Something different

Something different
Bersama Dhea dan papa



" Hahaha....jadi dulu kau itu sempat membenci William nak?"


" Iya pah, bukan hanya sekedar membencinya, tapi aku ingin melenyapkannya dari muka bumi ini..!!"


" Bagaimana tidak pah? dia itu setiap hari selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, bahkan mungkin jika aku sembunyi di lubang semutpun, aku yakin dia bisa menemukannya pah. Anda bisa bayangkan bagaimana tersiksanya aku saat itu? aku seperti seorang ******* yang kemana-mana selalu diawasi." Gerutu Dhea lagi sambil cemberut.


" Hahaha...William memang sedari kecil seperti itu nak. Jika dia menginginkan sesuatu, dia itu pantang menyerah, apapun caranya akan dilakukannya, hingga bisa mendapatkannya."


" Tapi sekarang kau berubah pikiran kan? tidak ingin melenyapkan dia dari muka bumi ini lagi?" Sambil melirik menantunya itu penuh arti.


" Tentu saja pah, jangankan untuk melenyapkannya, tidak melihatnya sehari saja, terasa satu bulan."


" Hahaha....." Dhea dan mertuanya tertawa bersama. Mereka mengobrol bersama begitu akrab, seperti tidak ada batasan sama sekali, layaknya seorang anak perempuan dengan papanya sendiri, yang sedang menceritakan masa lalunya saat didekati oleh William. Lak-laki yang dulu amat dibenci dan ditakutinya itu, dan justru sekarang telah menjadi sosok laki-laki yang amat dicintainya.


" Pah terimakasih ya, telah membesarkan pria yang saat ini telah menjadi suamiku yang begitu perfeck buatku. Terimakasih telah mengijinkanku jadi menantumu."


" Ya nak, terimakasih juga kau telah manjadi istri yang begitu sempurna untuk William, yang menjadi pelengkap kebahagiaan dalam hidupnya."


" Aku sangat menyayangimu pah." Sambil memeluk papa mertuanya.


" Ya nak, dampingi dia terus, hingga kalian menua bersama ya, dan memiliki keturunan yang lucu-lucu. Jangan pernah bosan untuk memberinya suport, hanya kau saat ini yang bisa melakukan itu, karena papah sudah tidak bisa menemaninya lagi seperti dulu, hanya bisa sekedar mendoakannya."


" Itu sudah sangat cukup buat kami pah, doa papa juga sangat berarti buat kami."


Tiba-tiba saja sebuah suara terdengar, Dhea buru-buru melepaskan pelukkannya.


" Wooowww...ada apa ini? kenapa saling berpelukan? seperti dalam sinetron saja." Ternyata Deasy yang muncul dari dalam rumah, dan kemudian mendekati mereka berdua.


" Hai nak, sini duduk di samping papa..!" sambil menarik kursi di sebelah kirinya, sedangkan Dhea duduk di tempat semula di sebelah kanan mertuanya.


" Terimakasih pah." Kemudian menjatuhkan tubuhnya di kursi yang telah disediakan oleh mertuanya tadi.


" Ada apa sebenarnya? kenapa papa tadi memeluk Dhea?"


" Hahaha...kenapa? bukankah wajar seorang papa memeluk anaknya?"


" Mungkin Deasy belum terbiasa pah, karena dia kan baru satu bulan menjadi menantu papa."


" Ohhh begitu ya. Ya sepertinya butuh waktu untuk berproses pah. Wajar, Dhea kan sudah mengenal anda lebih lama dibanding aku. Jadi aku harus menyesuaikan diri dulu." Jawab Deasy datar, padahal papa mertuanya bersikap begitu ramah padanya.


" Tapi aku sudah sering mendengar cerita-cerita Dhea melalui orang-orang di rumah ini."


" Cerita tentang aku?"


" Iya Dhe. Cerita tentang menantu kesayangan keluarga Anderson yang begitu membanggakan semua orang. Begitu baik, dan disayangi oleh semua penghuni rumah besar ini." Puji Deasy membangga-banggakan Dhea, namun mimik mukanya menunjukkan ekspresi sebaliknya terlebih hatinya.


