
Dhea dan William mengobrol berdua hingga malam hari, sambil menikmati makanan yang disediakan oleh asisten rumah tangga.
" Will pulang yuk, sudah malam." Ajak Dhea.
" Benarkah Dhe? Sepertinya masih 5 menit yang lalu kita berduaan di sini."
" Lihatlah arlojimu!! Ini sudah pukul 11 malam William!!" Kata Dhea. Lalu William melihat arloji di tangannya.
" Oh iya benar. Tapi Dheee....Aku masih ingin sekali bersamamu!! Pasti setelah kau pulang nanti aku akan akan merasa bosan di sini." Rajuk William.
" Hemmm....kau mulai keras kepala kan???" Kata Dhea sambil memelototkan matanya.
" Hehehe...ampun Dhe, iya iya aku akan mengantarmu sayang." Kata William sambil berdiri.
" Ayo sayang?" Ajak William sambil mengulurkan tangannya ke Dhea.
" Apakah ini harus?" Tanya Dhea.
" Ya harus!! Karena kau melarangku untuk memelukmu, jadi aku hanya memintamu untuk memegang tanganku saja. Bolehkan sayaaangg???:" Pinta William.
" Hmmmmm....." Gumam Dhea sambil bergaya sedang berpikir.
" Aahhh...kau lama sekali berpikirnya." Kata William sambil meraih jemari Dhea dan menggenggamnya erat.
" Pilih mana? Berpegangan atau berpelukan?" Tanya William sambil mendekatkan wajahnya ke Dhea.
" Hehehe lebih aman berpegangan tuan!!!" Kata Dhea sambil cengar cengir.
" Ok!! Lets go...!!" Kata William sambil berjalan dan menggandeng tangan Dhea.
Dhea hanya tertawa melihat tingkah William yang konyol itu. Dia tidak menyangka ternyata laki laki yang selama ini dia anggap arogan, bisa bersikap lucu juga.
" Sayang?" panggil William.
" Iya", jawab Dhea.
" Besok malam kita ke rumah papaku ya?"
" Mau apa Will?"
" Aku ingin memberitahukan, bahwa anak laki lakinya ini sudah berhasil mendapatkan wanita pujaannya."
" Tidakkah terlalu cepat Will? Kita kan cuma sebatas pacaran?"
" Tidak masalah Dhe, pasti papaku sangat bahagia mendengar kabar ini."
" Kenapa bisa begitu?"
" Papaku tau bahwa kau wanita yang baik, dan dia sangat senang jika aku bisa bersamamu. Apalagi dulu aku sempat membuatnya khawatir karena hampir menikah dengan Paula."
" Lalu Mike bagaimana?"
" Kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Dia pasti bisa menerima semuanya. Bukankah kau sendiri yang bilang? Adikku memiliki hati yang seluas samudra."
" Ya, tidak sepertimu yang sulit untuk menerima kenyataan."
" Tidak terkecuali kenyataan bahwa saat ini kau resmi jadi kekasihku sayang!! Rasanya ini seperti mimpi." Kata William sambil tersenyum.
" Kau ini Will, jangan terlalu gembira begitu."
" Kenapa Dhe?"
" Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak baik Will."
" Tapi aku memang sangat gembira Dhe, rasanya aku seperti baru memenangkan undian bermilyar milyar Hahaha." Jawab William riang.
Dhea hanya tersenyum melihat sikap William.
William terus memacu kendaraannya hingga tiba di depan apartemen Dhea.
" Will aku masuk dulu ya!" Pamit Dhea sambil membuka pintu.
" Dhe." Panggil William.
" Iya!" Jawab Dhea dan mengutungkan niatnya untuk membuka pintu mobil.
William kemudian menarik tangan Dhea dan memandangnya lama.
" I love you Dhe." Katanya pelan sambil mencium telapak tangan Dhea.
" I love you to sayang!" Jawab Dhea sambil tersenyum.
Hati William tiba tiba begitu tenang, dia seolah seperti merasakan setiap mili aliran darahnya. Baru kali ini Dhea menjawab ucapan cintanya.
" Sayang...aku pasti sangat merindukanmu malam ini, rasanya aku tidak ingin melepaskan tanganmu."
" Pulanglah! Besok pagi kau kan akan menjemputku bukan?"
" Iya sayang. Hehhhh....tapi waktu pasti akan merayap begitu lama." Gerutu William.
" Ihhhh kau ini." Kata Dhea sambil menarik hidung William yang mancung.
