Something different

Something different
Di taman kota



" Ayo turun sayang!" ajak William sambil membukakan pintu pada Dhea setelah mereka tiba di taman kota.


" Terimakasih sayang." Jawab Dhea sambil menyambut uluran tangan suaminya itu.


Dhea berdiri tegak sambil menatap taman di depannya. Ingatannya mencoba mengembalikan setiap detik kenangan yang pernah mereka ukir berdua di setiap jengkal lokasi yang dulu sering dia dan suaminya kunjungi itu.


" Kenapa bengong sayang? ayo kesana!" ajak William.


" Hehhhh...rasanya aku tidak percaya sayang bahwa dulu aku pernah bertindak bodoh seperti orang patah hati, berdiri di tengah hujan dan terus berharap kau datang. Aku bahkan tidak merasakan dinginnya udara yang menggigit hingga ke tulangku saat itu."


" Tapi jika saat itu kau tidak melakukannya, mungkin aku tidak pernah tau bahwa ternyata harapanmu untuk hidup bersamaku begitu besar. Dan keyakinanku semakin kuat untuk menikahimu." Jawab William.


" Ya, cara Allah memang begitu manis untuk menyatukan kita berdua sayang." Kata Dhea sambil menatap mesra pria di sebelahnya itu.


" Kesana yuk?" ajak Dhea sambil menarik tangan suaminya. William hanya mengikuti Dhea dari belakang.


" Duduk sini saja ya?" kata Dhea pada suaminya.


" Hahhhhh....!!!" gumam Dhea sambil menghirup udara di taman tersebut yang begitu asri, dan dipenuhi berbagai tanaman yang terawat rapih.


" Sayang, anak kecil penjual mawar itu masih berjualan di sini tidak ya? aku ingin sekali membelikannya untukmu, sebagai ganti mawar yang dulu pernah kau buang saat menungguku itu." Kata William menggoda istrinya.


" Hehhh....kau masih ingat saja kejadian menyebalkan itu."


" Dulu saat kau sudah pergi, aku sebenarnya mengambil mawar itu, tapi saat naik ke dalam pesawat aku lupa membawanya dan tertinggal di dalam mobil."


" Huuuu....kau ini coba dulu kau juga menyerahkan mawar itu padaku, pasti akan semakin romantis." Jawab Dhea.


" Hahaha...tanpa mawar itu saja kau tidak bisa membendung air matamu kan saat aku melamarmu di hadapan semua penumpang pesawat?"


" Ya sayang, saat itu aku merasa menjadi gadis yang paling beruntung di dunia. Aku seperti kejatuhan bulan. Aku tidak menyangka, akan diperlakukan seistimewa itu oleh seorang pria sepertimu. Kau melamarku di tempat yang tidak pernah aku duga sebelumnya. Jangankan untuk memimpikannya, untuk membayangkannya saja aku tidak berani."


" Sayang terimakasih ya, kau telah menjadikan aku wanita yang sangat berarti dalam hidupmu. Saat ini tidak ada kebahagiaanku yang lebih besar, selain bisa menjadi pendampingmu selamanya. Memiliki anak-anak darimu sebagai pelengkap kebahagiaan kita nanti." Kata Dhea kembali sambil memegang jemari William.


" Ya sayang selamanya, saat nyawamu dan nyawaku ada di dalam tubuh kita. Selama itu pula kita bersama-sama mengharap ridhoNya agar keluarga kita senantiasa selalu di berkahi olehNya. Terimakasih juga sudah bersedia menjadi istri sholehahku dan mempercayakan sisa hidupmu untuk berbakti padaku." Kata William membalas ucapan terimakasih istrinya, dan Dhea hanya mengangguk mengiyakan ucapan suaminya.


Ucapan yang sangat sederhana, namun bermakna besar, dan terkadang dua orang pasangan lupa untuk mengatakan satu kata itu. Padahal efek ucapan yang dianggap sepele itu sangat luar biasa dan bisa meningkatkan kualitas hubungan dua orang anak manusia.


" Sayang, aku bahagia, saaanggaattt bahagia." Kata Dhea. Dan tanpa ragu William memeluk istrinya di tempat itu. Di tempat dimana orang bebas mengekspresikan segala hal yang dirasakannya tanpa harus malu pada setiap mata yang memandang aneh pada mereka. Di tempat dimana dulu Dhea begitu benci dengan pemandangan yang menurut dia bertentangan dengan hati nuraninya, terlebih pada perilaku muda mudinya yang mengumbar nafsu mereka di sembarang tempat tanpa pandang bulu. Namun saat ini dia telah berdamai dengan semua itu, berusaha menerima perbedaan yang begitu kontras dengan apa yang ada di negaranya sendiri.


