Something different

Something different
Tiba di Indonesia



" Sayang kau lihat hotel dan bangunan perkantoran itu?" Kata William saat berada di atas taksi bersama Dhea ketika sudah tiba di Indonesia.


" Ya, bangunan itu bukankah masih baru? Kenapa sayang?" Tanya Dhea balik bertanya.


" Itu nanti yang akan menghidupi kita di sini sayang."


" Maksudmu itu milikmu?"


" Ya, itu yang aku bilang saat di pesawat. Aku sengaja membangunnya di sini agar dekat dengan rumah orang tuamu."


" Hmmmm pantas saja, aku pernah bertanya pada orang tuaku siapa pemilik bangunan itu, dan mereka bilang adalah orang asing. Jadi kau orang asing itu?"


" Tapi sebentar lagi aku bukan orang asing lagi bagimu. Dan tugasmu setelah ini adalah mengajariku bahasamu agar aku tau artinya jika ada seseorang yang sedang membicarakanku di belakangku."


" Hahaha...kenapa kau harus takut dengan pembicaraan orang jika kau sudah melakukan apa yang menurutmu baik sayang?"


" Apa yang menurutku baik belum tentu baik juga untuk orang lain, dan kita tidak bisa menuntut semua orang untuk menyukai kita semua sayang."


" Tapi aku takut kau akan memarahi orang-orang itu jika nanti kau tau artinya."


" Kau doakan aku saja agar bisa belajar bersabar. Dan satu lagi, itu semua akan aku jadikan intropeksi untuk membuat diriku bisa lebih baik lagi."


" Aamiin...." Jawab Dhea singkat.


" Lalu kenapa kau tidak langsung menuju penginapanmu?"


" Tidak sayang, aku tidak mau dibilang laki-laki tidak bertanggung jawab karena membiarkanmu tiba di rumah seorang diri."


" Ahhh pasti alasanmu saja karena tidak ingin berpisah dulu denganku kan?"


" Hehehe kau ini tau saja jalan pikiranku."


" Lalu tempat usahamu di London bagaimana?"


" Aku sudah mendelegasikan semuanya pada Daniel."


" Kau percaya pada dia?"


" Ya aku percaya, selain itu ada Mike yang bisa membantuku juga untuk mengurusinya, jadi semua data yang masuk bisa diketahui juga oleh Mike."


" Syukurlah jika semua pekerjaanmu sudah ada yang menanganinya, aku takut kau jatuh miskin gara-gara tinggal di sini."


" Jadi kau takut punya suami yang tidak kaya lagi?"


" Hahaha bagaimana aku bisa takut? Dari dulu itu aku biasa hidup mandiri dengan uang pas-pasan sayang, justru aku takut kau yang tidak siap jika tiba-tiba hartamu nanti habis."


" Yang penting bukan cintamu yang habis sayang, aku justru takut kehilangan dirimu daripada kehilangan hartaku."


" Benarkah Will? Kau sedang merayuku ya?"


" Merayu jika tidak ada buktinya itu yang harus kau waspadai sayang. Lalu aku harus membuktikan apa lagi agar kau bisa percaya padaku?"


" Aku akan 100% percaya jika kau sudah mengucapkan ijab kabul sayang." Jawab Dhea.


" Oke kalau begitu nanti saat tiba di rumahmu, aku akan mengatakan pada ayahmu bahwa malam ini harus mencari penghulu, dan besok langsung menikahkan kita berdua bagaimana?"


" Ehhh tidak...tidak...aku hanya bercanda Will, iya aku percaya bahwa kita berdua itu saling membutuhkan. Begitupun denganku, aku tidak bisa hidup tanpamu. Kau adalah sebagian jiwaku Will."


" Sayang berjanjilah padaku bahwa kau akan setia mendampingiku hingga maut memisahkan kita."


" Insyaalloh Will, asalkan kau juga setia dan mau seperti ayahku atau paling tidak mirip dengan ayahku."


" Maksudmu?"


" Kau harus siap berjamaah setiap hari di masjid, kau harus siap memimpin rumah tangga kita dengan baik dan bijaksana, penuh kelembutan dan tidak dengan kekerasan. Dan satu lagi, kau bukan hanya menyayangiku saja, tapi juga harus menyayangi orang tuaku dan menganggap mereka seperti orang tuamu sendiri."


" Siap sayang, yang penting kau tidak memintaku mengimamimu dengan surat Al Baqoroh saja karena aku pasti akan sulit menghafalnya." Jawab William sambil tersenyum.