" Kau ini, berlebihan sekali Deasy, semua orang yang berada di rumah ini, pasti sangat disayangi dan dicintai, dan tidak saling membeda-bedakan. Begitu kan pah?"


" Yak Deasy, benar kata Dhea, kami di sini semua saling menyayangi. Rumah ini selalu dipenuhi oleh rasa cinta. Intinya kita semua yang berada di dalam rumah ini, harus memiliki perasaan yang sama agar terjalin hubungan yang baik satu sama lain, karena kita semua saudara, begitu juga dengan kamu Deasy, kami semua menyayangimu."


" Ya, aku tau pah. Tapi perasaan itu tidak bisa berbohong. Dhea begitu beruntung. Bahkan para pegawaipun saat tau Dhea akan datang ke rumah ini, terlihat begitu bersemangat. Tidak jarang pula aku mendengar mereka membicarakanmu Dhe. Para pegawai saja begitu sayang padamu, bagaimana dengan William, dan juga Mike ya." Kemudian diam sesaat. Dhea dan papa mertuanya saling berpandang-pandangan, mendengar Deasy berbicara panjang lebar seperti itu, terlebih di kalimat terakhirnya.


'" Dan juga papa." Sambung Deasy lagi, seperti memberi penekanan pada kalimat terakhir yang diputusnya tadi.


" Ada apa sih dengan wanita satu ini? Tadi tiba-tiba dia pergi meninggalkan meja makan, dan sekarang tiba-tiba datang menguraikan semua kalimat yang sepertinya bukan bermaksud memujiku, tapi bermaksud menyindirku? Instingku mengatakan bahwa dia itu memang benar tidak menyukaiku, dan itu bukan watak dia yang sebenarnya seperti yang William katakan."


" Oh iya. Tadi kalian sedang membicarakan apa kalau boleh aku tau? sepertinya sangat menarik sekali, sehingga ada adegan berpelukan segala?"


" Ohhh Dhea tadi menceritakan bagaimana dulu William berusaha dengan segala upaya untuk mendapatkannya, sehingga dimanapun dia pergi selalu diikuti oleh anakku. Hahaha....aku bisa membayangkan dulu William itu pasti seperti seorang budak cinta yang sulit untuk tidur, sulit untuk makan, dan yang utama sulit untuk melupakan bayangan wajah menantuku ini. Dia itu mirip sekali denganku saat masih muda. Jika sudah menginginkan wanita, ke ujung duniapun pasti akan dikejar. Makanya aku tau sekali bagaimana rasanya hahaha." Papa mertua Dhea tertawa begitu renyah, Dhea hanya tersenyum malu-malu, sedangkan Deasy? Deasy hanya menyunggingkan senyum di sudut bibirnya, seolah tidak suka dengan kalimat yang baru saja didengarnya.


" Hehhhh...pasti dulu kau itu jadi idola semua orang di kampusmu ya Dhe sehingga William mengejarmu? apakah saat itu William sedang bersaing dengan seseorang sehingga begitu ngotot tidak ingin melepaskanmu?"


" Hemmmm.....aku itu bukan termasuk dalam wanita yang menjadi idola di kampusku. Bahkan aku merasa bisa-biasa saja Deasy. Kau lihatlah sendiri, aku yang sekarang masih sama seperti saat William pertama mendekatiku."


" Hemmmm....iya juga sih. Memang kalau aku lihat semua tidak ada yang spesial darimu." Sambil memperhatikan lebih detail pada Dhea. Dan yang ditatap sedikit risih, apalagi ditambah dengan kalimat yang bernada sedikit merendahkan.


" Tapi nak, jika berbicara sebuah cinta itu, tidak melulu dilihat dari fisik saja. Ada yang lebih penting dari itu."


" Hemmmm....apakah papa ingin mengatakan bahwa itu maksudnya adalah kecantikan hati?"


" Ya nak, itu point yang lebih penting dan justru yang paling penting untuk dijadikan prioritas utama."


" Hehhh....sebaik apa sih menantu kesayangan Anderson ini? apakah hatinya seputih malaikant dan sesuci bidadari? sehingga semua seperti berlomba-lomba untuk memberinya perhatian." Lagi-lagi Deasy mencibir dari hati, setiap kata yang keluar untuk Dhea selalu saja membuatnya begitu sebal.