William mulai melepaskan genggaman tangannya sambil tersenyum mengiyakan kata kata Dhea.
Dhea segera turun dari kendaraan William dan masuk ke dalam apartemennya. William kemudian segera pergi meninggalkan apartemen Dhea.
" Dhea aku sangat mencintaimu." Bisik William sambil senyum senyum sendiri di dalam mobilnya.
William tidak sabar ingin memberitahukan kabar tersebut pada Daniel temannya.
William langsung mengambil handphonennya untuk menelfon sahabatnya itu. Setelah tiga kali menelfon Daniel baru mengangkatnya.
" Hallo Will?"
" Hallo Dan, kau sudah tidur? Lama sekali mengangkatnya?"
" Sayaaaanggg ayo dong, tutup saja telfonmu!" Suara perempuan terdengar sedang merajuk manja di sebrang sana.
" Hei Dan sialan!! Kau sedang bersama wanita ya?"
" Hehehe iya bos maaf ya, sedang tanggung nih."
" Ahhh kau ini, suara perempuan itu membuatku teringat akan dosa dosaku dulu teman."
" Ya, dosa yang terindah bukan hahaha???"
" Hahhh...brengsek kau!!"
" Hentikan dulu kegiatanmu!! Aku ingin berbicara denganmu, suruh wanitamu jangan mengeluarkan suaranya ya?"
" Hahaha kenapa? Kau takut ingin bernostalgia?"
" Sialan...Aku takut tidak bisa mengontrolnya saat bersama kekasihku!!!
" Kekasihmu? Siapa kekasihmu?"
" Dhea Dan, Dhea telah jadi kekasihku. Dia baru saja menerima cintaku!!!" Jawab William antusias.
" Benarkah Will? Dia mau menerima cintamu?"
" Ya Dan, aku bahagia sekali dan tidak sabar ingin menceritakannya padamu."
" Ohhhh akhirnya semua penderitaanmu berakhir teman!!"
" Belum Dan, belum berakhir."
" Maksudmu?"
" Aku tidak hanya ingin sebatas pacaran dengannya."
" Lalu?" Tanya Daniel penasaran.
" Aku ingin menikahinya Dan."
" Ya sudah, kau tinggal melamarnya. Bukankah kalian sudah saling mencintai?"
" Tidak semudah itu Dan."
" Lalu apa masalahmu?"
" Kau tau kan dia umat yang taat?" Kata William.
" Lalu?"
" Dia tidak mau menikah denganku jika tidak mengikuti keyakinannya."
" Ya sudah kau ikuti saja keyakinannya, bukankah selama inipun kau bukan umat yang taat, pasti lebih mudah bagimu untuk berpindah keyakinan dibandingkan dengannya."
" Tapi hatiku belum mantap Dan."
" Jika hatimu belum mantap, apalagi Dhea. Jika kau mencintainya, berkorbanlah Will." Kata Daniel.
" Hemmm...Atau kau punya ide jitu lagi agar kita bisa menikah secepatnya Dan?"
" Maaf Will, kali ini aku angkat tangan, karena permasalahan yang sedang kalian hadapi adalah tentang sebuah keyakinan. Aku memang laki laki bejat, aku memang manusia yang penuh dengan dosa, tapi aku tidak mau memaksa seseorang untuk meyakini sesuatu yang dia sendiri tidak mempercayainya. Itu masalah prinsip Will. Semua orang berhak untuk memutuskan pilihannya sendiri."
" Ya Dan, aku hanya sedang bingung untuk memecahkan masalah itu. Aku ingin pernikahan yang sakral dan dilandasi sebuah cinta, dan bukan kepura puraan. Yah mungkin aku butuh sedikit waktu untuk mencari jawaban itu." Gumam William.
" Ya Will jalani, dan carilah jalan keluar bersama dengan baik, ini adalah awal masa depanmu. Jika kau ingin memperbaiki semuanya, mulailah segalanya dengan baik pula." Jawab Daniel.
" Hehhh...kau bisa bijak juga Dan?"
" Hahaha...aku itu sebenarnya memang bijaksana Will, hanya sedikit tidak bisa mengontrol diri."
" Tidak bisa mengontrol diri atau tidak ingin mengontrol diri Dan?"
" Hahaha sepertinya lebih tepat poin yang kedua teman, aku hanya sedang berusaha membagi kebahagiaan saja teman."
" Hahhhhh kau ini bisa saja bermain kata kata." Gumam William.