" Tidak Will, jika kau tidak mampu jangan kau paksa, daripada setelah menghafalkannya kemudian kau lalu melupakannya. Tapi sempatkanlah untuk membacanya setiap hari, dan yang paling penting pahamilah, karena itu sebagai panduan dan pedoman hidup bagi kita umat muslim dimana di dalamnya terkandung aqidah, ibadah, hukum-hukum dan sebagainya, jadi kau harus tau itu."


" Iya Will pasti itu." Jawab Dhea.


Tak lama kemudian taksi telah tiba di depan rumah Dhea, William dan Dhea kemudian turun. Setelah membayar sejumlah uang William segera menarik koper yang dibawa oleh Dhea.


" Lho sayang kenapa aku baru sadar? Mana koper pakaianmu?" Tanya Dhea pada William.


" Hemmm...apa aku perlu menjelaskan lagi proses persiapanku semuanya sayang?" Jawab William sambil menggoda Dhea.


" Ahhhh...menyesal aku bertanya hal seperti ini lagi padamu."


" Hahaha...kau kan tau siapa calon suamimu ini."


" Ya sangat tau, dia adalah seorang aktor yang sangat luar biasa sehingga membuat kekasihnya ini kehilangan semangat selama satu tahun terakhir karena merindukanmu. Begitu kan Tuan William Sean Anderson yang terhormat?"


" Ya, begitu kira-kira calon Nyonya Sean Anderson yang tercinta." Jawab William sambil tersenyum.


" Hehhhh...sangat tidak lucu ya, awas jika kau berani membuatku seperti itu lagi, aku akan menerima cinta mantanku dulu ya."


" Mantanmu yang bernama Reihan itu kan?"


" Kau ta......uppsss...!!" Tiba-tiba Dhea menutup bibirnya saat ingin menanyakan tau darimana William nama mantannya tersebut, karena pasti William akan kembali mengejeknya.


" Hahaha...kenapa tidak jadi bertanya sayang? Apakah kau ingin tau juga bahwa aku juga bisa mengetahui Presiden Jokowi tadi pagi sarapan dengan lauk apa?"


" Ahhh kau ini menggodaku terus..!!" Jawab Dhea manja.


" Hahaha aku rindu sifat manjamu itu Dhe!!"


" Sssttt...awas nanti bisa didengar oleh ayahku."


" Kau tidak bisa membohongiku, ayahmu baru akan pulang sore nanti sayang. Kau lupa kau harus belajar jadi buaya dulu jika ingin mengadaliku hahaha."


" Hihhhhhh...." Kata Dhea sambil mencubit pinggang William.


" Awwww..." Jerit William tertahan karena takut didengar oleh ibu Dhea yang berada di dalam.


" Yeee...syukur." Kata Dhea mengejek sambil tersenyum.


" Ayo jadi masuk tidak? Atau kau ingin terus bercanda di luar sini bersamaku?" Tanya Dhea.


" Tidak sayang, karena aku sangat rindu teh panas buatanmu. Dan yang paling aku rindu adalah masakan buatan ibumu."


" Apa? Jadi kau ikut denganku karena ingin makan di sini?"


" Yah begitulah Dhe, karena sebelum berangkat ke sini aku sudah mengirim pesan pada orang tuamu agar membuatkanku sop dan ayam goreng kesukaanmu, dan ternyata aku juga menyukainya."


" Memangnya ibuku bisa mengartikan kalimat pesanmu di handphonennya?"


" Bukankah ada Della sepupumu yang kuliah di sastra inggris dan bisa mengartikannya pada ibumu?"


" Kau ini ihhhhhh...apa lagi yang belum kau ketahui tentangku William???"


" Ada Dhe yang belum kuketahui." Kata William serius.


" Apa itu?" Tanya Dhea.


" Sini aku bisiki." Kata William sembari meminta Dhea untuk mendekat, lalu membisikkan sesuatu.


" Ihhhhhhh.....kau jorok sekali William!!!" Kata Dhea sambil menutup kedua telinganya dan bergidik ngeri.


" Lho kau kan tanya apa yang belum kuketahui? Kenapa mengataiku jorok?"


" Iya tapi kan itu??" Dhea tidak melanjutkan kata-katanya karena merasa tidak pantas dan malu untuk mengucapkannya.


" Sayang lihatlah wajahmu memerah, kau malu ya? Hehehe tenanglah itu tidak akan menjadi jorok jika kita sudah menikah." Kata William sambil tersenyum.


Dhea hanya tersenyum saja dan berusaha menyembunyikan wajahnya yang memerah sambil membalikan badannya untuk kemudian mengetuk pintu rumahnya.