
Setelah tiba di depan flatnya Dhea segera turun, dan masuk ke dalam tanpa berbicara sedikitpun kepada William. Yang dia rasakan saat itu adalah bahwa hidupnya telah hancur, dan dia takut perbuatan William malam ini akan meninggalkan jejak di rahimnya. Dhea membuka pintu kamarnya, seluruh badannya lesu seperti tak bertenaga, dia merasa hidupnya sudah tidak ada artinya apa apa. Dia menangis sejadi jadinya di dalam kamarnya. Perlahan dia keluar dari kamar, dan menuruni tangga menuju depan. Pikirannya seperti melayang pergi entah kemana, seluruh semangat hidupnya telah sirna. Dia terus berjalan seperti orang yang hilang akal sambil air matanya mengalir tanpa henti. Entah apa yang menuntunnya saat itu, yang jelas kakinya terus melangkah menuju jalan raya. Dia terus berjalan di tengah padatnya lalu lintas. Kendaraan terus mengklaksonnya karena Dhea menghambat perjalanan mereka.
Sementara itu entah mengapa pikiran William seperti tidak bisa beralih dari Dhea, bayangan gadis itu terus menari di otaknya. Perasaannya sedikit tidak enak.
" Aahh aku harus kembali lagi ke sana, aku takut terjadi apa apa dengannya, karena dia terus memikirkan kejadian semalam ", gumam William.
Lalu dia memutar balik mobilnya, dan memacu kendaraannya itu dengan kecepatan penuh. Hatinya tiba tiba sangat cemas akan keselamatan gadis yang di cintainya itu. Ketika kendaraannya sudah hampir tiba di tempat tujuan, tiba tiba saja dia melihat seperti sesosok orang yang amat di kenalnya itu sedang berjalan di tengah tengah keramaian kendaraan yang berlalu lalang. William memicingkan matanya.
" Dhea..??? Itu sepertinya Dhea. Kenapa dia berjalan di tengah arus lalu lintas yang padat ini ? bukankah itu membahayakan dirinya ? Tidak, aku harus menghentikannya ".
William kemudian menepikan kendaraannya, dan segera berlari ke jalur di sebrangnya.
" Ya ampun Dhea...! Kenapa kau senekat ini ?" Kata William sambil terus berlari melewati mobil yang berlalu lalang.
" Dheaaaa....!!!" Panggil William setelah dekat.
Dhea terkejut seolah tersadar saat mendengar suara orang yang memanggilnya. Dhea menengok ke arah asal suara itu.
" William...???"
Saat tau pria yang memanggilnya itu adalah William, tiba tiba Dhea berbalik arah dan langsung berlari tanpa memperhatikan ada sebuah kendaraan yang sedang melaju. Dan tiba tiba...
" Braaaakkkk....!!!"
Tubuh Dhea terpental seketika saat dia tidak bisa menghindari mobil itu.
" Dheaaaa....tidaaakkkk !!"
William langsung berlari menghampiri tubuh Dhea yang terbujur tidak berdaya di tengah jalan. Semua kendaraan otomatis berhenti seketika.
" Dheaaa...bangun Dheaaa....!!" Kata William sambil menggoyang goyangkan pipi Dhea yang saat itu tidak sadarkan diri. Darah mengalir deras dari bibirnya.
William tanpa berpikir panjang lagi langsung menggendong tubuh Dhea, menaikkan ke dalam mobilnya dan segera membawanya ke rumah sakit.
" Dheaaa...maafkan aku..gara gara aku kau jadi begini, maafkan aku Dhea. Aku tidak akan memaafkan diriku jika terjadi apa apa denganmu. Kau harus bertahan Dhea !!"
William tak henti hentinya menyesali perbuatannya.
Setelah tiba di rumah sakit, William segera berlari membawa masuk Dhea ke ruang UGD.
" Dokter...dokter...tolong kekasih saya...dia baru saja kecelakaan dokter...dokter....!!" Teriak William panik sambil berlari lari membawa tubuh Dhea.
Suster dengan cekatan langsung membuka pintu UGD.
William menunggu Dhea di depan dengan cemas. Wajahnya terlihat begitu khawatir. Dia terus mondar mandir sambil menunggu dokter yang menangani Dhea keluar dari ruangan di belakangnya itu.
" Ya Tuhaann...aku benar benar bodoh, kenapa aku mengikuti ide gila Daniel, sedangkan aku tau itu bisa membuat Dhea putus asa ", gumam William sambil tak henti hentinya menyesali diri.
Sesaat kemudian pintu dibuka, dokter yang sedari tadi dinantinya keluar.
" Dokter..dokter...bagaimana keadaan kekasih saya dokter ? dokter saya akan mengeluarkan biaya berapa saja asal dia bisa selamat !!"
