lega ".
" Ya tentu saja, karena tujuanmu kan memang untuk itu, kau pikir aku tidak tau ".
Paula diam saja, dalam hatinya merasa dongkol sekali terhadap sikap William.
" Hei bukankah ini jalan menuju apartemenku ?"
" Ya memangnya kenapa ?"
" Kau harus mengantarku dulu untuk mengambil cincin pernikahan kita ".
" Ambillah sendiri olehmu, bukankah semua sudah aku bayar lunas ? kenapa hanya untuk mengambilnya saja kau masih merepotkan aku ?"
" Kau ini Wil, aku kan tidak perlu bolak balik lagi, dan kita bisa sambil sekali jalan ".
" Tidak...masih banyak urusanku yang lebih penting !"
" Kau pikir semua ini tidak penting ?"
" Tidak penting Paula dan sangat tidak penting, kau paham !!"
" Kalau begitu turunkan aku di sini, aku akan naik taksi sendiri ".
" Ohhhh dengan senang hati Paula, karena sedari tadi rasanya aku sudah muak naik mobil ini denganmu !"
Kata William, kemudian menepikan mobilnya, dan Paulapun turun di pinggir jalan. Lalu William segera meninggalkan Paula sendirian.
" Dasar laki laki Brengsek, kau benar benar keterlaluan, aku hanya menggertakmu tapi kau benar benar menurunkanku di sini. Awas kau Williammm ".
Lalu William segera menuju ke rumah papanya, tadi pagi dia sudah berjanji untuk mengunjunginya.
Tak lama kemudian William telah tiba di rumah besar itu.
" Selamat siang pah ".
" Siang Will ".
" Kau baik baik saja kan pah ", tanya William sambil duduk di samping papanya di dalam ruang keluarga.
" Papa yang harusnya bertanya padamu, bagaimana moodmu siang ini setelah mengantar Paula mengambil baju pengantinnya ?"
" Hhhh sangat menjengkelkan pah, perempuan itu sikapnya selalu saja membuatku meradang ".
" Hahaha itu karena kau tidak pernah menyukainya, coba seandainya saja kau menyukainya, pasti lain ceritanya, ya kan ?"
" Hhhh aku itu bahkan tidak ingin memimpikan untuk bisa mencintainya, pasti itu sangat mengerikan buatku ".
" Lalu persiapan pernikahanmu bagaimana ? sudah beres semua kan ?"
" Sudah pah, orangku sudah mengurus semua persyaratannya ".
" Yaa baguslah...kau harus benar benar siap menghadapi ini semua William, aku yakin kau bisa menjalaninya ".
" Iya pah, tapi aku tetap tidak akan membiarkan wanita itu tenang berada di sampingku ".
" Hahaha William William, belum juga kau menikah dengannya, tapi kau sudah berencana membuat hidupnya tidak nyaman ".
" Biar saja pah, itu resikonya memaksa menikah dengan pria yang tidak pernah mencintainya ".
" Ya..kau boleh membenci istrimu, tapi jangan anaknya karena dia akan menjadi cucuku William hahaha ".
William hanya bersungut sungut mendengar perkataan papanya.