Something different

Something different
Kejujuran Bram



" Nak...ayah dan ibu pulang dulu ya? Kamu baik-baik di sini. Berapa hari lagi kau pulang nak?" Tanya ibunya.


" Mungkin 2 mingguan lagi bu, jika semua urusanku sudah selesai."


" Ya sudah mudah-mudahan lancar semuanya ya?"


" Iya bu, terimakasih." Jawab Dhea.


Akhirnya mereka berpisah, Dhea kembali ke apartemennya, sedangkan orang tuanya terbang menuju Indonesia kembali.


Sampai di apartemen Dhea langsung merebahkan tubuhnya. Pikirannya menerawang jauh, sebentar lagi dia akan meninggalkan negara ini. Dan itu berarti dia harus mulai kehidupan sebenarnya di sana, tanpa ada fasilitas apapun yang memanjakannya seperti saat di sini. Terlebih orang tuanya yang sangat menuntutnya untuk hidup mandiri dan tidak mengandalkan orang lain. Namun tiba-tiba saja telfon Dhea berdering, dilihatnya yang menelfon adalah Bram.


" Hallo Bram."


" Hallo Dhe, kau sedang dimana?"


" Aku di apartemen Bram, ada apa?"


" Aku ingin mengajakmu makan siamg, kau mau kan?"


" Hemmm...tapi kekasihmu?"


" Aku sudah lama putus dengannya, kau tidak usah mengkhawatirkannya."


" Benarkah? Hehhh...ternyata aku sudah ketinggalan berita jauh ya?" Tanya Dhea.


" Ya kan kau terlalu sibuk dengan William, sehingga lupa bergaul denganku."


" Ahhh kau ini, itu kan dulu."


" Berarti kau mau ya? Bukankah tidak ada William yang bisa melarangku lagi?"


" Ok Bram, kalau begitu aku tunggu di sini ya?"


" Di sini dimana Dhe?"


" Di apartemenku Bram!"


" Kau ini, memangnya selama ini aku tau kau tinggal dimana?"


" Oh iya aku lupa hahaha, ya sudah nanti aku kirimkan alamatnya padamu."


" Ok Dhe, aku siap-siap dulu, kau dandan yang cantik ya."


" Hahhh...Aku jera Bram pernah dandan cantik saat bersamamu, jangan-jangan nanti ada William William lain yang mengejarku lagi."


" Hahaha....kau ini bisa saja Dhe, mana berani mereka mendekatimu jika tau kau adalah wanita incaran Tuan William yang terhormat itu, bisa-bisa mereka tidak akan menghirup udara nyaman di negara ini lagi."


" Kau ini berlebihan sekali takutnya dengan laki-laki itu, sepertinya dia tidak terlalu menyeramkan?"


" Dia memang tidak menyeramkan Dhea, tapi dia itu ibarat binatang adalah seekor ular."


" Maksudmu?"


" Kau tau ular kan, gerakannya lambat, santai, tapi saat diganggu dia akan langsung mematuk musuhnya, dan dalam tempo waktu singkat langsung END."


" Hahaha aku bahkan tidak tau jika dia seganas itu."


" Memang begitu dia Dhe, dia hanya mau bertekuk lutut padamu saja."


" Hehhh...kau ini. Jadi kau mau menjemputku jam berapa Bram?"


" Ya aku akan langsung kesitu Dhe, tunggu saja ya."


" Ok Bram aku tunggu." Jawab Dhea lalu segera menutup telfonnya. Setelah itu dia segera bersiap-siap dan mengganti pakaiannya.


Tak lama kemudian Bram menelfonnya dan telah menunggunya di bawah.


" Hai..." Sapa Dhea saat baru saja menghampiri Bram di dekat mobilnya.


" Hai Dhe, ayo naik!!" Suruh Bram sambil membukakan pintu untuk Dhea.


" Makan di mana kita?"


" Kau tau kan kegemaranku?" Kata Dhea.


" Seafood dan ayam goreng kan?" Tebak Bram.


" Ya, tapi aku di sini puasa makan ayam goreng dulu, jadi kita cari seafood saja ya?"


" Ok siapp bos." Jawab Bram.


