
Hari ini adalah hari Jumat, dan itu berarti 1 hari lagi William akan melaksanakan pernikahannya. Dan siang itu William menelfon Mike.
" Hallo Will ".
" Hallo Mike ".
" Ada perlu apa kau menelfonku ?"
" Aku ingin meminta bantuanmu sekali ini saja ".
" Bantuan apa itu Will ?"
" Kau janji akan mengabulkannya ?"
" Jika itu tidak menyulitkanku, apa salahnya ?"
" Mike, kau tau kan besok adalah hari pernikahanku ?"
" Ya benar ".
" Mike sore ini ijinkan aku yang mengantar Dhea sekali saja, aku ingin berbicara banyak padanya ".
" Maksudmu ?"
" Mike, aku sangat mencintainya, dan aku takut setelah aku menikahi Paula aku tidak akan pernah bisa lagi menemuinya ".
" Tapi Will aku sudah berjanji untuk melindunginya ".
" Melindunginya dariku kan ?"
" Iya, dia amat takut denganmu Will ".
" Mike percayalah padaku, aku tidak akan menyakitinya, aku hanya ingin berbicara sesuatu hal padanya, itu saja ".
" Apakah kau bisa dipercaya Will ?"
" Kau itu adikku, apakah kau tidak mengenal sifatku dari dulu ?"
Mike tau William adalah orang yang paling konsisten memegang kata katanya, namun Mike hanya takut William tidak bisa menahan diri saat di depan Dhea.
" Hmmm aku ijinkan saja dia, karena jika tidak kuperbolehkan dia tetap akan nekat, tapi aku akan mengikutinya dari belakang ", kata Mike dalam hati.
" Oke Will kalau begitu, tapi bukankah dia akan tau bahwa yang menjemputnya itu bukan aku ".
" Aku akan pinjam mobilmu Mike, dan aku tidak akan turun dari belakang kemudiku, jadi dia akan langsung masuk ke mobil tanpa tau bahwa aku yang membawanya ".
" Ok Will...Kalau begitu kau ambil mobilku di rumah ya ".
" Ya Will terimakasih atas bantuanmu ".
Kemudian William segera bersiap siap menuju rumah Mike, dia menggunakan jaket serta topi di kepalanya. Dengan begitu wajahnya akan sulit dikenali Dhea dari belakang kemudinya ". Lalu dia segera memacu mobilnya menuju rumah Mike, dan Mike sudah menunggunya sedari tadi.
" Will, ingat pegang janjimu, jangan pernah sekalipun kau menyakitinya !!" Kata Mike saat William sudah di rumahnya.
" Aku itu mencintainya Mike, tidak akan mungkin aku menyakiti wanita yang aku cintai ".
" Ya...semoga kau pegang omonganmu ".
Tak lama kemudian William segera pamit kepada Mike untuk menjemput Dhea. Kali ini dia sudah bertukar mobil dengan Mike.
Sepeninggal William, Mikepun segera bersiap siap untuk pergi juga. Dia menyetop sebuah taksi untuk mengikuti William dan tidak menggunakan mobilnya yang lain, karena ditakutkan William akan segera mengenalinya.
Beberapa saat kemudian William telah tiba di depan halaman rumah Dhea, dan ternyata Dhea sudah menunggunya dari tadi. Tanpa basa basi Dhea segera naik di kursi belakang. William segera mengunlock semua pintu dari tombol di sampingnya, sehingga Dhea tidak akan mungkin bisa keluar dari mobilnya.
" Kau ini tumben lama sekali, biasanya kau selalu tepat waktu Mike, memang kau darimana tadi ?" Tanya Dhea saat sudah berada di dalam mobil Mike yang sebenarnya dikemudikan William ".
William diam saja, dia takut Dhea menyadari bahwa yang diajaknya bicara bukan Mike, melainkan dia.
" Mike, kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku ?"
William tetap diam saja. Dhea penasaran karena Mike tetap tidak bereaksi sedikitpun terhadap pertanyaanya.
" Mike ???"
Tanya Dhea sambil menyorongkan tubuhnya, berusaha mendekat ke arah Mike. Namun Dhea amat terkejut, saat hidungnya mencium aroma parfum yang sangat dikenalnya ini .
" Aroma parfum ini ? sepertinya ini bukan milik Mike, tapi milik......William !!!" Jerit Dhea dalam hati.
" Ya orang ini pasti William !!!"
" Will...kau..kau.. pas pasti William kan ???"
Tanya Dhea suaranya bergetar menahan ketakutannya.
" Ternyata dia telah menyadarinya ", kata William dalam hati.
" Ya Dhe ini aku ", kata William kemudian membuka kalimat pertamanya.
" Will....kau mau bawa aku kemana ? tolong hentikan mobilmu Will !!"
" Jangan takut Dhe, aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin berbicara denganmu ".
" Tapi kamu tidak perlu membawaku pergi seperti ini, dan menyamar semagai Mike, Will ".
