Something different

Something different
Kedatangan Feri



Seperti biasa, saat ada di dalam kantor Dhea hanya menunggui William yang sedang serius di depan laptopnya. Dhea hanya duduk sembari memperhatikan suaminya, sembari mengotak atik hpnya. Iseng-iseng dia mengambil foto William yang sedang fokus itu, lalu melihat hasil foto yang diambilnya sambil senyum-senyum sendiri.


Dhea ingat saat dulu William pernah mengurungnya di dalam kantor suaminya itu, saat William begitu gencar mengejarnya. Ternyata pengalaman itu sungguh tidak jauh berbeda dengan sekarang. William hanya memintanya duduk menungguinya bekerja. Sangat tidak penting bukan? namun bagi William hal ini sangat penting, dia merasa begitu nyaman jika saat di kantor ditemani oleh sang istri. Dan tanpa sepengetahuan Dheapun, William sering mencuri pandang istrinya itu yang terlihat asyik sendiri, bahkan tidak jarang posisi duduknya hingga hampir tertidur karena punggungnya lelah. Dan jika sudah seperti itu, William terbahak sendiri. Mungkin hal seperti itu terdengar sangat sepele, namun kita tidak sadar, bahwa disitu terlihat begitu tulusnya Dhea terus mendampingi suaminya dan William yang begitu membutuhkan kehadiran istrinya dimanapun dia berada. Walaupun terkadang Dhea merasa bosan, namun hebatnya dia tidak pernah mengeluh. Dibanding dia yang hanya duduk sembari bermain android, William pasti merasa lebih lelah apalagi langsung berkutat dengan angka-angka yang begitu banyak dan memusingkan itu, untuk memeriksa laporan yang dibuat oleh pegawainya.


Dhea tersenyum-senyum sendiri melihat foto suaminya yang terlihat serius, menurut Dhea mimik wajah suaminya sangat lucu.


" Hahaha...wajahmu seperti sedang menahan hajad sayang jika seperti ini." Sambil terkekeh.


" Hemmmm...apa sih yang dilakukan wanita itu? kenapa dia senyum-senyum sendiri seperti itu? dia sedang chat dengan siapa sih?" William begitu kepo melihat sikap istrinya itu. Dan pelan-pelan dia berjalan mendekati istrinya yang terlihat asyik, sehingga tidak melihat William yang sedang berusaha mendekatinya. Dan saat sudah berada di dekat Dhea, dia segera merebut handphone yang sedang dipegang oleh istrinya itu.


" Heiiii....sayang...!!! apa yang kau lakukan? kembalikan handphonenku!!!"


" Tidak!!! apa yang kau lakukan sedari tadi? kenapa kau senyum-senyum sendiri? kau sedang mengobrol dengan seseorang?"


" Tidak sayang, aku tidak mengobrol dengan siapa-siapa."


" Tidak, aku akan melihatnya sendiri....!!!" Sambil membuka handphone milik istrinya. Dan saat itu terlihat fotonya yang sedang diedit oleh sang istri, sehingga nampak begitu lucu.


" Hahhhh...jadi ini yang membuatmu tertawa?"


" Hihihi...iya sayang. Kenapa? kau curiga aku chat dengan pria lain ya? tuh aku memang sedang bermain-main dengan pria itu, lucu kan tampangnya?"


" Ooohhhh...jadi kau diam-diam sedang mengisengiku ya?" sambil memeluk tubuh Dhea yang ada di hadapannya.


" Hihihi....hanya buat hiburan sayang. Tak apa kan?"


" Hehhh...untung saja pekerjaanku banyak sayang, jika tidak?"


" Jika tidak kenapa?"


" Kau sudah habis di sini."


" Hihihi....kau ini, seperti tidak ada waktu saja."


Tiba-tiba saja saat mereka berdua sedang asyik bercanda, pintu ruangan William ada yang mengetuk dari luar.


" Hemmmm....mengganggu saja. Tidak tau apa kalau aku sedang usaha?"


" Hahaha...usaha apa sih sayang? tidak usah usaha, segala tanpa usahapun aku sudah jadi milikmu kok."