" Bagaimana kau masih ingin menikmati suasana di sini atau langsung ke rumah papah?" tanya William sambil melepaskan pelukannya.


" Aku ingin berkunjung ke tempat yang lain sayang!" kata Dhea.


" Sayang, kita kan sudah pergi seharian, lihatlah!! ini sudah pukul 2 siang. Besok lagi saja ya?" tawar William.


" Tapi sayang, aku belum lelah dan masih ingin mengunjungi pantai yang dulu kau pernah mengajakku kesana." Rajuk Dhea.


" Sayang aku tau kau belum merasa lelah, tapi ingat ada buah hati kita di dalam perutmu, dia masih terlalu muda untuk terus kau ajak bepergian tanpa memikirkannya."


" Tapi sayang!!!"


" Janji ya, besok kita pergi ke tempat itu?"


" Iya sayang, pasti itu." Jawab William menenangkan hati Dhea.


" Ya sudah ayo kita pulang sekarang." Ajak Dhea.


" Kau sudah menelfon papa belum kalau kita ingin menginap di rumahnya?" Tanya Dhea saat sudah berada di dalam mobil.


" Sudah sayang. Papa sangat senang sekali dan menunggu kedatangan kita berdua." Kata William menjawab pertanyaan istrinya.


" Aku sangat beruntung memiliki mertua yang begitu welcome terhadap menantunya, terlebih papamu sangat mendukungmu untuk tinggal di Indonesia, padahal papa sendirian di sini." Kata Dhea.


" Papa itu merupakan orang yang sangat terbuka sayang. Orangnya sangat santai dan asyik." Jawab William.


" Ya, walaupun aku belum seberapa dekat dengan papa, tapi aku sudah bisa merasakan bahwa beliau adalah orang yang luar biasa hebat."


" Ya sangat hebat, apalagi saat muda dulu, dia sangat hebat dalam menaklukan wanita hahaha."


" Hahhh!!! benarkah!!! pantas saja kau dulupun begitu, ternyata kau seperti papamu."


" Itu kan dulu sayang, dan saat ini aku telah bertobat. Lebih baik nakal di saat kita muda, daripada nakal disaat kita sudah tua." Jawab William sambil tersenyum.


" Ya itu tidak salah, tapi alangkah lebih baiknya jika tidak usah nakal sama sekali Tuan William." Jawab Dhea.


" Hahaha kalau itu memang harapan semua orang sayang, tapi sepertinya sulit, arena dunia ini terlalu indah sayang untuk tidak mencoba segala hal yang menyenangkan walaupun itu terlarang."


" Kau ini untung aku mendapatkanmu saat kau sudah baik, jika tidak, mungkin aku akan tua mendadak karena memikirkan tabiatmu." Gerutu Dhea.


" Hahaha kau pikir dulu saat belum mengenalmu aku tidak pernah ingin berubah? aku itu ingin sekali berubah, hanya saja mungkin saatnya belum tepat saja, dan untungnya kamu datang dan kemudian bisa membawa perubahan besar dalam hidupku. Seburuk-buruknya pria pasti dia akan mencari calon ibu yang baik untuk anak-anaknya sayang."


" Hehhh...semoga kau istiqomah sayang." Jawab Dhea.


" Aamiin....!!" sambut William.


" Sayang nanti berhenti dulu di toko kue ya, aku ingin membelikan kue untuk papa." Kata Dhea.


" Tidak usah sayang, kita mau menginap di rumah papa saja beliau pasti sudah sangat senang, dan aku yakin pasti di rumah, papa sudah menyediakan banyak makanan untuk menyambut kedatangan kita."


" Aku tau setiap orang tua itu pasti akan senang sekali jika didatangi anaknya, dan tidak pernah memikirkan akan buah tangan dari anaknya. Tapi seharusnya sebagai anak kitalah yang pengertian dan harus menunjukkan perhatian kita pada mereka. Aku tidak ingin mempermalukan kau sebagai suamiku jika aku tidak bisa menjadi menantu yang baik." Jawab Dhea.


" Ahhhhh....aku harus memujimu apa lagi sayang, bisa memiliki istri yang begitu sempurna buatku." Kata William sambil melirik istrinya.


" Hehhh...kau tidak usah memujiku lagi Tuan William, karena pujian itu adalah teror dan bisa membuatku besar kepala." Jawab Dhea sambil tersenyum, dan disambut tawa renyah William.


Pengumuman!!!!


Banyak yang tanya novel ini lanjut or tamat? Sebenernya sesion ke 2 ini masih lanjut dan tombol end sudah saya rubah ke up dari semenjak pertama saya buat episode sesion 2, tapi ga tau kenapa masih terus reveuw dan belum juga berubah, jadi kalau masih mau terus baca mending di pencet favorit aja ya biar tau kalau saya sudah up 🙏🙏🙏🙏