" Karena kamu pasti tidak mau bertemu denganku, dan bahkan menghindariku jika aku memintamu baik baik ".
" Mike ? Kau pasti bekerjasama dengan Mike kan ? jadi dia sudah membongongiku ? dia ingin mempermainkanku ?"
" Kamu jangan menyalahkan Mike, aku tadi yang memaksanya dan memohon padanya untuk diijinkan menjemputmu sekali ini saja Dhe ".
" Will aku kan sudah bilang, jangan temui aku lagi, lupakan aku, bukankah besok kau sudah harus menikah dengan Paula ?"
" Ya Dhe besok memang hari pernikahanku ".
" Lalu kenapa kau masih di sini dan justru membawaku pergi ?"
" Aku hanya ingin bersamamu terakhir iniiiiii... saja Dhe, dan besok aku sudah tidak tau lagi apa masih bisa menemuimu lagi atau tidak ".
" Kenapa Will ?"
" Karena Paula pasti akan melakukan segalanya untuk menghalangi suaminya bertemu wanita lain ".
" Ya...tentu saja, akupun akan melakukan hal yang sama jika memiliki suami, tak akan kubiarkan suamiku bermain api di belakangku ".
" Makanya Dhe, pleas kamu ikut saja denganku, aku tidak akan menyakitimu, itu janjiku dengan Mike ".
" Tapi tidak ada jaminan untuk itu kan ? Mikepun tak akan tau apa yang nantinya bisa dilakukan kamu terhadapku. Aku tidak akan ikut denganmu Will !!" Kemudian Dhea berusaha membuka pintu mobil di sampingnya ".
" Kau mau apa Dhe ?" Teriak William.
" Aku mau lompat dari kendaraan ini Will, aku tidak akan mau ikut denganmu, laki laki brengsek !!"
" Kau tidak akan bisa membukanya Dhe, karena aku sudah menguncinya dari sini ".
Dhea benar benar merasa ciut, entah apa yang akan dilakukan laki laki itu padanya, jika terjadi apa apa dia tidak akan mungkin mampu melawan tenaga William, yang tubuhnya menjulang jauh di atasnya.
" Aku harus melakukan sesuatu ", kata Dhea dalam hati ".
Tiba tiba saja Dhea menarik topi William dan menjambak rambutnya.
" Hei apa apaan ini Dhe ? lepaskan tanganmu !! kau bisa membayakan kita berdua ".
" Aku tidak perduli Will, kau hentikan kendaraanmu, dan biarkan aku turun, atau kalau tidak kita akan mati bersama di dalam mobil ini ", ancam Dhea sambil terus menarik rambut William.
Dhea sudah benar benar panik, dan ini jalan satu satunya yang bisa dilakukannya agar William melepaskannya.
Dhea terus menarik rambut William hingga kepalanya terdongak ke atas. Tiba tiba William menghentikan laju kendaraannya, setelah itu dia menarik tangan Dhea, berusaha melepaskan rambutnya dari genggaman tangan Dhea. Usaha tersebutpun membuahkan hasil. Dan ternyata William telah mepersiapkan segalanya dengan rapi. Tiba tiba saja dia mengambil sebuah lakban yang ada di laci Dasbor mobil, kemudian keluar dan menghampiri Dhea yang duduk di belakang, dan mengikat kedua tangan Dhea dengan erat.
" Hei apa yang kau lakukan Will ? lepaskan ikatan tanganku ", teriak Dhea.
" Tidak Dhe, ini satu satunya jalan agar kau mau menurutiku, karena kamu tidak pernah bisa mendengarkan perkataanku ".
" Will, kau sudah sangat keterlaluan, aku tidak akan pernah mau mengenalmu lagi, aku membencimu Williammmm...", teriak Dhea.
" Maaf Dhe, aku terpaksa melakukan ini padamu ".
William kemudian masuk kembali di belakang kemudinya, dan tidak lupa menguncinya kembali.
Dhea hanya menangis meratapi nasibnya, entah apa yang dilakukan William terhadap dirinya, dia merasa saat ini sedang berada di ujung tanduk.
Sedangkan William terus membawa Dhea jauh keluar kota, dia hanya memperhatikan gadis itu melalui kaca di atasnya. Dia merasa iba sekali melihat wanita pujaannya itu menangis, dan pipinya terus dibanjiri air mata. William sebenarnya tak kuasa melihat itu semua.
" Maafkan aku Dhea, aku sebenarnya tidak ingin membuatmu takut dengan mengikatmu seperti itu, tapi aku benar benar terpaksa, kamu tidak pernah tau betapa besar rasa cintaku padamu Dhe ", kata William dalam hati, sambil terus fokus dengan jalan di depannya.
Sementara itu Mike terus mengikuti mobil yang dikemudikan William di belakangnya.
" Kemana William akan membawa Dhea pergi ? kenapa dia tidak menurunkan di tempat kerjanya ?" bisik Mike, sembari meminta pengemudi taksi untuk menambah kecepatan kendaraannya.