" Hehehe iya ya sayang. Tunggu sebentar ya, biar aku buka pintu dulu."


" Ya sayang." Sambil duduk kembali. William segera berjalan mendekati pintu masuk ruangannya yang cukup besar dan rapih.


" Assalamualaikum." Sebuah salam langsung terdengar saat William membuka pintu.


" Hahaha...kau ini. Baru semalam kau menelfonku, kenapa cepat sekali lupa?"


" Yahhh...maklumlah, mungkin karena terlalu asyik dengan pekerjaan, jadi lupa segalanya."


Tiba-tiba mata Feri beradu dengan bola mata milik Dhea yang sedang asyik duduk di sebuah sofa panjang yang ada di ruangan tersebut.


" Haii...Dhe!!"


" Hai Fer!!"


" Hemmmm....kau tidak pernah lupa membawa istrimu rupanya? pantas saja kau tidak ingat jika ada janji denganku, ada wanita cantik di ujung sana yang sedang mengganggu konsentrasimu bukan?"


" Hahaha...sialan, kau bisa saja."


" Ayo duduklah!!" Kata William mempersilahkan sahabatnya itu untuk duduk di depan meja kantornya.


" Bagaimana kemajuan perusahaan kita Fer? Kau bisa menceritakannya padaku? Aku baru saja membaca laporan yang aku terima bulan ini, dan sepertinya kau memang orang yang bisa kupercaya untuk menghandle bisnisku di sini."


" Alhamdulillah Will, selama kau mempercayaiku, inshaallah aku akan menjaga amanahmu dengan baik."


" Sayang....aku keluar dulu ya, biar kalian lebih santai mengobrolmya."


" Hei kau kemana sayang?"


" Hanya jalan-jalan saja di sekitar gedung ini, sembari melihat aktifitas pegawai."


" Oh iya. Hati-hati ya sayang." Dhea hanya mengangguk sambil tersenyum.


" Dhe, ingat jangan sampai tubuhmu tergores sedikitpun ya! jika tidak, suamimu ini tidak akan memberi ampun siapapun yang telah menyakitimu, walaupun itu benda sekalipun hahaha."


" Ahhhh...kau ini berlebihan sekali, tidak seperti itu juga kali Fer."


" Kau ini ada-ada saja Fer. Ya sudah lanjutkan saja obrolan kalian, aku keluar dulu ya. Sembari melihat-lihat suasana di kantor ini."


" Iya silahkan Dhe."


Dhea lalu berjalan keluar, membuka pintu ruangan suaminya, kemudian menutupnya kembali. Seorang sekretaris yang berada di depan menyapanya ramah, Dhea membalasnya sambil tersenyum. Dia mengitari seluruh bagian kantor milik suaminya itu. Suasana sibuk terlihat di sana-sini. Seluruh pegawai terlihat serius dengan pekerjaannya masing-masing, menghandle tugas yang diembannya. Dering telfon terdengar bersahut-sahutan, dan setelah beberapa kali berbunyi baru diangkat, menandakan bahwa seseorang yang posisinya di dekat telfon itu belum sempat mengangkatnya.


Dhea tersenyum sendiri melihat kegiatan itu. Dia merasa jauh lebih beruntung. Hidupnya begitu mudah, tidak memiliki tanggung jawab terhadap instansi tertentu yang menyita waktunya, bahkan pikirannya yang terkadang dikejar deadline, hingga memforsir tenaga seperti pegawainya saat itu. Dia sangat beruntung memiliki suami yang sangat pengertian dan sangat menyayanginya. Memenuhi semua kebutuhannya tanpa dia harus bersusah payah keluar rumah untuk mengejar materi, walaupun dulu dia sempat berkonflik dengan suaminya, karena kekhawatiran akan masa depannya jika suatu hari suaminya mengabaikannya.


Dhea terus berjalan mengitari kantor besar milik suaminya itu. Tidak ada satupun pegawai yang tidak mengenal istri bos besar mereka. Wajahnya yang selalu ramah dan tidak pelit untuk memberikan senyum pada setiap pegawai yang ditemuinya, membuat semua orang yang bekerja di situ tidak segan untuk menegurnya.