" Tenanglah tuan, kekasih anda baik baik saja, dia hanya mengalami sedikit cidera di tubuhnya dan juga di kepalanya. Tapi anda jangan khawatir, itu hanya cidera ringan. Semua sudah saya periksa, dan baik baik saja. Benturannya tidak terlalu keras. Hanya butuh istirahat beberapa hari untuk menyembuhkan luka luarnya saja ".
" Ya Tuhan syukurlah....!!!" Kata William sambil mengusap wajah dengan kedua tangannya.
" Terimakasih banyak dokter...terimakasih....", kata William lagi sambil meraih tangan dokter yang ada di hadapannya itu.
Sesaat kemudian seorang suster mendorong keluar tubuh Dhea, untuk memindahkannya di ruangan lain. Ada perban yang menempel di dahinya.William mengikuti suster itu dari belakang.
" Sus...tolong bawa dia ke ruangan yang terbaik, saya ingin dia merasa nyaman di sana nanti ".
" Baik tuan ".
Setelah Dhea sudah dipindahkan ke dalam ruangan lain, William mendekati Dhea yang sedang terbaring lemah.
" Sayang bangunlah, apa yang kau rasakan ? aku sangat sedih melihatmu seperti ini....Maafkan aku ya !!"
" Bangunlah sayang, ini semua salahku, aku sangat mengkhawatirkanmu !!"
" Dhe kumohon bangunlah !!"
Rasa haus tiba tiba menjalar di tenggorokan Dhea , perlahan Dhea membuka matanya, dilihatnya William sedang memandangi wajahnya, mata William terlihat memerah.
" Apakah dia tadi menangis ?" bathin Dhea.
" Will aku haus ", kata Dhea pelan.
" Sayang kamu sudah sadar ? ya Tuhan syukurlah, tunggu sebentar aku akan ambilkan minum untukmu ya ".
William membantu Dhea bangun dan menyodorkan gelas ke mulutnya.
" Apa yang kau rasakan Dhe ?"
Dhea diam saja, kepalanya sangat pusing.
" Tidurlah lagi aku akan menemanimu disini, tenanglah aku tidak akan meninggalkan kamu sendirian sayang ".
Dhea kembali merebahkan tubuhnya di kasur, William tetap berada di samping Dhea
Perlahan lahan Dhea mendengar suara William sedang menelfon di depan sana.
" Kamu siapkan tempatnya sekarang, ingat jangan sampai ada satupun barang yang tertinggal ya, mungkin besok siang atau lusa aku baru membawanya pulang ".
" Ok terimakasih ".
Kemudian William masuk, dan melihat Dhea tidak jadi tidur.
" Dhea kenapa kau tidak jadi tidur ? apakah kau lapar ? kalau begitu kau makan dulu ya, ini tadi aku sudah memesankan makanan dari luar, aku tau kau pasti takut makan makanan sembarangan kan ?"
" Biar aku makan sendiri !"
" Tidak kau sedang sakit, aku akan menyuapimu ".
" Aku masih bisa makan sendiri Will ".
" Tolong jangan menolakku Dhea ".
" Ahhhh keras kepala sekali dia ". Kata Dhea dalam hati.
William menunggui Dhea hingga malam hari, Dhea tidak mau mengajaknya berbicara sedikitpun.
Malam harinya Dhea terjaga dari tidurnya, dilihatnya William masih berada di tempat duduk di sampingnya, dia tertidur sambil menggunakan tangannya sebagai tumpuan..
" Ahhh laki laki ini, kenapa dia mau bersusah payah menungguiku semalaman di sini ?" Tanya Dhea dalam hati.
" Kalau dia tertidur begini rasanya bukan seperti pria jahat yang selama ini kukenal, wajahnya begitu polos. Tapi kenapa dia begitu tega padaku ? apakah dia benar dia mencintaiku sehingga mampu berbuat sekejam itu padaku, karena ingin mendapatkanku ?"
Sesaat kemudian William bergerak sepertinya hendak terbangun, Dhea pura pura tidur lagi.
" Hmmm syukurlah dia bisa tidur dengan nyenyak, mudah mudahan luka lukamu tadi tidak mengganggu tidurmu sayang ". Bisik William sambil menatap Dhea.
Dhea diam saja, dan tetap pura pura tertidur.
" Sepertinya infusnya sudah hampir habis, aku akan memanggil suster ". Gumam William.
Ditekannya nomor telfon yang ada di meja sebelah kiri Dhea.
" Hallo suster, tolong gantikan botol infusnya, sepertinya sudah hampir habis ". Bisiknya pelan seolah tidak ingin mengganggu tidur Dhea.
Tak lama kemudian terdengar pintu diketuk.
" Permisi tuan ".
" Sssstttt masuklah ", kata William sambil berbisik.
" Tolong pelan pelan ya, jangan sampai kau membangunkannya " Bisik William.
Suster itu hanya mengangguk. Dia mengganti infus Dhea dengan cekatan, setelah selesai suster itu kembali keluar.