
" Pah, papa yakin ingin merawat Devian??" tanya William saat mereka berdua sedang asyik bercengkerama di dekat kolam renang.
" Ya nak. Apapun keadaan Devian, dia tetap cucu papa. Papa tidak mau Devian hidupnya terlantar."
" Deasy sangat keterlaluan!! bisa-bisanya dia berniat membuang Devian, ibu macam apa dia!! Dia bahkan mengatakan Devian bisa mempermalukan keluarga besar kita. Justru sikap dialah itulah yang memalukan dan tidak bermoral." Kata papa William berapi-api.
" Sudahlah pah....Biarkan saja, mungkin itu memang sudah menjadi karakternya. Kita doakan saja, semoga rumah tangga Mike bisa terselamatkan. Kasihan dia, jika harus bercerai untuk yang keduakalinya, sedangkan sekarang sudah ada Devian yang membutuhkannya."
" Ya nak. Harapan papa juga demikian. Deasy bisa berubah, dan rumah tangga mereka kembali harmonis seperti sedia kala. Pernikahan mereka masih sangat muda, dan butuh banyak waktu untuk saling memahami satu sama lain. Jangankan mereka yang baru satu tahun menikah, papa saja dulu yang sudah puluhan tahun, masih sering berselisih paham dengan mamamu. Tapi semua itu bisa terlewati, karena kami berdua bisa menyatukan pendapat, bisa mengerti satu sama lain, dan yang utama tidak mengandalkan emosi dan ego semata." William hanya menunduk mendengar nasehat papanya.
" Lalu rencana papa selanjutnya bagaimana?"
" Rencana papa tergantung pada keputusan Mike. Rumah tangga Mike berantakkan karena hadirnya Devian, dan jika memang Mike lebih memilih mempertahankan rumah tangganya bersama Deasy, itu berarti Devian yang akan dikorbankan, dan papa yang akan merawat Devian."
Tiba-tiba Dhea datang sembari membawa 3 cangkir teh panas.
" Hei nak, kenapa kau membawa minuman itu sendiri? kan kau bisa minta tolong pada asisten rumah tangga kita?"
" Sekali-kali kan tidak apa-apa pah, aku membuatkan minuman ini untuk papaku tersayang, dan suamiku tercinta. Iya kan sayang?"
" Lihatlah pah menantumu yang satu ini, bagaimana aku bisa berpaling darinya jika sikapnya begitu manis seperti itu."
" Hahaha...kau memang pria beruntung nak."
" Ahhh papa, aku juga beruntung mendapatkan suami seperti dia." Kata Dhea sambil meletakkan tubuhnya di kursi yang ada di sebelah William.
" Kalian sedang membicarakan apa? aku dengar papa menyebut-nyebut nama Devian."
" Niat papa sudah bulat untuk merawat Devian, jika memang Deasy tidak menginginkannya sayang." Jawab William.
" Benarkah pah??"
" Iya nak. Papa tidak rela jika Deasy nantinya akan menyia-nyiakan Devian, jika Mike tetap bersikukuh mempertahankannya di tengah-tengah mereka. Kasihan Devian, dia pasti akan sangat menderita."
" Tapi maaf pah, usia papa sudah tidak muda lagi. Seharusnya papa lebih menikmati masa tua papa ini tanpa terbebani oleh tugas apapun. Merawat seorang bayi itu sangat repot pah. Bukankah begitu sayang?" tanya Dhea meminta persetujuan suaminya.
" Ya pah, benar kata istriku."
" Papa kan bisa mencari baby sitter untuk merawat Devian nak?"
" Ya, benar pah. Tapi tetap saja itu akan menjadi tugas papa untuk terus mengawasi perkembangan Devian, aku tidak mau beban pikiran papa bertambah dengan adanya Devian." Jawab Dhea lagi.
" Sayang?" Panggil Dhea pada William.
" Ya sayang?"
" Bagaimana jika kita yang merawat Devian? kau tidak keberatan kan?"