" Kau berani-beraninya mengajakku pergi Bram, bagaimana jika William tau kemudian menjemputku?"


" Hahaha...bukankah dia sudah melepaskanmu sementara ini?"


" Ya hanya sementara Bram."


" Lalu kenapa tiba-tiba kau mengajakku pergi?"


" Aku ingin merayakan kelulusan kita berdua, sekalian makan bersama terakhir denganmu, bukankah kau akan kembali ke Indonesia?"


" Ohhh begitu, kenapa tidak mengajak teman yang lain?"


" Tidak aku tidak ingin ada yang mengganggu kebersamaan kita kali ini."


" Ya ya ya..." Jawab Dhea singkat.


Kemudian Bram membelokkan kendaraannya ke sebuah restoran seafood. Setelah Bram memarkirkan mobilnya, kemudian mereka berduapun masuk ke dalam restoran itu, dan langsung memesan makanan.


" Orang tuamu sudah pulang Dhe?"


" Sudah, tadi aku mengantarnya ke bandara."


" Bersama supir William?"


" Yah, siapa lagi."


" Hmmmm luar biasa pengorbanan William buatmu ya?"


" Katamu itu hal mudah baginya, karena dia kaya raya sehingga jika hanya untuk memberiku fasilas seperti itu tidak sebanding dengan jumlah hartanya."


" Memang benar, tapi bukan nilainya yang aku acungi jempol, tapi inisiatifnya itu yang luar biasa hingga memikirkan tiap detil kebutuhanmu."


" Hehhhh...itulah yang dulu membuatku percaya padanya, perhatiannya yang luar bisa padaku yang mungkin tidak bisa kudapatkan dari laki-laki lain."


" Lalu setelah kembali ke Indonesia rencanamu selanjutnya apa?"


" Aku sudah mendapat panggilan kerja di almamaterku sebagai dosen di sana."


" Wow hebat kamu Dhe!!"


" Kamu berlebihan sekali memujiku Bram."


" Lalu kau sendiri?"


" Aku tetap seperti ini Dhe, mungkin lebih fokus untuk mengembangkan bisnis dan membangun relasi dengan pengusaha lain."


" Ya semoga usahamu semakin sukses Bram."


" Dhe!"


" Iya Bram."


" Kamu tau tidak tujuan sebenarnya aku mengajakmu ke sini?"


" Kau bilang untuk merayakan kelulusan sekaligus perpisahan kita!"


" Ya benar, tapi ada yang lebih penting dari itu."


" Apa itu Bram?"


Bram kemudian menarik nafas panjang.


" Dhe, kau jangan salah paham, pada intinya aku hanya ingin jujur saja tentang isi hatiku tidak lebih. Namun setelah kau mengetahui semuanya, aku harap kita tetap bersahabat, walaupun jarak sudah memisahkan kita, tapi aku minta kau tidak memutus komunikasimu denganku."


" Maksudmu apa Bram?"


" Dhe, kau tau tidak? Dulu akulah orang yang paling gencar melarang William mendekatimu. Kau tau kenapa?"


" Kenapa Bram?"


" Karena aku juga menyukaimu Dhe!"


" Kau...kau menyukaiku Bram?" Tanya Dhea gugub.


" Iya Dhe aku menyukaimu."


" Tapi sekarang kan kau tau aku dan William..."


" Iya aku paham sekali, kau dan William masih ada kesempatan untuk kembali lagi, namun saat ini aku hanya ingin mengutarakan isi hatiku saja tidak lebih. Tak masalah kau tidak akan menerimaku, yang penting kau sudah tau aku menyukaimu." Kata Bram memutus kalimat Dhea.


" Iya Bram, maafkan aku ya selama ini aku hanya menganggapmu teman, tidak lebih."


" Ya, aku sangat tau itu. Kau jangan sungkan begitu. Semenjak kau dan William berpacaran aku sudah bisa menerima kenyataan itu kok."


" Tapi sekarang aku tidak penasaran lagi menyimpan perasaan ini sendiri."


" Dan sekarang kau dan aku masih tetap bisa bersahabat seperti dulu lagi tanpa ada beban kan?"


" Ya Dhe pasti itu." Jawab Bram sambil tersenyum.