William dan Papanya langsung menatap Dhea setengah tak percaya. Keinginan merawat keponakannya yang sudah jelas memiliki kekurangan, dan pastinya akan sangat menyita banyak waktunya itu, tidak meruntuhkan niatnya sama sekali. Devian yang membutuhkan perhatian khusus juga perlakuan spesial, membuat Dhea tersentuh dan ingin sekali membesarkan keponakannya itu.
" Sayang kau serius?"
" Iya sayang. Apa aku seperti sedang main-main?"
" Bukan begitu sayang. Apakah kau sudah siap dengan semua resiko yang akan kau hadapi? Devian itu bukan seperti anak kebanyakan, dia sangat spesial, dan otomatis merawat diapun harus spesial."
" Kau meragukanku sayang?"
" Tidak sayang, aku hanya mengkhawatirkanmu saja."
" Segala kekhawatiranmu tentangku akan hilang semua, jika kita ikhlas sayang. Dan inshaallah aku ikhlas. Allah pasti mempunyai maksud tertentu sehingga membuat Devian begitu spesial dan hadir di tengah-tengah keluarga kita."
" Yaahhh aku juga tidak habis pikir, apakah keadaan Devian itu terjadi akibat dari sifat Deasy yang begitu jahat padamu."
" Ssssttt...jangan berkata seperti itu sayang. Tidak ada hubungannya antara sifat Deasy dan keadaan Devian. Devian itu bayi yang masih suci, dia tidak memiliki kesalahan apapun, apalagi menjadi korban akibat perlakuan ibunya padaku. Allahlah yang memang mentakdirkan dia seperti itu. Dan mungkin ini adalah merupakan ujian keluarga besar kita. Selama ini, keluarga kita selalu berlimpah kebahagiaan dan juga materi, dan inilah saatnya Allah menguji seberapa besarkah rasa sayang kita terhadapNya dengan tetap merawat, bersyukur dan menjaga amanahnya itu."
" Yahhh...aku hanya kasihan saja terhadap Devian."
" Itu kan menurut kita, menurut cara pikir manusia biasa. Berbeda dengan apa yang Allah pikirkan. Justru Allah itu sangat melindungi Devian dari segala bentuk keburukan duniawi yang bisa dilihat oleh kedua matanya. Allah menutup matanya, agar dia senantiasa hanya bisa melihat kebaikan dengan mata bathinnya. Dan hanya mendengar kebaikan dengan kedua telinganya sayang. Berkhusnudzonlah padaNya. Dan yang harus kita ingat adalah, setiap apapun yang diciptakan Allah di muka bumi ini, pasti ada maksud dan tujuannya. Tugas kita sebagai mahlukNyalah yang senantiasa harus bisa menjaganya dengan penuh kasih sayang, seperti Dia menyayangi kita dan mencukupkan semua kebutuhan kita."
" Nak, papa bangga memiliki menantu sepertimu. Hatimu begitu mulia. Seandainya saja, Deasy memiliki sifat sepertimu, mungkin kebahagiaan papa sangat sempurna. Keberhasilan papa dalam hal duniawi dan materi itu sangat menyenangkan, namun tidak lebih bahagia jika dibandingkan dengan memiliki anak-anak yang begitu baik dan menyayangi papa begitu besar, seperti kalian berdua."
" Ahhh papa. Jangan berlebihan memujiku, nanti aku bisa besar kepala." Jawab Dhea.
" Sayang. Apapun yang menjadi keputusanmu, aku setuju. Aku percaya Devian akan tumbuh menjadi anak yang hebat di tanganmu nanti."
" Inshaallah sayang. Yang penting langkah pertama yang harus kita lakukan saat ini adalah, meminta ijin kepada Mike untuk membawa Devian ke Indonesia, demi keutuhan rumah tangga mereka berdua. Bukan begitu pah?"
" Ya nak, papa juga berharap kesalahan ini bisa diperbaiki oleh mereka berdua. Papa sebenarnya tidak ingin Mike bercerai untuk keduakalinya. Namun keputusan tetap ada di tangan mereka, kita hanya bisa memberi saran saja, selebihnya terserah mereka berdua."